menikahi musuh? itu biasa.
menikahi sahabat masa kecil karena takut sial? itu baru bencana.
Baffin yang dingin dan serba rapi sangat membenci segala bentuk kekacauan. Sialnya, hidupnya selalu diacak-acak oleh Silva, sahabat masa kecilnya yang super ceroboh dan pembawa bencana.
Tepat di hari ulang tahun mereka yang ke-17, keduanya mendapat kejutan tak terduga: mereka dipaksa bertunangan karena sebuah mitos kuno. Konon, karena lahir di hari dan jam yang sama, menolak perjodohan ini akan mendatangkan kutukan kesialan seumur hidup.
Baffin tentu saja menolak mentah-mentah takhayul itu. Namun, Silva yang ketakutan setengah mati justru bertekad melakukan segala cara agar cincin pertunangan itu terpasang di jari Baffin—meski ia harus memecahkan lebih banyak piring dan terjungkir dari kursi demi mengejarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon whimsy quinn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
39°
"Awas aja kalau kamu berani ngikutin saran dia," bisik Baffin, suaranya terdengar rendah dan penuh penekanan.
"Kok dimatiin sih?" protes Silva kesal. Ia menatap wajah Baffin yang berada tepat di hadapannya.
"Lihat aja kalau kamu berani berangkat sekolah sama cowok lain lagi," peringat Baffin lagi. Kali ini, sorot matanya tidak main-main.
Melihat Baffin yang sepertinya sedang berada dalam mode super serius, Silva akhirnya memilih mengalah demi keselamatan dirinya. "Iya, iya... enggak. Sudah, sana kamu pulang."
"Habis aku pulang, kamu mau teleponan sama Kenya lagi?" tanya Baffin menyelidik. "Gak boleh. Teman kamu itu bisa ngeracunin otak kamu pake saran gak jelas."
"Enggak, ih! Aku mau tidur," gerutu Silva, merasa dituduh yang tidak-tidak.
"Ya udah, tidur."
"Masa kamu di sini? Aku gak bisa tidur kalau kamunya begini. Kamu harus pulang."
Kesal karena permintaannya diabaikan, Silva mendadak bangkit hingga posisinya kini berdiri di atas Baffin yang masih rebahan. Ia mencengkeram tangan kekar cowok itu, lalu menariknya sekuat tenaga agar mau beranjak.
Namun, bukannya berhasil membuat Baffin bangun, yang terjadi justru sebaliknya. Bluk!
Silva kehilangan keseimbangan dan jatuh kembali ke atas dada laki-laki itu karena Baffin balik menarik lengannya dengan mudah.
"Belum ada satu jam kamu modusin aku. Sekarang mau gitu lagi?" sindir Baffin, menatap Silva yang kini tampak tegang di atasnya.
"Ih! Orang kamu yang narik aku!" bela Silva tidak terima, wajahnya memerah menahan kesal. Sambil berusaha menarik diri.
"Tapi, kalau kamu emang gak niat modus, kamu gak akan jatuh," balas Baffin dengan logika sepihaknya. "Kayak aku. Ditarik kamu segitu kencangnya juga gak ketarik, karena aku emang gak mau bangun."
Silva menatap Baffin dengan perpaduan rasa heran dan dongkol yang luar biasa. "Kok sekarang kamu jadi cerewet banget sih?"
Silva benar-benar bingung. Ke mana perginya sosok Baffin yang biasanya dingin, kaku, dan irit bicara itu? Kenapa sekarang cowok itu mendadak punya stok kalimat panjang untuk mendebatnya?
Baffin tidak repot-repot menjawab pertanyaan itu. Ia memutar tubuhnya ke samping, memosisikan dirinya menghadap Silva yang masih menatapnya sengit. "Sudah. Tidur aja... sudah malem. Biar gak susah besok bangunnya."
"Ta—"
"Kalau kamu masih berisik..." Kalimat Baffin menggantung.
Mendadak, suara cowok itu berubah total. Bukan lagi nada santai penuh sindiran, melainkan nada rendah yang dingin.
