NovelToon NovelToon
Raja Kiamat dengan Perlengkapan Tanpa Batas

Raja Kiamat dengan Perlengkapan Tanpa Batas

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Hari Kiamat
Popularitas:30.7k
Nilai: 5
Nama Author: Novi

Hendry Wijaya mati di periode kiamat tahun ke-12, dicabik oleh zombie Lord-Level di sebuah reruntuhan bangunan dip Jakarta.
Lalu ia membuka mata—30 hari sebelum dunia berakhir.
Semua ingatan 12 tahun di neraka itu masih utuh: siapa yang akan berkhianat, di mana kristal langka tersembunyi, kapan gelombang zombie pertama menerjang, dan siapa anjing jalanan kotor yang kelak menjadi legenda bernama Raja.
Bedanya? Kali ini Hendry punya Ruang Dimensi—gudang tak terbatas di mana waktu berhenti. Sementara orang lain panik membeli mie instan, ia menimbun seribu ton beras, ratusan ton daging, senjata, obat-obatan, dan cukup solar untuk menghidupi sebuah kota.
Hari pertama kiamat: semua orang kelaparan. Hendry makan rendang.

Di dunia di mana satu kristal bisa memicu perang, Hendry duduk di atas gunung kristal yang tak seorang pun tahu keberadaannya.
Di dunia di mana Lord-Level bisa meratakan kota, Hendry tersenyum—karena dia tahu persis kapan mereka akan mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Bab 11: Api dan Cahaya

"Istirahat selesai."

Bagus belum sempat mengambil sendoknya dari lantai ketika Hendry sudah berjalan ke pintu belakang.

Raja melesat lebih dulu. Tubuh hitamnya menembus halaman seperti bayangan, hanya menyisakan percikan listrik tipis di ujung ekor. Bagus menyambar linggis dari dekat dinding, lalu mengejar sambil menelan nasi terakhir di mulutnya tanpa dikunyah benar.

"Bro, itu orang atau tabung gas meledak?"

"Orang," kata Hendry.

Jawaban itu membuat Bagus mempercepat langkah.

Mereka tidak memakai jalan utama. Hendry memimpin lewat taman belakang, pagar samping, lalu celah di antara dua rumah kosong yang tadi siang sudah ia tandai. Cluster Pondok Indah yang biasanya terang kini seperti kerongkongan hitam. Lampu mati. Alarm mobil berbunyi jauh, patah-patah, lalu hilang. Dari selatan, bau asap bercampur daging busuk tertiup angin.

Raja berhenti di tikungan.

Grrrr.

Di depan mereka, tiga zombie menabrak-nabrak pagar rumah besar. Satu memakai seragam satpam, satu perempuan tua dengan daster robek, satu lagi anak muda bertubuh tinggi. Mereka berbalik begitu mencium manusia.

"Kiri," kata Hendry.

Bagus bergerak tanpa banyak tanya. Ia masuk dari kiri, linggis menghantam lutut zombie tinggi sampai tulangnya patah dengan bunyi kering. Raja menyapu dari kanan. Ekor hitamnya berkilat biru, menghantam kaki zombie satpam. Tubuh busuk itu jatuh tengkurap.

Hendry lewat di tengah.

Parang muncul dari Ruang Dimensi tepat di telapak tangannya.

Satu tebasan. Dua tebasan. Tiga kepala pecah sebelum mereka sempat berdiri lagi.

Bagus melirik parang yang baru saja muncul entah dari mana. Ia sudah melihat trik itu beberapa kali sejak ikut Hendry, tetapi matanya tetap berkedip.

"Gue masih belum biasa lihat lu narik barang dari udara, Bro."

"Biasakan."

"Jawaban lu pendek banget, ya."

"Hemat napas."

Bagus ingin membalas, tetapi ledakan api kedua menjawab lebih dulu.

BUUM!

Cahaya jingga menyapu tembok putih di ujung jalan. Bukan ledakan besar seperti bensin. Api itu naik bulat, padat, lalu menghantam kerumunan zombie seperti bola yang dilempar tangan manusia.

Hendry berhenti di balik mobil Alphard yang pintunya terbuka.

Di halaman rumah sudut, seorang perempuan berdiri dengan napas tersengal. Rambutnya terikat asal, pipinya penuh debu, dan tangan kanannya menyala merah-oranye. Api berkumpul di telapak itu seperti hewan buas yang dipaksa diam.

Melati Hartono.

Di belakangnya, seorang perempuan lain duduk bersandar pada pilar teras. Wajahnya pucat, lengan kirinya dibalut kain robek yang sudah basah darah. Meski begitu, matanya masih jernih. Ia menahan sakit tanpa menjerit, seolah suara sekecil apa pun bisa membuat kakaknya goyah.

