Alina Mahendra, pengacara berhijab sukses dan berprinsip, akhirnya siap mengikat janji suci dengan Farhan Adhitama—pemuda cerdas, gagah, ahli karate, dan pemilik hati yang ia tunggu bertahun‑tahun lamanya. Namun di tengah persiapan bahagia itu, musuh lama kembali muncul dengan wajah baru. Raka Haris kini bersembunyi di balik nama dan topeng pengusaha terhormat, menjalankan bisnis jauh lebih jahat dari ayahnya dulu, dengan satu tujuan tunggal. Menghancurkan Alina sehancur‑hancurnya tepat sebelum pernikahannya berlangsung.
Kebenaran tampak begitu jelas di mata hukum, namun siapa sangka di baliknya tersimpan kebohongan yang dirancang sedemikian rupa. Akankah cinta dan keteguhan mereka cukup menyingkap DI BALIK TOPENG KEBENARAN itu sebelum semuanya terlambat?
Bantu dukung karya ini dengan subscribe, like, komentar dan beri hadiah dan bintang jika suka ya... Terimakasih banyak 🙏😇
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: ALAT SADAP DI BALIK DINDING
...BAB 4...
...ALAT SADAP DI BALIK DINDING...
(ALUR PROGRESIF )
Sepuluh foto tergeletak di atas meja kaca.
Alina tidak sanggup menyentuhnya. Jari-jarinya dingin.
“Dari balik tirai kamarku,” bisiknya. “Ini… dari ruang tengah. Tepat waktu kita bicara tadi.”
Farhan mengambil satu foto. Di dalamnya, layar laptopnya menyala. Menampilkan data Arka Pradana dengan jelas.
“Dia di dalam rumah ini, Lin,” kata Farhan pelan. “Atau dia menaruh mata-mata di dinding kita.”
Udara mendadak berat. Dinginnya bukan dari AC.
Farhan mengepalkan tangan sampai buku-bukunya putih. “Belasan tahun aku latihan. Aku tahu rasanya kalau ada orang asing di dekatku. Tapi ini… dia sedekat satu jengkal dan aku tidak sadar sama sekali.”
Alina menarik jilbabnya lebih rapat. Ia memejamkan mata sebentar, menarik napas. Pelan. Seperti yang ia pelajari dulu di Al-Azhar.
“Han,” ucapnya akhirnya. Suaranya stabil, meski tangannya gemetar. “Dia tidak mau kita mati. Dia mau kita takut. Panik. Salah langkah. Lalu dia pakai itu untuk menjatuhkan kita.”
Farhan menoleh. “Maksudmu?”
Alina menunjuk tanggal kecil di pojok foto. “Lihatlah. Foto yang paling lama. Empat belas bulan lalu.”
Farhan mengerutkan kening.
“Empat belas bulan,” ulang Alina. “Jauh sebelum nama Arka Pradana muncul. Dia sudah ada di dekat kita sejak itu.”
Farhan diam beberapa detik. Lalu ia berdiri.
“Kalau begitu kita cari.”
Tanpa menunggu jawaban, ia mulai menyusuri ruangan. Jarinya meraba dinding, bingkai foto, lampu gantung, sudut lemari. Tidak ada suara. Hanya langkahnya yang pelan.
Sebelas menit kemudian, ia berhenti di depan kaligrafi Ayat Kursi. Kaligrafi kayu yang sudah tergantung di sana hampir dua tahun.
“Ini,” gumam Farhan.
Alina berdiri. “Kenapa?”
Farhan melepas bingkai itu dengan hati-hati. Di baliknya, menempel benda kecil hitam seukuran ibu jari. Ada titik merah yang berkedip sangat pelan.
Alina menutup mulutnya.
Farhan mengambilnya dengan dua jari. “Alat sadap. Rekam suara dan gambar. Kirim data langsung.”
“Baterainya?” tanya Alina cepat.
“Bisa tahan dua tahun,” jawab Farhan. Ia menatap benda itu seperti menatap sesuatu yang beracun. “Dia pasang waktu kita umroh. Ingat? Rumah kosong selama sebulan. Kunci rumah cuma dititipkan ke Pak RT sebelah.”
Alina terhuyung duduk. Tiba-tiba semua kejadian kecil itu muncul.
“Tukang AC,” katanya lirih. “Wajahnya… mirip. Tapi aku pikir cuma mirip.”
“Kurir yang datang jam aneh,” timpal Farhan. “Tetangga baru yang pindah sebulan lalu pergi.”
“Pemuda di taman masjid itu,” lanjut Alina. Suaranya bergetar. “Yang selalu menyapaku. Ramah sekali.”
Farhan mengangguk. “Semua dia. Rambut beda. Kacamata. Kumis. Pakaian lusuh. Dia ganti-ganti.”
“Dia tidak terburu-buru,” kata Alina. “Lima tahun. Dia menyiapkan semua ini pelan-pelan.”
“Ya, dan tidak seperti ayahnya,” kata Farhan sambil membungkus alat itu dengan kain tebal. “Pak Haris dulu kasar. Maunya cepat. Makanya ketahuan. Raka berbeda. Dia paham betul. Untuk menghancurkan seseorang, kau harus jadi bagian dari hidupnya dulu. Sampai dia tidak bisa bedakan mana nyata, mana palsu.”
Alina menatap Farhan. “Lalu sekarang bagaimana?”
Farhan meletakkan bungkusan itu di meja. “Mulai malam ini, aturannya berubah.”
“Aturan apa?”
“Tidak ada lagi bicara penting lewat telepon,” kata Farhan tegas. “Tidak ada pesan. Tidak ada di dalam ruangan kalau belum dicek.”
