NovelToon NovelToon
Cinta Yang Menunggu Waktu

Cinta Yang Menunggu Waktu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Single Mom
Popularitas:524
Nilai: 5
Nama Author: Amoreiza Aneta

Andira merupakan seorang wanita yang di tinggal oleh suaminya ketika pernikahan mereka memasuki usia 6 tahun. suaminya meninggalkannya karena meninggal pada saat kecelakaan. Andira terpukul dan sedih karna harus merelakan suaminya pergi untuk selamanya. menjelang 4 bulan kepergian suaminya banyak cinta yang datang kepadanya tetapi dia tidak terlalu menanggapinya sampai akhirnya ada yang muncul dan itu cinta pertama nya, akhirnua dia menerima tapi banyak cobaan dan godaan yang dialamin mereka tapi pada akhirnya mereka bisa sampai pada jenjang pernikahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amoreiza Aneta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keluarga Yang Kupilih

Andira masih sekota sama Rendi.

Andira sendiri anak yatim piatu. Gak punya saudara.

Pas nikah sama Renaldi, dia udah nganggep semua saudara dan ipar Renaldi itu saudaranya.

Tanpa beda-bedain.

Cuma Imel aja yang suka iri sama pencapaian dan kelebihan Andira.

"Lia, Reno, kalian tetep di sini temenin aku ya sampe selesai 40 hari Mas Renaldi,"

ucap Andira pas mereka lagi nikmatin makan malam bareng.

"Iya, Mbak," jawab Lia sambil nyendokin nasi ke piring Rendi.

"Aku gak nganggep kalian beban atau apapun.

Yang aku tau kita keluarga. Jangan tinggalin aku karena Mas Renaldi udah gak ada.

Jangan tinggalin aku juga karena aku gak punya ikatan berupa anak,"

pinta Andira. Matanya berkaca-kaca.

"Iya, Mbak. Kami akan tetep di sini sebagai saudara dan keluarga.

Jangan masukin semua kata Mbak Imel ke hati, Mbak ya.

Dia orangnya emang begitu udah,"

jawab Rendi. Dia narik napas panjang.

Abis makan malam, mereka cerita-cerita di ruang tamu.

Masih sedih, tapi Andira berusaha ngelawan semua rasa itu.

"Tante, besok Putri ke sekolah ya. Tapi tas Putri rusak.

Ayah janji kalo ada orderan lebih baru dibeli,"

ucap Putri. Disambar Tio.

"Iya, Tante. Tio juga," sambung Tio sambil nunjuk tasnya yang resletingnya jebol.

Andira senyum. "Iya, udah Tante beliin ya."

Dia ambil HP-nya. Buka aplikasi oren.

Dia milih sepatu sama tas sekolah buat anak umur 10 tahun sama 7 tahun.

"Udah Tante beli ya. Mungkin besok atau lusa udah dianter,"

ucap Andira sambil nunjukin gambar tas ke Putri sama Tio.

"Hore... makasih, Tante!" jawab Putri sama Tio bareng.

Mereka peluk kaki Andira.

"Aduh, Mbak, jangan. Ini merepotin Mbak,"

ucap Lia. Mukanya gak enak.

"Gak apa-apa, Lia. Aku seneng kok mereka bisa minta barang ke aku.

Selama ini kan gak pernah," jawab Andira.

Dia cubit pipi Putri pelan.

Meski hidup sederhana, Lia sama Rendi gak pernah menggantungkan hidup ke saudara.

Apapun itu mereka usaha sekuat tenaga buat nutupin kebutuhan hidup sama sekolah anak.

Rendi ojek dari pagi sampe malam.

Lia jualan nasi kuning di depan rumah tiap subuh buat bantuin kebutuhan rumah tangga.

"Ya udah ya, Mbak ke kamar dulu," ucap Andira.

Dia berdiri pelan.

"Iya, Mbak," jawab Lia sama Rendi serempak.

"Kenapa kalian nyusahin Tante? Kan Tante masih berduka.

Jangan repotin Tante. Buat sepatu kalian, kan Ayah udah janji.

Nanti kalo dapet orderan lebih Ayah beliin,"

kata Rendi ke kedua anaknya. Mukanya serius.

"Tapi, Ayah, kami harus sekolah. Nunggu sampe kapan?

