“Rangga Dewantara Aldebaran menguasai sekolah ini, tapi Keisha Zahra Aurellia menguasai jantungnya.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Bab 32: Badai di Ruang Sidang dan Ujian Kesetiaan
Senin pagi datang tanpa sambutan hangat matahari yang biasanya menyapa kediaman Rangga dan Keisha. Langit kota diselimuti awan kelabu tebal, seolah mencerminkan ketegangan batin yang menyelimuti pasangan suami istri tersebut sejak fajar menyingsing. Di meja makan, dua cangkir kopi hitam dan teh hangat tersaji hampir tanpa tersentuh. Dokumen somasi dari korporasi keluarga besar Aldebaran masih tergeletak rapi di sisi meja, seolah menjadi pengingat bisu bahwa kedamaian mereka tengah berada di ambang jurang kehancuran.
Rangga mengenakan kemeja putih formal berbalut jas hitam legam, sementara dasi birunya terpasang rapi di leher. Di hadapan cermin besar kamar utama, ia merapikan kerah bajunya dengan tangan yang sedikit menegang. Cermin itu memantulkan sosok seorang direktur muda yang selama ini dikenal tegas dan tak kenal takut, namun hari ini, bayangan lelah dan beban mental yang teramat berat tampak jelas di garis wajahnya.
Pintu kamar terbuka pelan, memperlihatkan Keisha yang melangkah masuk mengenakan gamis kerja formal berwarna abu-abu gelap. Wanita itu membawa tas tangan kulit kecil dan sebuah map dokumen tambahan berisi salinan pembukuan keuangan perusahaan. Tanpa ragu, Keisha berjalan menghampiri suaminya, berdiri di belakang Rangga, lalu merapikan lipatan jas suaminya dengan penuh ketatenan.
"Kakak yakin mau langsung datang ke kantor pusat keluarga Aldebaran pagi ini?" tanya Keisha dengan suara lembut namun menyiratkan kekhawatiran mendalam. "Advokat Arya menyarankan agar kita menyelesaikan ini melalui jalur hukum formal di pengadilan, bukan dengan mendatangi mereka secara langsung."
Rangga memutar tubuhnya, menghadapi sang istri, lalu menggenggam kedua tangan Keisha yang terasa sedikit dingin. Ia menatap lekat-lekat manik mata wanita yang telah menjadi jangkar kehidupannya itu.
"Aku harus datangi mereka langsung, Keish," jawab Rangga tegas, nada suaranya mengandung tekad baja. "Kalau kita cuma diam menunggu panggilan pengadilan, para pemegang saham dan klien asing bisa panik mendengar isu sengketa lahan ini. Aku harus tunjukkan ke paman dan jajaran direksi lama itu bahwa aku tidak gentar sedikit pun dengan ancaman murahan mereka."
Keisha menghela napas berat. Ia tahu betul watak keras suami dan keluarganya. Darah Aldebaran yang mengalir di nadi Rangga membuat pria itu tidak akan pernah lari dari sebuah pertarungan, terutama ketika harga diri dan hasil kerja kerasnya diinjak-injak. Keisha meremas jemari Rangga erat-erat.
"Baiklah. Kalau itu keputusan Kakak, aku ikut," ucap Keisha mantap.
Rangga terkejut sesaat. "Jangan, Keish. Kamu tetap masuk ke kantor keuanganmu seperti biasa. Biar urusan korporasi ini aku hadapi sendiri bersama Arya."
"Nggak, Kak," sanggah Keisha dengan sorot mata penuh keteguhan. "Kita sudah janji untuk menghadapi segala hal bersama-sama. Aku nggak akan biarin Kakak pergi sendirian menghadapi singa-singa kelaparan di gedung keluarga itu. Aku cuti setengah hari ini."
Melihat ketegasan di mata istrinya, Rangga akhirnya mengangguk pasrah. Ia menarik tubuh Keisha ke dalam dekapannya, mengecup puncak kepala wanita itu lama-lama. "Terima kasih, Keish. Maafkan aku... karena pernikahan kita yang seharusnya penuh kebahagiaan justru harus terseret ke dalam kekalutan keluarga lamaku."
