NovelToon NovelToon
Obsesi Papa Mertua

Obsesi Papa Mertua

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Dark Romance / Cinta Terlarang
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

Dua minggu pernikahan menjadi neraka bagi Freya Arunika. Ia baru menyadari dirinya hanya dijadikan tumbal saat memergoki perselingkuhan suaminya, Sean Ravindra, dengan Bianca—adik tirinya sendiri. Sejak rahasia itu terbongkar, hidup Freya sepenuhnya terkekang.
Namun, takdir berputar liar ketika Ravael, ayah kandung Sean sekaligus sosok penolong masa lalu Freya, kembali dari luar negeri. Jatuh cinta pada pandangan pertama tanpa tahu identitas Freya, obsesi Ravael justru semakin membara setelah mendapati wanita itu adalah menantunya.
Kini, Freya terjebak di antara dua pria sedarah: suami kejam yang membencinya, dan papa mertua berkuasa yang terobsesi memilikinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11.

​Keesokan paginya, mansion sudah kembali sibuk. Sean berangkat sangat awal setelah memasukkan koper Bianca ke bagasi mobilnya. Sebelum pergi, ia hanya memberikan tatapan mengancam pada Freya di depan cermin ruang tengah.

​Pukul tujuh pagi, Freya sedang menata meja makan untuk sarapan Rafael. Langkah kaki yang mantap terdengar turun dari tangga. Rafael berjalan dengan kemeja hitam yang lengannya digulung rapi, memancarkan aura tegas dan berwibawa.

​"Selamat pagi, Pa," sapa Freya lembut, menundukkan kepalanya hormat.

​"Pagi," jawab Rafael singkat. Ia duduk di kursi utama. Matanya yang tajam langsung menyapu meja makan, lalu beralih pada wajah Freya.

​Tanpa riasan tebal seperti kemarin sore, bekas lebam keunguan di pipi Freya dan sudut bibirnya yang pecah terlihat sangat jelas. Rafael memperhatikannya dalam diam, namun rahangnya tampak mengeras.

​"Di mana Sean?" tanya Rafael dingin.

​"Sean sudah berangkat ke kantor, Papa. Katanya ada rapat penting," jawab Freya sambil menuangkan kopi hitam ke cangkir Rafael. Tangannya sedikit gemetar.

​Rafael menerima cangkir itu, namun sengaja menahan jemari Freya sejenak. Sentuhannya hangat dan kokoh, membuat Freya tersentak kecil dan menatapnya takut.

​"Duduklah. Temani aku sarapan," perintah Rafael. Bukan sebuah tawaran, melainkan titah yang tak bisa dibantah.

​"Tapi, Papa... saya harus membantu Bi Tina di dapur—"

​"Aku tidak suka mengulang perintahku, Freya," potong Rafael, suaranya rendah namun penuh penekanan.

​Freya akhirnya duduk di kursi sebelah Rafael dengan kaku. Ia hanya mengambil sepotong roti tawar kosong, tidak berani mengambil lauk lain karena mengingat larangan makan dari Sean.

​Rafael memperhatikan cara Freya makan. Sangat pelan, seolah menahan rasa sakit.

​"Kenapa hanya makan roti kosong? Dan kenapa porsi makanmu sesedikit itu? Kau tampak sangat kurus," tanya Rafael, matanya mengintimidasi.

​"S-saya sedang tidak nafsu makan, Pa," dalih Freya, berusaha tersenyum.

​Rafael meletakkan garpunya dengan dentingan pelan. Ia memajukan tubuhnya, menatap Freya lekat-lekat. "Semalam aku mendengar suara tangis dari kamar utama. Dan pagi ini, aku melihat wajahmu penuh luka. Apa Sean yang melakukannya?"

​Pertanyaan langsung itu membuat Freya pucat pasi. Jantungnya berpacu liar. "T-tidak, Pa! Sean tidak pernah memukul saya. Ini... ini karena saya teledor, semalam wajah saya terbentur pintu lemari dapur."

​Rafael bersandar kembali, menyipitkan matanya yang penuh teka-teki. Dia tahu menantunya sedang berbohong demi melindungi suaminya—atau mungkin karena ketakutan.

Kelembutan, kepatuhan, dan keteguhan Freya dalam menanggung luka diam-diam justru membuat ketertarikan di hati Rafael semakin mendalam. Wanita ini terlalu berharga untuk disia-siakan oleh pria berengsek seperti Sean.

