Alfina dan Alfino teman masa kecil yang selalu bertengkar jika berada di dalam satu kelas.
Fina mempunyai tambatan hati bernama Choki, sedangkan Fino memiliki Anjani, hubungan itu tidak berarti sama sekali ketika kedua orang tua memaksa mereka untuk menikah muda.
Fina membuat perjanjian setelah pernikahan, Jika disekolah menjaga jarak, jika dirumah berperan layaknya pasutri. Tujuan Fina buat janji karena untuk melindungi Fino dari gangguan Choki.
Pada akhirnya perjanjian yang Fina buat seakan masuk ke perangkap nya sendiri. Fina semakin di ganggu oleh Choki, sedangkan Fino semakin dekat dengan Anjani.
Apakah Fina bertahan dengan janji yang sudah ia buat, jika kalau tidak bertahan bagaimana kisah mereka membina sebuah pernikahan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15.
Keadaan sudah begini, membuat kedua pasangan suami istri muda itu akan memulai perjalanan baru.
Fino mengaku kalau sedang menjadikan Fina dan Anjani sebagai Sahabat. Selain Fino akan comblangin Anjani dengan Niko sebagai pacar.
Fina jadi teringat soal perkataan mama nya yang membahas tentang menurunkan kisah cinta kedua orang tua nya saat masih muda.
Tapi yang ada dibenak Fina, apakah benar jika Anjani akan menjadi sahabat langgeng nya seperti mama dengan Bu Mega?. Fina sungguh tak percaya, menganggap bualan mama hanya karangan belaka saja.
"Sayang" Kata Fina sesaat sudah menyuapi Fino makan sarden yang sudah dimasaknya.
"Hm" Fino merespon.
"Saya takut kalau Choki sama Eca bakalan terus ganggu saya"
Fino meminum air lebih dulu sebelum ia menjawab. "Kelima pengawal dari papah sudah berpindah tugas menjadi pengawal mu sayang, selain itu kamu jangan takut lagi dengan Choki, semuanya sudah aman"
Fina tersenyum. "Ya Allah baik banget ya papa kamu" Kata Fina, lalu ia memakan sarden yang di masaknya.
"Iya, yang penting prioritas papah adalah buat mama saya semakin bahagia, karena mau bagaimana juga mama saya itu mantan pacar papah kamu. Jadi, mama saya mau buat anak gadis dari mantan pacar nya itu senang" Kata Fino yang membuat Fina tersedak makanan yang baru saja ia kunyah.
"APA!!!" Fina terkejut parah.
"Kamu enggak tau soal apa tujuan pernikahan itu sayang?" Kata Fino sambil membersihkan noda makanan yang ada di dekat mulut Fina.
"Kok kamu tenang banget?, saya malah syok anjir!" Kata Fina.
"Pertama kali mamah saya bicarakan itu saya sampai tersedak minuman kok, hampir mirip seperti kamu" Kata Fino dengan santainya.
"Sayaaaang!! Kau tau gak sih? Ini masalahnya kisah kita sama persis dengan kisah cinta kedua orang tua kita saat masih muda"
"Yaudah gapapa, toh saya juga sudah tau soal itu"
"Sayang bentar... kamu sudah tahu?"
"Iya"
"Jadi jangan bilang kamu mau mengikuti jejak kisah cinta orang tua kita?"
"Ketahuan deh" Fino terkekeh.
"Ih pantesan kamu ngotot deketin saya sama Anjani, Sumpah lah apa sih!!" Kesal Fina.
"Udah gak apa-apa kita jalani saja dulu"
**
Keesokan harinya.
Fino dan Fina datang ke sekolah bersama, dengan santainya mereka bergandengan tangan saat masuk ke dalam gerbang.
Ini menimbulkan pertanyaan dari siswa dan siswi yang melihat kedekatan mereka.
Di sekolah ini mereka sudah terkenal dengan tidak akur nya. Itu terjadi saat mereka di kantin yang selalu ribut, kejadian itu setiap hari terulang, lalu terhenti saat mereka sudah menikah.
Tapi, sekarang mereka membuktikan kalau cinta yang berawal dari kebencian itu nyata.
