Seratus tahun telah berlalu sejak Shi Hao mengorbankan kultivasinya menggunakan Teknik Terlarang untuk menyelamatkan Alam Atas dari kehancuran Kaisar Langit. Di Alam Atas, kedamaian semu tercipta di bawah pimpinan Dewan Bersama (Raja Yan, Lei Zhen, Ao Zun).
Namun, di sebuah desa fana yang terpencil, Shi Hao hidup bahagia sebagai petani buta dan lumpuh bersama istri fananya (Gu Qing Yi yang menyembunyikan identitasnya). Kepompong fana Shi Hao perlahan-lahan menyehatkan jiwanya yang hancur, menanamkan pemahaman Dao Kemanusiaan yang belum pernah dicapai oleh Dewa mana pun.
Kedamaian itu hancur ketika Dinding Dimensi Alam Atas robek. Shen Yu, Dewa Iblis dari Semesta Sembilan Nether yang telah menaklukkan ribuan alam, akhirnya tiba bersama pasukan jenderalnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 11
Dunia Fana – Batas Udara Desa Angin Lembut.
Langit malam benar-benar telah hancur. Warna merah darah menyelimuti seluruh cakrawala, seolah galaksi fana ini sedang berdarah. Gravitasi yang kacau membuat pohon-pohon bambu tercerabut dari tanah, melayang perlahan ke udara bersama genteng-genteng rumah warga.
Di tengah jeritan panik penduduk desa, sebuah teratai raksasa berwarna zamrud tiba-tiba mekar di udara, membungkus seluruh Desa Angin Lembut dalam kubah cahaya yang menyejukkan. Pohon dan genteng yang melayang kembali jatuh ke bumi dengan lembut.
Di puncak teratai itu, Gu Qing Yi berdiri mengambang. Zirah sutranya berkibar dihempas badai kosmik.
Kelima Penjaga Teratai yang sebelumnya hampir mati menahan tekanan formasi, kini berlutut di udara di belakang Qing Yi, terengah-engah.
"N-Nyonya..." Lu Bai menelan ludah, melihat punggung Qing Yi yang memancarkan aura Raja Dewa secara penuh. "Langit terbelah... Ini bukan sekadar tekanan ruang. Ada pertempuran Dewa Sejati di batas luar dimensi kita!"
Qing Yi tidak menjawab. Matanya yang tajam menatap jauh menembus tabir langit merah.
Tiba-tiba, pupil Qing Yi mengecil.
Dari balik robekan langit fana, sebuah Batu Spasial (Meteorit Dimensi) meluncur turun. Batu itu bukan meteor biasa; itu adalah serpihan medan perang dari bentrokan antara Wuming dan Long Tu di Alam Atas. Ukurannya hanya sebesar bukit kecil, namun batu itu membawa hukum Kehancuran Nether dan Bobot Bintang.
Gesekannya dengan atmosfer fana menciptakan api hitam yang menyala-nyala. Jika batu itu jatuh, bukan hanya Desa Angin Lembut yang akan rata dengan tanah, tapi seluruh benua fana ini akan terbelah menjadi dua.
"Lindungi desa!" perintah Qing Yi mutlak.
Qing Yi melesat naik, menyongsong meteorit hitam itu sendirian. Tangannya membentuk segel tertinggi.
"Teknik Ilusi Teratai Hijau: Ribuan Kelopak Surga!"
Sembilan ribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan kelopak teratai raksasa yang terbuat dari Qi padat muncul di udara, bertumpuk membentuk perisai kuat di jalur jatuh meteorit tersebut.
BOOOOOOOOOOOM!
Batu spasial itu menghantam kelopak teratai. Ledakan suaranya menyapu awan dalam radius ribuan mil.
Kelopak teratai pertama hancur. Lalu yang kedua. Kesepuluh. Keseratus.
Meteorit itu terlalu berat. Ini adalah serpihan dimensi abadi yang jatuh ke dimensi fana.
Wajah Qing Yi memucat. Qi di dalam tubuhnya mendidih. Dia bisa menghindar kapan saja dan menyelamatkan dirinya sendiri, tapi tepat di bawahnya adalah gubuk bambu tempat suaminya tertidur. Jika satu percikan api hitam itu menyentuh gubuk itu, tubuh fana Shi Hao akan menjadi abu.
"AKU... TIDAK AKAN MUNDUR!"
Qing Yi menggigit lidahnya, membakar esensi darah Raja Dewa-nya untuk memperkuat perisai.
Namun, batas dunia fana menolak kekuatannya. Semakin besar kekuatan yang Qing Yi keluarkan, semakin Hukum Alam dunia fana ini menekan dan melukainya dari dalam.
