Emma Taylor terpaksa harus melunasi hutang pamannya kepada seorang pria asing kaya raya yang tinggal di rumah besar Anggrek Residen.
Jatuh tempo pembayaran sudah sangat dekat bagi paman Broeri untuk membayar hutang tersebut namun dia tidak mempunyai uang sepeser pun saat dia ditagih oleh pria asing kaya raya itu yang bernama Noah Jones.
Terpaksa Emma yang harus menanggung hutang tersebut kepada Noah Jones pemilik rumah Anggrek Residen.
Karena Emma Taylor juga tidak mempunyai uang buat melunasi hutang paman Broeri maka dia dipaksa membayar dengan rahimnya.
Bagaimana nasib Emma Taylor selanjutnya, sanggupkah dia melunasi hutang milik paman Broeri Goldman atau dia memilih melarikan diri.
Mari kita simak kelanjutan kisah ini dalam novel berjudul Rahim Bayaran Milik Emma.
Salam buat semua pemirsa 🎂
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reny Rizky Aryati, SE., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 Apa Ini Kata Sepakat
Acara Makan Malam usai, semua terlihat baik-baik saja. Berjalan lancar, tidak ada perdebatan di antara Emma dan Noah Jones sang pemilik rumah.
Mereka berjalan keluar ruang makan bersama-sama.
Pintu kristal kaca terbuka otomatis saat keduanya melangkahkan kaki dari ruangan itu.
"Aku akan mengantarkan mu ke kamarmu." ucap Noah.
"Ya, baiklah." sahut Emma.
"Selera Nenek Charlotte sangat berbeda, ia inginkan segalanya sempurna. Terutama hal mengenai Lucent Gem, kadang ia turut campur mengenai perusahaan." lanjut Noah.
Emma terdiam, hanya menunduk saat ia berjalan.
"Aku akan membawamu ke acara Nenek Charlotte sebagai putri dari Eropa. Bukan sebagai Emma melainkan sebagai Wilhelmina." kata Noah.
Emma menghentikan langkah kakinya, berbalik menghadap Noah Jones.
"Apa dia yang menyarankan mu agar mencari rahim bayaran bagi calon pewaris Lucent Gem? " tanya Emma.
"Sejujurnya, ia mendesak ku segera memiliki anak, bahkan ia tidak sabaran mendengar kabar tersebut." kata Noah.
"Kenapa kau tidak mencari putri yang asli serta selevel dengan mu?" tanya Emma.
"Aku tidak suka terikat dalam hubungan lama sedangkan pernikahan bagiku cuma mengikatku dalam hubungan panjang dan toxic." sahut Noah.
Emma melirik jari tangan Noah yang terpasang cincin, tanda seorang pria tidak lagi sendirian.
Ia tersenyum kaku, membuang muka ke arah lain lalu menatap Noah dingin.
"Dan kenapa kau memilih ku, banyak perempuan di luar sana yang mau dibayar rahimnya demi uang." kata Emma.
"Tidak semua bisa kita percayai, Emma. Terutama orang yang berharap lebih darimu. Jika aku lakukan itu akan menjadi masalah besar, dan mereka akan mengikat ku dengan ancaman." sahut Noah.
Noah tersenyum, memperlihatkan garis-garis wajahnya yang tegas, menandakan bahwa ia seorang pria bukan laki-laki biasa.
"Dan Aku tidak mau mereka memerasku bagaikan seekor sapi ternak yang siap memberikan kesuburannya." lanjut Noah.
Noah memandang tajam, kali ini tatapannya berbeda.
"Jika aku menginginkan sesuatu maka aku harus mendapatkan nya dengan segala cara apapun, termasuk dirimu."
Noah mendekatkan wajahnya ke wajah Emma Taylor, nafasnya berhembus kuat di antara mereka.
Lama mereka saling berpandangan, terdiam tanpa berucap sepatah kata pun.
"Keinginan ku tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun juga. Kau mengerti itu, Emma." ucap Noah Jones.
Emma tergugup cepat, ia tahan nafasnya lalu mengalihkan pandangan nya.
"A-aku paham, Tuan Noah Jones." sahutnya canggung.
"Dan kau perlu ingat bahwa kau akan di gaji layaknya pegawai di Anggrek Resident ini. Kau juga akan mendapatkan segala tunjangan hidup selama disini, Emma Taylor." kata Noah.
"A-Apa??? " ucap Emma tersentak tak percaya. "Aku di gaji???"
"Ya..." sahut Noah sembari mengangguk.
"Ta-tapi kau sudah memberiku uang bayaran senilai seratus milyar..." kata Emma terbelalak bingung.
"Uang yang kuberikan padamu bukan gaji pokokmu. Itu bayaran kesepakatan antara kau dan diriku. Dan kuanggap kau adalah pekerja buatku karena kita terikat kontrak perjanjian resmi." sahut Noah.
Noah menoleh dingin, tatapannya seperti es, ada keseriusan dalam sorot matanya saat ia menatap Emma Taylor.
"Aku tidak ingin disalahkan soal kontrak. Karena kontrak yang kita sepakati dianggap kontrak kerja terikat serta legal. Dan aku tidak mau berurusan dengan hukum di negara ini. Yang kuanggap rumit serta berisiko tinggi.
Noah berkata panjang lebar, sedangkan Emma hanya tertegun tak mengerti.
" Sesuai kesepakatan, kau lakukan perintahku, membayar rahimmu, memberiku pewaris, Dan Aku memberikan mu fasilitas nyaman selama kau tinggal di Anggrek Resident ini." lanjut Noah.
"Ba-baiklah... Terserah padamu saja, aku menunggu tugas itu, Tuan." kata Emma.
