Aruna mencoba segala cara agar pertunangannya dengan seorang Panglima TNI bernama Axel dibatalkan. Dia datang menemui sang panglima bukan dengan gaun anggun atau busana yang sopan, wanita itu justru mengenakan dress hitam ketat yang terbuka. Riasan wajah tebal yang terlihat berlebihan. Yang paling mencolok adalah pipi dan bibirnya yang dicat dengan lipstik merah menyala kontras dengan kulitnya yang putih. Axel masih bisa menerima. Trik Aruna berlanjut dengan mengajak si pria berburu belanjaan mewah. Bagaimana kelanjutan kisahnya? Apakah Axel mampu mengikuti setiap alur cerita yang dibuat gadis itu? atau justru menyerah? ikuti terus kisah serunya hanya disini..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nakorang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 : Tak berdayanya dua penguasa.
Setelah perang toilet yang menguras tenaga dan air itu usai, suasana ruang tamu terlihat sangat menyedihkan. Dua pria yang biasanya dijuluki paling gagah dan berkuasa juga ditakuti di kota ini, kini hanya tinggal dua tumpukan daging lemas yang terkapar malas di atas sofa mewah. Wajah mereka pucat pasi napas mereka terdengar berat dan tak beraturan, seolah-olah baru saja selesai bertarung nyawa selama berjam-jam.
Tiba-tiba langkah kaki berat terdengar mendekat. Aruna berjalan dengan gaya seorang bos besar yang baru saja memenangkan perang. Dagunya diangkat tinggi dan tatapannya tajam menatap dua budak cintanya yang sedang tak berdaya itu.
"Hhh... capek juga ya ngurusin kalian berdua," celetuk Aruna sambil memijat keningnya. "Tapi sayangnya... perutku masih keroncongan. Gak kenyang sama sekali. Itu karena kalian berdua gak becus masak. Rasanya kayak makan kardus bekas aja, tapi.. Rasa kardus bekas emang gimana ya.. Ah udahlah intinya aku masih lapar!!"
Axel dan Zayn hanya bisa saling tatap lemah, tak mampu membantah.
"Karena kalian udah bikin aku kelaparan," Aruna melipat tangan di dada, menatap mereka bergantian dengan tatapan menuntut. "Kalian harus pesenin aku makanan yang beneran enak. Porsinya juga harus gede dan yang paling mahal. Sekalian aja pesen buat satu kompi biar nanti sekalian bisa ngasih makan orang-orang yang pada pingsan di sana. "
Tanpa banyak bicara tangan Axel bergerak gemetar merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel pintarnya. Dengan wajah memelas ia menyerahkan benda itu ke hadapan Aruna.
"Ambil saja sayang... pesan apa saja yang kamu mau... tangan dan kakiku rasanya sudah bukan milikku lagi... lemas tak punya daya.." rintih Axel parau.
Dengan sigap dan tanpa rasa bersalah sedikitpun, Aruna menyambar ponsel itu. Matanya berbinar-binar penuh semangat. Namun, ia tidak berhenti sampai di situ. Tatapannya kini beralih tajam menatap sang Bos Mafia, Zayn.
"Kamu juga harus pesenin aku makanan yang gak kalah banyak!" seru Aruna. "Kan kamu Bos Mafia terkenal, pasti dompetnya tebel banget kan? Hari ini aku porotin kalian berdua biar adil. Ini hukuman karena sudah bikin onar!"
Zayn menghela napas panjang, matanya menatap kosong ke arah langit-langit ruangan suaranya terdengar pasrah dan mulai melantur.
"Hah... terserah... lakukan apa saja yang kamu mau, Sayang... Aku pasrah total. Rasanya hidupku sudah di ujung tanduk. Mungkin besok pagi nama Zayn sudah tinggal kenangan di dunia ini..."
Tanpa aba-aba lagi, tangan lentik Aruna dengan lihai mulai merogoh saku jas pria itu, dan mengambil ponselnya. Dan mulailah aksi 'pemerasan' terbesar dalam sejarah.
Dengan wajah polos namun hati yang jahil, Aruna mengetik layar ponsel Axel dan Zayn secara bergantian. Ia tidak main-main. Makanan yang dipesannya bukan porsi biasa, melainkan porsi raksasa ala prasmanan. Ia memilih menu-menu termahal, makanan yang harganya bisa jutaan rupiah hanya untuk sekali pesan.
Klik... Klik... Order Berhasil.
"Oke Selesai!" Aruna mengembalikan kedua ponsel itu ke tangan pemiliknya dengan senyum kemenangan. "Makasih ya. Akhirnya aku bisa makan enak juga."
Baru saja ia hendak berbalik kedua tangannya tiba-tiba ditarik oleh kedua pria itu secara bersamaan. Axel dan Zayn, walau dalam kondisi sekarat naluri posesif mereka masih menyala. Mereka ingin memeluk dan dimanja, ingin berdekatan dengan Aruna.
