NovelToon NovelToon
Petualangan Dua Bersaudara

Petualangan Dua Bersaudara

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:257
Nilai: 5
Nama Author: LanLan.CNL

membalas dendam atas kematian keluarga dari seorang penghianat.

bercerita tentang Kenzie Laurent dan Reinzie Laurent yang telah menjadi yatim piatu, dua sosok saudara yang memiliki sifat yang berbanding terbalik Kenzie memiliki selera humor yang teramat konyol dan santai sedangkan Reinzie memiliki sifat normal dan sangat serius.

mereka berdua melakukan petualangan di dunia. Kaka beradik ini ingin membalas nyawa pada seorang penghianat yang telah membunuh orang tua mereka.

dan keduanya diseguhkan oleh petualangan yang mengubah takdir dari yang konyol menjadi sosok yang sangat di hargai serta di agungkan dan yang satunya akan menjadi seorang pendekar hebat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanLan.CNL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 11

Delapan Tahun Penempaan Neraka

...****************...

Waktu berlalu dengan cepat melalui musim yang datang silih berganti hingga tahun tahun berlalu sampai delapan tahun. Selama delapan tahun bukanlah waktu yang singkat untuk membentuk mental seorang manusia, atau justru membangun sebuah mahakarya. Bagi Kenzie, delapan tahun di bawah asuhan Arvendel tidak ada bedanya seperti mengarungi neraka jahanam tanpa akhir. Namun di neraka itulah, ia dilahirkan kembali.

...----------------...

Wush! Wush!.... Suara tebasan udara bergema berat, memotong keheningan di sekeliling air terjun yang membeku oleh embun pagi. Di atas sebuah batu besar yang licin dan berlumut, seorang pria berdiri tegak dengan kuda-kuda yang sekokoh akar pohon purba.

Ia bertelanjang dada. Tubuhnya yang saat berusia lima belas tahun begitu kurus, lemah, dan ringkih, kini telah bertransformasi sepenuhnya di usianya yang ke-dua puluh tiga tahun. Setiap jengkal otot di tubuhnya terpahat kering dan padat bagai besi tempaan.

Gurat-gurat luka goresan dan hantaman menghiasi kulitnya—bukan sebagai cacat, melainkan sebagai tato kehormatan dari sebuah disiplin yang ekstrem.

Pria itu adalah Kenzie. Tatapan kedu mata merah padam yang dulu polos dan penuh keluhan, kini telah berganti menjadi sepasang mata yang tajam, tenang, dan sedalam telaga.

Di kedua tangannya, Kenzie mencengkeram sebilah pedang kayu hitam yang terlihat sederhana. Namun, penampilan luarnya menipu. Di dalam inti kayu tersebut, Arvendel telah menanamkan sebutir Kristal Sihir tipe gravitasi yang legendaris.

Brak!.... Kenzie menurunkan pedang kayunya, membuat permukaan batu pijakannya retak memancar. Delapan tahun lalu, Arvendel memaksanya mengayunkan pedang tersebut dalam posisi kuda-kuda dari menjelang malam hingga larut malam tanpa henti. Awalnya, bobot pedang itu diatur pada lima belas kilogram. Namun, Kristal Sihir itu memiliki kemampuan otomatis yang mengerikan: ia membaca pertumbuhan energi Ki Kenzie.

Setiap kali Kenzie menjadi lebih kuat dan terbiasa dengan beban berat tersebut, kristal itu secara mandiri akan menambah bobotnya—tiga puluh, lima puluh, hingga kini mencapai ratusan kilogram. Sehingga tidak ada waktu untuk bernapas; setiap kali Kenzie beradaptasi, beban hidupnya langsung bertambah berat.

Latihan pedang kayu itu barulah permukaan dari siklus penyiksaan hariannya.

Setiap pagi, Kenzie dituntut memanjat tebing-tebing curam yang tegak lurus sembari memikul tas rajutan rami yang sarat akan sebongkah batu-batu gunung yang lumayan besar. Siangnya, ia harus melompat ke dalam sungai berarus deras, berlari melawan hantaman air yang sanggup menghancurkan tulang sapi, sebelum akhirnya bermeditasi selama berjam-jam di bawah air terjun yang dinginnya menusuk hingga ke dalam sumsum. Jika ia kehilangan fokus sedetik saja, arus air akan melemparkannya ke batu-batu tajam di dasar sungai.

Namun, di antara semua latihan tidak manusiawi itu, ritual malam hari setelah mengayunkan pedang adalah hal yang paling membuat bulu kuduk Kenzie berdiri jika mengingatnya.

