NovelToon NovelToon
SETAHUN MENIKAH TANPA CINTA

SETAHUN MENIKAH TANPA CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: SenandikaMaret

Dijodohkan karena darah keraton yang mengalir dalam tubuh mereka, Raden Danendra Adipati dan Raden Ayu Kirana Ayodya menerima pernikahan tanpa protes. Satu tahun berlalu dalam ketenangan yang nyaris membosankan. Tidak ada pertengkaran, tidak ada pengkhianatan, bahkan tidak ada cinta. Mereka hidup layaknya dua orang asing yang kebetulan berbagi rumah dan nama belakang yang sama. Namun ketika keadaan memaksa mereka untuk saling mengenal lebih dekat, Kirana mulai menyadari bahwa di balik sikap dingin Danendra tersimpan perhatian yang tak pernah ia tunjukkan. Sementara Danendra perlahan memahami bahwa perempuan yang selama ini selalu berada di sisinya telah menjadi bagian paling penting dalam hidupnya. Di antara tradisi keluarga, tuntutan sebagai keturunan keraton, dan perasaan yang tumbuh terlambat, keduanya harus belajar bahwa cinta tidak selalu hadir sebelum pernikahan. Terkadang cinta justru datang setelah dua hati yang asing memilih untuk saling tinggal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SenandikaMaret, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DUNIA KIRANA

Matahari baru merayap naik ketika Kirana melangkah masuk ke dalam gedung Yayasan Cakrawala Budaya. Bangunan dua lantai itu telah menjadi tempatnya bernaung selama hampir empat tahun terakhir. Berbeda jauh dengan kantor Danendra yang menjulang megah berbalut kaca di tengah kawasan bisnis, tempat kerja Kirana justru mempertahankan arsitektur Jawa kolonial. Dinding kremnya mulai memudar dimakan usia, namun selalu ada rasa hangat yang menyambutnya di setiap sudut. Kirana menyukai tempat ini. Tempat ini terasa hidup.

"Selamat pagi, Bu Kirana," sapa Pak Totok, petugas keamanan yang sedang berjaga di dekat pintu masuk.

Kirana menyunggingkan senyum tulus. "Pagi, Pak."

Begitu ia mendorong pintu ruang kerjanya, aroma khas kertas tua dan pengawet arsip langsung menyergap indra penciumannya. Di ruangan ber-AC inilah berbagai naskah kuno, manuskrip daun lontar, dan dokumentasi sejarah disimpan sebelum diproses ke dalam bentuk digital. Bagi sebagian orang, duduk berjam-jam memelototi aksara masa lalu mungkin terdengar membosankan. Namun tidak bagi Kirana. Ada rasa puas yang sulit dijelaskan setiap kali ia berhasil membaca kembali kisah-kisah lama yang nyaris terlupakan.

"Kak Kirana!"

Pintu ruangan terbuka agak kasar. Seorang perempuan berambut sebahu berlari kecil menghampirinya sambil mendekap beberapa map plastik. "Toner printer aman, tapi tolong katakan kalau aku tidak telat hari ini."

Kirana melirik jam dinding di atas meja kerjanya lalu tertawa kecil. "Kamu telat, Rani."

"Aduh, jangan terlalu jujur begitu, dong." Rani merengut pasrah.

"Jam masuk kita setengah delapan, dan sekarang sudah setengah sembilan lewat."

Rani langsung menjatuhkan tubuhnya ke kursi kosong di depan meja Kirana dengan dramatis. "Kenapa sih, pagi-pagi aku sudah diserang?"

"Kamu sendiri yang menyerahkan diri," goda Kirana, membuat tawa mereka pecah bersamaan.

Sifat Rani yang ekspresif dan meledak-ledak memang bertolak belakang dengan Kirana yang cenderung tenang. Namun, perbedaan itulah yang membuat suasana ruang arsip yang biasanya kaku menjadi jauh lebih berwarna.

