Sinta harus membayar hutang keluarganya dengan cara dia menikah dengan kepala desa dan menjadi istri keduanya.
Pernikahan ini diatur oleh mama sangat kepala desa dengan harapan agar Sinta bisa membuat sang kepala desa berpisah dengan istri pertamanya.
Sebuah pernikahan yang penuh misteri sampai akhirnya Sinta tahu rahasia yang membuat nya terjebak dalam pernikahan neraka ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Henny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gizel Kesal
Gizel turun dari mobilnya. Tadi pagi-pagi sekali ia sudah menelepon suaminya namun ponsel Mahendra tak aktif. Ia memutuskan untuk datang ke desa karena akan mengambil paspor nya. Papanya sudah bangun dan keluarga hendak membawanya berobat ke Penang.
"Nyonya?" mbo Sarmi kaget melihat sang nyonya pertama tiba di sini pukul 7.30 pagi.
"Di mana suamiku? Bukankah jam segini biasanya dia sudah bangun untuk olahraga?" tanya Gizel. Ia mendongakkan kepalanya dan melihat jendela kamar suaminya yang masih tertutup. Demikian juga dengan gordennya. Biasanya jika Mahendra sudah bangun, ia akan membuka jendela kamarnya dan membiarkan cahaya matahari masuk ke kamar itu.
"Tuan belum bangun, nyonya. Mungkin kelelahan karena acara ulang tahun desa kemarin."
"Di mana Sinta?"
"Sepertinya dia juga belum bangun."
"Apa?" Gizel segera melangkah memasuki rumah. Ia mengetuk pintu kamar Sinta. "Sinta....!"
Tak ada sahutan dari dalam kamar, akhirnya Gizel membuka pintu itu yang ternyata tidak dikunci. Ia terkejut. Melihat tempat tidur yang rapi. Ia melangkah menuju ke kamar mandi dan membuka pintunya. Kosong. Lantainya pun kering.
Saat Gizel keluar kamar, Yanti, salah satu pelayan yang berusia 28 tahun nampak sedang mengepel di depan kamar itu.
"Di mana Sinta?" tanya Gizel.
"Nyonya tak ada. Sepertinya tidak tidur di kamar ini."
"Lalu dia tidur di mana?"
"Di kamar atas. Kemarin juga nyonya Sinta tidur di kamar atas."
"Memangnya dia sudah pindah kamar?"
""Sepertinya belum. Nyonya Sinta kayaknya tidur di kamar tuan. Kemarin saat saya membersihkan ruangan atas, keduanya keluar kamar sudah hampir jam 11. Nyonya Sinta bahkan hanya memakai kemeja tuan.
"Sinta tidur di kamar Mahendra?" Ingin rasanya Gizel berteriak. Dia saja yang sudah 6 tahun menikah dengan Mahendra belum pernah ada di kamar itu. Mahendra selalu mengatakan kalau kamar itu adalah area pribadinya yang tak bisa dimasuki oleh sembarangan orang.
"Sial!" Gizel memaki. Ia langsung menaiki tangga dengan emosi yang tertahan. Ia berdiri di depan kamar Mahendra dan bersiap untuk mengetuk pintu. Namun ia berusaha menguasai dirinya. Mahendra tak suka jika dia berada di kamar ini lalu diganggu.
"Sial....! Apa yang mereka lakukan di sana? Aku benci!" Gizel menuju ke kamarnya. Ia akan menunggu sampai jam 8 dan kembali ke kamar itu.
Di dalam kamar, kedua pasangan yang menghabiskan malam panas sampai jam 2 subuh itu masih terlelap.
Sinta tidur menghadap ke samping kanan sementara Mahendra ada di belakangnya. Memeluk Sinta dengan posesif. Ia menarik tubuh istri keduanya itu untuk menempel di dadanya. Sentuhan kulit mereka yang sama-sama polos tak menggunakan apapun membuat tubuh mereka menjadi hangat.
"Abang...., aku harus bangun." kata Sinta sambil melepaskan tangan Mahendra yang melingkar di perutnya.
"Sedikit lagi." ujar Mahendra sambil mengeratkan pelukannya.