Mawar Hartono.

Nama itu lewat di dada Hendry seperti pisau lama yang belum benar-benar dicabut.

Di kehidupan sebelumnya, ia terlambat mengenal banyak orang. Terlambat menyelamatkan. Terlambat membayar utang. Kali ini, api di depan matanya masih hidup. Cahaya itu belum padam.

Lima zombie tersisa mengepung halaman. Dua sudah hangus, merangkak dengan daging terbakar. Melati mengangkat tangan lagi, tetapi tubuhnya oleng. Api di telapaknya mengecil, lalu membesar paksa. Power Level 1 belum stabil. Jika ia memaksakan satu bola api lagi, ia bisa pingsan sebelum zombie terakhir mati.

"Raja, kanan. Bagus, pagar."

Hendry tidak menunggu izin.

Raja melompati kap mobil, menggigit pergelangan kaki zombie terdekat lalu menariknya jatuh. Bagus menabrak pagar rendah dan masuk seperti batu besar. Linggisnya menghantam punggung zombie yang hampir mencapai Mawar.

Melati berbalik cepat.

Api menyala di tangannya, kali ini mengarah ke Hendry.

"Mundur! Jangan mendekat!"

Suaranya serak, tapi tajam. Bukan panik kosong. Itu suara orang yang sudah siap membakar siapa pun jika adiknya disentuh.

Bagus mengangkat kedua tangan. "Santai, Mbak! Kita manusia!"

"Manusia yang hidup di hari begini belum tentu lebih aman dari zombie." Melati tidak menurunkan tangannya.

Hendry menghentikan langkah di tengah halaman. Ia bisa melihat jarak api, napas Melati, dan sudut serangan yang mungkin keluar. Dua meter terlalu dekat. Lima meter cukup aman. Ia berdiri di enam meter.

"Adik lu terluka," katanya. "Gue bisa bantu."

"Jangan sok tahu."

Hendry mengangkat tangan kosong.

Detik berikutnya, tas medis, botol air mineral, antiseptik, kasa steril, perban, gunting kecil, dan satu bungkus antibiotik muncul di paving halaman, tersusun rapi seperti baru dikeluarkan dari klinik.

Mata Melati berubah.

Api di tangannya tidak padam, tetapi bentuknya goyah.

Mawar yang bersandar di pilar menatap barang-barang itu, lalu menatap Hendry. Untuk pertama kalinya, rasa sakit di wajahnya kalah oleh heran.

"Kamu... punya persediaan medis?"

"Punya lebih dari itu," jawab Hendry. "Tapi sekarang yang penting luka lu."

"Jangan dekati dia," potong Melati.

"Kalau gue mau bunuh kalian, gue tinggal biarkan lima zombie tadi masuk." Hendry menunjuk zombie terakhir yang baru saja dijatuhkan Raja. "Atau gue lempar parang dari sini."

Bagus menoleh. "Bro, kadang cara lu menenangkan orang agak serem."

"Tapi jujur."

Melati menggertakkan gigi. Api di tangannya makin kecil. Ia melirik Mawar, melihat darah terus merembes dari kain robek, lalu akhirnya berkata, "Satu langkah aneh, gue bakar muka lu."

"Boleh."

Hendry berjalan mendekat pelan. Tidak tergesa. Tidak menunduk seperti orang takut. Tidak pula maju seperti pemangsa. Ia mengambil air mineral dan kasa, lalu berjongkok di depan Mawar.

"Cakaran?"

Mawar mengangguk. "Bukan gigitan. Dia nyambar dari jendela. Kak Mel dorong aku, tapi lenganku kena."

"Panas? Pusing? Pandangan kabur?"

"Sakit. Tapi... anehnya tidak separah tadi."

Hendry membuka kain robek itu.

Luka di lengan Mawar panjang, dari bawah siku sampai hampir ke pergelangan. Dalam, tetapi tidak sampai merobek urat besar. Yang membuat Bagus menahan napas bukan darahnya. Di tepi luka, ada cahaya keemasan yang sangat tipis, seperti benang matahari yang tertinggal di bawah kulit.

Daging yang terbuka bergerak pelan.

Menutup.

Sedikit demi sedikit.

Mawar sendiri tidak melihatnya dengan jelas. Melati melihat, lalu wajah kerasnya retak.

"War..." Suara Melati turun. "Lengan lu..."

Mawar menunduk. Matanya membesar.

"Itu apa?"

Hendry tidak langsung menjawab. Ia membersihkan luka dengan air, menekan darah secukupnya, lalu mengoles antiseptik. Mawar menggigit bibir, tetapi tidak menarik tangan. Perempuan ini selalu begitu dalam ingatan Hendry. Lembut, tapi bukan lemah.

