NovelToon NovelToon
PEWARIS RAHASIA SANG MAFIA JEBAKAN MANIS SANG PENGASUH

PEWARIS RAHASIA SANG MAFIA JEBAKAN MANIS SANG PENGASUH

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Anak Genius
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

Aline terpaksa menyamar sebagai pengasuh polos demi menyelidiki kematian misterius kakaknya di kediaman seorang leader mafia kejam sekaligus CEO, bernama Adrian. Di sana, ia harus mengurus anak kembar Adrian yang sangat genius namun manipulatif. Masalah rumit muncul ketika anak-anak tersebut justru sengaja menjebak Aline dan Adrian agar menikah, sementara Adrian mulai mencurigai identitas asli Aline yang ternyata memegang kunci rahasia masa lalunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Tatapan Sang Predator

Bab 3: Tatapan Sang Predator

​Sret.

​Suara Adrian menutup berkasnya terdengar begitu tajam di keheningan ruangan. Pria itu perlahan mengangkat kepalanya. Pasang mata elang yang berwarna hitam kelam, tajam, dan sedingin es itu kini tertuju lurus pada tubuh Aline yang tampak kecil dalam balutan kemeja longgarnya. Tatapannya begitu menguliti, seolah-olah penglihatan pria itu bisa menembus pakaian tebal Aline dan membaca setiap skenario busuk yang ia sembunyikan di dalam kepalanya.

​"Aline Shandika," suara Adrian akhirnya keluar. Suara itu terdengar berat, rendah, bergetar seksi namun dipenuhi oleh nada ancaman yang tidak main-main. "Usia 22 tahun. Yatim piatu. Berasal dari sebuah desa kecil di pinggiran Jawa Tengah yang bahkan tidak tertera dengan jelas di peta digital."

​Pria itu perlahan berdiri dari kursi kerjanya yang mewah. Langkah kakinya yang berat dan tegas mulai terdengar mendekat ke arah Aline. Setiap ketukan sepatu kulit mahalnya di atas lantai kayu solid terdengar bagai detak lonceng kematian yang menghitung mundur waktu hidup Aline.

​Adrian berhenti tepat di depan Aline, hanya menyisakan jarak kurang dari setengah meter di antara mereka. Jarak yang sangat dekat itu membuat Aline bisa mencium aroma parfum maskulin yang mahal bercampur dengan wangi samar tembakau kering yang sangat pekat dari tubuh pria itu. Aroma seorang predator yang dominan.

​Aline menahan napasnya, mengunci seluruh otot tubuhnya agar tidak melakukan gerakan refleks bela diri yang bisa membongkar penyamarannya. Ia harus tetap menjadi 'Aline yang polos dan lemah'.

​Dengan satu gerakan tangan yang cepat dan tak terduga, jemari Adrian yang panjang dan kuat mencengkeram dagu Aline dengan kasar, memaksa gadis itu untuk mendongakkan wajahnya dan menatap langsung ke dalam manik mata hitam kelam milik sang mafia.

​Cengkeraman tangan Adrian terasa begitu kuat, dingin, dan penuh dengan dominasi yang menuntut kepatuhan mutlak.

​"Kau terlihat sangat rapuh, kurus, dan bodoh," bisik Adrian, matanya menyipit penuh selidik, menatap lekat-lekat ke balik lensa kacamata bulat tebal yang dipakai Aline. "Tempat ini bukan panti asuhan untuk menampung orang-orang lemah, dan anak-anakku bukan anak-anak normal yang bisa kau jinakkan dengan dongeng sebelum tidur. Katakan padaku, gadis desa... apa tujuanmu yang sebenarnya datang ke mansion ini?"

​Aline bisa merasakan hawa dingin dari telapak tangan Adrian yang kokoh. Jantungnya berpacu ekstrem. Di balik rok plisket panjangnya, di paha kanannya, sebuah pisau belati kecil terikat erat. Tangannya sudah gatal ingin merengkuh senjata itu dan menghujamkannya langsung ke leher pria di depannya ini. Pria yang sudah melenyapkan nyawa kakaknya.