Kami ketinggalan pelajaran," ucap Putri sambil nunduk.

Jari-jarinya mainin ujung baju.

"Ayah, kami janji ini yang terakhir ngerepotin Tante,"

pinta Tio. Matanya berair.

"Udah, udah, sana tidur. Ini udah larut malam,"

potong Lia. Dia mengelus kepala anak-anaknya.

Putri sama Tio jalan ke kamar.

Karena rumah ini cuma punya 3 kamar, jadinya mereka tidur di kamar yang sama.

"Kamu ini toh, Dek. Selalu aja belain anak-anak,"

ucap Rendi ke istrinya.

"Bukan begitu, Mas. Kan Mbak Andira juga gak keberatan,"

jawab Lia sambil beresin piring.

"Ya betul, tapi Mas malu, Dek,"

ucap Rendi. Kepalanya nunduk. Dia ngerasa jadi laki-laki yang gak bisa kasih yang terbaik buat anaknya.

Karena jam udah nunjukin pukul 11 malam, Lia sama Rendi mutusin ke kamar buat istirahat.

Besok Lia harus bangun subuh buat nyelesaiin kerjaan rumah.

Rendi harus cari penumpang jam 6 lewat.

Mereka percaya kalau bangun kesiangan itu rezeki lari.

Makanya mereka selalu nyempetin bangun subuh.

Di kamar, Andira gak bisa tidur.

Dia terus mikirin suaminya.

Dia denger semua percakapan ipar sama keponakannya tadi.

Tapi dia gak nganggep itu beban.

Dia seneng karena ada yang mau ngerepotin dia.

Dia seneng bisa bantuin Lia sama anak-anaknya.

Karena selama ini cuma Lia ipar yang peduli ke dia kayak adik kakak.

Gak kayak Imel yang selalu kasar dan nganggep dia saingan.

Andira buka laci. Ngambil foto pernikahan.

Diciumnya pelan.

"Mas, aku seneng, Mas. Ternyata setelah Mas pergi,

aku masih punya keluarga. Keluarga yang Mas titip ke aku,"

bisik Andira ke foto itu.

Air matanya jatuh ke kaca foto.

Dia usap pake jempol.

"Mas, aku beliin Putri sama Tio tas ya.

Mereka pinter, Mas. Umur segitu udah ngerti susahnya Ayahnya.

Putri bilang ke aku, 'Tante, yang sabar ya. Om udah senang di sana.'

Pinter banget kan, Mas, anaknya Mbak Lia?"

Andira ketawa kecil. Tapi ketawanya patah.

"Mas, aku janji. Selama aku masih ada,

aku akan jagain mereka. Kayak Mas jagain aku dulu."

Jam 2 pagi, Andira masih melek.

HP-nya bunyi "ting". Chat dari Lia masuk.

"Mbak, maaf ya ganggu. Putri mimpi buruk.

Dia kangen Om Renaldi. Boleh Mbak temenin dia tidur gak?"

Andira langsung bangun. Dia ke kamar Putri sama Tio.

Putri lagi meringkuk, keringetan.

"Mimpi Om, Tante. Om senyum ke Putri, terus Om ngilang,"

isak Putri pas liat Andira.

Andira langsung peluk Putri. "Udah, sayang.

Om cuma mampir. Om sayang Putri banget.

Makanya Om mampir di mimpi."

Andira tiduran di samping Putri.

Dia nyanyiin lagu nina bobo pelan-pelan.

Lagu yang dulu Renaldi nyanyiin buat dia pas dia sakit.

Tio ikutan merem. Kepalanya di paha Andira.

Andira usap-usap rambut dua keponakannya itu.

"Mas, liat nih. Anak-anak Mbak Lia sayang aku, Mas.

Kayak aku sayang Mas dulu," bisik Andira.

Subuh jam 4, Lia bangun. Dia kaget liat Andira ketiduran

di lantai, ngalasin tikar, sambil dipeluk Putri sama Tio.

"Ya Allah, Mbak. Masuk kamar aja, Mbak. Di kasur,"

bisik Lia sambil nutupin badan Andira pake selimut.

Andira kebangun. "Gak apa-apa, Lia. Aku nyaman di sini.

Deket mereka. Rasanya kayak Mas masih ada."

