Menemukan batu bintang, tersambar petir lalu koma tiga hari. Setelah bangun semua berubah, rumah jerami reot perlahan menjadi mewah dan nyaman. Bubur sayuran liar hilang dari meja makan, berganti dengan nasi dan gandum wangi.
Setiap hari akan ada ikan, daging, telur, yang kesemuanya cuma dapat mereka makan setahun sekali.
Bagaimana bisa perubahan itu terjadi pada keluarga miskin tanpa bakat dan kemampuan..?
Apa sebenarnya yang dialami gadis itu saat koma tiga hari..?
Batu bintang, benda apa dan darimana asalnya itu...?
Ikuti perjalanannya dan dapatkan jawabannya di Bai Anshu Story.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Ata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
06
Sembari berjalan, Bai Anshu mengaktifkan tehnik penyerapan energi spritual dengan bantuan batu bintang lima warna.
Jika menemukan tanaman konsumsi, Anshu akan memanennya sembari memberitahu sang adik.
Dua bersaudara memasang sepuluh jebakan dengan metode baru yang Bai Anshu dapatkan dari Dewa pengetahuan.
Tidak lupa, Anshu meneteskan air suci pada serangga umpan.
"Ini bawang lokio, dari daun hingga akar bisa dimasak." ucap Anshu, mengeluarkan cangkul kecil dari keranjang.
Bai Hanzi membantu menggali bawang liar yang tumbuh subur dipinggiran hutan.
Cabai gunung, talas, konjac, akar kudzu, serta lima jenis umbi-umbian, dua bersaudara itu panen.
Mereka juga menemukan pohon kayu manis, shicuan, kurma merah, bermacam bumbu herbal, dan aneka buah-buahan.
"Wah, jadi ini bisa dimakan..?" tanya Bai Hanzi.
"Ya, nama buah ini Loquat, bisa juga untuk obat batuk dan panas dalam."
Mereka memanen semua yang ditemukan, lalu mengantarkannya pulang terlebih dulu.
Bermacam tanaman herbal juga mereka petik, berikut tiga macam spesies jamur Gonaderma.
Bermacam bunga, daun pinus kipas, mugwort, lerak, tak luput dari jarahan mereka.
Sayuran liar, jamur konsumsi, rebung, banyak pula kakak beradik itu panen.
"Kita kumpulkan biji pinus ini." tunjuk Bai Anshu pada bunga kayu yang berserakan di tanah.
"Untuk apa...?"
"Membuat minyak..!"
"Minyak...?"
Bai Anshu mengangguk "selain untuk lentera, minyak pinus salah satu bahan pembuatan sabun rambut."
Dua keranjang kembali penuh terisi, Anshu berencana mengajak Hanzi pulang dan melanjutkan perburuan esok hari.
Namun, suara Xingxing membuat Anshu mengurungkan niat itu.
"Ada banyak ginseng didepan sana."
Bai Anshu terpekik senang, ia akhirnya menyuruh sang adik pulang mengantarkan dua keranjang itu.
"Temui aku di sana nanti ya..?" tunjuk Anshu kearah selatan.
"Baik...!"
Buah pinus kering sangat ringan, jadi Hanzi tak kesusahan membawa dua keranjang sekaligus.
Terlebih setelah tadi pagi sekeluarga meminum air suci, perlahan tubuh rapuh mereka sudah direcovery.
"Ginseng berusia seratus tahun ada didekat tebing, itu bisa kau jual jika ingin."
Dilokasi yang ditunjukan Xingxing, ada kisaran dua belas ginseng. Salah satunya telah berusia seratus tahun dan menghasilkan biji.
Dengan semangat empat lima, Bai Anshu menggali semua ginseng. Setelah itu ia menggemburkan tanah, menyiraminya dengan air suci kemudian menanam bijinya.
Sembari menunggu Hanzi datang, Anshu memanen tumbuhan dan akar herbal, bunga empat musim, serta pucuk teh liar.
Setelah itu, dengan media ranting, Bai Anshu melatih ilmu pedang yang sebelumnya dipelajari.
Tubuh kurus Bai Anshu meliuk indah, melompat dari satu pohon ke pohon lainnya.
Kadang salto, kayang, berputar lalu menebas udara, dengan fokus tajam terhunus.
Latihan itu berlangsung selama satu jam, dan berhenti tepat ketika Hanzi tiba.
Semua yang sudah Anshu kumpulkan dipindahkan kekeranjang.
Sebelum pulang, dua bersaudara itu kembali mengais biji pinus.
"Yeah, panen besar...!" pekik dua bersaudara, usai mengumpulkan semua hewan yang terperangkap dalam jebakan.
Dari sepuluh jeratan, menghasilkan enam kelinci dan enam burung pegar.
Selusin telur ayam liar pun didapat dua bersaudara itu.
Sesampainya dirumah, semua hasil dari hutan telah dijemur oleh ayah dan ibu.
"Woah, banyak sekali...!" pekik takjub si bungsu, melihat kelinci, ayam liar dan telur.
"Untuk makan malam nanti, aku akan membuat hidangan yang lezat bagimu." janji Bai Anshu.
Dengan penuh kehati-hatian, Anshu menyusun lumut dalam dasar keranjang kecil, memercikkan air suci lalu meletakkan ginseng seratus tahun diatasnya.
Tutup dengan kain lembah hasil rendaman air suci.
"Kapan kita akan mulai membuat sabun..?" tanya Chen Muwan.
"Besok atau lusa saja ibu, malam ini kita membuat minyak pinus terlebih dulu." jawab Anshu.
Sebelum memasak, Bai Anshu mencuci sirih cina, binahong dan daun Baiyao, kemudian menghaluskannya dengan dicampur air suci.
