NovelToon NovelToon
Menghancurkan Suami Benalu Dan Adik Tiriku

Menghancurkan Suami Benalu Dan Adik Tiriku

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nila KingShop Wati

HANCURLAH BERSAMA "SUAMI PARASIT DAN ADIK BENALU"
Selama dua tahun pernikahan, Violet hidup sebagai istri yang selalu mengalah. Ia tidak pernah menyangka suami yang dicintainya ternyata diam-diam berselingkuh dengan Eliana, adik tirinya sendiri.
Lebih kejam lagi, mereka hanya memanfaatkannya demi merebut perusahaan keluarga yang menjadi haknya. Saat kebenaran terungkap, Violet kehilangan segalanya—ayahnya koma karena sebuah kecelakaan yang ternyata direncanakan, hartanya dirampas, dan nyawanya dihabisi oleh orang-orang yang paling dipercayainya.
Dalam detik terakhir sebelum kematian, Violet mengutuk mereka dan memohon kesempatan untuk mengulang hidupnya.
Ketika membuka mata, ia kembali ke dua tahun lalu.
Ke hari saat Arga datang melamar.
Kali ini Violet tidak akan memilih pria yang menghancurkan hidupnya.
Sebagai gantinya, ia memilih Sherkan—paman Arga yang terkenal dingin, kejam, dan menjadi penguasa dunia bisnis.
Keputusan itu mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nila KingShop Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mati dengan kutukan

Bab 9 - MATI DENGAN KUTUKAN

Saat aku membuka mata kembali, kepalaku terasa berdenyut luar biasa seolah akan pecah. Ruangan tempatku berada hanya diterangi cahaya remang-remang, dan udara di dalamnya terasa pengap serta berbau lembap yang menyengat. Aku mencoba menggerakkan tangan dan kaki, namun tidak bisa—kedua pergelangan tanganku terikat kuat di belakang punggung, begitu juga kakiku. Jantungku berdebar kencang, panik mulai menyelimuti, namun aku memaksakan diriku tetap tenang dan mencoba melihat sekeliling. Aku menyadari bahwa aku berada di sebuah gudang tua yang sudah lama tidak terawat, dan aku tidak sendirian.

Suara langkah kaki terdengar mendekat, pelan namun teratur, membuat bulu kudukku meremang. Satu per satu sosok muncul dari balik kegelapan, dan saat aku melihat wajah mereka dengan jelas, seluruh darahku terasa berhenti mengalir. Arga dan Eliana berdiri di depanku dengan ekspresi yang sangat tenang—terlalu tenang—seolah aku bukanlah istri dan saudara kandung mereka, melainkan orang asing yang tidak berarti, atau bahkan lebih buruk lagi, musuh yang harus disingkirkan.

“Jadi akhirnya kau sadar juga,” ucap Arga dengan suara santai seolah sedang mengobrol biasa.

Aku menatapnya dengan pandangan tidak percaya, hanya satu kata yang mampu keluar dari mulutku.

“Kenapa?”

Kenapa setelah semua yang kulakukan untuknya, kenapa setelah semua kasih sayang dan kepercayaan yang kuberikan, kenapa mereka tega berbuat sekejam ini. Eliana tertawa kecil, tawa yang dulu terdengar manis dan polos kini terasa sangat menjijikkan dan menusuk hati.

“Dia masih bertanya kenapa,” ucapnya sambil tersenyum sinis.

Aku memejamkan mata sesaat, berusaha menahan amarah yang meluap di dada.

“Jadi kalian sudah menjebakku sejak awal, bukan?”

Arga tidak menyangkal sama sekali. Sebaliknya, ia menarik sebuah kursi kayu dan duduk tepat di hadapanku.

“Akhirnya kau tahu juga.”

Hatiku terasa diremas kuat hingga nyeri, meski sudah menduga kebenarannya, mendengar pengakuan langsung dari mulutnya tetap terasa sangat menghancurkan.

“Sejak kapan rencana ini dimulai?”

“Tidak penting untuk kau ketahui,” jawabnya dingin.

“Jawab aku!” bentakku sekuat tenaga.

Arga tersenyum tipis, senyum yang tidak menyentuh matanya sama sekali.

“Sejak sebelum aku bahkan berpura-pura mengenalmu.”

Air mataku langsung jatuh membasahi pipi, bukan karena rasa cinta yang patah, melainkan karena rasa hina yang mendalam. Selama ini seluruh hidupku hanyalah lelucon bagi mereka, semua kebahagiaanku hanyalah sandiwara yang disusun rapi. Eliana berjalan mendekat, tatapannya penuh kemenangan yang selama ini disembunyikannya di balik senyum manisnya.

“Kau tahu apa yang paling kubenci darimu, Kak?” tanyanya dengan nada merendah.

Aku hanya diam, menatapnya dengan pandangan tajam.