Di bawah sinar rembulan, Arvendel selalu berdiri menantinya dengan memegang sebuah tongkat yang terbuat dari tulang Naga Gajah yang dipadukan dengan material cangkang Kura-Kura Raksasa kuno.

*Bakk! Bakk! Blam!*

Setiap malam selama delapan tahun, suara hantaman mengerikan itu selalu menggema. Arvendel memukuli tubuh Kenzie tanpa ampun. Pukulan dari tulang Naga Gajah mengirimkan gelombang kejut yang menghancurkan struktur internal tubuh Kenzie, meremukkan sisa-sisa darah kotor, sementara esensi pertahanan dari cangkang Kura-Kura Raksasa meresap masuk, memaksa sel-sel dan sumsum tulang Kenzie untuk beregenerasi dan mengeras kembali dalam hitungan detik. Itu adalah siklus tak berujung dari kehancuran dan kebangkitan fisik.

Orang biasa pasti sudah mati atau gila di tahun pertama. Namun, Kenzie memiliki rahasia besar yang baru terungkap delapan tahun lalu.

Kenzie memejamkan matanya sejenak, mengingat kembali malam terkutuk sekaligus suci saat usianya menginjak tujuh belas tahun. Malam di mana perkataan ayahnya terbukti menjadi kenyataan.

Malam itu, di tengah siksaan pukulan tongkat Arvendel, garis darah (*bloodline*) Laurent yang tertidur di dalam tubuhnya mendadak bangkit dengan liar. Rasanya seperti ada gunung berapi yang meledak di dalam dadanya. Suhu tubuhnya meningkat drastis, dan "Danau" energi Ki yang selama ini ia gunakan di dalam latihan di pusat dantiannya mendadak bergejolak hebat.

Garis darah Laurent menolak batas kedangkalan sebuah danau. Energi kuat yang dahsyat itu mengamuk, mengikis, dan menghancurkan dinding-dinding dantian Kenzie, memperluas ruang internalnya secara paksa. Kenzie ingat betapa hebatnya ia menjerit kesakitan malam itu, memuntahkan darah segar saat dantiannya retak lalu melebar tanpa batas—berubah dari seonggok danau kecil menjadi sebuah Lautan Energi Ki yang tak bertepi dan bergemuruh dahsyat.

Sejak kebangkitan garis darah Laurent di umur tujuh belas tahun itulah, perkembangan Kenzie melesat seperti meteor. Tubuhnya mampu melahap esensi Kura-Kura Raksasa dengan kecepatan penuh, dan lautan Ki-nya mampu menopang beban pedang kayu gravitasi seberat apa pun crystal magic itu menambah bobotnya.

"Fokus, Kenzie. Bernostalgia tidak akan membuat keempat roh Zatrah Dvareht mati dengan sendirinya," sebuah suara bariton yang teramat akrab memecah lamunan Kenzie.

Arvendel berjalan mendekat dari balik pepohonan. Penampilan pria itu sama sekali tidak berubah, tetap misterius, agung, dan tak tersentuh oleh waktu. Mata elangnya menatap Kenzie, memberikan anggukan samar yang luar biasa jarang ia lakukan—sebuah tanda pengakuan atas hasil penempaan delapan tahun ini.

Kenzie mengembuskan napas panjang, membuang udara panas dari paru-parunya yang kini membawa pendaran energi Ki putih yang jernih dan padat. Ia menegakkan tubuhnya, menurunkan pedang kayunya dengan hormat.

"Aku selalu fokus, Master," jawab Kenzie. Suaranya kini terdengar berat, dalam, dan penuh dengan rasa percaya diri seorang pria dewasa yang siap menghadapi dunia.

"Sepuluh tahun yang Anda berikan untuk bersiap... kini hanya tersisa dua tahun lagi. Aku tidak akan membiarkan waktu itu terbuang sia-sia."

Arvendel tersenyum tipis, sebuah pemandangan yang langka. "Bagus. Kalau begitu, mari kita lihat apakah lautan energimu itu mampu menahan ujian terakhirku sebelum kita pergi memburu roh Zatrah."

...----------------...

Arvendel berjalan ke tengah area terbuka, lalu berbalik menghadap Kenzie. Tangan kanannya bergerak perlahan, memanggil sebuah pedang energi kebiruan seperti laut yang bermanifestasi dari Ki murni miliknya. Udara di sekitar mereka mendadak mendingin, ditekan oleh aura setajam silet yang keluar dari tubuh sang Master.