"Tubuh lu sedang melawan luka," kata Hendry akhirnya. "Jangan panik. Ikuti napas gue."

"Kamu dokter?"

"Bukan."

"Tapi kamu tahu harus apa."

"Gue pernah lihat banyak luka."

Jawaban itu menggantung sebentar. Mawar tidak mengejar. Melati mengejar dengan mata, tetapi bukan dengan pertanyaan. Ia terlalu sibuk melihat adiknya bernapas lebih stabil.

Bagus berdiri di pagar, mengawasi jalan. "Bro, dua dari arah selatan."

"Ambil yang kiri. Raja, yang kanan."

Bagus menyeringai. "Siap."

Ia berlari, linggis diangkat. Raja melesat di sampingnya. Dua zombie yang datang karena bau darah tidak pernah sampai ke halaman. Satu jatuh dengan kepala pecah di aspal. Satu lagi tersentak ketika ekor Raja menghantam lehernya, lalu Hendry menebas dari jauh saat zombie itu terlempar masuk pagar.

Melati melihat koordinasi itu.

Bukan geng panik. Bukan preman yang memanfaatkan kekacauan. Tiga makhluk di depannya bergerak seperti sudah menerima kiamat sebagai medan kerja.

Hendry selesai membalut lengan Mawar. Ia tidak membalut terlalu ketat, memberi ruang untuk penyembuhan aneh yang masih berlangsung di bawah kulit.

"Lukanya aman untuk sekarang. Tapi kalian tidak bisa tinggal di sini. Api lu menarik zombie."

Melati menatapnya curiga. "Jadi kami harus ikut lu?"

"Pilihan lu ada tiga. Tetap di sini sampai zombie berikutnya datang. Jalan sendiri dalam gelap dengan adik terluka. Atau ikut gue ke villa yang ada pagar, air, obat, makanan panas, dan orang jaga."

"Makanan panas?" Bagus menoleh dari pagar. "Bro, bagian itu harusnya lu bilang dari awal."

Mawar tertawa kecil, lalu langsung meringis karena lengannya bergerak.

Melati menatap adiknya. Setelah semua api, darah, dan ketakutan, tawa kecil itu seperti retakan pertama di dindingnya.

"Nama lu siapa?" tanya Melati.

"Hendry Wijaya."

Alis Melati naik. "Wijaya?"

"Masalah keluarga gue sudah gue potong kemarin."

Bagus berdeham. "Dipenggal, tepatnya."

Melati diam satu detik.

Mawar menatap Hendry lebih lama, bukan takut, melainkan mencoba membaca apakah pria di depannya sedang bercanda.

Hendry berdiri. "Kita bicara di tempat aman. Bagus, bantu Mawar. Jangan tarik lengannya."

"Siap, Bro."

Melati langsung maju setengah langkah. "Aku yang bantu adikku."

"Kalau lu masih bisa jalan sambil siap bakar zombie, lebih baik tangan lu bebas."

Melati benci karena kalimat itu benar.

Akhirnya Bagus berjongkok dan memberi punggung. "Mbak, naik. Gue pelan-pelan. Kalau sakit, cubit leher gue."

Mawar ragu. Melati mengangguk tipis. "Naik, War."

Dalam perjalanan pulang, formasi mereka berubah. Raja di depan, hidung rendah menyapu jalan. Hendry di samping kanan, parang siap. Melati di kiri dengan api kecil hidup di telapak, cukup untuk menerangi wajahnya yang masih waspada. Bagus membawa Mawar di punggung, langkahnya berat tapi stabil.

Tiga kali zombie muncul dari gang. Tiga kali mereka jatuh sebelum menyentuh rombongan. Melati melempar bola api kecil sekali, tepat ke wajah zombie yang hampir menabrak Bagus. Api itu tidak besar, tetapi cukup membuat zombie goyah. Hendry menutup sisanya dengan parang.

"Jangan buang api kalau tidak perlu," kata Hendry.

"Lu ngatur gue?"

"Gue menjaga lu tetap sadar sampai villa."

Melati ingin marah. Mawar yang berada di punggung Bagus berkata pelan, "Kak Mel, dengarkan dulu."

Api di tangan Melati mengecil.

"Ck. Fine."

Mereka tiba di villa Hendry ketika langit mulai bergeser dari hitam pekat ke abu-abu tua. Hari ketiga kiamat datang tanpa matahari yang ramah.

Begitu gerbang tertutup, Melati baru benar-benar melihat isi halaman: jeriken air tersusun, karung beras, kompor portable, kotak obat, senjata dingin, dan jalur patroli yang sudah bersih dari mayat. Ini bukan tempat orang kaya bersembunyi. Ini basis kecil yang sudah disiapkan sebelum dunia runtuh.

Kecurigaannya tidak hilang.

