NovelToon NovelToon
SANG PEMBURU KEGELAPAN

SANG PEMBURU KEGELAPAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Balas Dendam
Popularitas:424
Nilai: 5
Nama Author: AL

Mengerahkan segenap kekuatannya, Arya menyerang Alam Dewa!

Awalnya Arya ditugaskan para dewa untuk memburu Pangeran Kegelapan yang telah menciptakan berbagai teror di dunia. Namun, di balik tugas ini, ada konspirasi yang busuk!

Para dewa rupanya berusaha melenyapkan keabadian dan kekuatan sang ayah yang ada di dalam dirinya. Kelak Arya akan memimpin perang melawan para dewa. Di perang besar ini dia akan menunjukkan kehebatan dan kesaktiannya yang tiada tara!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SPK 23

Jantung Dharmaseta berhenti berdetak untuk beberapa saat. Dia merasa ada yang salah dengan pendengarannya saat Raja Barawijaya menyebut kerajaan Kanjuruhan sebagai sasaran pertama.

"Mohon maaf, Paduka ... Apakah kita mempunyai masalah dengan kerajaan Kanjuruhan sehingga kita harus menyerang mereka?" tanya Dharmaseta.

"Kita tidak pernah punya masalah dengan mereka, Senopati Agung. Ini hanya murni karena aku ingin memperluas wilayah kekuasaan kerajaan kita," jawab Raja Barawijaya.

"Tapi kenapa harus kerajaan Kanjuruhan, Paduka. Selama ini kita menjalin hubungan bilateral dengan mereka. Bukan hanya persahabatan biasa, tapi juga tentang ekonomi dan lainnya," Raut wajah teduh yang biasanya ditunjukkan Dharmaseta secara perlahan menghilang. Hanya ada guratan tegang tergambar di wajahnya saat ini.

"Kau bawahanku, Dharmaseta. Tugas seorang bawahan itu menuruti perintah atasan, bukan membantah apalagi bersikap sok pintar di depanku!" bentak Raja Barawijaya.

"Baiklah, Paduka. Berarti mulai saat ini tugas hamba sudah berubah. Selama mendiang ayahanda Paduka masih hidup, hamba bukan hanya sekedar bawahan semata, tapi juga untuk membantu beliau berpikir, bagaimana baiknya agar kerajaan kita bisa terus eksis tanpa harus membuat situasi menjadi keruh dengan kerajaan lain."

"Benar, tugasmu sekarang adalah menuruti perintahku dan jangan sekali-kali bersikap mengguruiku! Seharusnya kau paham arti seorang pejabat dan bagaimana bersikap kepada raja," sahut Raja Barawijaya dengan raut wajah menunjukan ketidaksukaannya.

Dharmaseta mengambil nafas panjang. Hati dan pikirannya sudah tidak sejalan dengan pikiran penguasa kerajaan Gandara yang baru. Akhirnya, sebuah keputusan sulit pun harus dia ambil dari pada harus bersikap melawan hati nuraninya sendiri.

"Sejujurnya hamba sudah lelah dan ingin mundur dari jabatan yang sudah melekat di tubuh hamba selama 30 tahun, Paduka. Pada kesempatan ini juga, hamba menyatakan pengunduran diri hamba sebagai Senopati Agung. Biar Senopati Jalaksora yang mengisi posisi hamba selanjutnya," ucap Dharmaseta.

Raja Barawijaya terkejut dengan pengunduran diri Dharmaseta dan sedikit menyayangkannya. Tapi sifat keras kepala dan ambisinya yang begitu besar sudah menguasai pikirannya. Buat apa dia mempertahankan pejabat yang pikirannya sudah tidak lagi buat kerajaan.

"Lalu kemana rencanamu selanjutnya setelah tidak menjadi Senopati Agung, Dharmaseta?"

"Hamba ingin menyepi, Paduka. Sudah saatnya hamba tidak lagi berpikir tentang dunia. Bertani dan berkumpul dengan keluarga di masa-masa tua, sudah hamba impikan beberapa tahun ini. Jadi hamba mohon maaf jika tidak bisa memberikan sumbangsih lagi buat kerajaan kita," pungkas Dharmaseta.

Sebagai tanda pengunduran dirinya, sosok berumur 60 tahun itu melepas baju zirah yang dipakainya dan memberikannya kepada Raja Barawijaya. Tak lupa juga segel khusus Senopati Agung dia letakkan di atas meja.

"Aku hormati keputusanmu, Dharmaseta. Kau boleh pergi sekarang!" ucap Raja Barawijaya.

"Terima kasih, Paduka." Dharmaseta membungkukkan badannya memberi hormat kepada Raja Barawijaya. Setelah memejamkan matanya untuk sesaat, lelaki berwajah teduh tersebut beranjak meninggalkan ruangan tersebut.

Raja Barawijaya memandang kepergian Dharmaseta hingga menghilang di balik pintu.