Pukul sepuluh pagi, mobil sedan hitam yang dikemudikan oleh sopir sewaan Advokat Arya melaju perlahan memasuki kawasan perkantoran mewah Aldebaran Group Tower di jantung kota. Gedung pencakar langit berlantai empat puluh itu menjulang angkuh, memantulkan kilau kaca keemasan di bawah langit kelabu. Tempat itu adalah saksi bisu masa lalu Rangga—tempat di mana ia pernah diusir secara tidak hormat karena dianggap sebagai aib keluarga yang menolak mengikuti jalan bisnis kotor mereka.
Begitu turun dari mobil, Rangga merangkul pinggang Keisha dengan erat, memberikan rasa aman di tengah kepungan rasa canggung yang sempat merayap di hati wanita itu. Di lobi utama lantai dasar, kehadiran Rangga langsung menarik perhatian para staf resepsionis dan beberapa petinggi lama yang kebetulan melintas. Bisik-bisik pelan segera terdengar di antara para karyawan yang mengenali wajah mantan pewaris takhta keluarga Aldebaran tersebut.
Rangga berjalan dengan langkah tegap, tidak mempedulikan tatapan sinis atau bisikan orang-orang di sekitarnya. Keisha berjalan tepat di sisi kanannya, menjaga jarak namun siap memberikan dukungan penuh. Di sudut lobi, Advokat Arya sudah menunggu bersama dua orang staf hukum juniornya, memegang map dokumen tebal berwarna biru tua.
"Rangga, Keisha! Kalian tepat waktu," sapa Arya sambil menjabat tangan Rangga dengan sigap. "Ruang rapat utama di lantai tigabelas sudah dipesan secara sepihak oleh Pamanmu, Adnan Aldebaran. Semua direksi lama dan tim kuasa hukum mereka sudah menunggu di sana."
Rangga mengangguk dingin. "Baguslah kalau mereka tidak sabar. Mari kita selesaikan hari ini juga."
Suasana di dalam ruang rapat utama lantai tigabelas terasa begitu dingin dan mencekam. Meja rapat oval berukuran sangat besar dikelilingi oleh belasan kursi mewah. Di ujung meja, duduklah Adnan Aldebaran—paman kandung Rangga yang kini menjabat sebagai komisaris utama korporasi. Pria paruh baya berjas kelabu dengan rambut beruban rapi itu menatap tajam ke arah pintu masuk dengan senyuman meremehkan tersungging di bibirnya.
Rangga membuka pintu ruang rapat dengan dorongan tegas, melangkah masuk diikuti oleh Keisha dan Advokat Arya. Langkah kaki mereka bergemerincing di atas lantai marmer hitam, memecah keheningan ruangan yang dipenuhi oleh ketegangan psikologis tingkat tinggi.
"Wah, wah... lihat siapa yang datang," ucap Adnan dengan suara baritonnya yang angkuh, membuka lembaran dokumen di hadapannya tanpa berdiri sedikit pun untuk menyambut keponakannya. "Si anak buangan yang dulu sok idealis mendirikan perusahaan kecil-kecilan, sekarang berani datang lagi ke gedung ini setelah menerima surat cinta dari kami?"
Rangga menarik kursi di seberang Adnan, mempersilakan Keisha duduk terlebih dahulu sebelum ia sendiri duduk dengan tegak, menatap langsung mata pamannya tanpa secercah rasa takut.
"Simpan basa-basimu, Paman Adnan," tukas Rangga tajam, suaranya menggema di seluruh sudut ruang rapat. "Aku datang bukan untuk bernostalgia atau mendengarkan ocehan basi tentang kejayaan keluarga Aldebaran. Aku datang untuk memastikan apakah somasi murahan itu benar-benar berasal dari keputusan direksi yang sah, atau hanya ulah pengecut yang ingin merusak perusahaan milikku."
Wajah Adnan seketika mengeras mendengar nada bicara keponakannya yang tidak menunjukkan rasa hormat sedikit pun. Ia membanting bolpoin di tangannya ke atas meja. "Jaga mulutmu, Rangga! Perusahaan yang kamu panggil 'milikmu' itu didirikan di atas tanah dan aset administratif yang sah secara hukum masih terikat dengan kepemilikan saham induk Aldebaran Group. Kalian tidak punya hak sepeser pun untuk mengklaim pabrik itu secara independen!"
Advokat Arya segera maju, membuka map dokumen biru miliknya dan membentangkan salinan akta pelepasan hak mutlak di atas meja tepat di hadapan Adnan.