KRAAAK!
Perisai teratai terakhir retak. Meteorit itu menembus pertahanan Qing Yi. Energi dorongannya menghantam tubuh Qing Yi dengan telak.
"BWAH!" Qing Yi memuntahkan seteguk darah emas.
Tubuhnya terlempar ke bawah, melayang jatuh seperti dedaunan musim gugur yang putus dari rantingnya. Kesadarannya mulai mengabur, matanya menatap pasrah ke arah gubuk di bawah sana.
Maafkan aku, Hao... aku tidak bisa menjaga mimpi indahmu lebih lama... batin Qing Yi dengan air mata yang menetes ke udara.
Di Dalam Gubuk Keluarga Shi.
Dunia di luar mungkin sedang berperang, tapi di dalam gubuk, waktu terasa berhenti.
Di atas ranjang, Shi Hao tidak lagi tertidur dengan tenang. Keringat membasahi seluruh tubuhnya. Matanya terpejam erat, namun di dalam kegelapan Lautan Kesadarannya, sebuah badai sedang mengamuk.
Dia mendengar suara ledakan. Dia merasakan hawa panas. Dan yang paling penting... dia merasakan rasa sakit yang menusuk hati dari tetesan darah Qing Yi.
Ikatan karma di antara mereka tidak bisa diputus oleh amnesia. Saat Qing Yi terluka, jiwa Shi Hao menjerit.
Dalam kegelapan batinnya, sebuah suara kuno yang sangat familiar bergema. "Kekuatan hanyalah alat... Apakah kau akan terus tertidur saat pelindungmu jatuh berdarah?"
Shi Hao yang fana A-Hao si petani buta berdiri di depan dinding ketiadaan di dalam jiwanya. Dinding itu adalah "Segel" yang mengurung kultivasi Kaisar Asuranya.
A-Hao mengingat seratus tahun terakhir. Menyapu debu, membelah kayu, merasakan hangatnya matahari, mendengar tawa anak-anak desa, dan mengecap manisnya teh bunga persik buatan istrinya.
Kehidupan fana yang lemah, namun penuh makna.
"Aku mengerti sekarang," batin Shi Hao. "Menjadi Dewa berarti berdiri di atas segalanya. Tapi menjadi Manusia... berarti berdiri di depan orang yang kau cintai."
A-Hao meletakkan tangannya di atas dinding segel yang tak tertembus itu. Bukan dengan niat menghancurkan, tapi dengan penerimaan.
Kekacauan (Chaos) tidak perlu ditekan. Kekacauan hanya perlu diisi dengan Kemanusiaan.
KRAAAAAAAAAAAK!
Di dunia nyata, mata kanan Shi Hao terbuka.
Bukan lagi kebingungan seorang pria buta. Di mata itu, ada ketenangan kosmik yang telah melalui seribu reinkarnasi.
Kain putih yang melilit mata kirinya mendadak terbakar menjadi abu perak, tidak menyisakan bekas luka apa pun.
Garis vertikal di tengah dahinya tempat di mana Mata Ketiga Samsara dulu dihancurkan mulai bersinar. Perlahan, kelopak mata ketiga itu terbuka.
Namun, yang memancar keluar bukanlah cahaya merah darah penuh kebencian dan pembantaian seperti masa lalu.
Cahaya itu berwarna Emas Kehidupan. Hangat, murni, dan tak terbatas. Itu adalah fusi sempurna dari Dao Kekacauan dan Dao Kemanusiaan.
Kaisar Asura... telah terbangun.
Di Langit Desa Angin Lembut.
Meteorit spasial itu tinggal seratus meter lagi dari tanah. Qing Yi yang terluka parah jatuh tanpa daya mendahuluinya, hanya berjarak belasan meter dari atap gubuknya sendiri.
Kelima Penjaga Teratai berteriak histeris, melesat mencoba menangkap tubuh Nyonya mereka, tapi tekanan meteorit itu mengunci ruang di sekitar mereka.
Tepat saat tubuh Qing Yi hampir membentur tanah...
Pintu gubuk kayu itu tidak terbuka, melainkan terurai menjadi debu cahaya.
Sesosok pria melangkah keluar. Langkahnya terlihat sangat lambat, seperti kakek tua yang sedang berjalan santai di pagi hari, namun pada saat kaki kirinya menyentuh tanah, kaki kanannya sudah berpijak di udara hampa.
Dalam sekejap mata, dia sudah menangkap tubuh Qing Yi ke dalam pelukannya yang kokoh dan hangat.
