NovelToon NovelToon
Pewaris Rahasia

Pewaris Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Anak Genius
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Ika Dw

Kecelakaan itu telah membuat Ayuna harus kehilangan ingatannya. Mirisnya dia harus hidup terpisah dari orang tua kandungnya. Dia dibesarkan oleh orang tua angkat dengan penuh tekanan. Suatu hari dia terlibat skandal dengan pria asing hingga membuatnya melahirkan dua bocah kembar.

Perseteruannya dengan orang tua angkat membuatnya tak betah dan memutuskan untuk pergi dan hidup bertiga dengan anaknya.

Mampukah Ayuna hidup dalam kekurangan dengan menafkahi kedua anaknya?

Siapa kira-kira pria yang seharusnya bertanggung jawab atas kelahiran dua bocah kembar tersebut?

Yuk, ikuti kisahnya ekslusif di Noveltoon.

Follow Instagram me: Ika Novelis
Facebook:Ika Dwi Indrawati, Ika Dw (Author)

Tiktok: ikaindrawati73, penulis.novel76

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Dw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7. Playing victim

"Mam, bos mami kok baik banget sih, sampai mami dikasih makanan enak. Sebelumnya mami belum pernah pulang bawa makanan enak."

Ayuna yang tengah merapikan ruangan hanya mengedikkan bahunya. Ia sendiri juga tidak tahu apa yang membuat bosnya memberinya makanan, sedangkan pegawai yang lain tidak mendapatkannya.

"Mami sendiri juga tidak tahu nak, anggap saja ini rezeki kalian."

"Tapi lain kali mendingan nggak usah mi," sungut Kenzo. "Biasanya orang kasih itu tidak akan mau rugi. Mungkin saja dia tengah merencanakan sesuatu yang tak terduga."

Ayuna refleks menoleh dan memberikan teguran pada anak sulungnya. "Kenzo, jangan selalu beranggapan buruk terhadap orang lain. Tidak semua orang itu jahat. Lagian mami nggak pernah bikin ulah pada siapapun, jadi mana mungkin dia memiliki niatan jahat terhadap mami."

"Baik buruknya orang mana bisa kita memahaminya mam," sungut Kenzo. "Lihat saja kakek, di depan kita selalu bersikap baik, tapi pas nenek mengusir kita kakek hanya diam saja nggak mau belain kita, itu artinya yang terlihat baik belum tentu baik luar dalam, jadi mami jangan sampai tertipu!"

Terkadang Ayuna bingung, diusianya yang masih dini Kenzo sudah bisa berpikir seperti orang dewasa, padahal ia tidak pernah mengajarinya, atau mungkin dia memiliki gen dari ayah kandungnya?

"Sudahlah Kenzo, kamu jangan terlalu menyalahkan kakekmu. Selama ini kita sudah banyak dibantu, jadi kita nggak boleh jadi kacang lupa kulitnya."

Diakui Aryo masih memiliki kepedulian dibandingkan dengan Lastri dan anak-anaknya. Aryo sering membelanya meskipun pada akhirnya dia diperlakukan begitu buruk oleh istrinya. Lastri tipe orang yang ambisius, semua keinginannya harus dipenuhi, sedangkan kehidupannya serba pas-pasan, bahkan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dia harus menghutang sana sini.

"Aku cuma ingin mengingatkan, jika mami nggak percaya juga terserah, aku nggak maksa buat mami mempercayaiku."

Kenzo meraih tas dan membawanya keluar. Dia sudah tak sabar ingin segera tiba di sekolah barunya.

"Mami, jangan masukkan ke hati atas ucapan Abang, dia kan ngomongnya suka bikin orang sakit hati," cicit Kenzie berbisik lirih. Hampir setiap hari Kenzie selalu menjadi sasaran amukan Kenzo karena dianggap terlalu cengeng, tapi Kenzie tak terlalu menanggapinya.

"Kamu tenang saja sayang, mami cukup sabar menghadapi abangmu. Saran mami, kalian harus saling menyayangi, jangan sampai bermusuhan dengan saudara sendiri."

Dengan menggunakan angkutan umum Ayuna telah sampai di depan gerbang Taman kanak-kanak Tunas Bangsa. Ini hari pertama si kembar masuk sekolah, jadi mereka harus sampai di sekolah lebih awal, setidaknya ia juga harus mematikan anak-anaknya nyaman berada di sekolah barunya.

"Loh, bukannya itu nona Ayuna? Ngapain dia datang ke sekolah ini?"

Sofyan tak sengaja melihat Ayuna keluar dari angkutan umum dengan menggandeng dua bocah yang diyakini memiliki kemiripan. Dia sampai tercengang tak berkedip. Bukan karena kagum, tapi karena di otaknya mulai dihinggapi pertanyaan pertanyaan yang mungkin hanya Ayuna yang bisa memberikan jawaban.

"Itu anak siapa yang bersama nona Ayuna? Mungkinkah itu anaknya? Tapi~~

Di sela-sela kebingungannya Sofyan segera meraih handphonenya dan segera menghubungi atasannya.

("Halo Tuan?!")

("Hm..., ada apa?!")

("Ini saya melihat nona Ayuna turun dari angkutan umum. Belia ada di sekolah Taman kanak-kanak Tunas Bangsa. Beliau juga menggandeng dua bocah laki-laki. Apa mungkin nona Ayuna~~)

("Selidiki terus! Kalau perlu kamu temui dia dan tanya langsung!")