"Maaf, Tuan Adnan Aldebaran," interupsi Arya dengan nada suara profesional dan tenang. "Sebagai penasihat hukum sah dari Rangga Dewantara, saya perlu mengingatkan bahwa seluruh aset lahan dan bangunan pabrik operasional tersebut telah resmi dialihkan melalui akta notaris independen bernomor 45 tertanggal lima tahun lalu. Di sana tercantum jelas tanda tangan persetujuan mutlak dari mendiang kakekmu sekaligus pendiri utama korporasi. Dokumen ini telah dilegalisasi oleh pengadilan niaga. Jadi, klaim sepihak yang Anda layangkan melalui surat somasi adalah tindakan perbuatan melawan hukum."
Beberapa staf hukum yang duduk di samping Adnan langsung saling berpandangan dengan cemas. Mereka tampak berbisik-bisik, menyadari bahwa tim hukum Rangga telah menyiapkan bukti autentik yang jauh lebih kuat dari perkiraan awal mereka.
Adnan menyipitkan matanya, membaca sekilas salinan akta tersebut dengan ekspresi tidak percaya. Namun, alih-alih melunak, senyum licik kembali tersungging di bibir tua pria itu. Ia mendongak menatap tajam ke arah Rangga.
"Dokumen notaris itu bisa saja direkayasa di masa lalu saat kondisi mental ayahmu sedang menurun pasca kecelakaan," cetus Adnan sengaja memancing emosi. "Tapi bukan itu poin utamanya, Rangga. Kamu pikir kami peduli soal tanah pabrik itu? Tujuan utama kami mengirim somasi itu adalah untuk menunjukkan kepada publik bahwa kamu, sebagai direktur utama perusahaan itu, tidak lebih dari seorang pencuri yang membawa lari aset keluarga!"
Suasana di dalam ruang rapat seketika memanas. Keisha yang duduk di sebelah Rangga merasakan darahnya mendidih mendengar penghinaan terbuka tersebut. Namun sebelum Keisha sempat melontarkan bantahan, Rangga sudah berdiri dari kursinya.
Kedua tangan Rangga menepuk permukaan meja rapat dengan keras, menciptakan suara dentuman yang membuat seluruh orang di ruangan terlonjak kaget. Kilatan amarah yang luar biasa terpancar dari manik mata kelam Rangga.
"Pencuri?!" bentak Rangga dengan suara menggelegar yang memenuhi ruangan. "Selama lima tahun aku bekerja membanting tulang dari nol tanpa sepeser pun bantuan dari kalian! Saat kalian membuangku ke jalanan karena aku menolak cara-cara kotor korporasi kalian untuk merusak hidup orang lain, di mana kalian?! Aku membangun semuanya dengan keringatku sendiri, bukan dari hasil merampok seperti yang biasa kalian lakukan!"
Keisha segera bangkit, menyentuh lengan jas Rangga pelan sambil berbisik menenangkan, "Sabar, Kak... jangan terpancing emosi. Itu yang mereka inginkan."
Adnan tertawa sinis, berdiri dari kursinya menatap tajam keponakannya dengan tatapan meremehkan. "Bagus kalau kamu merasa hebat, Rangga. Tapi ingat satu hal: korporasi kami memiliki kekuatan finansial dan jaringan hukum tak terbatas. Kami akan seret perusahaanmu ke meja hijau, menunda seluruh perizinan ekspor kalian, dan membuat klien-klien asing itu membatalkan kontrak kerja sama dalam waktu kurang dari sebulan! Kita lihat seberapa lama istrimu yang manis itu bisa bertahan mendampingi pria bangkrut sepertimu."
Mendengar nama dan kehormatannya diseret ke dalam konflik bisnis tersebut, kemarahan Rangga mencapai puncaknya. Ia melangkah maju mendekati meja Adnan, namun sebelum ia sempat berbicara lebih jauh, sebuah interupsi tak terduga terdengar dari arah pintu ruang rapat yang terbuka lebar.
"Cukup, Adnan!" suara berat seorang pria paruh baya yang lain menghentikan seluruh keributan di dalam ruangan.
Semua pasang mata menoleh ke arah pintu. Seorang pria berambut putih dengan tongkat penopang berjalan masuk perlahan didampingi oleh dua pengawal pribadi. Wajah pria itu tampak pucat namun memancarkan wibawa yang begitu kuat—dia adalah Tuan Herman Aldebaran, kakek kandung Rangga sekaligus mantan pendiri utama Aldebaran Group yang telah lama mengundurkan diri dari kursi kepemimpinan akibat masalah kesehatan kronis.
