Alya Mahendra, gadis kota yang harus menjalani KKN di Desa Sukamaju, sebuah desa pelosok yang jauh dari kehidupan nyamannya. Karena tingkahnya yang sering mengeluh dan tak terbiasa hidup sederhana, teman-temannya mulai menjulukinya “Nona Kota.”
Di tengah hari-hari KKN yang penuh tantangan, ada Arga Pratama, cowok dingin dan kaku yang diam-diam sering membantu Alya meski wajahnya selalu terlihat tak peduli. Namun saat konflik mulai muncul di posko, mampukah Alya bertahan sampai akhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anshuu_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Desa Sukamaju..
Sekarang mereka sudah siap berangkat, hanya saja masih harus menunggu satu orang lagi—Alya.
Di halaman posko, tepat di bawah atap sederhana dan bale-bale kayu yang jadi tempat duduk seadanya, mereka berkumpul.
Sebagian duduk santai di atas bale-bale itu, sebagian lagi bersandar di tiang sambil menunggu dengan sabar dan sesekali berbincang pelan.
Namun tidak dengan Nadia. Ia tampak jelas mulai kehilangan kesabaran.
“Lama banget sih dia…” gumamnya kesal.
Yang lain hanya diam, tidak menanggapi keluhan Nadia, memilih tetap menunggu tanpa memperpanjang suasana.
Suara langkah dari dalam posko makin jelas terdengar.
Semua pandangan langsung tertuju ke arah sana.
Alya muncul.
Dan tanpa perlu banyak kata, suasana pun langsung berubah.
Penampilannya terlihat begitu rapi, bahkan terlalu rapi untuk ukuran kegiatan KKN di desa terpencil. Dari ujung kepala sampai outfit yang dikenakan, semuanya tampak seperti orang yang sedang liburan, bukan hendak turun ke lapangan.
Beberapa orang saling melirik, menahan reaksi masing-masing. Lalu salah satu dari mereka berbisik pelan, tak mampu menahan komentar.
“Anjir… penampilannya kayak anak sosialita.”
Yang lain ikut terkekeh pelan.
“Ini mah bukan anak KKN, ini kayak nona kota nyasar ke desa pelosok,” tambah yang lain sambil menggeleng kecil.
“Lebih kayak lagi healing ke desa dari pada KKN,” sahut suara lain pelan.
Alya hanya melangkah santai, tidak terlalu memedulikan reaksi mereka, lalu bergabung dengan yang lain seolah tidak terjadi apa-apa.
Nadia yang sedari tadi duduk di ujung bale-bale hanya menatap sekilas, lalu memalingkan wajah dengan ekspresi yang masih jelas menunjukkan ketidaksukaannya.
Mereka akhirnya mulai berjalan meninggalkan posko menuju rumah kepala desa. Langkah mereka menelusuri jalan desa yang masih sederhana, belum beraspal, hanya hamparan tanah kering bercampur batu-batu kecil yang terasa tidak rata saat diinjak.
Di sepanjang perjalanan, pemandangan sekitar Masih didominasi pepohonan rindang, semak liar, serta kebun-kebun milik warga yang membentang di beberapa sisi. Sesekali terlihat rumah-rumah panggung berdiri berjauhan, menambah kesan terpencil pada desa yang kini menjadi tempat tinggal sementara mereka.
Di tengah perjalanan, Adrian yang sejak tadi berjalan di samping Arga akhirnya Menoleh ke arahnya seolah baru teringat sesuatu.
“Ehh, Arga… lo tau rumah kepala desanya di mana?” tanyanya penasaran.
“Nggak,” jawab Arga singkat, santai seperti biasa.
Jawaban Arga sukses membuat Adrian refleks berhenti sejenak sambil menatapnya dengan ekspresi melongo.
“Lah… kocak. Terus gimana dong?”
Mendengar itu, Arga melirik Adrian sebentar tanPa menunjukkan ekspresi apa pun.
“Kita nanya sama warga nanti.”
Jawaban datar itu sukses membuat beberapa orang menahan tawa.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan sambil mengamati sekitar. Desa itu terlihat cukup sepi. Hampir tidak ada orang dewasa yang terlihat.
“Kayaknya pada ke kebun semua,” gumam Tiara pelan.
Tak jauh dari jalan setapak, terlihat beberapa anak kecil sedang bermain di bawah pohon mangga besar.
Sebagian tampak serius bermain kelereng, sementara beberapa anak perempuan terlihat sibuk bermain masak-masakan menggunakan daun dan tanah.
Arga yang melihat sekumpulan anak kecil itu langsung berjalan menghampiri mereka.