Pekerjaan hari itu berjalan cukup padat karena mereka sedang mempersiapkan pameran kebudayaan bulan depan. Kirana menenggelamkan diri di balik tumpukan dokumen hampir sepanjang pagi. Ia memeriksa ulang katalog, sesekali memandu staf junior yang kesulitan membaca guratan aksara Jawa kuno, dan menjawab beberapa panggilan koordinasi. Waktu bergerak begitu cepat tanpa ia sadari.

Tepat pukul dua belas siang, Rani kembali menongolkan kepalanya dari balik pintu. "Makan siang, Kak. Perutku sudah demo."

Kirana yang masih sibuk mencocokkan angka tahun pada layar laptop hanya bergumam tanpa menoleh. "Sebentar, Rani. Tanggung, sedikit lagi."

Rani berdecak, melangkah masuk lalu mengetuk meja Kirana pelan. "Kalimat itu persis seperti yang sering diucapkan oleh para direktur perusahaan gila kerja."

Gerakan jemari Kirana di atas kibor langsung terhenti. Ia mendongak, menatap Rani dengan senyum pasrah. "Aku bukan direktur."

"Lock laptopmu, mari beranjak!"

Mereka akhirnya berjalan menuju kantin kecil di area belakang gedung yang dinaungi pohon mangga rindang. Begitu mereka masuk, seorang rekan kerja dari divisi humas bernama Dita langsung melambaikan tangan, mengisyaratkan mereka untuk bergabung di meja pojok.

Obrolan khas jam istirahat segera mengalir ringan di antara denting sendok. Mereka membahas cuaca Jakarta yang semakin terik, tumpukan pekerjaan, hingga akhirnya topik yang selalu berhasil menarik perhatian para perempuan muncul begitu saja: kehidupan pernikahan.

"Aku serius, ya," kata Dita sembari mengaduk es teh manisnya dengan gusar. "Kalau minggu ini suamiku pulang di atas jam sembilan malam lagi, aku akan mogok masak sebulan. Biar dia tahu rasa."

"Kasihan suamimu, Dit. Memangnya dia salah apa?" sahut Rani di sela kunyahannya.

"Dia salah karena menganggap rumah cuma tempat menaruh baju kotor!" seru Dita, yang langsung disambut gelak tawa renyah dari meja mereka.

Kirana ikut tersenyum. Suasana seperti ini selalu terasa menyenangkan di hatinya. Hangat, ringan, dan penuh keterbukaan yang jujur.

"Ngomong-ngomong," Dita tiba-tiba menoleh, menatap Kirana dengan mata berbinar penasaran. "Kamu sama Mas Danendra bagaimana? Kalian kan baru saja merayakan satu tahun pernikahan kemarin. Pasti sedang manis-manisnya, kan?"

Pertanyaan itu membuat gerakan tangan Kirana yang hendak menyuap nasi terhenti di udara. Ia memaksakan sebuah senyuman tipis. Entah kenapa, ia selalu membutuhkan waktu beberapa detik untuk merangkai kata setiap kali orang lain bertanya tentang suaminya.

"Kami... baik-baik saja," jawab Kirana akhirnya.

Rani langsung mendengus kecewa dari sampingnya. "Ya ampun, Kak. Jawabanmu datar sekali, mirip pidato pejabat."

"Kami memang baik-baik saja, Rani. Tidak ada masalah," bela Kirana sambil tertawa kecil, mencoba menutupi kegugupan samar di dadanya.

"Maksud Dita itu, Mas Danendra tipe yang romantis tidak? Suka memberi kejutan atau hadiah tiba-tiba, begitu?" cecar Rani lagi, kini ikut menopang dagu dengan antusias.

Kirana terdiam. Pertanyaan itu bergaung di kepalanya, memaksanya menggali memori satu tahun ke belakang. Danendra tidak pernah membelikannya bunga tanpa alasan. Suaminya tidak pernah mengirimkan pesan teks manis di tengah jam kerja, juga tidak pernah merencanakan makan malam romantis yang penuh lilin.