Tapi ia tidak lagi memegang api setinggi wajah Hendry.

Hendry menyalakan kompor. Tidak lama kemudian, aroma soto ayam naik bersama uap panas. Kaldu, kunyit, serai, daun jeruk, ayam suwir, nasi, dan sambal terpisah. Untuk orang yang baru dua malam hidup di antara jeritan dan darah, bau itu hampir tidak masuk akal.

Bagus duduk di lantai dengan mangkuk besar. "Gue baru ikut sehari, tapi sumpah, keputusan terbaik hidup gue adalah tidak mukul Bro Hendry waktu pertama ketemu."

"Lu memang tidak akan menang," kata Hendry.

"Nah, itu juga alasan kedua."

Mawar menerima mangkuk dengan dua tangan. "Terima kasih."

"Makan dulu. Tubuh lu butuh tenaga."

Melati tidak langsung makan. Ia menunggu Mawar menyuap pertama, memastikan adiknya tidak dipaksa apa pun, baru mengambil mangkuknya sendiri. Satu suap. Bahunya yang tegang sejak tadi akhirnya turun sedikit.

"Ini enak," katanya, seolah tidak rela memuji terlalu keras.

"Dewi Rahayu nanti bisa masak lebih enak," kata Hendry.

"Siapa?"

"Orang yang belum kita jemput."

Melati menatapnya lagi. "Lu bicara seperti sudah tahu siapa yang akan hidup."

Hendry meniup sotonya. "Gue tahu siapa yang layak dicari."

Mawar menunduk pada mangkuknya. Cahaya keemasan di bawah perban sudah hampir hilang, tetapi rasa hangatnya masih terasa sampai dada. Di ruangan yang asing, bersama pria yang terlalu tenang dan seekor anjing hitam yang menatap soto seperti sedang menilai pajak, ia justru merasa napasnya lebih ringan.

Raja mendekati Mawar pelan, hidungnya mengendus mangkuk. Mawar tersenyum kecil.

"Kamu juga mau?"

Raja mengibaskan ekor sekali, pura-pura tidak terlalu ingin.

Mawar mengambil potongan ayam kecil dari mangkuknya. Saat tangannya turun, jarinya tidak sengaja menyentuh bekas luka tua di pangkal telinga Raja yang hilang.

Raja membeku.

Cahaya emas meledak lembut dari telapak Mawar.

Bukan api. Bukan listrik. Cahaya itu hangat, bersih, dan sunyi. Ia mengalir ke bekas luka Raja seperti air masuk tanah kering. Kulit kasar di sekitar telinga yang putus bergerak. Bekas robekan lama yang selama ini mati dan menghitam berubah merah muda, lalu menutup lebih halus.

Bagus berhenti mengunyah.

Melati berdiri begitu cepat sampai mangkuknya hampir tumpah.

Mawar menarik tangan, wajahnya pucat. "Aku... aku tidak sengaja."

Raja menyentuh bekas luka itu dengan kaki depan, lalu menatap Mawar. Untuk pertama kalinya sejak masuk villa, anjing hitam itu tidak menggeram pada orang asing.

Hendry memandang cahaya terakhir yang hilang dari jari Mawar.

Di luar, hari ketiga kiamat akhirnya pecah.

Di dalam villa, sesuatu yang jauh lebih langka daripada api baru saja menyala.

"Mawar," kata Hendry pelan, "lu Awakener. Tipe penyembuh."

1
umar aryo
novel yg bagus Thor, buat yg baca juga ikutan mikir... spt novel dokter Dewa... ini penulis bkn org biasa
umar aryo
makin kesini buat berpikir makin bingung, tp jujur ini novel yg bagus bgt
muhadsa
yang kristal level 6 saja sudah diserap dan aman saja kok,masa iya yang level 5 malah gak mampu../NosePick//NosePick/
muhadsa
anak buahnya dinaikin juga dong levelnya..
muhadsa
bunuh..gak ada tahanan perang..
muhadsa
namanya pada aneh aneh..ada suara,hujan,nasi..😄😄
muhadsa
anggotanya gak dinaikin juga levelnya..?
muhadsa
naik level juga cuma memperluas ruang dimensi,bukan untuk bertarung..
muhadsa
saya juga berpikiran gitu..kenapa namanya nasi..
muhadsa
terus kemampuan MC kita gak ada yang lain selain ruang dimensi ya..?
PonsParadiso
melati kok ga ada? kemana?
PonsParadiso
bagus thooor... tapi kok ga beli air siiih
PonsParadiso
air mana air.
Luthfi Afifzaidan
bagus apa santoso thor?
muhadsa: bagus santoso
total 1 replies
Hadi Hadi
lanjut 👍👍
Hadi Hadi
up 👍👍
Amiera Syaqilla
hi author🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!