("Ta—tapi Tuan? S—saya harus tanya apa?")

("Kalau kamu bodoh lebih baik segera undurkan diri, karena aku tidak butuh karyawan yang bodoh!")

("Hah? J—jangan lah Tuan! Saya masih butuh pekerjaan. Masa Tuan tega ingin memecat saya?")

("Kalau begitu lakukan saja tugasmu dengan baik. Atau bonusmu bulan ini bakalan hangus!")

Sofyan menggaruk kepalanya. Mau tak mau ia harus mengikuti apa yang diperintahkan oleh majikannya. Ia menyesal, tidak seharusnya memberitahu Erlangga mengenai keberadaan Ayuna, kini ia juga yang harus menanggung akibatnya.

("Baik Tuan, saya bakalan ikuti nona Ayuna dan tanya mengenai hubungannya dengan bocah kecil itu. Kalau begitu saya tutup dulu Tuan.")

Tak ingin kehilangan jejak, Sofyan langsung keluar dari dalam mobilnya menuju halaman sekolah TK di mana Ayuna tengah duduk di taman bersama kedua bocah laki-laki.

Tak tahu harus beralasan apa, setidaknya ia harus siap saat Ayuna melayangkan pertanyaan mengenai keberadaannya di sekolah itu.

"Nona Ayuna?!"

Refleks Ayuna menoleh ke arah suara. Bukan hanya Ayuna saja yang menoleh, tapi si kembar juga tak kalah terkejut.

"I—iya," jawab Ayuna. "Loh, pak Sofyan? Kok anda ada di sini pak? Kalau boleh tahu sedang apa ya pak?"

Pertanyaan Ayuna seketika membuat dirinya mati kutu. 'mampus! Aku harus jawab apa?' Inilah yang ditakutkan. Ia tidak tahu harus memberikan jawaban apa untuk pertanyaan yang cukup sepele itu.

"Em..., anu..., saya tadi~~

Sofyan menggaruk tengkuknya. Wajahnya terlihat begitu gelisah, dan itu membuat Ayuna maupun si kembar menyengir kuda.

"Haha..., om sepertinya lagi nahan pup mi," cicit Kenzie. "Lihat saja wajahnya sangat merah."

"Dia bukan cuma nahan, bisa jadi udah keluar. Baunya bikin mual," desis Kenzo dengan mengibaskan tangannya di depan mukanya.

Dalam hati Sofyan mengumpat. 'shit' siapa bocah ini? Berani sekali dia meledekku!"

Malu, itulah yang Sofyan rasakan. Baru kali ini ia dipermalukan di depan seorang wanita oleh bocah kecil.

"Kenzo! Kenzie! Nggak boleh ngomong kayak gitu! Om ini jauh lebih tua dari kalian, jadi kalian harus menghormatinya!" Sarkas Ayuna memberi teguran keras pada anak-anaknya yang dianggapnya tidak sopan. Ia cukup malu, menganggap dirinya gagal menjadi ibu yang baik.

"Ayo kalian cepat minta maaf sama om!" Dengan tegas Ayuna memberi peringatan agar mereka tidak kembali melakukan kecerobohan yang membuat orang lain merasa tersinggung.

"Kenapa kami harus minta maaf? Memangnya kami punya salah apa? Bahkan kami tidak mengenalnya," sungut mereka berdua.

"Nggak salah gimana?! Tadi yang ngatain om itu siapa? Jangan playing victim kalian!"

Sofyan merasa tak enak hati dan dia langsung menengahinya. "Em..., nona Ayuna, saya nggak apa-apa kok, mereka cuma anak kecil."

"Hm... benar, mereka memang masih terlalu kecil, tapi mendidik anak itu bukannya diawali sejak kecil, pak Sofyan?"

Pria itu mengangguk. "I—iya, benar sekali, tapi~~

"Saya sedang mendidik anak saya pak Sofyan, jadi anda tidak usah melakukan pembelaan terhadap mereka. Saya tidak ingin anak-anak saya tumbuh menjadi anak yang nakal dan juga pembangkang!"

Sofyan mengerutkan keningnya dengan berkata lirih. "J—jadi mereka ini anak-anaknya nona Ayuna? Ini serius anda sudah memiliki anak nona? Bukankah anda masih single?"

Ayuna terkekeh. "Sejak kapan anda mengetahui bahwa saya ini single pak Sofyan?"

Pria itu diam mematung. Di otak kecilnya dihinggapi ribuan kupu-kupu yang meminta penjelasan terkait bocah kecil yang duduk tepat di hadapannya.

"M—maaf nona, saya benar-benar tidak tahu kalau anda sudah memiliki anak, saya pikir anda masih single dan belum menikah, ternyata anda sudah memiliki dua anak." Kembali pria itu menggumam namun masih terdengar jelas di telinga Ayuna. "Sayang sekali, apa jadinya jika Tuan mengetahui kebenarannya?"

1
Rohmi Yatun
sukaaa cerita nya. sat set.. tdk bertele2 👍.. lanjut thor
Rohmi Yatun
cerita yang menarik 👍
Rohmi Yatun
masih teka teki ni.. 🤔sebenarnya apa yg terjadi di masa lalu
Rohmi Yatun
mampir Thor.. sepertinya cerita nya menarik ni.. 👍
Ika Dw: terimakasih kak... 🫰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!