​"Lemari dapur tidak akan membuat sudut bibirmu pecah seperti bekas hantaman, Freya," ucap Rafael dingin, nadanya datar namun menusuk. "Tapi baiklah, aku akan menerima alasanmu untuk saat ini."

​Rafael bangkit berdiri, merapikan kemejanya. Sebelum melangkah pergi, ia berhenti di samping kursi Freya, membungkuk sedikit hingga suaranya berbisik di dekat telinga wanita itu.

​"Jika mansion ini terasa terlalu menjepit lehermu... datanglah kepadaku. Aku memiliki cara yang lebih baik untuk melindungimu daripada sekadar menyembunyikan luka di balik bedak."

​Setelah mengucapkan kalimat misterius itu, Rafael berjalan pergi meninggalkan ruang makan. Freya terpaku di kursinya, meremas gaunnya dengan napas tertahan. Aura berkuasa Rafael tidak hanya mengintimidasinya, tetapi juga mulai menyalakan secercah rasa aman yang tidak pernah ia dapatkan dari Sean.

*

Siang harinya, atmosfer di dalam mansion terasa sedikit lebih tenang namun tetap menegangkan bagi Freya. Setelah menyelesaikan semua pekerjaan dapur bersama Bi Tina, Freya berniat kembali ke kamar bawah untuk mengistirahatkan tubuhnya yang kian lemas. Rasa lapar yang melilit perutnya mulai memicu rasa pening yang hebat di kepala.

​Namun, baru saja ia melewati lorong ruang tengah, suara bariton yang berat dan berwibawa menghentikan langkahnya.

​"Freya. Kemari."

​Freya menoleh dan mendapati Rafael sedang duduk di ruang kerja pribadinya yang pintunya dibiarkan terbuka. Pria paruh baya itu mengenakan kacamata baca, dengan beberapa berkas perusahaan terbuka di atas meja jati besar di depannya.

​Dengan langkah ragu, Freya berjalan mendekat dan berdiri di ambang pintu. "Iya, Papa? Ada yang bisa saya bantu?"

​Rafael melepas kacamata bacanya, lalu menyandarkan punggungnya pada kursi kebesaran. Matanya yang tajam menatap Freya dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Masuk, dan tutup pintunya."

​Freya menelan ludah dengan susah payah. Ketakutan akan kemarahan Sean jika ia berdua saja dengan pria lain kembali membayangi pikirannya. Namun, tatapan tegas Rafael seolah mengunci seluruh keberaniannya untuk menolak. Freya melangkah masuk dan menutup pintu kayu ek itu dengan pelan.

​"Duduk," perintah Rafael, menunjuk kursi kosong di hadapan mejanya.

​Freya duduk dengan kaku, meremas jemarinya di atas pangkuan. "Ada apa, Pa?"

​Rafael tidak langsung menjawab. Ia mengambil sebuah kotak beludru kecil dari dalam laci mejanya, lalu menggesernya ke hadapan Freya. "Buka."

​Dengan tangan gemetar, Freya membuka kotak tersebut. Di dalamnya terdapat sebuah salep tabung kecil dengan label medis luar negeri. Freya mendongak, menatap Rafael dengan pandangan bingung.

​"Itu obat terbaik untuk memar dan luka robek," ucap Rafael datar, suaranya sedingin es namun tatapan matanya mengunci manik mata Freya. "Oleskan di pipi dan bibirmu. Aku tidak suka melihat menantuku berjalan di dalam rumahku dengan wajah seperti korban penganiayaan."

​Dada Freya bergemuruh. Rasa haru dan takut bercampur menjadi satu. "T-terima kasih, Papa. Tapi seperti yang saya katakan tadi pagi, ini hanya karena saya teledor—"

​"Freya," potong Rafael, suaranya merendah satu oktav, memberi penekanan yang mutlak. "Aku sudah hidup dua kali lebih lama darimu. Aku tahu perbedaan antara luka karena kecelakaan dan luka karena hantaman tangan seorang pria."

​Freya langsung membisu, menundukkan kepalanya dalam-dalam. Air mata yang sejak tadi ia tahan mulai menggenang di pelupuk matanya.

