Di balik sapu yang digenggamnya, Bagas menyimpan kecerdasan yang tak pernah disadari siapa pun. Ia pun diam-diam memendam rasa pada Naya, wanita yang dunianya terasa sejauh langit dan bumi darinya. Dihimpit kemiskinan dan biaya pengobatan ibu yang mahal, ia bertekad mengubah setiap informasi yang didengarnya menjadi jalan keluar. Cintanya yang tulus perlahan meluluhkan hati Naya, meski harus berhadapan dengan penghinaan, saingan licik, dan larangan tegas orang tua. Saat segalanya tampak mustahil dan terhalang tembok kasta tinggi, Bagas pergi membangun kerajaan bisnisnya sendiri dari nol. Ia kembali bukan lagi sebagai OB yang diremehkan, melainkan pengusaha sukses yang membuat semua orang terdiam kagum. Bukti nyata bahwa kesabaran dan ketajaman akal mampu mengangkat derajat setinggi langit. Akhirnya, ia bersanding dengan pujaan hati, hidup bahagia, dan membuktikan bahwa nasib buruk bisa diubah menjadi kemewahan yang abadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Ujian Kejujuran
Suasana di ruang rapat utama pagi itu terasa mencekam. Udara sejuk yang biasa dihembuskan pendingin ruangan seolah berubah menjadi panas dan menyesakkan. Di tengah ruangan, di depan meja panjang yang besar, berkerumun Pak Ardiansyah, Naya, Pak Hendra, dan beberapa pejabat tinggi lainnya. Di sisi lain, berdiri Rian dengan wajah panik namun terselip senyum tipis yang sulit diamati. Dan di sudut ruangan, berdiri Bagas dengan kepala tertunduk, tenang namun siap menerima apa pun yang akan terjadi.
Pagi itu, satu dokumen paling penting dan rahasia hilang. Isinya adalah rincian penawaran harga untuk proyek besar bernilai miliaran rupiah yang akan diserahkan kepada calon klien besok pagi. Dokumen itu dijaga sangat ketat, biasanya disimpan di brankas, tapi kemarin sore Rian sempat membawanya ke ruang ini untuk diteliti ulang sebelum akhirnya ditinggalkan sebentar dan hilang begitu saja.
"Bagas adalah orang terakhir yang ada di ruangan ini kemarin sore!" seru Rian lantang, jarinya menuding tajam ke arah pemuda itu. Wajahnya tampak marah dan kecewa, seolah-olah ia benar-benar yakin atas tuduhannya. "Saya lihat dia menyapu di sini lama sekali. Dia sendirian. Pintu saya kunci, tapi dia punya akses ke semua ruangan karena tugasnya. Siapa lagi kalau bukan dia yang mengambilnya?!"
Semua mata tertuju pada Bagas. Tatapan mereka penuh kecurigaan dan penghakiman.
Bagi mereka, tuduhan itu masuk akal. Bagas hanyalah karyawan rendahan, hidup pas-pasan, punya akses ke mana-mana, dan dokumen itu harganya luar biasa mahal di mata pesaing bisnis. Siapa pun akan berpikir, seorang pemuda miskin pasti tergoda menjual dokumen rahasia demi uang besar.
Pak Ardiansyah menghela napas berat, menatap Bagas dengan kecewa. "Bagas... benarkah kamu yang mengambilnya? Ini urusan besar sekali. Kalau dokumen itu bocor, perusahaan kita rugi miliaran, dan ribuan karyawan bisa kehilangan pekerjaan. Katakan sejujurnya, di mana kamu simpan?"
Hening menyelimuti ruangan. Naya berdiri di samping ayahnya, jantungnya berdebar kencang. Ia menatap Bagas lekat-lekat, berharap pemuda itu akan mengangkat wajah, membantah, dan berkata ia tidak bersalah. Tapi Bagas tetap diam. Ia menunduk dalam, tangannya menggenggam kain lap di pinggang erat-erat. Ia tidak menolak, tidak membela diri, dan tidak menjelaskan apa pun.
"Maaf, Tuan..." jawab Bagas pelan, suaranya tenang dan datar. "Saya tidak bisa menjawab apa-apa. Apapun keputusan Bapak dan pimpinan, saya terima."
Jawaban itu justru makin memperkuat tuduhan. Bagi banyak orang, diam berarti mengakui kesalahan. Rian tersenyum puas dalam hati. Rencananya berjalan mulus. Ia sengaja menyembunyikan dokumen itu di tempat yang hanya ia tahu, lalu menuduh Bagas. Ia tahu sifat Bagas yang pendiam dan rendah diri. Ia tahu Bagas tidak akan berani berdebat melawan manajer. Dengan begini, Bagas tidak hanya akan dipecat dengan cara terhina, tapi nama baiknya pun hancur selamanya. Naya pasti akan jijik melihat sifat asli pemuda itu yang dianggapnya jujur.