Begitu sampaI, ia berdiri di depan mereka lalu mengeluarkan batuk kecil, berusaha membuat mereka sadar akan kehadirannya.
“Ekhhmmm.”
Bukannya menoleh, anak-anak itu justru masih asyik bermain seolah tidak menyadari ada orang di depan mereka.
Arga akhirnya mencoba Lagi dengan batuk kecil yang terdengar lebih keras.
Di belakang, Rizki yang melihat tingkah itu langsung terkekeh geli.
“Buset… cara nyapanya gitu kali.”
Suasana langsung dipenuhi tawa kecil dari beberapa orang yang ikut melihat kejadian itU.
Adrian yang berdiri dekat Alya kemudian menepuk bahu gadis itu sambil berusaha menahan gelak tawanya.
“Hahaha… Alya mending lo gantiin gih. Gue capek banget liatnya.”
“Maksudnya capek ketawa,” tambah Dion dari belakang.
Mendengar itu Alya langsung cemberut, tapi akhirnya tetap melangkah maju.
Begitu berdiri di depan anak-anak kecil itu, ekspresinya langsung berubah. Senyum manis langsung terpasang di wajahnya.
“Hallo adik-adik…” sapa Alya ramah.
Seketika perhatian anak-anak itu beralih padanya.
“Iya hallo kak…” jawab mereka kompak.
Sebagian terlihat malu-malu, bahkan ada yang langsung bersembunyi di balik badan temannya.
Alya terkekeh kecil.
“Oh iya dek… rumah kepala desa di mana ya?” tanyanya lembut.
Salah satu anak laki-laki langsung mengangkat tangan lalu menunjuk ke arah depan.
“Di sana kak… yang rumah panggung.”
Tatapan Alya langsung mengikuti arah telunjuk anak tersebut.
Ia sempat memperhatikan bebErapa rumah di kejauhan sebelum akhirnya mengeluarkan gumaman pelan.
“Rumah panggung… lah rata-rata rumah di sini juga rumah panggung.”
Namun tanpa Alya sadari, gumamannya ternyata terdengar cukup jelas oleh yang lain.
Dan Seperti biasa, Adrian jadi orang pertama yang langsung tertawa.
Tiara yang sejak tadi memperhatikan dari belakang hanya menghela napas kecil, sudah cukup hafal dengan tingkah sahabatnyA itu.
Beberapa detik kemudian, anak kecil tadi kembali berbicara.
“Ehh… ajak Danu aja kak. Biar dia yang nganter.”
Alya menoleh.
“Danu? Yang mana?”
“Itu kak.”
Anak tadi menunjuk seorang bocah laki-laki yang berdiri agak jauh. Bocah itu terlihat kikuk saat semua mata mendadak tertuju padanya.
“Ya udah ayo kak, saya anter,” ucap Danu polos sebelum langsung berjalan lebih dulu.
Tak ingin membuang waktu, seluruh rombongan akhirnya berjalan mengikuti Danu yang kini memimpin Jalan di depan.
Namun sebelum pergi, Alya masih sempat melambaikan tangannya pelan ke arah anak-anak kecil yang sejak tadi memperhatikan mereka.
“Makasih ya adik-adik…”
Perjalanan kembali berlanjut.
Di depan, Danu berjalan santai sambil menggandeng tangan seorang anak perempuan kecil yang terlihat jauh lebih muda, mungkin sekitar tiga tahunan.
Sesekali anak kecil itu menoleh ke belakang dengan mata bulat penuh rasa penasaran melihat rombongan mahasiswa di belakangnya.
Melihat itu, Alya langsung mempercepat langkah hingga berjalan di samping Danu.
“Itu adik kamu ya?” tanyanya antusias.
Danu mengangguk.
“Iya kak.”
Alya lalu menatap anak kecil di sampingnya sambil tersenyum.
“Kalau adik kecil namanya siapa?”
Anak perempuan itu menunduk malu-malu sebelum menjawab lirih.
“Amel…”
Di belakang mereka, yang lain hanya memperhatikan Alya yang kini sudah sibuk mengobrol santai dengan dua anak kecil itu.
“Buset… Alya anaknya cepat banget akrab sama orang,” komentar Adrian.
Ucapan itu membuat Andre langsung ikut mengangguK kecil, senyum geli masih terlihat di wajahnya.
“Hahaha… iya bener.”
Sementara itu, Arga hanya berjalan diam beberapa langkah di belakang. Namun diam-diam, pandangannya beberapa kali tertuju ke arah Alya yang berada di depan.
Ia sendiri tidak terlalu paham kenapa, tapi ada sesuatu dari gadis itu yang terus membuatnya memperhatikan.
Si nona kota itu… ternyata lebih menarik dari yang ia kira.