Tapi sayang... tenaga mereka sudah habis total.
"Uuhh... sakit! Jangan sentuh-sentuh!" Aruna mendengus kesal, lalu dengan mudahnya ia menarik kedua tangan mereka dan melemparkannya kembali ke tubuh masing-masing dengan kasar. "Diem aja di situ! Kalian kan lagi sakit! Jangan banyak gerak, nanti stunting gak ada yang nolongin. Dikasih MBG juga gak bakalan guna. "
Axel dan Zayn hanya bisa meringis kesakitan, tangan mereka terasa hampa. Di dalam hati, mereka sama-sama meronta ingin saling membunuh. Tapi tak ada daya, akibat makanan yang dibuat Aruna.
'Sialan Zayn... dasar pembuat onar! kalau bukan karena kamu nyulik Aruna dan membius semua orang nggak bakal jadi kekacauan begini!' batin Axel menggeram, tangannya meremas bantal sofa meski lemah.
'Huh! Dasar Axel bego. Punya pengawal banyak tapi gak guna. Gampang banget dibuat Pingsan. Dasar lemah, memang sampah masyarakat mungkin lain kali gue bunuh aja kali ya...' balas batin Zayn tak kalah panas.
Namun tiba-tiba...
Suara manja itu terdengar...
"Zayn ayo bangun bawa semua orang kemari, Kamu harus tanggung jawab ayo.. " Ajak Aruna pada Zayn
"Aruna..." Zayn bersuara lemah, matanya melirik ke arah pintu. "Pengawalku banyak di luar sana... suruh mereka saja yang kerjakan... aku ini sudah kayak sayur layu..."
"Ah enggak! Enggak bisa!" Aruna menolak cepat, lalu mulai memanasi mereka. "Ini semua kan ulah kamu. Jadi kamu yang harus tanggung jawab dong! Katanya Bos Mafia yang garang, galak, bisa bikin orang gemetar ketakutan? Aduh... masa gini aja lemah sih? Masa cuma disuruh ngumpulin orang aja gak sanggup?"
Zayn menelan ludah lalu menatap Aruna dengan tatapan dalam, suaranya terdengar serak namun penuh makna.
"Ya... aku memang kuat... aku bisa menghancurkan siapa saja... tapi aku akan otomatis menjadi lemah... kalau sudah di dekatmu..."
BUAAAaaKK!!
Axel langsung batuk-batuk keras mendengar gombalan maut itu, wajahnya memerah bukan karena cinta, tapi karena menahan amarah yang tak tersalurkan.
"Mulutmu... sialan... pengen ku todong pakai pisau dapur aja rasanya! Sialnya... tenagaku habis tak tersisa..." gerutu Axel kesal menendang pelan kaki meja.
Tapi Aruna sepertinya tak perduli, dia masih meminta Zayn untuk segera bergerak.
"Ayo Zayn! Bangun! Bawa semua orang yang pingsan itu kesini! Aku mau lihat satu per satu. Mau aku absen siapa tahu ada yang hilang, atau malah sengaja kamu buang."
Dengan berat hati dan kaki yang gemetar, Aruna memapah bahu Zayn mencoba membantunya berdiri. Melihat pemandangan itu hati Axel rasanya mau meledak. Ia ingin sekali berdiri mendorong Zayn sejauh mungkin dan merebut kembali Aruna. Tapi tubuhnya tak mau menuruti perintah otak.
Ia hanya bisa terkapar meremas sofa sekuat tenaga, menatap mereka dengan tatapan membunuh yang tak berdaya. Namun, ternyata kondisi tubuh Zayn jauh lebih parah dari dugaan. Saat Aruna mencoba memapahnya berdiri kaki pria itu sama sekali tidak memiliki tenaga untuk menopang berat badannya sendiri.
BRUK!!
Dengan tubuh yang lemas seperti mie instan, Zayn malah ambruk tepat ke arah Aruna, menjadikan tubuh mungil gadis itu sebagai bantalan dadanya. Seketika mereka berdua terduduk di lantai dengan posisi Zayn yang memeluk Aruna erat-erat.
"Aduh! Zayn!!" Aruna mendelik kesal, berusaha mendorong dada bidang itu tapi sia-sia. "Berat banget tahu! Jangan gini dong. Ayo bangun! Kita harus kerja!"
"Gak bisa..." jawab Zayn dengan suara parau dan sangat lemah wajahnya menempel manja di leher Aruna. "Aku lemes banget sayang... tenagaku habis semua..."
Meskipun tubuhnya tak berdaya, mulut dan hatinya tetap saja nakal. Di sela-sela kepasrahan itu, Zayn masih sempat-sempatnya mencuri kesempatan. Ia mengangkat wajahnya sedikit, lalu mengecup-kecup manja pipi mulus Aruna berkali-kali dengan penuh kasih sayang dan rasa posesif.