"Ayah, kita obati dulu lukamu ya..?"
Bai Dashan patuh, ia tentu tak boleh meragukan putrinya.
Pria tiga puluh tahun itu duduk dikursi, meletakkan kakinya kepangkuan Bai Anshu.
Luka tusuk yang menembus telapak kaki tampak menganga merah, dengan pinggiran biru kehitaman. Mulai membusuk nyaris infeksi, sebab sudah tak lagi mengkonsumsi obat.
Bai Anshun membersihkannya dengan teliti, mengikis jaringan kulit dan daging yang membusuk rusak menggunakan pisau yang sudah disterilkan.
Bai Dashan meringis kesakitan, namun Anshu tidak berniat menghentikan aksinya.
Tahap selanjutnya mencuci bersih luka dengan air suci yang dihangatkan, membalurkan herbal tumbuk, kemudian dibalut kain bersih.
Bai Anshu memijat kaki sang ayah dengan bantuan batu bintang lima warna dan kekuatan kayunya.
Sensasi hangat menyebar, mengalir dari ujung kaki Bai Dashan hingga kekepala.
"Obat apa yang kau pakai..? rasanya nyaman sekali, hangat dan sejuk datang bersamaan." tanya Bai Dashan berbinar sekaligus haru akan bakat baru sang putri.
"Ini daun-----
Bai Anshu menjawab, sekaligus menjelaskan apa saja manfaat tiga herbal yang tadi ia pakai.
Setelahnya, Bai Dashan bersama Hanzi menguliti dua ekor kelinci dan dua ayam hutan.
"Ayah, bulu burung pegarnya jangan dibuang."
"Untuk apa...?" tanya bingung Dashan.
"Kita bisa memanfaatkannya untuk membuat kasur, bantal, baju hangat, kuas menulis juga bunga bludru."
Dashan dan Hanzi patuh, bulu burung pegar dicuci bersih lalu direbus. Setelahnya ditiriskan dibawah sinar matahari sampai nantinya benar-benar kering sebelum disimpan.
Kulit kelinci direndam dengan abu jerami dan air suci, diamkan semalaman sebelum dibersihkan, jemur dan simpan.
Dengan bumbu bawang lokio, kayu manis, sichuan, adas bintang serta manis, kurma merah, jahe, kapulaga, jintan, dan air asam. Bai Anshu membuat sup ayam talas dan kelinci rebus rempah.
Chen Muwan memperhatikan dengan cermat apa yang dilakukan putrinya. Harum masakan mulai tercium, memenuhi dapur merembes keluar sampai halaman.
"Ibu cicipi...!" Anshu menyodorkan sumpit yang terdapat potongan talas.
Chen Muwan membuka bibir, mengunyah perlahan, lalu berkomentar.
"Ini enak sekali..! manis, gurih dan sangat lembut."
"Kalau ada gula, kecap dan penyedap rasa, pasti akan lebih lezat."
"Gula dan kecap sangat mahal, mana bisa kita membelinya..?" balas Chen Muwan.
"Talas ini harus dicuci dengan garam atau didiamkan dulu sampai getahnya hilang sebelum dimasak untuk menghilangkan gatalnya."
"Ah, begitu..!" balas Muwan "nanti antarkan untuk kakek nenekmu, sekalian beritahu mereka cara mengolahnya."
Bai Anshu mengangguk.
Setelah dua hidangan matang, Bai Anshu menempatkan sepertiganya dalam rantang kayu.
Dikerajang gendong, Bai Dashan sudah menaruh talas, buah-buahan dan satu burung pegar.
"Kakek, nenek, apa kalian dirumah...?" seru Anshu dari luar pagar.
Pintu terbuka, nenek Bai dan Lushi muncul dari baliknya.
"Ran'er...!"
"Shu-ya...!"
Seru kedua wanita berbeda usia bersamaan.
"Ayo masuk..!" ajak nenek Bai membuka pagar.
Bai Lushi membantu membawa keranjang yang ada dipunggung saudara sepupunya.
"Aku berniat menjengukmu setelah makan nanti, bagaimana keadaanmu..?" tanya Lushi penuh perhatian.
Bai Anshu tersenyum "aku baik-baik saja, jangan khawatir."
Nenek Bai juga bertanya akan kabar sang cucu, memeriksa tubuh kurus Anshu bolak-balik.
"Ibu memintaku mengantarkan ini untuk nenek dan keluarga paman." Anshu membuka daun teratai yang menutupi keranjang tangan.
Nenek Bai mengendus udara, begitu mencium aroma samar masakan lezat.
"Apa ini daging...?"
"Ya...!"
"Kenapa diantarkan pada kami, bawa kembali. Kau baru saja sembuh, tubuhmu butuh nutrisi. Makan saja bersama adik-adikmu." ucap nenek Bai menepuk ringan lengan sang cucu.
Kemanisan Anshu menggoreskan senyuman "nenek, aku dan Hanzi tadi menangkap banyak kelinci dan burung pegar. Jadi jangan khawatir, dirumah masih ada."
"Shu-ya, ini apa...?" tunjuk Lushi pada talas.
"Talas..!"
Anshu menjelaskan cara mengolahnya, lalu menunjuk kedalam sup umbi putih yang berenang bersama daging ayam hutan.
"Dari mana kau bisa tahu semua ini..?" tanya aneh nenek Bai.
"Dari mimpi setelah aku tersambar petir."
Lagi, ingatan akan ucapan dokter Yong berkelebatan dipelupuk mata nenek Bai dan Lushi.
Ucap syukur keduanya gaungkan untuk kebaikan dan berkah yang didapat oleh cucu dan sepupu mereka itu.