"Lihat kan?" seru Rian lagi, nada suaranya makin tinggi dan menuduh. "Dia diam saja! Dia tidak bisa membantah karena memang dia yang bersalah! Dasar manusia tidak tahu untung. Sudah dikasih makan, dikasih tempat kerja, tapi membalas dengan mencuri. Saya sudah curiga sejak lama. Dia selalu berkeliaran, selalu mendengarkan pembicaraan orang lain. Ternyata niatnya memang jahat dari awal!"
Kata-kata kasar itu melukai hati Naya. Ia merasa ada yang tidak beres. Ia mengenal Bagas. Selama ini ia melihat ketulusan di mata pemuda itu. Ia melihat kesabaran, kejujuran, dan hati yang mulia. Bagas bukan tipe orang yang mencuri. Bagas adalah orang yang diam-diam menolong, diam-diam memberi solusi, diam-diam melindungi.
"Tunggu dulu..." potong Naya, suaranya bergetar tapi tegas. Ia menatap Rian tajam. "Kita belum tahu pasti. Mungkin saja dokumen itu terjatuh, atau terselip di tempat lain. Jangan langsung menuduh dan menghakimi orang, apalagi kalau itu orang yang selalu bekerja jujur dan rajin."
"Naya, kamu jangan terbawa perasaan," sela Rian cepat, berusaha menyudutkan. "Kamu terlalu baik, jadi tidak tahu jahatnya orang. Dia cuma OB, Naya. Orang miskin yang tergoda uang. Kamu pikir dia sebaik apa? Dunia ini keras, dan orang macam dia akan melakukan apa saja demi uang."
Kalimat "orang miskin" dan nada meremehkan yang keluar dari mulut Rian itu membuat darah Bagas berdesir.
Pak Ardiansyah mengangguk setuju dengan logika Rian. "Benar kata Rian. Risikonya terlalu besar. Bagas, kalau kamu memang tidak mengambil, kenapa kamu tidak bicara? Buktikan kalau kamu tidak bersalah."
Bagas mengangkat wajah sedikit, menatap Pak Ardiansyah, lalu melirik sekilas ke arah Rian yang menatapnya penuh kemenangan, dan ke arah Naya yang tampak cemas dan sedih.
"Karena saya sadar diri, Tuan," jawab Bagas tenang, suaranya terdengar rendah hati namun penuh martabat. "Siapa saya di hadapan Bapak semua? Hanya karyawan rendahan. Siapa yang akan percaya kata-kata saya melawan kata-kata Pak Rian? Kalau saya bicara, malah dianggap lancang. Saya hanya berharap, kebenaran pasti akan terlihat pada waktunya. Biarkan waktu yang menjawab."
Jawaban itu terdengar pasrah, namun ada ketegasan di sana. Naya makin yakin. Bagas tidak bersalah. Cara bicaranya, ketenangannya, dan keyakinannya... itu bukan ciri orang yang bersalah. Itu ciri orang yang tahu dirinya benar, tapi sadar posisinya lemah.
"Sudah cukup!" potong Pak Ardiansyah, mulai kehilangan kesabaran. "Bagas, untuk sementara kamu kami cekal dari semua ruangan penting. Kamu kami liburkan sampai masalah ini selesai. Kalau besok pagi dokumen itu tidak ada, kamu akan kami serahkan ke polisi atas tuduhan pencurian dokumen rahasia."
"Saya mengerti, Tuan," jawab Bagas singkat, lalu membungkuk hormat dan berjalan keluar ruangan dengan langkah tegap, tanpa menoleh ke belakang sedikit pun.
Setelah Bagas pergi, suasana masih tegang. Rian merasa kemenangan sudah di depan mata. Ia berpamitan akan kembali ke ruangannya untuk mengecek ulang berkas-berkas lain, seolah sedang bekerja keras mencari solusi.
Namun, Naya tidak diam saja. Naluri wanitanya dan rasa percayanya pada Bagas membuatnya bertindak.
Tanpa memberi tahu siapa pun, Naya diam-diam mengikuti langkah Rian dari kejauhan. Ia melihat Rian masuk ke ruangannya, menutup pintu, tapi tidak menguncinya rapat. Melalui celah pintu yang terbuka sedikit, Naya mengintip.
Yang dilihatnya membuat darahnya mendidih sekaligus rasa lega yang luar biasa memenuhi dadanya.
Di dalam sana, Rian sedang berdiri di depan lemari arsip. Ia mengeluarkan selembar dokumen besar dari saku jasnya—dokumen yang hilang itu! Rian tertawa sendiri sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Dasar bodoh Bagas... nikmati saja rasa malu dan penjara itu. Dengan begini, kamu hilang selamanya dari gedung ini, dan Naya sepenuhnya jadi milikku. Siapa sangka, jadi penjahat semudah ini kalau lawan cuma sampah masyarakat sepertimu," gumam Rian puas, lalu ia berniat menyelipkan dokumen itu ke balik rak buku agar besok ditemukan dan dianggap terselip tidak sengaja.
Tapi belum sempat tangannya menyentuh rak, pintu ruangan itu didorong terbuka keras sekali.
Brakk!
