NovelToon NovelToon
Shower Of Blood

Shower Of Blood

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Penyeberangan Dunia Lain
Popularitas:200
Nilai: 5
Nama Author: ShAdOwFaNg

"Ugh..
aku harus..."

Theo seorang pemuda yang sedang bersepeda, menemukan sebuah cafe di daerah bukit bernama Bukit Dingin.

tiba-tiba, terjadi hal yang aneh pada Theo yang membawanya ke dunia lain.
cerita ini mengisahkan perjalanan Theo di dunia lain.
penasaran dengan perjalanan Theo?
segera baca kelanjutannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ShAdOwFaNg, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 11 : Teman Baru

Tok tok tok

"Tunggu!" Silas berteriak kepada Theo yang hendak membukakan pintu.

Silas berdiri, berjalan pelan ke arah pintu.

Tok tok tok

Dia mengetuk pintu dengan irama yang sangat teratur.

Satu ketukan pendek, dua ketukan panjang.

Empat ketukan pendek, tiga ketukan panjang.

Setelah saling membalas ketukan, Silas segera membuka pintu.

"Hei! Selamat datang!" Silas segera membuka tangannya hendak memeluk siapapun yang datang.

Buk!

"Huh... Dasar barbarian." seorang wanita cantik dengan pakaian biarawati masuk dan melihat Theo.

"Hei, kau... Sekarang? Tidak kusangka, jangan menyerah dengan wanita dasar gorila."

"Hei! Keluar kau rubah licik, lagian kenapa kamu yang dikirim?"

"Hei sudah sudah."

"Hei, keluar!"

"Dasar gorila bodoh."

Meskipun Theo sudah berusaha melerai kedua orang itu, mereka tetap saja tidak mau berhenti ribut.

Theo berbisik kepada White, "White, kakak minta tolong dong, lumpuhin suara dua monyet di depan kakak ini."

Tiba-tiba, dua buah jarum melesat dengan sangat cepat ke arah leher mereka, membuat mereka tidak bisa bersuara.

"Sekarang tenang, huuh..."

Theo mengusap kepalanya, lalu ia mulai mengatakan kepada kedua orang di depannya.

"Aku tau ini nggak sopan, tapi kalo sampe kalian ribut lagi... Bisa yang ku kasih bakal lebih dari ini. Mengerti?!"

Kedua orang itu mendadak berkeringat dingin, mereka hanya bisa mengangguk karena mereka tahu kalau ancaman itu bukanlah sebuah ancaman kosong. Terdapat sedikit bobot pada ancaman itu.

"Nah White, sekarang keluarin semua bisa yang kamu kasih."

Cairan berwarna perak tiba-tiba keluar dari leher mereka berdua.

"Aa.. Ehm, jadi, namaku Lucy." ucap wanita itu dengan sedikit tertunduk.

"Terus? Kenapa kalian ribut?"

"Soalnya dia duluan yang..." Silas segera membalas ucapan Theo sambil melirik ke arah Lucy.

Namun, lucu segera membantah ucapan itu, "Apaan? Jelas dia duluan kok yang nyari ribut."

Mereka berdua kembali ribut, sampai akhirnya Theo berdehem membuat mereka ingat kembali ucapan Theo.

"Baru-baru ini, Patriark meminta aku pergi menjemput Silas karena dia dinilai gagal menangani penyakit ini."

"Kebetulan, aku mau ngomongin ini."

Theo mengeluarkan daging tumbuh dan sisik dari tasnya.

"Jadi, tadi ularku bilang kalo ini itu bahan yang bikin anjing yang kemaren kita lawan." Theo menatap Silas dengan serius.

"Serius?"

"Kata ularku begitu, jadi mayat orang yang sakit berubah jadi anjing. Namun, daging ini dan sisik ini berasal dari dua sumber yang berbeda."

"Dia pasti menghayal. Dia pikir, dia karakter utama dari novel yang ditulis para penulis sampah itu?" Ucap Lucy dengan nada mengejek.

"White, tembak lehernya dengan pelumpuh suara."

Sebuah jarum melesat ke leher Lucy, membuatnya bisu.

"Sekarang keluarkan bisanya dan masukkan ke tangannya."

Sebuah benang perak keluar dari leher Lucy mengarah ke tangannya menyebabkan Lucy tidak bisa merasakan tangan kanannya.

"Iya iya aku percaya."

Theo segera memberi perintah kepada White untuk menarik racunnya.

"Sekarang, bisa kamu kirim surat ke Patriark kalo kita butuh izin untuk mengobati penyakit mereka?" Silas segera memotong pembicaraaan mereka.

"Ugh... Susah. Situasi di sana juga nggak bagus. Lagi ada perebutan kekuasaan antar tetua. Terutama, tetua Jeff yang entah kenapa akhir-akhir ini memberikan misi seperti memberantas orang bulan suci, dan menyebarkan ajaran ordo cahaya."

