Rean Vale menghabiskan seluruh kehidupan pertamanya di rumah sakit.
Terlahir dengan penyakit langka yang perlahan menghancurkan tubuhnya, ia tidak pernah merasakan kehidupan yang dianggap biasa oleh orang lain—bersekolah, bermain dengan teman, atau menikmati masa remaja. Meski demikian, ia tetap tumbuh menjadi pribadi yang tulus, lembut, dan baik hati.
Setelah kematiannya, Rean membuka mata di dunia yang sangat dikenalnya.
Ia telah bereinkarnasi ke dalam novel modern yang pernah ia baca, menjadi seorang tokoh figuran bernama Rean Vale—karakter yang seharusnya meninggal karena penyakit bawaan sebelum cerita utama dimulai.
Namun kali ini, takdir berubah.
Penyakit yang seharusnya merenggut nyawanya menghilang sepenuhnya, membuat tokoh yang seharusnya tidak pernah muncul di awal cerita kini tetap hidup.
Dengan kesempatan kedua yang akhirnya ia peroleh, Rean hanya memiliki satu keinginan sederhana: menjalani kehidupan sekolah yang tidak pernah sempat ia rasakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
-
Hari ujian tengah semester akhirnya tiba. Aula sekolah yang biasanya riuh kini berubah hening, hanya terdengar suara pensil menggores kertas dan sesekali dehaman pelan dari pengawas yang berjalan di antara deretan meja.
Rean duduk di bangkunya, tangannya sedikit berkeringat memegang pensil. Ini benar-benar pertama kalinya ia menghadapi ujian formal seumur hidup — sebelumnya, evaluasi belajarnya hanya dilakukan santai oleh tutor pribadi di rumah, jauh berbeda dengan suasana tegang seperti ini.
"Waktu pengerjaan dimulai sekarang," umum pengawas ujian, memulai penghitungan waktu di papan tulis.
Rean menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri seperti yang diajarkan Elora beberapa hari lalu. *Baca soalnya pelan-pelan, jangan buru-buru,* ingatnya, lalu mulai membuka lembar soal di depannya.
Soal demi soal ia kerjakan dengan hati-hati, sesekali berhenti sejenak mengingat penjelasan yang pernah diberikan teman-temannya. Beberapa soal terasa sulit, namun ia tidak panik — hanya melewatinya dulu dan kembali di akhir, persis seperti strategi yang diajarkan Lucas.
Di baris beberapa meja di depannya, Ethan sesekali menggigit ujung pensilnya, tanda sedang berpikir keras. Sementara di sisi lain ruangan, Kieran mengerjakan soal dengan tenang dan cepat, seperti biasa tidak menunjukkan kesulitan berarti.
Waktu berjalan cepat. Ketika bel tanda waktu habis akhirnya berbunyi, sebagian besar siswa menghela napas lega, beberapa yang lain terlihat sedikit panik karena belum sempat menyelesaikan seluruh soal.
Rean meletakkan pensilnya, menatap lembar jawaban yang sudah terisi penuh. Ia tidak yakin seberapa banyak jawabannya yang benar, tapi ada kepuasan tersendiri karena berhasil menyelesaikan semuanya tepat waktu.
---
"Gimana tadi?" tanya Ethan begitu mereka keluar aula, meregangkan tubuhnya yang pegal setelah duduk lama.
"Lumayan," jawab Rean, meski masih terasa cemas. "Beberapa soal aku nggak yakin benar."
"Sama, kok, aku juga," Ethan tertawa kecil, menepuk bahunya menyemangati. "Yang penting udah usaha maksimal."
Mereka berjalan menyusuri koridor menuju kelas, membahas beberapa soal yang mereka anggap sulit sambil sesekali membandingkan jawaban. Di persimpangan koridor, mereka berpapasan dengan Elora dan teman-temannya yang baru keluar dari ruang ujian sebelah.
"Gimana ujiannya?" tanya Elora, langsung menghampiri Rean dengan raut khawatir sekaligus penasaran.
"Berkat kamu, aku jadi lebih paham soal-soal yang biasanya bikin aku bingung," jawab Rean tulus, senyumnya lebar. "Makasih banyak udah bantu belajar kemarin."
Wajah Elora merona mendengar pengakuan itu, meski ia berusaha menyembunyikannya dengan pura-pura merapikan tasnya. "Bagus, deh, kalau begitu. Berarti usahaku nggak sia-sia."
"Nggak sia-sia banget," Rean mengangguk mantap. "Kamu benar-benar guru yang hebat."
Lily, yang berdiri di belakang Elora, hanya bisa menahan tawa geli melihat wajah sahabatnya yang berusaha keras terlihat biasa saja, padahal jelas-jelas sedang menahan kebahagiaan.
"Kalian berdua," celetuk Lily jahil, "kenapa nggak langsung bikin jadwal belajar rutin aja tiap minggu? Biar sekalian efisien."
"Ide bagus!" seru Rean antusias, sama sekali tidak menangkap nada jahil di balik saran itu. "Elora, mau nggak?"
Elora melirik tajam ke arah Lily sebelum kembali menatap Rean, mencoba menahan senyum yang semakin sulit dikendalikan. "Boleh banget. Kapan-kapan kita atur jadwalnya."
Rean mengangguk senang, benar-benar tidak menyadari bahwa ia baru saja tanpa sengaja menciptakan alasan sempurna bagi Elora untuk terus menghabiskan waktu berdua dengannya secara rutin.