​Rafael memperhatikan bagaimana wanita di hadapannya ini begitu rapuh namun bersikeras menahan seluruh bebannya sendirian.

Kelembutan dan kepasrahan Freya justru semakin memicu sisi protektif di dalam diri Rafael. Ada rasa tidak rela yang amat besar di hatinya melihat mutiara seindah ini diinjak-injak oleh putranya sendiri.

​"Kau terlalu memegang teguh ucapan Sean, Freya. Kau takut padanya?" tanya Rafael, nadanya penuh selidik.

​"S-Sean suami saya, Pa. Saya hanya ingin menjadi istri yang patuh," bisik Freya parau, air matanya akhirnya menetes jatuh ke atas pangkuannya.

​Rafael tersenyum sinis, sebuah senyuman dingin yang sarat akan teka-teki. Ia bangkit dari kursinya, berjalan memutari meja, lalu berhenti tepat di samping kursi Freya.

Rafael membungkuk, menumpukan kedua tangannya di sandaran kursi Freya, mengurung wanita itu dalam kuasanya. Aroma maskulin yang pekat dari tubuh Rafael seketika membuat Freya menahan napas.

​"Patuh bukan berarti membiarkan dirimu dihancurkan, Freya," bisik Rafael tepat di samping wajah Freya. Matanya menatap lekat-lekat pada bulu mata lentik menantunya yang basah. "Sean mengejar harta dan kekuasaanku, dan dia memanfaatkanmu sebagai alat. Kau pikir aku tidak tahu?"

​Freya tersentak, mendongak menatap Rafael dengan mata membelalak panik. "Papa... Anda tahu?"

​"Aku tahu segalanya di rumah ini, Freya. Tidak ada yang bisa bersembunyi dariku," ucap Rafael tegas dan penuh wibawa. Jemari kokohnya perlahan terangkat, mengusap air mata di pipi Freya dengan sangat lembut—sentuhan yang begitu kontras dengan kekejaman Sean.

​"Bertahanlah sedikit lagi. Mainkan sandiwara suamimu dengan baik," lanjut Rafael, tatapan matanya berubah menjadi begitu dalam dan intens, memancarkan ketertarikan dan obsesi yang kian pekat pada istri putranya sendiri. "Dan saat waktunya tiba... aku sendiri yang akan mengambilmu dari tangan Sean, dan memberikan tempat yang jauh lebih terhormat untukmu. Di sisiku."

*

*

*

JANGAN LUPA LIKE, COMENT, VOTE DAN GIFT

1
MissSHalalalal
mau doubel up gak nih ... hehehe
+1: mau! tripel juga boleh!
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
+1
uuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu 🌚🌚🌚 gelap malamku
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
bongkar kebusukan ibu & adik tiri Freya. . udah sabar bgt nih Freya di bully dan diselingkuhi tinggal cerai aja 🔥🔥🔥
ina
kak plss bikin freya cinta sama rafael saling mencintai
ina: semangat bikin freya rafael bucin 🤭
total 2 replies
Kamsia
kasian freya hdp sendiri dan udh hncr.bnt kak thor buat freya bisa jatuh cinta sama rafael
MissSHalalalal: sudah terlalu sakit hati kak.
total 1 replies
MissSHalalalal
siap, di tunggu ya 🙏😍
ina
up
Mita Paramita
lanjut Thor 💪💪💪
Norahsikin Ismail
lanjutkan lg🙏🙏👍
ina
bikin freya cinta sama rafael min
Fifi Afifah
👍
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
semoga aja Freya Nerima Rafael setelah dicerai sean
Mita Paramita
tragisnya nasib Freya terjebak diantara ayah dan anak yang bikin hidup nya kacau
Mita Paramita
Freya di terkam mertua nya🤣🤣🤣 gimana reaksi Sean kalo ketahuan 🤨 Thor novel nya ganti judul ya .
MissSHalalalal: iya nih. 🙏 yang kemaren kepanjangan 🤭
total 1 replies
Mita Paramita
Freya istri lemah ngapain belain suami laknat begitu 🤨jadi gemes liatnya. lanjut Thor 💪💪💪
Mita Paramita
sean keterlaluan kejamnya 🤨🤨🤨 Freya mending kabur aja
Mita Paramita
kasian banget Freya 😭
Mita Paramita
seru baru episode pertama
MissSHalalalal: terimakasih 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!