Di hari yang seharusnya menjadi hari bahagianya Sonya Munic terpaksa harus membatalkan pernikahannya dengan Sagara Sardi tepat saat akan mengucapkan janji pernikahan. Batara Moretti datang merampas pengantin atas alasan utang keluarga. Padahal keluarga Munic telah mengatur pernikahan Batara dengan Talitha Munic, adik tiri Sonya. Di bawah ancaman nyawa ketua mafia paling berbahaya, Sagara terpaksa menyerahkan calon istrinya.
Tak mudah bagi Sonya, gadis yang terkenal lemah lembut hidup di lingkungan mafia dan sikap dingin Batara yang hanya menganggapnya sebagai istri pelunas hutang. Selain menagih hak suami istri Batara selalu diam dan acuh, saat Sonia mulai berdamai dengan keadaan, satu persatu kebenaran mulai terkuak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jebakan Untuk Inferno
Belum sempat Jevan mencerna kalimat atasannya, keheningan malam itu pecah berantakan oleh suara rentetan senjata api yang memekakkan telinga.
Dor! Dor! Dor! Dor!
"Akhh!!!"
Jevan menjerit tertahan saat sebuah peluru kaliber 9mm menembus daging bahu sebelah kanannya dari arah kegelapan labirin kontainer. Tubuh Jevan terhuyung mundur, darah segar seketika menyembur membasahi kemeja putihnya.
"Berlindung!" bentak Batara secepat kilat.
Dengan gerakan refleks yang luar biasa cepat dan efisien, Batara menyambar kerah kemeja Jevan yang terluka, lalu menarik tubuh asistennya itu dengan satu tangan yang kuat, membawa mereka berdua melompat dan bersembunyi di balik celah sempit di antara dua kontainer besi besar yang tebal.
Dor! Dor! Bang! Bang!
Peluru-peluru musuh menghantam permukaan dinding besi kontainer di tempat mereka berdiri tadi, memercikkan bunga api yang bising di kegelapan malam. Adu tembak skala besar mendadak pecah di area Pelabuhan Utara. Puluhan anak buah Inferno yang berjaga di sekitar dermaga langsung membalas tembakan, namun posisi mereka yang terbuka membuat mereka menjadi sasaran empuk.
"Sial... kita dijebak, Tuan Besar," desis Jevan sambil mencengkeram bahunya yang bersimbah darah, wajahnya memucat menahan perih yang luar biasa.
Batara tetap tenang, ekspresi wajah tampannya tidak memperlihatkan kepanikan sedikit pun, seolah-olah hujan peluru di sekelilingnya hanyalah seulas angin lalu. Pria itu tidak mengetahui secara pasti siapa kelompok nekat yang berani menyerangnya malam ini, apakah itu sisa-sisa klan Eagle Black yang dendam, ataukah pergerakan dari kubu Scattershot yang memanfaatkan kelengahannya.
Tanpa membuang waktu, Batara menggunakan cakar tangannya untuk menyobek kemeja putih yang dikenakan Jevan secara memanjang dengan satu tarikan kuat. Dengan gerakan yang sangat cekatan dan presisi, dia membalut luka tembak di bahu Jevan dengan kain sobekan tersebut, menariknya dengan kencang untuk menekan pendarahan agar asisten setianya tidak terus-menerus kehilangan darah dan pingsan di tengah pertempuran.
"Bertahanlah," ucap Batara pendek, suaranya sangat dingin namun penuh otoritas yang menenangkan.
Dari balik celah kontainer, beberapa pengawal Inferno yang tersisa merangkak mendekat dengan senjata yang masih memuntahkan peluru ke arah kegelapan. Wajah mereka dipenuhi peluh dan darah.
"Tuan Besar!" ucap salah satu komandan regu dengan napas memburu kasar. "Jumlah musuh terlalu banyak, mereka mengepung kita dari tiga arah mata angin! Akses jalan keluar utama telah diblokir oleh kendaraan mereka! Tuan... kami semua akan membuat benteng manusia di depan celah ini, dan mengalihkan perhatian mereka demi mengirim Tuan Besar keluar dari pelabuhan ini dengan selamat!"