Auranya pun ikut bergeser drastis. Atmosfer di kamar itu mendadak kembali mencekam, persis seperti beberapa puluh menit lalu sebelum Baskara datang—aura Baffin yang tampak mengerikan dan berbahaya.
Tatapan mata elang Baffin perlahan turun, mengunci tepat pada bibir Silva.
Isyarat implisit itu langsung membuat Silva merapatkan mulutnya rapat-rapat. Nyalinya ciut seketika. Dengan gerakan refleks, ia berusaha menarik kepalanya ke belakang, menjauhkan diri dari jangkauan Baffin.
"Jadi mau tidur gak?" tanya Baffin, menyadari perubahan ekspresi Silva yang mendadak ketakutan seperti kelinci kecil.
"Tidur... tidur..." balas Silva cepat, suaranya mencicit panik.
"Good." Puji Baffin singkat.
Ketegangan di wajah Baffin mengendur, digantikan kilat kepuasan. Ia mengulurkan tangan, menarik tubuh Silva agar bergeser lebih dekat, lalu membawanya ke dalam pelukan yang jauh lebih erat.
Silva langsung memejamkan matanya rapat-rapat, tidak berani berkutik sedikit pun. Meskipun awalnya suasana terasa sangat canggung dan jantungnya berdegup tak karuan, perlahan-lahan usapan lembut tangan Baffin di pucuk kepalanya memberikan rasa hangat yang menenangkan.
Perlahan tapi pasti, rasa kantuk mulai menjemput Silva, membawanya tenggelam ke dalam tidur yang nyenyak di dalam dekapan cowok itu.
•••
Archard berbaring telentang di ranjangnya, menatap langit-langit kamar yang gelap. Kamarnya sunyi, tapi isi kepalanya mendadak bising oleh suara seorang gadis.
"Gue yakin satu-satunya alasan Lo lakuin ini cuma karena kasihan."
Kalimat lain kembali berputar.
"Gue keingat waktu dia dulu sering kasih perhatian ke gue, yang ternyata ujung-ujungnya cuma karena dia kasihan..."
Archard menghembuskan napas kasar. Ada rasa jengkel yang mendadak meletup di dadanya. Dia jengkel bukan karena Kenya menuduhnya, melainkan karena ada cowok sebodoh itu di masa lalu Kenya yang membuat gadis itu memandang semua bentuk perhatian dari lawan jenis sebagai sebuah ancaman atau tipu muslihat.
Archard mendengus pelan, tangan kanannya diletakkan di atas dahi. Laki-laki itu.. pasti Rey.
Memori Archard perlahan berputar mundur, kembali ke beberapa minggu lalu saat mereka baru pertama kali pindah teman duduk.
Hari di mana Baffin dengan seenak jidat mengusirnya dari bangku awal agar bisa duduk di sebelah Silva, membuat Archard terpaksa mengalah dan pindah ke sebelah Kenya.
Hari itu, Archard ingat betul bagaimana ia duduk diam sambil mendengarkan Kenya dan Gavi bergosip di sebelahnya.
Saat itu, Kenya menanyakan kabar cowok bernama Rey, mengungkit masa-masa SMP-nya saat menjadi 'cegil' yang berakhir diblokir. Archard juga ingat cerita Gavi tentang Rey yang menjaga hati untuk perempuan lain yang kecelakaan di luar negeri.
Saat di kelas dulu, Archard mendengus tipis. Ia menganggap obrolan Kenya dan Gavi sebagai obrolan unfaedah yang tidak penting untuk didengar.
Dia tipe cowok kulkas yang tidak peduli urusan romansa orang lain.
Tapi malam ini, setelah melihat Kenya menangis di kuburan, lalu mendengar gadis itu berbicara panjang lebar ... barulah Archard sadar.
Efek penolakan cowok bernama Rey itu ternyata sehancur ini bagi Kenya. Di depan Gavi, Kenya bisa tertawa hambar dan bilang sudah move on.
Tapi di depan Archard malam ini, topeng pertahanan Kenya pecah. Gadis itu trauma dianggap menyedihkan. Dia ketakutan setengah mati jika perhatian yang diberikan Archard di pemakaman dan sekantong sate ayam tadi, adalah bentuk belas kasihan yang sama seperti yang ia rasakan dari Rey dulu.