Rian tersentak kaget, dokumen itu terjatuh dari tangannya. Ia menoleh dan melihat Naya berdiri di ambang pintu, wajahnya pucat namun matanya menyala marah luar biasa. Di belakang Naya, ada ayahnya dan Pak Hendra yang ternyata juga mengikuti diam-diam karena curiga melihat tingkah Rian yang berlebihan tadi.
"Na... Naya... Pak Ardiansyah..." cicit Rian, wajahnya seketika berubah menjadi putih pasi, kakinya gemetar hebat. Ia tak sanggup berkata apa-apa lagi. Dokumen itu tergeletak jelas di lantai, bukti nyata bahwa dialah pelakunya, dialah yang menjatuhkan Bagas, dialah yang berbohong.
Naya melangkah masuk perlahan, mengambil dokumen itu, lalu menatap Rian dengan pandangan yang sangat kecewa.
"Kamu bilang Bagas pencuri? Kamu bilang Bagas orang jahat? Kamu bilang dia sampah masyarakat?" ucap Naya pelan namun penuh penekanan, setiap kata bagai tusukan belati ke hati Rian. "Ternyata penjahat aslinya kamu, Rian. Kamu yang berpendidikan, Kamu yang berbohong, kamu yang menjebak orang jujur, kamu yang berhati busuk."
Pak Ardiansyah menggelengkan kepalanya dengan wajah sangat murka dan kecewa. Ia yang tadinya mengagumi kepintaran dan latar belakang Rian, kini merasa sangat malu pernah mempercayai pemuda itu.
"Rian... saya kecewa berat padamu," suara Pak Ardiansyah berat dan rendah. "Kamu memakai kedudukan dan kepercayaan yang kami berikan untuk menjatuhkan orang lain, hanya karena rasa kebencianmu yang tidak beralasan. Kamu mempertaruhkan nasib perusahaan dan ribuan orang hanya demi urusan pribadi dan gengsimu."
"Maafkan saya, Pak! Saya khilaf! Saya cuma... saya cuma ingin memastikan keamanan perusahaan, saya salah langkah saja..." Rian mencoba membela diri, tapi suaranya hilang ditelan rasa takut.
"Cukup!" bentak Pak Ardiansyah. "Tidak ada alasan untuk kejahatan. Kamu telah membuktikan siapa dirimu sebenarnya. Mulai detik ini, kamu diberhentikan tidak hormat. Kumpulkan barang-barangmu dan tinggalkan gedung ini sekarang juga. Jangan pernah kamu injakkan kakimu di sini lagi. Kalau kamu berani mengganggu siapa pun lagi, terutama Bagas, jangan salahkan saya kalau saya lapor ke polisi atas segala perbuatanmu."
Rian tersungkur lemas ke kursi. Kemewahannya, jabatannya, kekuasaannya... semuanya lenyap seketika. Ia keluar dari ruangan itu dengan kepala tertunduk hina, diburu tatapan semua pegawai yang kini tahu sifat aslinya. Ia pergi bukan sebagai manajer muda yang hebat, tapi pergi sebagai penjahat dan penjelek nama baik perusahaan.
Setelah kepergian Rian, suasana kembali hening namun lega. Naya langsung berlari menuju ruang istirahat bawah tempat Bagas menunggu. Ia menemukan pemuda itu duduk diam di bangku kayu, tenang-tenang saja seolah sudah tahu endingnya bakal begini.
Saat melihat Naya masuk dengan napas terengah dan mata berkaca-kaca, Bagas bangkit berdiri dan membungkuk hormat seperti biasa.
"Sudah ketemu dokumennya, Nona?" ucap Bagas biasa saja, seolah baru saja membicarakan cuaca.
Naya menatap pemuda itu dengan perasaan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Ia berjalan mendekat, matanya meneliti wajah Bagas yang tenang itu.
"Kamu tahu dari awal kan? Kamu tahu Rian yang melakukannya? Kenapa kamu diam saja? Kenapa kamu tidak membela diri? Dia hampir saja membuatmu masuk penjara, membuatmu hancur hidupmu!" seru Naya dengan nada campuran marah dan sedih. Ia kesal karena Bagas terlalu sabar, tapi sekaligus kagum luar biasa.
Bagas tersenyum tipis, senyum yang penuh kearifan. Ia menatap mata Naya dengan jujur.
"Karena kejujuran tidak perlu diteriakkan, Nona. Kebohongan pasti akan runtuh sendiri karena beratnya. Kalau saya membantah tadi, saya dianggap lancang. Kalau saya menuduh balik, saya sama saja buruknya sama dia. Saya hanya ingin nona melihat sendiri... siapa yang sebenarnya berhati jahat dan siapa yang tulus."
Air mata bahagia dan rasa bersalah menetes di pipi Naya. Ia mengangguk pelan, matanya tak lepas dari wajah Bagas.
"Aku tahu sekarang, Bagas... aku sudah tahu semuanya," bisik Naya lirih. "Maafkan aku ya... maafkan aku karena sudah ragu sama kamu, maafkan aku karena pernah memandangmu sebelah mata.''