dr. Nayla Azzura percaya satu hal bahwa cinta tidak pernah benar-benar tinggal.
Menjadi salah satu saksi pernikahan orangtuanya yang hancur sejak usianya masih kecil, membuat Nayla tumbuh menjadi perempuan yang dingin, mandiri, dan sulit mempercayai siapapun. Baginya, memiliki pasangan hanya pandai memberi harapan sebelum akhirnya meninggalkan.
Sampai akhirnya sebuah tragedi kecelakaan kerja mempertemukan Nayla dengan Arsen Mahardika, pengusaha muda yang keras kepala, hangat dan yang paling mengganggu adalah usianya tiga tahun lebih muda dari Nayla.
Awalnya Nayla mengganggap semua hanya lelucon biasa, tapi bagaimana mungkin jika lelaki yang usianya lebih muda tapi pandai bicara tentang sebuah keseriusan?.
Namun Arsen berbeda, iya tidak datang membawa janji besar justru ia datang dengan sejuta kesabaran. Saat Nayla menjauh, menunggu saat Nayla merasa takut, dan membuktikan bahwa tidak semua rumah berakhir hancur.
Karena terkadang... Lelaki yang lebih muda justru lebih tahu cara men
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 - Izin Untuk Menjaga
Pukul 21.00
Malam ini hujan turun dengan pelan, tidak deras namun cukup membuat udara terasa lebih dingin dari biasanya. Seperti biasanya dr. Nayla Azzura masih berada di rumah sakit operasi darurat lagi, Arsen yang awalnya berniat untuk menjemput Nayla hanya bisa menghela nafas kecil saat membaca pesan dari sang dokter.
" Aku masih ada operasi, pulang agak malam"
Biasanya ia akan langsung menunggu di lobby, namun malam ini sedikit berbeda. Tadi pagi Ayah Nayla sempat terlihat sedikit batik saat membuka pintu rumah, hal kecil itu terus teringat di kepala Arsen. Akhirnya setelah membeli makanan hangat, Arsen memutuskan untuk mampir ke rumah Nayla sekedar mengantarkan makanan untuk Ayah Nayla tidak lebih.
Sesampainya di rumah Nayla, suasana terasa tenang dengan lampu ruang tamu yang masih menyala terang ketika pintu dibuka.
" Lohh Arsen... Masuk.. Masuk..." Ayah Nayla tampak terkejut melihat kedatangan Arsen, sedangkan Nayla belum sampai.
Tidak lupa Ayah Nayla membuka pintu dan mempersilahkan Arsen untuk masuk dan duduk bersama.
" Maaf Om, Saya mengganggu waktunya malam-malam" Arsen memberikan salam hormat.
" Tadi saya lihat Om seperti kurang fit, tadi rencananya mau jemput Nayla tapi ternyata masih ada pekerjaan jadi saya sengaja mampir dulu sekalian bawa makan malam" Arsen dengan gerakan perlahan menggeser paper bag kecil.
" Terimakasih banyak, sepertinya Saya yang merepotkan" Ayah Nayla tersenyum kecil namun memperlihatkan kehangatan.
Rumah itu terlihat sederhana, tenang tapi terasa sedikit sepi. Mungkin karena terlalu lama hanya di huni oleh dua orang yang sama-sama menyimpan luka, sampai akhirnya banyak emosi yang terpendam tanpa solusi.
Arsen duduk dirumah tamu, sementara Ayah Nayla membuat teh hangat.
" Harusnya saya saja, Om" kata Arsen ketika menerima gelas teh hangat.
" Kamu kan tamu, kalau Nayla lihat kamu cuci gelas disini mungkin langsung syok" Ayah Nayla terkekeh.
" Saya jadi enggak enak, Om" Arsen menjawab sopan membuat obrolan terasa lebih mencair dan jauh lebih nyaman.
" Akhir-akhir ini, Om lihat Nayla lebih sering tersenyum" Ayah Nayla membuka suaranya pelan.
" Aahh, Iya?" Arsen tersenyum kecil.
" Iya, padahal sudah sangat lama saya tidak melihat dia seperti itu" tatapan lelaki itu berubah menjadi lebih lembut.
Hening ...
" Dulu Nayla berbeda, dia anak yang hangat dan ceria. Senang bercerita dan suka tertawa riang...." Ayah Nayla kembali bicara dengan tatapan mata kosong.
" Sampai dimana ibunya memilih untuk pergi meninggalkan kamu berdua, saat itu usia Nayla masih sangat muda" senyuman yang kini terlihat lebih pahit.
Hujan kecil diluar terdengar samar, dan untuk pertama kalinya Arsen mendengar cerita itu dari sisi yang berbeda.
" Dia lihat semua yang terjadi diantara saya dan Ibunya, pertengkaran membuat dia diam-diam menangis... " Ayahnya menarik nafas dalam.
" Sampai akhirnya Ibunya memilih untuk pergi meninggalkan kamu berdua, sejak saat itulah Nayla berubah... Menjadi terlalu mandiri dan terlalu kuat, terlalu terbiasa sendiri" tatapan lelaki paruh baya itu kosong sesaat.