"Tidak bisa," potong Batara tegas tanpa keraguan. "Jika kalian maju tanpa pelindung, kalian semua hanya akan mati sia-sia."
"Mati demi Tuan Besar... itu adalah sebuah kehormatan yang sangat berharga bagi kami, anggota The Inferno!" sahut pengawal itu dengan mata berkilat penuh kesetiaan mutlak. Dia memeriksa sisa amunisi di senjatanya, lalu berteriak ke arah sisa-sisa rekannya yang terluka. "Semuanya! Dengar perintahku! Pasang posisi! Lindungi Tuan Batara Moretti dengan nyawa kalian!!!"
Suasana pelabuhan yang gelap gulita, ditambah kabut tebal yang kian pekat, membuat para anggota Inferno kesulitan untuk melacak koordinat pasti keberadaan musuh yang bersembunyi di balik bayang-bayang kegelapan. Mereka hanya menembak secara acak ke arah kilatan moncong senjata lawan.
Namun, Batara Moretti bukanlah mafia biasa yang mengandalkan penglihatan mata semata. Sebagai seorang pria yang dilatih sejak kecil di kamp militer bawah tanah yang paling kejam, Batara memiliki pendengaran yang luar biasa peka dan insting predator yang sangat tajam. Dia memejamkan matanya selama dua detik, menulikan diri dari suara bising rentetan peluru di sekitarnya, dan memfokuskan seluruh indra pendengarannya pada suara gesekan sepatu bot dan tarikan napas musuh di kejauhan.
Kretek... sret...
Suara langkah kaki halus di atas pasir kering dari arah barat, berjarak sekitar dua puluh meter di balik kontainer hijau.
Batara membuka matanya kembali. Kilatan dingin yang mematikan memancar dari sepasang manik matanya. Tanpa perlu melongokkan kepalanya untuk melihat, tangan kanannya yang kekar bergerak dengan sangat presisi, mengarahkan pistol hitam jenis Baretta miliknya ke arah celah sempit di sudut barat.
Dor! Dor!
Dua tembakan beruntun dilepaskan oleh Batara dengan jeda yang sangat minim. Suara letusan pistolnya terdengar sangat khas dan mantap.
"AAAKHHH!!!"
Dua suara jeritan kesakitan dari pihak musuh seketika terdengar memecah malam. Dua tembakan Batara yang dilepaskan secara buta namun didasarkan pada pendengaran yang akurat itu berhasil menembus tepat di bagian dahi dan dada dua orang penembak jitu musuh yang bersembunyi di balik kontainer arah barat, membuat tubuh mereka ambruk tak bernyawa ke atas lantai beton.
"Sialan! Dia bisa tahu posisi kita!" teriak salah satu komando musuh dari balik kegelapan sektor timur. "Tembak terus celah kontainer itu! Jangan biarkan harimau Moretti itu memiliki kesempatan untuk membidik lagi!"
Trrrttttt! Trrrttttt!
Rentetan peluru dari senapan mesin ringan kini menghujani dinding kontainer tempat Batara dan Jevan berlindung. Serpihan besi dan debu beterbangan di udara, mengaburkan pandangan. Situasi kian kritis saat jumlah pengawal Inferno yang berada di depan mereka mulai bertumbangan satu per satu karena kalah jumlah penembak.
Jevan mencoba mengangkat tangan kirinya yang tidak terluka, memegang pistolnya sendiri dengan gemetar. "Tuan Besar... di sebelah kanan kita... ada jalur pipa pembuangan air tua yang langsung menuju ke arah laut. Jika Anda melewati jalur itu—"
"Aku tidak akan meninggalkan babi-babi ini menyelesaikan tugas mereka di tempatku," potong Batara dingin, memotong kalimat Jevan dengan mutlak.
Batara menurunkan tubuhnya sedikit, melakukan pergerakan taktis ala prajurit elite. Dengan kecepatan yang hampir tidak bisa ditangkap oleh mata biasa, dia berguling ke arah luar celah kontainer, memanfaatkan momen saat musuh sedang melakukan pengisian ulang amunisi (reloading).