Alina mengangguk. “Lalu?”
“Kita bicara di luar. Tempat terbuka. Hanya ada angin kencang. Suara pelan,” jelas Farhan. “Atau tulis di kertas. Baca. Lalu bakar.”
Alina menarik napas panjang. “Dia sudah dengar terlalu banyak ya?”
“Iya,” jawab Farhan. “Sekarang giliran kita yang diam.”
Jam dinding berdentang. Tiga kali. Jam dua pagi.
Tit.
Ponsel Alina bergetar di atas meja.
Mereka berdua langsung menoleh. Nomor yang sama. Tanpa nama.
Alina mengangkatnya dengan tangan gemetar. Membacanya keras-keras.
Bagus. Kalian akhirnya menemukannya juga. Tapi ingat… itu baru SATU. Masih ada sembilan lagi. Dan satu di antaranya, sedang mendengarkan kita sekarang juga.
Keheningan jatuh.
Farhan berdiri perlahan. Matanya menyapu seluruh ruangan. Langit-langit. Lampu. Pot bunga. Kolong sofa.
“Tidak ada suara,” kata Alina, suaranya hampir hilang. “Tidak ada orang di luar.”
“Tapi dia di sini,” kata Farhan. “Di salah satu dari sembilan tempat itu.”
Alina memeluk dirinya sendiri. “Berarti semua yang kita omongkan tadi malam… dia juga dengar?”
“Termasuk rencana kita menikah,” kata Farhan pahit. “Dan termasuk warna gaunmu.”
Alina menutup mata. Sesak.
Tiba-tiba Farhan berjalan ke arahnya. Ia tidak menyentuh. Ia hanya duduk di lantai, satu meter di depannya. Menjaga jarak.
“Lin,” panggilnya pelan.
Alina membuka mata.
“Kita tidak lari,” kata Farhan. “Kita juga tidak gegabah. Itu yang dia mau.”
“Lalu kita apa?” tanya Alina.
“Kita balas dengan cara yang sama,” jawab Farhan. “Pelan. Tenang. Hati-hati. Sampai satu per satu topengnya terjatuh.”
Alina menatapnya lama. Ada ketenangan di mata Farhan yang menular padanya.
“Allah melihat, Han,” bisik Alina. “Dia tidak akan biarkan kebohongan menang selamanya.”
Farhan mengangguk. “Benar.”
Ia mengulurkan tangannya. Bukan untuk menggenggam. Hanya berhenti di udara, di antara mereka. Isyarat.
Alina mengangguk. Ia mengerti.
---
Di tempat lain. Lantai paling atas.
Raka duduk sendirian, dan kegelapan. Hanya lampu kota yang masuk dari jendela.
Di depannya, layar monitor menyala. Empat kotak kamera. Salah satunya menunjukkan ruang tengah rumah Alina.
Ia tersenyum.
“Bagus,” katanya pelan pada dirinya sendiri. “Kalian temukan yang pertama.”
Ia menekan satu tombol. Layar lain menyala. Peta denah rumah Alina. Ada sembilan titik merah berkedip di lokasi berbeda. Di balik jam dinding. Di bawah meja. Di dalam lampu taman.
“Satu ketemu,” bisiknya. “Sembilan lagi belum.”
Ia bersandar di kursi. “Aku sengaja biarkan kalian menemukannya. Biar kalian merasa menang sedikit.”
Senyumnya melebar.
“Karena setelah kalian merasa aman… babak selanjutnya baru dimulai.”
Ia mematikan monitor. Ruangan kembali gelap.
---
Kembali di rumah Alina.
Farhan bangkit. “Kita mulai sekarang.”
“Dari mana?” tanya Alina.
“Dari kamarmu.” jawab Farhan. “Tempat yang paling pribadi.”
Mereka berjalan ke kamar Alina. Sunyi. Hanya suara langkah mereka.
Farhan memeriksa bingkai cermin. Ia mengetuk-ngetuk dinding. Alina memeriksa kolong tempat tidur, laci meja rias.
Lima menit. Sepuluh menit. Tidak ada apa-apa.
Alina duduk di tepi ranjang, lelah. “Bagaimana kalau kita tidak menemukannya?”
“Kalau begitu kita buat dia yang keluar sendiri,” kata Farhan. Ia menatap Alina. “Kita kasih umpan.”
“Umpan?”
Farhan jongkok di depannya. “Kita pura-pura bertengkar. Bicara soal rencana palsu. Kita sebut nama tempat yang tidak ada. Lihat dia bereaksi ke mana.”
Alina mengerutkan kening. “Berbohong?”
“Bukan bohong,” kata Farhan. “Tapi ini strategi.”
Alina diam. Lalu ia mengangguk pelan. “Baik.”
Farhan berdiri. “Tapi mulai sekarang, kita tidak percaya apa pun. Tidak ada suara. Tidak ada bayangan. Hanya apa yang bisa kita lihat dengan mata kita sendiri.”
Alina berdiri juga. “Dan doa.”
“Dan doa,” ulang Farhan. Ia tersenyum tipis. Pertama kalinya malam itu.
Mereka keluar dari kamar. Rumah itu masih gelap. Masih sunyi.
Tapi kali ini, mereka tidak sendirian dalam ketakutan.
Mereka berdua. Dan mereka punya rencana.
Di luar, angin berhembus kencang. Seolah ikut menahan napas, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Bersambung...
cerita nya seru, like + bunga🌹 , semangat😉
Tapi sayang yaaa, genre-nya nggk sesuai sama aku... 😂😂😂 di sini, genre-nya tertulis "Pembalasan Wanita" 😁😁😁🙏