"Tapi aku mau buang air kecil."
"Pergilah dan kembali lagi. Jangan dulu memakai bajumu."
Sinta pun segera ke kamar mandi. Setelah selesai dengan urusan buang air kecilnya, ia kembali ke atas ranjang. Mahendra kembali memeluknya. Kali ini sambil memberikan kecupan-kecupan kecil namun menggoda membuat buku kuduk Sinta berdiri. Apalagi tangan Mahendra yang mulai nakal menyentuh ujung dadanya.
"Abang.....!" Sinta mendesah. Sebenarnya dia ingin mengeluh, badannya masih sakit semua. Namun tangan Mahendra yang bermain di tempat-tempat sensitif ditubuhnya membuat Sinta terbakar. Ia segera menaikkan badannya, kini keduanya saling berhadapan.
"Aku ingin kamu di atas." kata Mahendra lalu mencium bibir Sinta.
Tak peduli pagi yang mulai beranjak panas, keadaan di kamar itu lebih panas.
Sinta melakukan apa yang diperintahkan Mahendra. Ia memegang kendali di atas Mahendra.
Ponsel Mahendra berdering, sambil menikmati permainan istrinya, lelaki itu mencoba meraih ponselnya. Ia melihat ada nama Gizel di sana. Mahendra bermaksud menekan tombol merah namun tangannya tak sengaja menelan tombol hijau. Ponsel itu jatuh di lantai karpet yang tebal.
"Ah ...Abang.....!" Sinta terjebak balutan hasrat tak terbantahkan dari suaminya.
Di kamarnya, Gizel terpana. Suara Sinta terdengar begitu bergairah. Sesekali ada suara Mahendra yang tertahan dengan bunyi napasnya yang kuat.
"Aku tak tahan lagi." rintih Sinta. Teriakan tertahannya terdengar diikuti suara Mahendra yang juga nampaknya tiba pada puncaknya.
"Gila ...! Ini gila....! Bukankah ini masih hari milikku?" Gizel membuang semua barang yang ada di depannya. Hatinya benar-benar cemburu. Ia bergegas ke kamar Mahendra. Diketuknya pintu itu perlahan walaupun sebenarnya emosinya sudah hampir pecah.
"Sayang ......!" panggil Gizel lembut.
Sinta yang masih terbaring dalam keadaan polos segera bangun. "Mba Gizel."
Mahendra bangun dengan wajah yang tenang. Ia menarik selimut dan menutupi tubuh polos Sinta, setelah itu ia mengambil celana pendek dan memakainya lalu berjalan menuju ke arah pintu. Dari pintu kamar, memang tempat tidur Mahendra tak terlihat.
Ia membuka pintu. "Ada apa?"
"Aku telepon dari tadi tapi nggak diangkat? Lho sayang, tangannya kenapa?" Gizel kaget melihat tangan Mahendra. Kesempatan itu digunakan olehnya untuk masuk ke dalam kamar.
"Aku tidak apa-apa. Tunggulah di bawah, aku akan mandi dan berpakaian."
"Bagaimana caranya mandi dengan tangan terluka seperti ini? Ayo aku temani untuk mandi." kata Gizel.
"Ada Sinta. Dia akan membantu aku saat mandi. Tunggulah di bawah, dan kita akan sarapan bersama. Ayo keluar!"
"Sayang, kok sekarang kamu lebih pentingkan Sinta sih?"
Wajah tenang Mahendra berubah menjadi kesal. "Gizel, aku tak mau ada drama, ada rasa cemburu di antara Kelian berdua. Sikapku netral tak ada yang berlebihan."
"Baiklah, sayang. Aku tunggu di bawah ya. Jangan lama karena aku harus kembali ke kota." Gizel keluar dengan menahan marah di dada. Awas kau Sinta!
Mahendra kembali ke ranjang. Nampak Sinta sudah bangun dan sementara mengatur tempat tidur.
"Mulai sekarang, kamu bertugas untuk membersihkan kamarku." kata Mahendra.
"Tapi mbo Sarmi?"