"Ujian terakhirmu sederhana," ucap Arvendel, suaranya mengalun tenang namun sarat akan ancaman. "Serang aku dengan seluruh kekuatanmu. Gunakan apa pun yang telah kamu pelajari selama delapan tahun ini untuk membuatku bergeser satu langkah saja dari titik berdiri duniaku. Jika kamu gagal memaksaku bergerak dalam waktu dupa membara, maka latihan nerakamu akan ditambah dua tahun lagi."

Kenzie tersenyum tipis. Alih-alih gemetar seperti delapan tahun lalu, tangan kanannya kini mencengkeram gagang pedang kayu hitamnya dengan sangat rileks.

"Master, jika itu ujiannya... kurasa Anda harus bersiap-siap untuk melangkah," ujar Kenzie penuh percaya diri.

Namun, sebelum Kenzie melesat, mata elang Arvendel menangkap sesuatu yang tidak biasa pada aliran energi Ki di sekitar tubuh Kenzie. Energi Ki yang keluar dari lautan dantian pemuda itu tidak lagi mengalir lurus seperti biasanya, melainkan berputar halus, membentuk pendaran putih keperakan yang samar bagai kabut di malam hari.

Arvendel menaikkan sebelah alisnya. "Aura ini... terasa berbeda. Kamu tidak sedang menggunakan teknik dasar yang kuajarkan, bukan?"

Kenzie terkekeh pelan, sedikit bangga karena gurunya yang jeli langsung menyadarinya. "Selama malam-malam panjang saat Anda memukuli sumsum tulangku di bawah sinar rembulan dan kabut gunung yang tebal, aku tidak hanya menahan sakit, Master. Aku berpikir... dan aku mulai merangkai jalanku sendiri. Aku menamakannya: **Jurus Bulan Berkabut**. Dan ini adalah kejutan untukmu master."

"Jurus Bulan Berkabut?" Arvendel mengulang nama itu di dalam benaknya. Nama yang puitis, namun ia tahu di dunia kultivasi, keindahan nama harus sebanding dengan kedahsyatan daya hancurnya. "Menarik. Berapa teknik yang sudah berhasil kamu ciptakan dari jurus itu?"

"Sejauh ini, struktur penuhnya akan memiliki tujuh teknik, Master," jawab Kenzie jujur tanpa menyembunyikan apa pun. "Namun, untuk saat ini, aku baru berhasil menciptakan dan menyempurnakan dua teknik pertama. Dan kurasa, dua teknik ini sudah lebih dari cukup untuk ujian terakhir kita hari ini."

"Oh? Sombong sekali," Arvendel memicingkan matanya, namun di dalam hatinya, ia merasa sangat terkesan. Menciptakan teknik bela diri orisinal di usia dua puluh tiga tahun, dengan memanfaatkan kondisi alam sekitar selama latihan, membuktikan bahwa Kenzie mewarisi kejeniusan mutlak klan Laurent. "Kalau begitu, tunjukkan padaku teknik pertamamu!"

"Dengan senang hati, Master!"

*Sreet!*

Kenzie mengambil posisi mendatar. Detik berikutnya, tubuhnya mendadak lenyap dari pandangan.

Itu adalah kombinasi dari gerakan kaki orisinalnya, **Langkah Pengguncang Langit**. Gerakannya begitu cepat hingga menciptakan distorsi visual di udara. Dalam sekejap mata, Kenzie sudah berada di titik buta di samping kiri Arvendel, mengayunkan pedang kayu beratnya dengan kecepatan yang memotong angin.

"**Teknik Pertama: Tebasan Bulan Sabit!**"

Energi Ki murni berwarna keperakan memancar dari mata pedang kayu Kenzie, membentuk sebilah sabit energi raksasa yang tajam dan melengkung indah, melesat mematikan menuju leher Arvendel. Tebasan itu membawa bobot ratusan kilogram dari pedang gravitasi miliknya, digabungkan dengan ketajaman Ki yang luar biasa.

*Ting!*

Arvendel menahan tebasan sabit tersebut hanya dengan dua jari bermanifestasi Ki-nya. Benturan itu menciptakan gelombang kejut yang menerbangkan dedaunan kering di sekitar mereka.

"Cepat, berat, dan mematikan. Kombinasi dengan Langkah Pembunuh Langit membuat serangannya sulit diprediksi," puji Arvendel dengan ekspresi yang masih datar. "Namun, hanya dengan ini, kamu tidak akan bisa membuatku bergeser, Kenzie."

"Aku tahu, Master! Karena itu adalah pancingan!" suara Kenzie mendadak menggema dari segala arah.

Sebelum tebasan bulan sabitnya memudar, tubuh Kenzie kembali melebur. Kali ini, ia mengaktifkan gerak kaki pertamanya, **Langkah Hening Kabut**. Bersamaan dengan itu, hawa dingin mendadak menyebar, dan area pertempuran mereka dalam sekejap diselimuti oleh kabut putih yang sangat tebal, membatasi jarak pandang hingga nol.