Lia ikut duduk di lantai. "Mbak, makasih ya udah mau jadi

'Ummi' buat anak-anak aku. Padahal Mbak sendiri lagi sakit."

Andira senyum. "Aku gak sakit, Lia.

Aku malah sembuh karena mereka.

Mereka ngajarin aku kalau hidup masih harus jalan."

Jam 5 pagi, Rendi udah siap-siap. Pake jaket ojek.

Dia salim ke Andira yang lagi nyuapin Putri bubur.

"Mbak, doain Mas ya. Biar hari ini dapet orderan banyak.

Biar bisa cepet beliin Tio sepatu baru," ucap Rendi.

Andira salim balik. "Iya, Mas. Hati-hati di jalan.

Rezekinya Mas lancar. Anak-anak Mas pinter."

Rendi keluar. Lia ke dapur masak nasi kuning.

Wanginya nyebar ke seluruh rumah.

Andira bantuin bungkusin nasi kuning pake daun pisang.

Tangannya masih kaku. Tapi dia maksa biar gak mikir macem-macem.

"Mbak, aku bisa jualan juga gak?" tanya Andira.

Lia kaget. "Lho, Mbak? Mbak kan guru. Gak usah, Mbak."

"Justru karena aku guru, aku harus kerja, Lia.

Biar aku gak gila di rumah. Biar aku ngerasain Mas masih nemenin aku kerja,"

jawab Andira. Matanya berkaca, tapi suaranya tegas.

Lia peluk Andira dari samping. "Iya, Mbak.

Kita jualan bareng ya. Tapi Mbak gak usah capek-capek."

Siang itu, pesanan tas sama sepatu dateng.

Kurirnya ngetok pintu. "Paket atas nama Putri."

Putri sama Tio langsung teriak. "Tasnya dateng!"

Mereka buka bareng. Tas warna pink buat Putri, biru buat Tio.

Sepatunya juga baru. Wangi.

Putri langsung pake, muter-muter di ruang tamu.

"Tante, aku kayak putri beneran!"

Tio ikutan pake. "Aku kayak superhero, Tante!"

Rendi pulang jam 6 sore. Capek. Keringetan.

Tapi pas liat anaknya pake tas baru, dia langsung senyum lebar.

"MasyaAllah. Makasih ya, Mbak Andira," ucap Rendi tulus.

Andira geleng. "Gak usah makasih, Mas.

Anggep aja ini kado dari Om Renaldi buat keponakan kesayangannya."

Malam itu mereka makan bareng lagi.

Lauknya ayam goreng. Masakan Lia.

Andira makan 6 suap. Lebih banyak dari kemarin.

"Mas, aku makan banyak ya hari ini.

Soalnya ada yang nyuapin," bisik Andira ke foto Renaldi di meja.

Abis makan, mereka nonton TV bareng.

Film kartun. Putri ketawa ngak. Tio ikutan.

Andira liat itu, dadanya anget.

Nyeseknya masih ada. Tapi gak setajam kemarin.

Sebelum tidur, Andira kumpulin mereka bertiga.

"Lia, Reno, Putri, Tio. Denger ya.

Mbak/Mami/Papa/Tante janji. Kita keluarga.

Kita gak ninggalin satu sama lain. Ya?"

Mereka kompak jawab, "Iya!"

Andira peluk mereka semua.

"Mas, aku nemu keluarga baru, Mas.

Keluarga yang Mas pilih buat aku."

Di kamar, Andira buka diary lagi.

Ditulisnya:

"Hari ke-7 Mas pergi. Aku nangisnya udah berkurang.

Karena ada Putri yang nyubit pipi aku bilang, 'Tante cantik.'

Ada Tio yang bilang, 'Tante, nanti Tio yang bayarin Tante umroh ya.'

Ada Mbak Lia yang masakin aku. Ada Mas Rendi yang doain aku.

Mas, aku gak yatim lagi.

Karena Mas ninggalin aku keluarga.

Keluarga yang mau nerima aku apa adanya.

Mandul, janda, miskin. Tapi tetep disayang."

Andira tutup diary. Dia tidur peluk guling Renaldi.

Kali ini gak nangis. Cuma senyum.

Karena dia tau, Renaldi pergi.

Tapi cinta Renaldi ninggalin orang-orang yang jagain dia.

Dan itu cukup buat bikin Andira kuat 40 hari ke depan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!