Waktu seolah membeku.
Meteorit raksasa beraura api hitam itu menggantung di udara tepat di atas kepala pria tersebut, jaraknya tak lebih dari satu inci dari rambutnya.
Shi Hao mengangkat tangan kirinya, hanya menggunakan satu jari telunjuk, dan menyentuh dasar meteorit raksasa itu.
TING.
Suara sentuhan jari itu terdengar jelas di seluruh penjuru desa, menenggelamkan gemuruh meteor.
Dari ujung jari Shi Hao, riak Mortal Dao (Dao Kemanusiaan) berwarna emas menyebar melapisi seluruh batu hitam sebesar bukit tersebut. Hukum Nether dan Kehancuran di dalam batu itu dinetralkan seketika, diubah menjadi debu tanah liat biasa.
Lalu, batu raksasa itu runtuh menjadi hujan serbuk emas kelopak bunga persik yang menghujani desa dengan sangat indah. Tidak ada ledakan. Tidak ada kehancuran. Hanya keajaiban murni.
Di pelukan Shi Hao, Gu Qing Yi perlahan membuka matanya yang sayu.
Dia melihat wajah pria yang sedang memeluknya. Kain putih itu telah hilang. Mata kirinya telah sembuh.
Tubuh Qing Yi bergetar hebat. Air mata deras mengalir di pipinya.
Bukan karena rasa sakit dari lukanya, tapi karena dia tahu, rahasianya telah berakhir. Sang Naga telah bangun dari tidur fananya.
"Suamiku..." bisik Qing Yi, suaranya tercekat. "Kau... kau sudah..."
Shi Hao menatap wajah istrinya yang pucat. Tangannya yang hangat mengusap darah dari sudut bibir Qing Yi. Senyumnya persis sama seperti A-Hao si petani, namun keagungannya adalah milik sang Kaisar penguasa semesta.
"Kau bekerja terlalu keras, Istriku," kata Shi Hao. Suaranya tidak lagi berat dan dingin seperti seabad lalu, melainkan dalam, tenang, dan dipenuhi kasih sayang yang meluap-luap.
"Maafkan aku karena membiarkanmu memikul langit sendirian selama seratus tahun."
Tangis Qing Yi pecah. Dia membenamkan wajahnya di dada bidang Shi Hao, mencengkeram jubah rami pria itu seerat mungkin. "Hao... A-Hao... maafkan aku berbohong padamu... maafkan aku menyembunyikannya..."
Shi Hao terkekeh pelan. Tawa yang menggetarkan udara di sekitarnya.
"Menyembunyikan apa? Bahwa teh bunga persikmu seratus kali lebih berharga dari obat surgawi? Atau bahwa babi hutan tempo hari mati bukan karena serangan jantung?"
Shi Hao memeluk bahu Qing Yi, mengalirkan Qi penyembuhan ke dalam tubuh istrinya.
"Aku tidak pernah membuang ingatan A-Hao, Qing Yi. Seratus tahun ini adalah harta paling berharga dalam hidupku. Kau tidak mengurungku. Kau menyembuhkanku."
Di kejauhan, Lu Bai dan keempat elit lainnya menatap pemandangan itu dengan mulut ternganga, lutut mereka lemas dan akhirnya jatuh berlutut di atas awan, bersujud dengan gemetar ke arah Shi Hao. Tuan mereka telah kembali seutuhnya.
Shi Hao perlahan melepaskan pelukannya, membiarkan Qing Yi berdiri di atas udara.
Dia kemudian mendongak, menatap ke arah pusaran merah darah di ujung langit fana yang terhubung langsung ke Alam Atas. Mata emasnya menembus jarak jutaan tahun cahaya, melihat armada kapal perang, melihat Ao Zun yang terluka, Wuming yang mengamuk, dan melihat hawa busuk Sembilan Nether.
Senyum di wajah Shi Hao perlahan memudar, digantikan oleh ketenangan mematikan.
"Istriku," kata Shi Hao tanpa menoleh, tangannya merentang ke udara kosong di sampingnya.
Di dalam Dantiannya, sisa-sisa logam yang pernah menjadi tombaknya bergetar dan terbangun, memadat menembus kulit tangannya, membentuk kembali sebuah senjata berwarna hitam yang jauh lebih sederhana namun memancarkan teror.
Tombak Asura.
"Tunggulah di rumah dan siapkan sup jamur liar itu lagi," kata Shi Hao, meremas gagang tombaknya hingga udara menjerit.
"Aku akan pergi ke atas sebentar. Ada tamu tak diundang yang lupa mengetuk pintu."