"Aneh... Harusnya ordo cahaya tidak begitu peduli dengan para bulan suci kan?"

"Yah siapa yang tau?" balas Lucy mengangkat tangannya.

"Hei, kalo misal aku ngobatin penduduk tanpa izin gimana?" Theo menyela pembicaraan mereka dengan sebuah pertanyaan sederhana.

"Hmm... Aku nggak begitu yakin, tapi yang jelas kamu bakal diincar. Entah dikirim pembunuh bayaran, atau bahkan kamu bakal dipersulit. Paling... Hmmm... Cara itu bisa sih tapi susah." Lucy terlihat melirik kanan kiri memikirkan sesuatu yang mungkin tidak bisa dia ucapkan.

"Apa?" Theo semakin penasaran dengan hal tersebut.

"Kau bisa minta tolong tiga saudara besar."

"Hah?"

"Hadeh, jadi tiga saudara besar itu bisa dibilang jaringan bawah dari kekaisaran Timur. Mereka merupakan penguasa kedua selain kaisar. Tentu, mereka juga memuja Dewi Solina, tapi entah kenapa mereka jauh lebih eksentrik daripada kita. Atau, kamu mungkin bisa pergi ke Kuil Suci biar kamu bisa dapet pengakuan dari Patriark."

"hmm... Ok kita coba kapan-kapan. Yang penting sekarang aku bisa mengobati dulu."

"Yah terserah." Kedua pemuja Solina itu langsung menyerah dengan keras kepalanya Theo.

Theo keluar ke arah hutan, lalu ia mengambil beberapa herbal dengan sihir ruangnya.

"Hmm, mungkin tanaman hitam ini bisa dipakai. Oh, mungkin dengan tanaman yang seperti lada dan bawang putih ini, ditambah... Oh iya, cuka."

Theo kembali ke dunia nyata, lalu ia mulai menggerus beberapa herbal segar yang ia ambil di ruang jiwanya.

"Hatchi!" Lucy bersin setelah mencium bau pedas herbal yang menyebar di seluruh ruangan.

"Hei, kau buat apa? Uhuk..."

"Tenang saja." Theo kemudian mengambil daging babi yang sudah mulai menghitam karena diinfeksi sisik hitam dan juga daging hidup.

Babi itu ia potong-potong menjadi beberapa bagian, begitupun dengan daging hidupnya.

Theo menguji beberapa kombinasi herbal, dan tidak lupa ia menaruh semua daging itu dalam beberapa tembikar terpisah.

Theo kemudian mengambil bir basi yang sebelumnya sudah dia minta ke Silas.

"Bukan... Ini juga bukan..." Theo membuka semua tutup tong bir yang dibawa Silas dan mengamati semuanya.

"Aduh, bagaimana mungkin tidak ada bir yang asam?" Hampir semua bir yang sudah dilihat Theo ditumbuhi oleh jamur aneh, maupun basi.

"Hmm, Theo... Ini ada bir yang baunya sangat... Huek..." Silas memberikan sebuah tong yang menurutnya berbau tidak enak.

"Ini dia." Theo yakin itu adalah bau yang dia cari.

Saat membuka tong, Theo melihat ada selapis membran tipis diatas ditambah dengan aroma cuka yang khas dan kuat.

Dia kemudian mengambil panci yang ada di situ.

"Beruntung ini rumah alkemis." Theo segera mengatur bejana distilasi dari tanah liat, lalu ia menambah cairan berbau asam itu dan menaruh alat itu di atas api dengan jarak tertentu.

"Hoek... Barang sialan apa yang kamu buat?" protes Lucy dan Silas kepada Theo.

"White, tolong suntikan bisa dosis rendah di saraf hidung mereka." Theo kemudian keluar mencari tempat untuk ia menaruh cuka.

"Botol... Dimana botol?"

"Tuan, Tuan mencari apa?" ucap seorang anak di dekat Theo.

"Oh, hei. Kakak sedang mencari botol. Apakah adik tau dimana botolnya?" Theo menundukkan kepalanya, menyamakan matanya dengan mata anak itu.

"Botol? Oh benda kaca itu ya?"

"Iya, makasih ya, dik."

Theo segera mendekati botol yang ditunjuk oleh anak itu.

Tiba-tiba, Theo dapat merasakan sesuatu dibelakangnya. Lilitan White, juga mengencang menandakan ada sesuatu yang berbahaya.

Ghrrrr!

...****************...

End Ch. 11 : Teman Baru

Hai halo semuanya, makasih banyak ya udah baca karya ku. jangan lupa like, favorit sama comment ya.

Kritik dan saran akan selalu saya terima. Makasih semuanya

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!