Arsen diam menjadi pendengar yang baik, namun dadanya kini terasa berat. Sekarang ia sedikit lebih paham mengapa Nayla begitu sulit untuk percaya, dan kenapa Nayla selalu menjaga jarak aman.... dan kenapa Nayla selalu terlihat seperti siap kehilangan siapa saja.
" Dia kelihatan kuat, padahal sebenarnya anak saya capek" kalimat itu entah kenapa terasa menghantam dada Arsen.
Arsen jelas melihat cara Nayla bekerja meskipun lelah, cara Nayla yang tidak pernah mengeluh dan lebih memilih menahan semuanya sendiri. Kini Arsen semakin tahu dan membuatnya semakin tidak ingin pergi.
" Om..." Arsen duduk tegak dengan tatapan serius.
" Yaa..." Ayah Nayla menoleh.
" Saya tahu, secara usia saya lebih muda dari Nayla... Saya juga tahu jika Nayla tidak mudah percaya pada seseorang....." ucap Arsen dengan senyuman kecil.
" Dan mungkin sekarang pun dia masih takut"
Hening sesaat...
" Tapi... Kalau om izinkan saya ingin menjalin hubungan serius" lalu suara Arsen berubah menjadi lebih pelan.
" Saya tidak menjanjikan sebuah kesempurnaan, tapi saya serius ingin menjadi orang yang tidak akan meninggalkan Nayla dalam kondisi apapun... Saya akan mengusahakan apapun demi kebahagiaan dan kenyamanan Nayla" suara hujan masih terdengar.
Dan untuk beberapa waktu Ayah Nayla tidak memberikan reaksi apapun, menatap wajah Arsen dihadapannya lalu tersenyum kecil.
" Kamu tahu, Arsen? Nayla itu sulit dalam hal perasaan" ucap Ayah Nayla hangat.
" Banget, Om..." Arsen tertawa kecil membuka keduanya kini tertawa pelan.
" Kalau kamu memang benar-benar sayang kepada anak saya, tolong jangan sakiti dia... Karena Nayla sudah pernah hancur" Ucapannya hangat namun ada tekanan didalamnya.
" Saya janji dan akan selalu usahakan kebahagiaan itu" tanpa ragu Arsen menyanggupi.
🌟
Malam semakin larut, setelah mengantarkan Nayla pulang akhirnya Arsen kini tiba dirumah. Rumah besar itu terasa hangat seperti biasanya, aroma makanan masih samar tercium dari dapur.
" Naaahh... Akhirnya anak Mama pulang" Ibunya langsung menoleh begitu melihat Arsen datang.
" Lohh, Mama belum tidur?" tanya Arsen.
" Kamu belum pulang, mana tenang Mama" jawab sang ibu.
" Kamu habis jemput dokter cantik yaaa" tatapan sang ibu kini menyipit jahil.
" Maaaaa..." Arsen tertawa kecil lebih seperti rengekan.
" Yang lebih tua tiga tahun itu? temen sonoan dikit itu?" Ayahnya yang sedang membaca koran online kini terkekeh.
" Iya, tapi sekarang bukan temen sonoan dikit, Yah" Arsen kini duduk diantara kedua orangtuanya.
" Terus apa, dong?" tatapan Ibunya penuh penasaran.
Lalu seperti biasa, Arsen akan bercerita banyak kepada kedua orangtuanya. jika biasanya tentang pekerjaan tapi kali ini tentang Nayla.
Tentang perempuan dingin yang ternyata terlalu lembut didalamnya,
Tentang trauma keluarganya,
Tentang ibunya yang pergi,
Tentang rasa takutnya pada sebuah hubungan,
Tentang bagaimana Nayla terlalu biasa kuat sendiri.
Dan perlahan raut wajah sang Mama kini berubah menjadi lebih lembut namun tersirat kesedihan.
" Pantesan... Pasti anaknya capek banget " gumamnya pelan.
" Aku cuma mau dia tidak takut lagi, Ma" Arsen mengangguk kecil.
" Kalau perempuan itu bertahan sejauh itu..." sang Mama kini menggenggam tangan Arsen pelan.
" Berarti dia pernah sangat terluka" tatapannya melembut.
" Tapi inget satu hal, Arsen. Kalau kamu serius jangan cuma karena rasa kasihan, pastikan kamu benar-benar sayang" Sang Ayah kini ikut berbicara pelan.
" Karena sebuah hubungan tidak bisa dibangun dari sebuah rasa iba..." lanjut sang Ayah.
" Aku sayang dia, Yah" Arsen tanpa ragu.
Jawaban itu keluar terlalu cepat, begitu yakin sampai dirinya sendiri terkejut.
" Ya sudah, kapan kamu bawa dia kerumah" Ibunya langsung tersenyum lebar.
" MAAAHHH..."
" Apa? Mama kan mau ketemu, biar dia tahu kalau keluarga tidak selalu berakhir menyakitkan " ucap sang Mama dengan senyuman hangatnya.
Dan entah mengapa kalimat itu membuat Arsen tersenyum kecil, karena mungkin ia semakin yakin akan membuktikan pelan-pelan kepada Nayla agar bisa kembali belajar untuk bisa percaya lagi. Dan jika perlu... Ia akan berusaha setiap waktu untuk membuktikannya setiap waktu.