Archard mengubah posisinya menjadi miring, menatap kerlip lampu kota dari balik jendela kamarnya.
Sebuah senyum tipis, hampir tak terlihat, terbit di wajah dinginnya.
Kasihan, katanya?
Jika Kenya pikir dinding pertahanan dan duri-duri yang dipasangnya malam ini bisa membuat Archard mundur dan menjaga jarak seperti perintahnya, maka gadis itu keliru.
Archard justru makin penasaran bagaimana cara menaklukkan landak berduri di sebelah bangkunya itu.
Bego, umpat Archard dalam hati, entah ditujukan untuk cowok di masa lalu Kenya atau untuk dirinya sendiri yang mendadak menjadi sekreatif ini memikirkan urusan orang lain.
•••
Kenya: Sil.. izinin gue gak masuk. Sakit.
(Foto.)
Silva membuka foto itu. Itu foto termometer. 39°c. Silva mendesah.
Silva: Beneran sakit? Tadi malam aku suruh minum obat kamu minum gak?
Kenya: Enggak. Sudah mager.
Silva: Sekarang sudah?
Kenya: Nanti.
Silva berdecak pelan membaca balasan singkat itu. Jarinya kembali bergerak lincah di atas layar.
Silva: Sudah makan belum?
Kenya: Mager.
Silva: Bukannya selalu dianterin ke kamar?
Kenya: Mungkin bentar lagi.
Silva: Atau mau aku beliin bubur?
Kenya: Gak usah. Kalau cuma beli online tinggal pakai HP, gue bisa sendiri.
Silva: Ya udah. Jangan lupa minum obat ya.. Nanti sore aku ke rumah kamu.
Kenya: Ok.
Silva mengunci layar ponselnya lalu mengembuskan napas cemas.
"Maksudnya dianterin apa?"
Sebuah suara berat di sampingnya membuat Silva menoleh. Ternyata sejak tadi Baffin ikut membaca isi obrolan di ponselnya.
"Dianterin sama asisten rumah tangganya," jawab Silva.
"Selalu kayak gitu?" tanya Baffin, sebelah alisnya terangkat.
"Iya."
"Dia gak pernah makan di ruang makan bareng keluarganya?"
"Enggak," Silva menggeleng pelan. "Kalaupun Kenya mau makan di bawah, biasanya nunggu sampai orang tuanya selesai duluan."
"Kenapa? Hubungan mereka gak baik?"
"Bukan gak baik, sih. Orang tua kandung Kenya sudah meninggal semua. Yang tinggal sama dia sekarang itu orang tua tiri, jadi Kenya masih belum bisa akrab. Padahal sebenarnya mereka baik."
Baffin mengernyitkan dahi, tampak tertarik. "Dua-duanya sudah meninggal?"
"Iya."
"Terus yang tiri itu bapak atau ibunya?"
"Dua-duanya."
"Lah? Gimana bisa?" Baffin menatap Silva heran.
"Setelah papanya meninggal, mamanya nikah lagi. Terus gak lama mamanya meninggal, nah, bapak tirinya ini nikah lagi. Gitu silsilahnya," jelas Silva panjang lebar.
"Rumit juga ya," gumam Baffin. "Terus kalau dia sakit kayak sekarang, siapa yang ngurus?"
"Ada banyak pembantu di rumahnya." Silva terdiam sejenak, lalu menatap Baffin dengan pandangan memohon. "Nanti sore... anterin aku ke rumah Kenya ya?"
Baffin mengangguk tenang tanpa ragu. "Iya."
Tak lama kemudian, guru mata pelajaran pertama masuk ke dalam kelas. Suasana yang tadinya bising perlahan mulai tenang saat guru membuka buku absen dan mulai memanggil nama murid sesuai urutan abjad.
Hingga tiba di satu nama... "Kenya..."
"Sakit, Bu," sahut Silva agak keras.
Di sudut kelas yang lain, gerakan tangan Archard yang sedang membalik halaman buku paketnya langsung terhenti seketika.
Sakit? batin Archard.
Cowok itu menatap bangku Kenya yang kosong.