"Fina, Fino!" Teriak Anjani dari balik punggung mereka. gadis itu langsung berlari kecil mendekati mereka. "Ini maksudnya apa kalian bergandengan tangan?"
Fina mau menjawab, tapi Fino lebih dulu yang menjawab. "Kita baru jadian Jan"
Sebuah kalimat yang membuat Anjani spontan terdiam. "Sumpah Fin kamu tuh tega banget ya, kemarin saya sudah nolong Fina dari Eca sesuai permintaan kamu, kenapa begini balasannya Fin?" Rengek Anjani. Kedua matanya pun sudah berkaca-kaca.
Fina semakin mengeratkan genggaman tangannya Fino— membuat hati Anjani semakin panas. "Saya hargai niat baik kamu Anjani, tapi sepertinya takdir sudah berkata lain" Kata Fina.
Anjani mengumbar senyum tipis. "Kau juga Fina, bukannya terima kasih sudah saya bela, kenapa kamu terima Fino sebagai pacarnya?!"
"Maaf Anjani, karena ini pilihan dari kedua orang tua kita, orang tua ingin kita tidak bermusuhan saat disekolah. Jadi kita sudah memutuskan untuk saling menjaga satu sama lain, berhubung Fino juga sudah jomblo juga" Jawab Fina.
Lagi dan lagi, Anjani mengumbar senyuman terbaik untuk memanipulasi kan kesedihan nya. "Kau sama saja jahatnya dengan dia Fin, terlebih Fino yang katanya mau fokus dengan ujian kelulusan?, tapi kamu milih alasan itu untuk menggiring opini saja kan?"
"Iya, kamu benar" Jawab Fino sejenak lalu menghela nafas. "Ada laki-laki yang sudah mencintai kamu sebagai pengganti saya, kau jangan sampai menyia-nyiakan dia ya" Pinta Fino.
"Siapa?" Tanya Anjani.
"Niko" Jawab Fino.
Anjani terkekeh sinis. "Sampai kapan pun saya gak bakal terima Niko jadi pacar saya"
"Oh gitu?" Lalu Fino memamerkan sebuah foto kiriman dari Niko yang tengah mencium kening Anjani saat gadis itu masih tertidur.
Pada saat sebelum berangkat sekolah Niko datang ke rumah Anjani jam lima pagi. Niat untuk membangunkan Anjani malah pria itu iseng mencium pipi Anjani sambil mengabadikan nya lewat jepretan foto.
Niko diperbolehkan untuk memasuki kamar Anjani hanya untuk membangunkan tidur nya saja. Karena Niko sudah dianggap orang tua Anjani sebagai saudara sendiri, mau gimana juga Niko sudah mereka kenal sejak lama.
"NIKOOOOOOOO!!!" Jerit Anjani mengudara~
**
Di jam istirahat.
Ada Choki dengan ayahnya yang datang ke sekolah.
Anehnya, Fina melihat Choki berpakaian bebas tanpa memakai almamater sekolah.
"Ada apa dengannya?" Tanya Fina.
Sialnya, Choki menyadari keberadaan Fina, ia langsung mendekat saat itu juga.
Fina pengen kabur secara teratur, tapi Choki berhasil membuat gadis itu terhenti saat ia bilang "Jangan takut, saya sebentar lagi akan pergi"
"Hm" Fina berbalik badan menatap Choki "Kau dikeluarkan dari sekolah ya?" Tanya Fina.
Choki menggelengkan kepala. "Saya mau pindah sekolah. setelah saya gulat satu lawan satu dengan Fino kemarin, ayah saya sudah memutuskan buat satukan saya dengan Eca di sekolahnya"
"Apa!, jadi kemarin Fino berantem satu lawan satu dengan kamu?" Tanya Fina memastikan, mengingat Fina sudah mendengar Fino saat berkata selain itu kamu jangan takut lagi dengan Choki, semuanya sudah aman.
"Iya, itu sebagai pertarungan terakhir untuk dapatin kamu, dan itu saya sudah kalah secara terhormat sebagai laki-laki" Jawab Choki. Sedetik setelah nya ia berkata lagi saat menoleh ke arah ayah nya. "Udah dulu, ayah saya manggil... Oh iya Fina, semoga kamu bahagia ya sama Fino"
Fina tersenyum simpul. "So pasti"
To be continue,