Aldara, wanita yang hatinya baru saja remuk redam ditinggalkan kekasih demi wanita lain, berusaha menyembunyikan kesedihannya di balik senyum tenang agar tidak dikasihani orang lain. Ketika dipanggil oleh kenalannya, Siska, untuk bertemu di kafe langganan, ia tidak menyangka bahwa kunjungannya kali ini akan menjadi titik balik hidupnya. Di sana ia diperkenalkan kepada Aries—seorang pemuda pendiam namun memiliki pesona tersendiri. Pertemuan yang awalnya terasa biasa saja perlahan membuka jalan bagi sebuah kisah baru yang akan menyembuhkan luka lama dan mengajarkan Aldara arti cinta yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chinta Maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 018: Kesabaran dan Sikap Tak Tahu Malu
Tak terasa, hubungan Aldara dan Aries sudah berjalan satu bulan penuh. Hari-hari terasa indah, namun sesekali tetap ada saat-saat di mana Aries sulit dihubungi karena tuntutan pekerjaannya. Hari ini pun kembali terjadi hal yang sama; seharian tidak ada kabar masuk dari kekasihnya, membuat hati Aldara perlahan diliputi rasa gelisah dan kekhawatiran.
Di sebuah kafe yang tenang, Aldara duduk sendirian di sudut kesukaannya. Laptopnya terbuka lebar, aplikasi Noveltoon sudah siap untuk menulis, namun pikirannya melayang jauh. Jari-jarinya terhenti di atas Keyboard, dan matanya menatap kosong ke luar jendela.
“Kemana kamu, Aries? Kenapa hari ini tidak ada kabar sama sekali?” gumamnya pelan dalam hati, berusaha tetap tenang namun tak bisa menahan rasa cemas yang tumbuh.
Belum sempat ia melamun lebih lama, tiba-tiba ada sosok yang duduk tepat di hadapannya, membuat Aldara tersentak kaget.
“Randy? Kamu ngapain ada di sini?” tanya Aldara dengan nada sedikit kaget.
“Kebetulan lewat, lihat ada orang yang duduk termenung sendirian,” jawab Randy santai tanpa menjawab pertanyaan secara langsung. “Kamu datang sendirian saja?”
“Iya, memangnya kenapa?” jawab Aldara singkat, berusaha tetap fokus pada tujuannya.
“Pacarmu yang katanya setia itu mana? Kok tidak menemani?” tanya Randy lagi, nada bicaranya mulai terasa kurang pantas.
“Ada urusan kerja,” jawab Aldara singkat.
“Kalau begitu, boleh dong aku yang menemani. Masa wanita secantik ini dibiarkan sendiri dan terabaikan,” goda Randy sambil tersenyum genit.
Aldara hanya memutar bola matanya malas, lalu bergumam pelan, “Dasar buaya darat.”
Randy hanya terkekeh mendengarnya. “Sudah tahu begini, masih saja tanya. Aku memang begini adanya.”
“Ya, aku tahu betul kelakuanmu. Punya pacar di mana-mana, tidak pernah puas dengan satu wanita saja,” balas Aldara dengan nada sinis.
Randy tidak tersinggung, malah mendekatkan badannya sedikit. “Kalau kamu mau, aku berjanji akan putus dengan semuanya. Hanya kamu satu-satunya yang akan aku pilih.”
Mendengar ucapan itu, Aldara tertawa keras tanpa menahan diri. “Maaf, Rand. Seperti yang sudah kukatakan berulang kali, aku tidak akan pernah mau dengan pria sepertimu. Apalagi hatiku sudah sepenuhnya dimiliki oleh orang lain.”
“Siapa yang percaya? Dia saja sekarang tidak ada kabar, tidak ada di sampingmu. Mungkin saja dia sedang bersama wanita lain, sama sepertiku,” ucap Randy mencoba menanamkan keraguan.
Aldara langsung menegakkan badannya, nadanya berubah tegas. “Dia bukan pria yang pengangguran atau tidak punya tanggung jawab sepertimu. Dia sibuk bekerja untuk masa depan, bukan sibuk bermain hati.”
“Terserah kamu saja. Padahal kalau bersamaku, aku bisa menemanimu dua puluh empat jam sehari,” desak Randy lagi.
“Aku tidak butuh ditemani oleh orang yang tidak bisa dipercaya. Walaupun dia jauh, aku tetap punya teman-teman yang selalu ada untukku,” jawab Aldara mantap.
Melihat usahanya gagal lagi, Randy akhirnya berdiri dengan wajah kesal. “Baiklah, semoga saja kamu tidak menyesal nanti,” ucapnya sebelum pergi, namun dalam hatinya ia bertekad tidak akan menyerah begitu saja.
Tak lama setelah kepergian Randy, Abang Chepot masuk ke dalam kafe dan langsung menghampiri meja Aldara. “Tadi itu Randy ya? Ada apa dia sampai terlihat kesal begitu?” tanyanya penasaran.
“Biasa saja, Bang. Si buaya itu kembali beraksi. Dia malah mengajak aku berpacaran, padahal dia sudah punya Siska,” jawab Aldara sambil menggelengkan kepala.
“Dia berani menggodamu?” tanya Chepot sedikit terkejut.
“Bukan cuma menggodai, malah menawarkan dia akan putus dari pacar-pacarnya hanya demi aku. Aneh sekali pikirannya. Mana mungkin aku mau merebut pacar teman sendiri, apalagi sifatnya yang sudah jelas-jelas tidak bisa dipercaya,” jawab Aldara panjang lebar.
Abang Chepot hanya tersenyum mendengarnya. “Kamu ini memang selalu punya jawaban yang tepat.”
“Ngomong-ngomong, Anha tidak ikut?” tanya Aldara mengubah topik.
“Dia masih ada kuliah hari ini, baru saja berangkat tadi pagi,” jawab Chepot. “Kamu sendiri, sudah mulai menulis lagi?”
“Iya, Bang. Sudah lama berhenti, sekarang baru mencoba kembali,” jawab Aldara sambil tetap mengetik sesekali.
Abang Chepot segera memesan minuman, secangkir kopi untuk dirinya dan jus nangka kesukaan Aldara. Belum lama pesanan datang, Dede Ara tiba-tiba muncul dengan wajah ceria.
“Wah, ada apa ini? Kenapa tidak mengajak-ajak kalau berkumpul di sini?” seru Dede Ara sambil duduk di samping Aldara.
“Aku saja, kebetulan ketemu dia disini,” jawab Chepot.
Dede Ara lalu melirik layar laptop Aldara. “Wah, sudah mulai menulis lagi. Hebat sekali kamu kak.”
“Bukan hebat, hanya mengisi waktu luang saja,” jawab Aldara santai.
“Kamu tidak kerja hari ini?” tanya Aldara balik.
“Libur saja. Lebih tepatnya minta izin sakit sehari,” jawab Dede Ara santai.
Mendengar jawaban itu, Aldara dan Abang Chepot hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum, menyadari kelakuan Dede Ara yang kadang memang tak bisa diatur. Namun suasana tetap hangat, jauh lebih tenang dibandingkan gangguan yang baru saja dialami Aldara dari Randy.