Mereka berpisah di persimpangan koridor, masing-masing kembali ke kelas untuk melanjutkan sisa ujian di hari berikutnya. Rean melangkah dengan perasaan lega, sedikit lebih percaya diri menghadapi mata pelajaran berikutnya — sebuah pengalaman sederhana yang, baginya, terasa jauh lebih berharga daripada nilai sempurna sekalipun.
----
Seminggu setelah ujian tengah semester berakhir, papan pengumuman di depan ruang guru dipadati siswa yang berdesakan ingin melihat hasil nilai mereka. Rean berdiri di barisan belakang, jantungnya berdebar kencang menunggu giliran melihat namanya sendiri.
"Coba lihat, coba lihat," Ethan mendorong pelan bahunya, membantu mencari nama Rean di antara deretan panjang daftar nilai.
Ketika akhirnya menemukan namanya, Rean menatap angka-angka di sampingnya dengan tidak percaya. Nilainya jauh lebih baik dari yang ia bayangkan — bahkan untuk beberapa mata pelajaran yang sebelumnya paling ia khawatirkan.
"Wah, kamu masuk sepuluh besar kelas!" seru Ethan kagum, menepuk punggung Rean cukup keras hingga membuatnya terhuyung sedikit.
"Serius?" Rean masih menatap papan itu, memastikan bukan salah lihat. Kebahagiaan yang ia rasakan sulit dijelaskan dengan kata-kata — ini adalah pencapaian pertamanya dalam sistem pendidikan formal, hasil dari usahanya sendiri dibantu teman-teman yang tulus mendukungnya.
"Selamat!" Lucas ikut menepuk bahunya, tersenyum bangga seolah pencapaian itu adalah miliknya sendiri juga.
Kabar itu menyebar cepat ke seluruh kelas 10-B, disambut ucapan selamat dari hampir semua teman sekelas. Wali kelas mereka bahkan sempat menyinggung pencapaian Rean di depan kelas sebagai contoh kerja keras yang patut dicontoh.
Berita itu juga sampai ke telinga Elora, yang kebetulan sedang berjalan bersama teman-temannya menuju gedung sebelah.
"Kudengar Rean masuk sepuluh besar," kata Chloe, memperhatikan reaksi Elora dengan seringai kecil.
"Serius?" Wajah Elora langsung berbinar mendengarnya, tanpa sadar berhenti melangkah. "Aku harus ucapin selamat!"
Ia langsung mempercepat langkahnya menuju gedung kelas 10-B, meninggalkan teman-temannya yang saling melempar pandang geli melihat reaksi spontan itu.
Begitu menemukan Rean di depan kelasnya, Elora langsung menghampiri dengan senyum lebar. "Aku dengar kamu masuk sepuluh besar! Selamat, ya!"
"Berkat kamu juga," jawab Rean tulus, matanya berbinar bahagia. "Kalau kamu nggak bantu aku belajar kemarin, mungkin nilaiku nggak sebagus ini."
"Aku cuma bantu sedikit, kok," Elora merendah, meski dalam hati merasa bangga luar biasa. "Yang penting kamu sendiri yang usaha keras."
Mereka berdiri berhadapan di koridor, saling bertukar senyum bahagia yang tulus, sampai suara familiar lain menyela dari belakang.
"Wah, ramai banget di sini," Kieran melintas kebetulan lewat koridor yang sama, berhenti sejenak melihat kerumunan kecil yang terbentuk di depan kelas 10-B.
"Rean masuk sepuluh besar!" seru salah satu teman sekelas, memberi tahu dengan bangga.
Kieran mengangguk sopan, meski ada sesuatu yang mengganjal di dadanya melihat betapa cerahnya wajah Elora ketika memberi selamat pada Rean — ekspresi yang jarang ia lihat ditujukan padanya sendiri belakangan ini.
"Selamat," ucapnya singkat, formal seperti biasa, sebelum melanjutkan langkahnya menuju ruang OSIS.
Rean membalas dengan anggukan sopan, tidak menyadari sedikit pun perubahan nada di balik ucapan singkat itu. Namun Elora, yang cukup lama mengenal Kieran, sempat menangkap sesuatu yang berbeda dari caranya berbicara barusan — meski ia memilih untuk tidak terlalu memikirkannya, terlalu larut dalam kebahagiaannya sendiri hari itu.
Sore harinya, kabar pencapaian Rean sampai juga ke rumah Keluarga Vale. Aria, begitu mendengar cerita itu dari adiknya sendiri saat makan malam, langsung berdiri dari kursinya dan memeluk Rean erat-erat.
"Adikku pintar banget!" serunya bangga, mencubit pipi Rean gemas seperti biasa. "Kakak bakal traktir kamu apa pun yang kamu mau minggu ini!"
"Nggak usah repot-repot, Kak," Rean tertawa kecil, meski senang mendengar kebanggaan tulus dari kakaknya.
Darius dan Liora, yang duduk di ujung meja, saling bertukar pandang penuh haru. Melihat Rean sekarang — sehat, bahagia, berprestasi di sekolah — adalah sesuatu yang dulu terasa seperti mimpi yang mustahil terwujud.
Malam itu, seluruh keluarga Vale merayakan pencapaian kecil namun berarti besar itu dengan makan malam penuh tawa, sebuah kebahagiaan sederhana yang, bagi Rean, terasa jauh lebih berharga daripada kekayaan apa pun yang dimiliki keluarganya.