Sambil bergerak dinamis di atas lantai beton, tangan kiri Batara menyambar sebuah senapan serbu AK-47 milik salah satu anak buahnya yang telah tewas. Kini, dengan memegang pistol Beretta di tangan kanan dan senapan serbu di tangan kiri, Batara menjelma menjadi mesin pembunuhan massal yang mengerikan.
Dor! Bang! Bang! Bang!
Batara menembakkan senapan serbunya dengan rentetan beraturan sambil terus bergerak zigzag di antara bayang-bayang kontainer. Setiap peluru yang keluar dari senjatanya seolah dipandu oleh malaikat maut, tidak ada satu pun yang meleset. Tiga orang musuh yang mencoba merangsek maju dari sektor tengah langsung terkapar dengan kepala berlubang.
Skill bertempur jarak dekat (CQC - Close Quarters Combat) yang dimiliki Batara benar-benar berada di tingkat tertinggi. Ketika seorang musuh tiba-tiba muncul dari balik sudut kontainer dan mencoba menusuknya dengan pisau komando, Batara dengan tenang menggeser tubuhnya sedikit ke samping untuk menghindari tusukan. Dengan satu gerakan tangan kiri yang cepat, dia mencengkeram pergelangan tangan musuh tersebut, memutarnya hingga terdengar suara patahan tulang yang mengerikan, lalu merebut pisau itu dan menancapkannya tepat di tenggorokan sang penyerang dalam satu detik yang efisien.
Batara menggunakan tubuh musuh yang sekarat itu sebagai tameng hidup dari sisa tembakan musuh lainnya, sambil tangan kanannya terus menembakkan Beretta miliknya ke arah dua penembak lagi yang berada di lantai atas struktur crane pelabuhan.
Dor! Dor!
Kedua penembak jitu di atas crane itu langsung jatuh bebas dari ketinggian lima belas meter, menghantam lantai beton dengan suara hantaman yang keras dan tewas seketika.
Melihat kebrutalan dan keahlian bertempur Batara Moretti yang berada di luar nalar manusia biasa, sisa-sisa pasukan musuh yang mengepung mulai dilanda ketakutan yang luar biasa. Mereka mengira kepungan tiga arah ini akan dengan mudah menghabisi sang ketua Inferno, namun sebaliknya, mereka justru merasa seperti sedang mengantarkan nyawa ke dalam sarang seekor iblis yang kelaparan.
"Dia bukan manusia! Mundur! Mundur!" Teriak sisa-sisa pasukan penyerang yang mulai panik saat melihat jumlah rekan mereka yang tewas sudah mencapai belasan orang hanya dalam waktu kurang dari sepuluh menit di tangan satu orang.
Batara berdiri kokoh di tengah hamparan mayat dan genangan darah yang mulai mengalir di lantai dermaga. Kemeja hitamnya tampak sedikit terkoyak, dan ada cipratan darah musuh di pipi kirinya, namun pandangan matanya tetap datar, tenang, dan kosong tanpa emosi sedikit pun.
Dia melangkah perlahan kembali ke arah celah kontainer tempat Jevan berada, mengisi ulang peluru pistol Beretta-nya dengan gerakan tangan yang sangat santai seolah baru saja menyelesaikan olahraga ringan.
"Jevan," panggil Batara rendah.
Jevan yang menahan sakit di bahunya mendongak, menatap sang ketua dengan rasa kagum dan hormat yang kian mendalam di dalam dadanya. "Ya, Tuan Besar?"
"Hubungi markas utama," perintah Batara, suaranya terdengar sangat dingin membelah kabut malam pelabuhan. "Bawa seluruh pasukan divisi satu ke sini. Bersihkan tempat kotor ini dari bangkai-bangkai tidak berguna ini. Dan cari tahu... siapa tikus yang telah berani membocorkan jalur transaksi malam ini."
"Dipahami, Tuan Besar," jawab Jevan dengan tegas, segera merogoh saku celananya untuk mengambil telepon satelit darurat klan yang tidak terkena gangguan jamming.
kasihan Sonya gx pnrh bahagia ,,
lgan si Sonya lemah amat kak ,,
kasih kekuatan super kek si Sonya ,, 🤭🤭🤭🤭