​Namun, Aline tahu, ini baru permulaan permainan. Melawan emosi sesaat hanya akan membuatnya berakhir di kamar mayat seperti Rena. Ia harus bertahan. Ia harus memenangkan kepercayaan pria iblis ini terlebih dahulu.

​Aline memaksa matanya berkaca-kaca, membiarkan genangan air mata palsu mengaburkan pandangannya. Tubuhnya dibuat bergetar hebat layaknya seekor mangsa yang sudah benar-benar terpojok oleh predator tanpa jalan keluar.

​"S-Saya... Saya hanya butuh pekerjaan, Tuan Besar..." ujar Aline dengan suara yang bergetar hebat, terdengar sangat cicit dan ketakutan. "S-Saya tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. S-Saya bersumpah hanya ingin bekerja dengan giat untuk menyambung hidup... Tolong jangan sakiti saya..."

​Untuk mendukung aktingnya, Aline sengaja menggerakkan tangannya yang gemetar secara berlebihan, berpura-pura kehilangan keseimbangan karena ketakutan.

​Prang! Krosak!

​Aline sengaja menyenggol tas ransel usangnya sendiri yang ia letakkan di lantai samping kakinya. Tas itu terjatuh, membuat isinya berhamburan keluar. Beberapa butir obat warung murahan, dompet kain yang sudah koyak di sudutnya, sebuah sisir plastik murah, dan beberapa lembar uang sepuluh ribuan yang lecek berserakan di atas lantai marmer hitam yang mewah.

​Aline langsung menjatuhkan lututnya ke lantai, bersimpuh dengan panik sambil memunguti barang-barang murah itu dengan tergesa-gesa. Air matanya sengaja dibiarkan menetes satu per satu ke atas lantai.

​"M-Maaf, Tuan! Maafkan keteledoran saya! Saya akan segera merapikannya!" tangis Aline pecah, memperlihatkan keputusasaan yang sangat natural.

​Adrian mundur satu langkah, menatap pemandangan menyedihkan di bawah kakinya dengan tatapan jijik sekaligus skeptis. Pria tangguh sepertinya selalu menganggap air mata sebagai simbol kelemahan yang paling tidak berguna.

​Ia memperhatikan setiap detail barang-barang yang berhamburan dari tas Aline. Semuanya tampak sangat konsisten dengan profil seorang gadis desa miskin yang kehabisan pilihan hidup. Namun, insting tajam seorang pemimpin mafia yang telah melewati ratusan pertempuran hidup dan mati tetap membisikkan sesuatu di telinganya. Ada yang aneh dari kilat di mata gadis ini saat pertama kali ia mencengkeram dagunya—sebuah kilatan yang terasa familiar, namun langsung tertutup rapat oleh ketakutan buatan.

​"Berdiri," perintah Adrian dingin, suaranya tidak menyisakan ruang untuk bantahan.

​Aline berdiri dengan perlahan, mendekap tas ransel usangnya di depan dada seperti sebuah perisai pelindung. Bahunya naik turun akibat isak tangis yang tertahan.

​"Aku tidak suka mempekerjakan orang yang terlalu lemah di mansion ini," kata Adrian sambil berbalik, melangkah menuju meja kerjanya. Ia meraih sebuah pulpen emas, berniat untuk menandai berkas Aline dengan tanda penolakan. "Kau hanya akan menjadi beban dan berakhir menyedihkan di tangan anak-anakku. Pulanglah sebelum aku kehilangan kesabaranku dan membuatmu—"

​Cklek.

​Sebelum Adrian sempat menyelesaikan kalimat ancamannya, pintu ruang kerja jati yang kokoh itu tiba-tiba terbuka dari luar tanpa ada ketukan terlebih dahulu.

​Dua anak kecil—seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan yang diperkirakan berusia lima tahun—melangkah masuk ke dalam ruangan dengan santai, mengabaikan atmosfer menegangkan yang sedang menyelimuti tempat itu. Mereka berdua melempar senyuman yang sangat misterius ke arah Aline.

1
M. T🌻
aku mampir ya thor, semangat. jangan lupa mampir juga👍☺
gendiz: terimakasih 🙏 aaasiiiaaappp
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!