"Paduka sudah mengambil keputusan yang tepat dengan membiarkannya pergi. Buat apa dia masih tetap bertahan jika hatinya bukan untuk Paduka lagi," kata Senopati Jalaksora.

"Kau benar, Senopati. Aku juga berpikiran seperti itu. Tapi aku kuatir dia membelot, mengingat dia mempunyai hubungan kekerabatan dengan Raja Gajayana. Sebaiknya kau perintahkan beberapa orang untuk mengawasinya! Tapi ingat, jangan biarkan prajuritmu bertindak sendiri dan segera melaporkannya padaku jika ada sikap mencurigakan dari Dharmaseta."

"Hamba laksanakan titah Paduka."

Setelah memberi hormat, Jalaksora pergi meninggalkan ruangan tersebut.

Tak berapa lama, Senopati yang terkenal licik dan juga penjilat itu sudah kembali.

"Hamba sudah memerintahkan teliksandi terbaik istana untuk mengawasinya, Paduka."

"Bagus. Mulai sekarang jabatanmu kunaikkan menjadi Senopati Agung, Jalaksora. Berbuatlah yang terbaik untukku dan kerajaan ini!"

Jalaksora seketika bersujud di depan Raja Barawijaya. Jiwa penjilatnya seolah tidak pernah bisa lepas dari kehidupannya. Puja puji tak henti dia lontarkan kepada Raja Barawijaya.

Sebelum keluar dari istana, Dharmaseta bertanya kepada seorang prajurit tentang keberadaan Penasihat Kurama. Reaksi terkejut dan tidak percaya seketika memenuhi wajahnya. Dia tidak menyangka jika Raja Barawijaya sudah setega itu menjebloskan Kurama ke dalam penjara. Padahal Kurama sudah mengabdi puluhan tahun, bahkan sejak Raja Barawijaya masih belum lahir.

Dharmaseta keluar dari istana dengan pandangan berkaca-kaca. Kerajaan yang dibesarkannya dengan sekuat tenaga ternyata melepaskannya begitu saja tanpa ada upaya untuk mempertahankan dirinya.

Namun terlepas dari itu, dia juga bersyukur sudah keluar dari lingkaran yang sudah tak sejalan dengan hati nuraninya. Apalagi yang hendak diserang Raja Barawijaya adalah kerajaan milik sepupunya sendiri.

Mantan Senopati Agung kerajaan Gandara itu memacu kudanya dengan cepat meninggalkan Kotaraja. Tujuan pertamanya adalah rumah tempat kelahirannya yang sudah cukup lama ditinggalkannya.

Selama diangkat menjadi Senopati Agung, Dharmaseta memang menghabiskan hari-harinya di istana. Sumpah setianya kepada Raja Suryawijaya, ayah dari Raja Barawijaya, membuatnya tidak bisa jauh dari istana. Hanya sesekali dia menengok anak istrinya untuk melampiaskan rasa rindunya.

Kini dia bisa menghabiskan masa tuanya bersama keluarga tercinta. Dari rakyat jelata kembali menjadi rakyat jelata, itu yang ada dalam pikirannya.

Berjarak 100 meter di belakangnya, 5 orang berkuda mengikuti dan terus mengawasinya agar tidak sampai kehilangan jejak. Mereka berlima adalah teliksandi istana yang diperintahkan Jalaksora untuk mengawasi gerak gerik Dharmaseta.

Sesampainya di rumahnya yang berada di sebuah kaki bukit dan hanya ada beberapa rumah tetangga di sekitarnya, Dharmaseta memeluk anak istrinya dengan pelukan hangat. Dia bercerita jika sudah tidak lagi menjadi Senopati dan akan menghabiskan hari-harinya di rumah bersama keluarga.

Keesokan paginya, Dharmaseta memulai kesibukannya sebagai rakyat biasa. Lelaki 60 tahun itu berjalan kaki ke dalam hutan untuk mencari kayu bakar.

Meskipun sudah tidak lagi menjadi Senopati Agung, akan tetapi insting Dharmaseta masih tetap terjaga. Dia merasa ada seseorang yang mengikutinya semenjak keluar dari rumahnya.

Penasaran dengan siapa yang menguntitnya, Dharmaseta berlari cepat mencari sebuah pohon besar lalu molompat tinggi ke atas. 3 orang penguntitnya kehilangan jejaknya dan membuat mereka bertiga memunculkan diri.

Dari atas pohon, Dharmaseta terkejut begitu mengetahui jika yang mengikutinya adalah Teliksandi istana.

"Di mana dia? Cepat sekali lelaki tua itu menghilang?" ucap seorang teliksandi bertanya-tanya.

"Aku ada di sini!" sahut Dharmaseta, lalu melompat turun dan mendarat ringan di depan ketiga teliksandi istana.

1
anggita
like👍, 2x☝☝iklan. untuk dukung novel laga nusantara
anggita
bocah kuckuk🤔🤭😅
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
🚬🗿☕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!