Namun di sisi lain, Danendra juga tidak pernah memperlakukannya dengan buruk. Laki-laki itu tidak pernah menaikkan nada bicara, tidak pernah membentaknya, dan selalu mendengarkan setiap kalimat Kirana dengan perhatian yang sopan. Danendra menghargai keberadaannya dengan sangat baik.

Lalu, apakah semua itu bisa dikategorikan sebagai romantis?

"Aku... tidak tahu," ucap Kirana jujur pada akhirnya.

Dita mengerjapkan mata, bingung. "Hah? Bagaimana bisa tidak tahu?"

"Aku memang bingung bagaimana harus menjelaskannya," sahut Kirana dengan tawa hambar yang pelan.

"Kalau hari libur akhir pekan, biasanya kalian melakukan apa bersama?" tanya Dita masih penasaran.

Pikiran Kirana kembali berputar, membayangkan suasana rumah mereka di hari Sabtu atau Minggu. Sarapan dalam diam yang teratur. Danendra yang sibuk dengan berkas kerja di ruang tengah, sementara ia menghabiskan waktu menyiram tanaman di halaman samping. Menonton televisi bersama tanpa banyak berkomentar, atau pergi menghadiri undangan keluarga besar sebagai pasangan yang serasi. Tidak ada pertengkaran, tetapi juga tidak ada letupan emosi yang spesial.

"Kami lebih sering menghabiskan waktu di rumah," jawab Kirana ringkas.

Dita menghela napas panjang, menatap Kirana dengan pandangan tak habis pikir. "Astaga, Kirana. Kalian ini pasangan paling tenang yang pernah aku kenal."

"Tenang atau membosankan?" sahut Kirana spontan, setengah bercanda.

"Tergantung dari sudut pandang mana kamu melihatnya," jawab Dita menyimpulkan, yang kemudian diikuti oleh topik pembicaraan lain.

Namun, setelah obrolan di meja makan itu bergeser, Kirana justru menjadi lebih banyak diam. Ia tidak sedang merasa sedih ataupun kesal. Ia hanya berpikir. Selama ini, ia selalu meyakinkan diri sendiri dan orang lain bahwa pernikahannya berjalan dengan sangat baik. Dan itu bukan kebohongan. Semuanya memang baik-baik saja. Namun, mengapa setiap kali ada orang yang mengulik lebih dalam tentang kehidupan domestiknya dengan Danendra, ia selalu merasa kehilangan kata-kata?

Sore hari, ketika seluruh tanggung jawab pekerjaan selesai, Kirana melangkah keluar dari gedung yayasan. Langit Jakarta mulai berubah warna menjadi jingga keunguan, berpadu dengan deru bising kendaraan yang mulai memadati jalanan jam pulang kantor.

Alih-alih langsung menunggu di lobi, Kirana memilih untuk berjalan kaki sebentar menuju halte bus yang berada beberapa puluh meter dari gerbang yayasan, menunggu mobil jemputan langganannya tiba. Angin sore bertiup cukup kencang, menerpa wajahnya dan membawa kesegaran setelah seharian terkurung di ruang arsip.

Kirana berdiri bersandar pada tiang halte, memperhatikan kesibukan di sekitarnya. Seorang anak kecil yang tertawa renyah mengejar gelembung sabun dari mainan yang dijual di trotoar. Dua mahasiswi yang sibuk berswafoto dengan latar belakang langit senja. Seorang pedagang kaki lima yang melayani pembeli dengan cekatan. Pemandangan sederhana yang hampir setiap hari ia lihat, tetapi sore itu terasa berbeda. Hal-hal kecil yang sering luput dari perhatian, tetapi sore itu justru membuatnya berhenti sejenak.

Hingga kemudian, pandangan mata Kirana terpaku pada sepasang lansia yang duduk di bangku panjang halte, tepat di sebelah kirinya.