"Ih Zayn... Diem deh. " protes Aruna langsung mendorong tubuh Zayn. Yang otomatis terkapar di lantai seperti ceker tanpa tulang yang sudah di masak berjam-jam.
Melihat pemandangan 'mesra' itu dari atas sofa, darah Axel seketika mendidih.
'Sialan! Bajingan! Berani-beraninya dia manja-manja sama tunanganku di depan mataku!' batin Axel meledak-ledak.
Dengan sisa kekuatan yang ada, ia mencoba bangkit kepalan tangannya mengepal kuat siap menonjok wajah Zayn sampai hancur. Namun...
"Ugh..."
Begitu ia mencoba berdiri kepalanya terasa berat sekali, pandangannya tiba-tiba berputar dan menjadi kabur. Kakinya gemetar hebat tak sanggup menopang tubuhnya.
BRUK!
Tanpa ampun, tubuh tegap itu kembali terhempas jatuh ke sofa dengan keras. Axel hanya bisa terkapar, memejamkan mata menahan pusing dan rasa frustrasi yang luar biasa.
Sedangkan tak menoleh ke arah lain, ia lalu berjalan cepat ke arah pintu utama dan berteriak memanggil anak buah Zayn yang berjaga di luar.
"Hei! Kalian semua masuk sini."
Beberapa detik kemudian, puluhan bodyguard berbadan kekar dan tampak garang masuk dengan tertib. Mereka semua menunduk hormat saat melihat Aruna.
"Iya Nona! Ada Perintah apa?"
"Bantu bos kalian yang di lantai itu!" perintah Aruna menunjuk Zayn. "Terus yang penting. Bantu Axel berdiri dan bawa dia pergi dari sini sekarang juga. Cepetan!"
Para bodyguard itu sama sekali tak membantah. Mereka yang terbiasa hanya mendengar perintah dari bos mereka, tapi anehnya hari ini mereka justru lebih patuh pada perintah seorang gadis kecil. Dengan sigap sebagian mengangkat tubuh Zayn yang pasrah, dan sebagian lagi membantu Axel.
"Lakukan apa yang dia bilang..." gumam Zayn lemah pada anak buahnya.
Tak butuh waktu lama, para pengawal itu pun bekerja cepat. Mereka tidak hanya membawa kedua pria itu, tapi atas perintah Aruna mereka juga mengangkut satu per satu semua orang yang pingsan di berbagai sudut rumah. Mulai dari pembantu, penjaga, hingga supir dan satpam rumah. Lalu menyusun mereka berbaris rapi di ruang tamu layaknya pasukan yang siap diperiksa.
Setelah semua penghuni rumah tersusun rapi di lantai, para bodyguard itu pun pamit undur diri. Membawa bos besar mereka masuk kedalam mobil, dan bersiap untuk segera pergi meninggalkan kediaman Aruna atas perintah gadis itu.
Sementara itu, nasib Axel jauh lebih memilukan. Aruna tidak membiarkannya dibawa mobil mewah atau diantar bodyguard. Gadis itu justru dengan santai memesan taksi online lewat aplikasi di ponselnya sendiri.
"Tolong antar dia pulang sampai ke rumah dengan selamat ya pak, sesuai alamat yang sudah saya berikan." perintah Aruna pada driver ojol yang tampak bingung melihat penumpangnya pucat pasi.
Axel pergi dengan wajah kecewa dan marah namun tak berdaya. Ia hanya bisa menatap Aruna dengan tatapan memohon sebelum pintu mobil ditutup, dibawa pergi menjauh oleh supir taksi online.
Kini suasana ruang tamu yang tadi ricuh menjadi sepi. Hanya tersisa Aruna yang berdiri gagah di tengah ruangan dikelilingi oleh orang-orang yang masih pingsan.
Tanpa beban dan rasa bersalah sedikitpun, Aruna berjalan santai menuju meja makan yang sudah penuh dengan tumpukan makanan lezat hasil pesanannya tadi.
"Huuu... akhirnya tenang juga..."
Gadis itu duduk dengan nyaman, lalu mulai melahap makanan dengan lahap dan sangat puas. Ia mengambil potongan daging termahal, mencelupkannya ke saus, dan memakannya dengan mata tertutup menikmati.
"Enak banget sumpah..." gumamnya sambil mengunyah. "Uang gratisan emang paling nampol. Rasanya beda... enaknya nggak ada duanya!"
Aruna tertawa kecil penuh kemenangan, matanya berbinar cerah.
"Hehehe... buruan kali ini dapat double! Duit Axel aku habisin, duit Zayn juga ikut terkuras. Hohooo... untung gak ada rugi!"
Dan di tengah tawa girangnya, ia terus menyantap makanan mewah itu sendok demi sendok, sementara di sekelilingnya orang-orang masih terbaring tak sadarkan diri. Sedangkan dua pangeran tampannya masih menderita di luar sana.