"Gaji pertamamu akan kau terima setelah kau berhasil meyakinkan Nenek Charlotte bahwa kau pasangan terbaikku. Dan membuatnya kagum padamu." kata Noah.
"Jika tidak berhasil?" tanya Emma.
"Aku tetap memberimu gaji karena kau sudah berupaya datang kesana." sahut Noah.
"Tapi aku tidak menjamin Nenek Charlotte akan menyukai ku karena kupikir bahwa tugas ini sangatlah sulit, Tuan." kata Emma.
Emma mengangkat dua bahunya ke atas, memasang muka serius.
"Bagaimana pendapat mu?" tanya Emma.
"Artinya tugasmu bertambah sekarang. Ganda. Dan kau harus mampu melakukan tugasmu sebaik-baiknya." sahut Noah.
Noah menarik tangan Emma, merentangkan nya ke atas serta menghimpitkan badan mereka ke dinding.
Pandangan nya berubah teduh, tapi bermakna dalam.
Noah memandang lekat-lekat bibir merah milik Emma, dan menahan nafasnya di antara bibir mereka.
"Jika aku menciummu maka kau akan mengerti bahwa aku sedang mengincarmu. Kau tahu kalau aku tidak suka main-main, tapi aku tidak akan memaksamu cepat-cepat menerima ku."
Noah berbisik sembari mendengus pelan.
"Aku akan memberikan mu waktu buat kita saling mengenal satu sama lainnya. Selama waktu itu, Aku akan menahan seluruh luapan nafsuku padamu."
Emma terhenyak kaget, wajahnya membeku bingung. Ia tidak mampu berkata-kata saat ini. Hanya tertegun kaku.
"Aku bukan takut padamu atau phobia pada wanita. Aku cuma memberimu waktu buat membuktikan kalau kau memang layak terpilih, bertanggungjawab karena membuatku membawa mu ke tempat ini."
Noah masih memperhatikan Emma Taylor dengan tatapan sungguh-sungguh.
Emma merasakan nafas Noah Jones naik pelan saat mereka berdekatan, bahkan Ia mengetahui perubahan emosi Noah jika mereka bersama, tubuh Noah akan berubah hangat. Ekspresinya tegang dan Ia akan tunjukkan lewat perubahan wajahnya, kedua pipi Noah akan bersemu memerah.
Senyum samar mengembangkan di wajah Emma, Ia balas menatap tajam Noah Jones di depannya.
"Kalau begitu, lakukan sekarang. Kita berhubungan intim maka keinginan mu terpenuhi segera, Tuan Noah."
Tantang Emma Taylor pada Noah Jones sambil menatapnya dingin.
Noah Jones tersentak kaget, tertegun sejenak lalu tertawa pendek kemudian memperhatikan Emma lebih lama.
Sikapnya itu seakan-akan menutupi kecanggungan nya dari Emma Taylor.
"Apa kau takut, Tuan? " kejar Emma.
"Apa?" sahut Noah.
"Sikapmu itu meyakinkan ku bahwa kau takut menyentuh ku, dan kau hanya mencari-cari alasan buat menunda tugasku memberikan mu keturunan, Tuan Noah Jones."
Kini giliran Emma Taylor berkata panjang lebar pada Noah Jones.
Noah Jones semakin terpojok, Ia tidak mampu membantah perkataan Emma padanya.
"Kenapa kau diam? " kejar Emma. "Coba sentuh aku di sini! "
Emma meraih tangan Noah lalu meletakkan telapak tangan Noah di atas pangkal kakinya sembari menatap tajam.
"Gerakkan tangan mu dan sentuh aku lebih intim! " perintah Emma.
Emma bertindak berani, Ia nekat menggerakkan tangan Noah ke dalam paha atasnya.
Tiba-tiba Noah mendorong kasar Emma ke dinding lalu mencium paksa bibir Emma Taylor.
Mereka bergelut kasar penuh gairah saat berciuman.
Tak percaya bahwa Emma akan membalas setiap serangan Noah dengan emosi panas yang menggebu-gebu, bahkan Ia berani menyerang Noah dengan liarnya. Ia taruh tangannya di belakang kepala Noah bahkan menekan wajah mereka supaya bibir mereka menyatu lekat.
Tidak ada jarak sejengkal diantara mereka, hanya ada deru nafas yang saling memburu kuat. Mereka sama-sama mabuk nafsu, tenggelam dalam birahi liar. Tak peduli jika akan ada orang yang memergoki mereka di sana.
Noah memburu Emma dengan ganasnya, dari ujung leher hingga dua bukit kembar Emma Taylor tak luput dari serangan liar Noah Jones. Bekas-bekas memerah yang sengaja Noah tinggalkan melekat hampir di seluruh bagian atas tubuh Emma Taylor.
Emma tergagap keras, terengah-engah diantara birahi liarnya, nafasnya memburu cepat, Ia tenggelam dalam nikmat panas itu. Lupa bahwa ia sedang memainkan peran dalam sandiwara sesaat ini.
Rupanya anggur merah pada steak daging rusa berhasil menyalakan gairah Emma.
"Noah Jones!"
Tiba-tiba suara teriakan keras dari arah samping mereka saat keduanya bermesraan.
Emma segera menjauhkan Noah Jones darinya, ia menoleh ke arah suara itu.
Tampak berdiri seorang wanita berwajah manis dengan kedua tangan mengepal kuat serta memandangi mereka berdua penuh amarah. Ia memperhatikan Emma yang acak-acakan mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki. Lantas menoleh kepada Noah Jones yang sama kusutnya dengan Emma.
Saat itu posisi kaki Emma mengait kuat diantara paha Noah Jones. Suatu pemandangan intim yang sulit dibayangkan siapapun juga termasuk Emma Taylor.