Bahkan bagi kultivator tingkat tinggi, kabut ini terasa aneh karena mampu mengisolasi indra pendengaran dan persepsi batin.

*Ssssh...*

"**Teknik Kedua: Seni Tebasan Kabut!**"

Dari dalam keheningan kabut yang mencekam, tebasan-tebasan pedang tak kasatmata mulai menghujani Arvendel dari berbagai sudut yang mustahil. Setiap tebasan bergerak tanpa suara, mengalir seringan asap namun membawa daya hancur yang sanggup membelah batu besar jika mendarat. Kenzie bergerak di dalam kabut bagai hantu rembulan, tidak meninggalkan jejak kaki, tidak meninggalkan suara napas.

Arvendel membelalakkan matanya sedikit. Ia terpaksa memutar pedang energinya, menciptakan pelindung mutlak untuk menangkis puluhan tebasan kabut misterius yang mengincarnya bertubi-tubi.

*Trang! Trang! Trang! Trang!*

Percikan bunga api menerangi kabut putih tersebut. Arvendel tersenyum lebar di dalam kepungan asap. *Luar biasa! Teknik kedua ini benar-benar memanfaatkan manipulasi elemen kabut untuk menyembunyikan hawa membunuh.*

Karena intensitas serangan Kenzie yang semakin menggila dan beratnya pedang kayu kristal yang menghantam bertubi-tubi, Arvendel akhirnya merasakan tekanan yang nyata. Untuk menahan keseimbangan dari sudut tebasan Kenzie yang tak terduga, kaki kanan Arvendel tanpa sadar...

*Sreet.*

Kaki kanan Arvendel bergeser mundur sejauh beberapa sentimeter dari posisi awalnya, meninggalkan bekas seretan di tanah.

Seketika itu juga, kabut putih tebal itu langsung menyublim dan menghilang. Kenzie berdiri beberapa meter di depan Arvendel, menyandarkan pedang kayunya di bahu sambil terengah-engah. Keringat membasahi tubuh tegapnya, namun senyum kemenangan terukir lebar di wajahnya.

"Anda bergeser satu langkah, Master," ucap Kenzie dengan nada jenaka, memamerkan kemenangan kecilnya.

Arvendel melihat ke arah kakinya sendiri yang bergeser, lalu menghilangkan pedang energinya. Ia menatap Kenzie dengan pandangan penuh rasa bangga yang tak lagi ia sembunyikan.

"Jurus Bulan Berkabut... Tebasan Bulan Sabit dan Seni Tebasan Kabut," Arvendel menggumamkan nama teknik Kenzie dengan penuh penghormatan. "Kamu berhasil, Kenzie. Kamu tidak hanya lulus dari ujian terakhirku, tapi kamu juga membuktikan bahwa kamu siap untuk menghadapi dunia yang sesungguhnya."

Arvendel berjalan mendekat, menepuk pundak kokoh muridnya itu. "Istirahatlah malam ini. Besok, perjalanan kita yang sebenarnya untuk memburu sisa-sisa roh Zatrah Dvareht akan dimulai. Bersiaplah, karena dunia luar tidak akan sejinak neraka yang kubuat di tempat ini."

"Siap, Master!" sahut Kenzie, matanya berkilat penuh tekad. Dua tahun tersisa sebelum batas waktu sepuluh tahun lagi akan tiba, dan ia sudah tidak sabar untuk menguji "Jurus Bulan Berkabut" miliknya pada darah para iblis.

...****************...

1
LanLan.CNL
Tolong dong setelah membaca novelnya berikan tanggapan kalian agar aku sebagai author bisa menjadi lebih semangat lagi updatenya🙏🙏

setiap bab yang kalian baca berikan tanggapan kalian agar author tau apa yang kurang dari novelnya /Grievance//Whimper//Whimper/
Ibar, {iba'rat Askar}
Dari sini kita tahu bahwa kebaikan seseorang bisa jadi adalah?...
Ibar, {iba'rat Askar}: @Abdul Halim @💕NEKO DES!🐈 @Mystorios _ Writer @Yedija Agung@أسوين سي @knovitriana @Yedija Agung @nia♡ @zichani @Gaizra
total 1 replies
LanLan.CNL
berbagi pengalaman itu adalah kebaikan.. jadi sering seringlah menerima kebaikan Kenzie ya🤣🤣
Ibar, {iba'rat Askar}
gue komentar pertama disini..
jadi ingat untuk memberi like yaa😄..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!