Perempuan tua dengan rambut yang memutih seluruhnya itu tampak sedang kesulitan membuka kotak obat plastik kecil di pangkuannya. Tangannya bergetar karena usia. Sebelum perempuan itu sempat melakukan apa pun, laki-laki tua di sampingnya langsung mengulurkan tangan.

Pria lansia itu mengambil kotak obat tersebut, membukanya dengan hati-hati, lalu meraih botol air mineral di dekat kakinya untuk dibukakan tutupnya. Semua gerakan itu dilakukan tanpa ada satu patah kata pun yang terucap di antara mereka. Tanpa diminta. Tanpa perlu penjelasan. Gerakan itu terasa begitu mengalir dan alami.

Perempuan tua itu menerima botol airnya kembali sembari menyunggingkan senyum kecil yang dipenuhi kerutan di sudut mata. Laki-laki di sampingnya membalas dengan senyuman yang sama, sebelum kembali melemparkan pandangan lurus ke arah jalanan.

Kirana tidak tahu sudah berapa lama pasangan itu menikah. Dua puluh tahun. Tiga puluh tahun. Atau mungkin lebih. Namun ada sesuatu di antara mereka yang terasa hangat. Sesuatu yang sulit ia jelaskan.

Detik itu juga, bayangan wajah Danendra kembali melintas di benak Kirana. Laki-laki yang setiap pagi duduk sarapan di hadapannya. Laki-laki yang setiap malam tidur di atas ranjang yang sama dengannya. Mereka tidak pernah saling membenci. Mereka tidak pernah saling menyakiti. Namun saat membandingkan dirinya dan Danendra dengan sepasang lansia di depannya, Kirana menyadari satu kebenaran yang menelusup perih ke dadanya. Mungkin, yang selama ini kurang di antara dirinya dan Danendra bukanlah rasa cinta atau komitmen. Melainkan sebuah kedekatan yang nyata.

Karena bagaimana mungkin seseorang bisa merasa dekat dengan orang yang bahkan belum benar-benar ia kenal?

Suara klakson pendek memecah lamunan Kirana. Mobil jemputannya akhirnya tiba dan berhenti tepat di tepi jalan depan halte. Kirana merapatkan tasnya, lalu melangkah masuk ke dalam kabin mobil yang sejuk.

Kirana menyandarkan kepalanya ke jendela mobil. Bayangan pasangan lansia itu masih teringat jelas di kepalanya.

Untuk pertama kalinya, ia bertanya pada dirinya sendiri. Apa sebenarnya hal pertama yang ingin ia ketahui tentang Danendra?

Dan yang membuatnya terdiam adalah... ia bahkan tidak tahu harus mulai dari pertanyaan yang mana.

1
Wawan
Satu kembang buatmu Thor 💪✍️
Wawan
Wow... Why? 😍💪✍️
SenandikaMaret: kinapa yaa kira-kiraa yuk terus pantengin kisah kirana 🤭🥰
total 1 replies
Wawan
Nah lo 😍
SenandikaMaret: hayolooo 🤣
total 1 replies
Wawan
kembang mawar buatmu Kirana ✍️
SenandikaMaret: 🌹🌹 mawar juga untukmu kak, dari kirana 🤭
total 1 replies
Wawan
🤭🤭🤭 .... ngapain aja selama ini?
SenandikaMaret: hanya kirana dan tuhan lah yang tau 🤣
total 1 replies
Wawan
Naaaah.... 🤭
SenandikaMaret: nah loh 🤭
total 1 replies
Wawan
mawar buatmu thor 💪✍️
SenandikaMaret: 🌹 makasih
total 1 replies
Wawan
Wow bahaya clue-nya sangat ✍️🤭
SenandikaMaret: bikin penasaran kan 🤭
total 1 replies
Wawan
Salam kenal untuk Kirana
SenandikaMaret: haloo salam kenal juga 😇 dan selamat berkelana di dunia kirana💫
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!