Adnan tampak terkejut melihat kemunculan sang ayah. "Ayah? Kenapa Ayah bisa ada di sini? Dokter bilang Ayah harus istirahat total di rumah peristirahatan."
Herman Aldebaran menatap tajam anak kandungnya dengan sorot mata penuh kekecewaan. Ia mengetukkan tongkatnya ke lantai marmer, lalu mengalihkan pandangannya kepada Rangga dan Keisha yang berdiri berdampingan di seberang meja.
"Selama ini aku diam bukan berarti aku tidak tahu apa yang kalian lakukan di belakangku, Adnan," suara parau namun tegas itu menggema di seluruh ruangan. Herman menarik napas panjang, lalu menatap cucu kesayangannya. "Rangga... kemarilah."
Rangga tertegun sesaat. Hubungannya dengan sang kakek di masa lalu memang sempat renggang akibat pertentangan prinsip bisnis, namun kakeknyalah satu-satunya anggota keluarga yang secara diam-diam pernah membantunya bertahan hidup di tahun-tahun pertama ia diusir dari rumah.
Dengan langkah perlahan, Rangga mendekati kakeknya, sementara Keisha berdiri setia mendampingi di belakangnya.
Herman mengangkat tangan keriputnya, menepuk pelan bahu lebar cucunya. "Kamu benar-benar tumbuh menjadi pria mandiri yang tangguh, Rangga. Kamu tidak pernah bergantung pada nama besar keluarga ini, dan justru membuktikan bahwa kerja kerasmu jauh lebih berharga dari seluruh kekayaan warisan yang diperebutkan di sini."
Kakek Herman kemudian menoleh tajam ke arah Adnan dan jajaran direksi lainnya. "Mulai hari ini, cabut seluruh surat somasi dan tuntutan hukum terhadap perusahaan cucuku! Jika ada satu saja surat gugatan yang diajukan ke pengadilan terkait sengketa lahan tersebut, aku sendiri yang akan mencopot jabatan Adnan sebagai komisaris utama dan mencoret namanya dari daftar pewaris sah yayasan keluarga!"
Ruangan rapat mendadak sunyi senyap. Tidak ada seorang pun yang berani membantah titah sang pendiri utama korporasi. Adnan mengepalkan tangannya kuat-kuat, menggertakkan gigi menahan amarah yang tertahan, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi di hadapan kekuasaan mutlak ayahnya.
Herman kembali menatap Rangga dan Keisha dengan senyuman tulus di wajah keriputnya. "Maafkan keluarga ini, nak. Pulanglah, jalani hidup kalian dengan tenang. Pabrik itu sah milik kalian sepenuhnya."
Menjelang sore hari, setelah meninggalkan gedung pencakar langit korporasi keluarga Aldebaran, Rangga dan Keisha berjalan berdampingan menuju stasiun kereta bawah tanah di bawah langit kota yang perlahan mulai cerah. Badai besar yang sempat mengancam kehancuran karier dan ketenangan rumah tangga mereka akhirnya berhasil dilewati berkat keteguhan prinsip dan kesetiaan yang teruji di antara suami istri tersebut.
Setibanya di rumah mungil mereka yang asri, Keisha langsung menyeduh dua cangkir teh hangat dan membawanya ke ruang tamu. Rangga duduk bersandar di sofa, menatap keluar jendela kaca tempat bunga melati bersemi subur.
Keisha meletakkan cangkir teh di hadapan suaminya, lalu duduk di pangkuan Rangga, melingkarkan kedua tangannya erat-erat di leher pria itu.
"Kita berhasil, Kak," bisik Keisha lembut dengan senyuman paling manis di bibirnya.
Rangga memeluk pinggang ramping istrinya erat-erat, mengecup kening Keisha penuh rasa syukur dan cinta yang meluap-luap. "Bukan aku yang berhasil, Keish. Tapi kita. Karena kamu ada di sampingku, badai sebesar apa pun nggak akan pernah bisa hancurkan rumah kita."
Di bawah naungan langit sore yang mulai menampakkan bias jingga kemerahan, dua jiwa yang dipersatukan oleh cinta dan kesetiaan kini duduk berdampingan dalam damai, siap menyongsong hari esok yang jauh lebih cerah sebagai pasangan pengantin baru yang tak terkalahkan oleh waktu.