"Mbo Sarmi akan masuk ke kamarku untuk mengambil baju kotor dan membawa baju yang sudah selesai di cuci. Pembantu yang lain tidak ku ijinkan masuk ke sini. Ayo mandi!"
Sinta menarik napas panjang. Perintah Mahendra adalah perintah. Dan dia tak bisa membantahnya.
**********
Gizel menatap suaminya dan madunya yang turun tangga. Sinta ada di belakang Mahendra. Rambut gadis itu nampak basah.
"Selamat datang, mba. Aku ke kamar dulu untuk ganti pakaian." Sinta memang masih menggunakan gaunnya yang kemarin.
"Sayang, kenapa dia bisa tidur di kamarmu sedangkan aku nggak pernah?" tanya Gizel menumpahkan kesedihan hatinya.
"Jangan mengeluh, Gizel. Semalam tak sengaja Sinta harus berada di kamarku." jawab Mahendra lalu duduk di samping Gizel.
"Papa sudah sadar. Kami ingin berobat lanjut ke Penang. Aku datang mengambil Paspor ku karena ponselmu tak juga diangkat-angkat."
"Bawalah papamu berobat ke sana agar penanganan nya lebih baik. Sewa saja jet pribadi nanti aku yang bayar biaya nya."
"Terima kasih, sayang." Gizel langsung memeluk Mahendra. "Kamu tahu keadaan papa membuat aku sempat stres. Apakah kamu tak bisa ikut dengan aku ke Penang?"
"Aku belum bisa. Di desa banyak pekerjaan. Perusahaan ku juga di kota ada banyak pekerjaan. Aku harus menyiapkan segalanya dengan baik karena proyek jalan tol itu sudah hampir selesai."
"Aku kangen dengan kamu, sayang. Kita sudah seminggu tak bersama." Gizel bergelut manja di lengan Mahendra. "Sebelum aku pergi, bolehkah kita bercinta? Agar aku punya tenaga extra buat merawat papa di Penang."
"Gizel, aku capek sekali. Kamu kan tahu acara pesta rakyat semalam sampai larut malam?"
Gizel menahan rasa dongkol di hati. Tentu saja dia tahu kenapa suaminya kelelahan. Madunya pasti sudah menggoda Mahendra pagi ini.
Sinta keluar dari kamarnya. Ia langsung ke dapur untuk melihat sarapan yang sudah tersaji di atas meja. Ia pun kembali ke ruang tengah.
"Abang, mba Gizel, ayo sarapan." ajaknya ramah.
Gizel langsung menggandeng tangan Mahendra saat berjalan.
Sinta tertawa dalam hati. Memangnya siapa yang cemburu?
Mereka pun sarapan bertiga. Sinta memilih diam dan menikmati sarapannya. Ia membiarkan percakapan itu terjadi antara Mahendra dan Gizel walaupun sangat terlihat jelas kalau Mahendra kurang bersemangat mendengar cerita Gizel.
Selesai sarapan, Gizel diam-diam menemui pembantu yang tadi membersihkan lantai.
"Yanti, kamu awasi suamiku dan Sinta. Laporkan semua yang kamu lihat, kalau bisa difoto supaya lebih mantap."
"Tapi nyonya ....! Aku takut tuan marah."
"Makanya kamu harus pakai strategi jitu." Gizel memberikan 5 lembar uang berwarna merah. "Ini baru awal. Jika kamu memberikan berita bagus, aku akan tambahkan."
"Baik nyonya."
Yanti merasa senang. Ia memang sangat membutuhkan uang. Dan dia bahagia karena sekarang memiliki penghasilan tambahan.
Akhirnya Gizel kembali ke kota walaupun dengan berat hati.
"Abang, apakah akan makan siang di sini?" tanya Sinta saat dilihatnya Mahendra akan pergi bersama pak sekdes.
"Tidak. Aku mau makan di luar saja. Hari ini banyak pekerjaan."
Sinta mengangguk. Dalam hati ia tersenyum. Badannya lelah dan Sinta ingin tidur kembali.
Persaingan antar istri pun dimulai
nackal kan yg ajarin emak🤣🤣🤣🤣