“Sejak kecil kau selalu memiliki segalanya—Papa mencintaimu lebih dari apa pun, perusahaan keluarga akan menjadi milikmu suatu hari nanti, semua orang memandangmu dengan rasa hormat dan menganggapmu putri keluarga yang sempurna.” Suaranya mulai meninggi, dipenuhi kebencian yang terpendam bertahun-tahun. “Sementara aku? Aku selalu menjadi bayanganmu, selalu dianggap tidak berharga, selalu mendapatkan apa yang tersisa setelah kau mengambilnya.”

“Kau juga memiliki hak yang sama seperti aku,” sanggahku. “Kau juga dibesarkan dengan baik, hidup berkecukupan, dan tidak pernah kekurangan apa pun.”

“Bohong!” teriaknya keras hingga suaranya menggema di seluruh ruangan. “Aku hanya mendapatkan sisa yang tidak kau inginkan!”

Aku menggeleng pelan, tidak percaya dan tidak mengerti bagaimana seseorang bisa menyimpan rasa benci sedalam itu selama bertahun-tahun hanya karena rasa iri.

“Dan apa peran Arga dalam semua ini?” tanyaku dengan suara serak.

Eliana langsung tersenyum lebar, penuh kemenangan.

“Ia mencintaiku. Sejak awal, ia hanya mencintaiku.”

Ia langsung merangkul lengan Arga dengan erat, dan lelaki itu tidak menolak, tidak menjauh, dan tidak membantah sedikit pun. Aku tertawa kecil, tawa pahit yang bahkan mengejutkan diriku sendiri.

“Ternyata dua orang sampah memang sangat cocok bersatu.”

Tamparan keras langsung mendarat di pipiku dengan suara nyaring. Kepalaku terlempar ke samping, rasa panas yang perih segera menjalar di kulit wajahku, namun aku tidak menangis. Aku hanya menatap Arga lekat-lekat, lelaki yang baru saja menamparku—lelaki yang dulu kuanggap rumah dan tempat berlindung.

“Jadi inilah wajah aslimu yang selama ini kau sembunyikan.”

Arga berdiri tegak, tatapannya terasa sedingin es, tidak ada sedikit pun rasa cinta, penyesalan, atau belas kasihan yang terlihat di matanya.

“Aku sudah cukup bersabar menunggu saat ini.”

Beberapa menit kemudian, salah satu pria bayaran itu masuk membawa setumpuk dokumen tebal. Aku langsung mengerti apa maksud mereka—mereka menginginkan tanda tanganku untuk memindahkan seluruh saham, aset, dan kepemilikan perusahaan ke nama mereka.

“Tandatangani,” perintah Arga datar sambil meletakkan dokumen itu di hadapanku.

Aku menatapnya lama, lalu tertawa pelan.

“Tidak.”

Wajah Eliana langsung berubah marah.

“Tandatangani sekarang juga!”

“Tidak akan pernah,” tegasku.

Tamparan kedua dan ketiga segera menyusul, namun aku tetap menolak untuk menuruti keinginan mereka. Aku sudah menyadari satu hal: sekalipun aku menyerahkan semuanya, mereka tidak akan membiarkanku hidup. Aku sudah mengetahui terlalu banyak rahasia mereka, dan aku sudah menjadi ancaman yang harus disingkirkan selamanya.

Malam semakin larut, dan akhirnya Arga kehilangan kesabarannya.

“Paksa dia.”

Dua pria besar itu langsung memegang tanganku dengan kasar, menekan jariku hingga aku tidak bisa bergerak, lalu mencap sidik jariku secara paksa di setiap lembar dokumen. Aku berusaha melawan sekuat tenaga, namun sia-sia belaka. Air mataku bercampur dengan darah yang menetes dari sudut bibirku, dan saat semuanya selesai, aku melihat senyum puas dan penuh kemenangan terukir jelas di wajah mereka seolah baru saja memenangkan hadiah terbesar dalam hidup.

“Buang dia,” perintah Arga dengan nada datar tanpa emosi, seolah ia sedang membuang sampah bukan nyawa manusia yang pernah menjadi istrinya.

Aku menatapnya lama, berharap menemukan sedikit saja rasa bersalah di matanya, namun tidak ada—tidak sedikit pun. Aku akhirnya benar-benar mengerti bahwa lelaki ini tidak pernah mencintaiku, tidak pernah sejak awal. Mereka memasukkanku ke dalam bagasi mobil, tanganku masih terikat erat, dan seluruh tubuhku terasa nyeri hebat. Mobil melaju cukup lama melewati jalanan yang semakin sepi dan gelap, hingga akhirnya berhenti tepat di tepi jurang yang dalam dan curam.

Inilah akhirnya, pikirku.

Arga dan Eliana turun dari mobil, berdiri beberapa meter di depanku dan memandangku seolah sedang menikmati pemandangan.

“Selamat tinggal, Kak,” ucap Eliana dengan suara ringan tanpa beban.

Aku menatapnya, lalu mengalihkan pandangan ke arah Arga, dan tiba-tiba aku tertawa—pelan di awal, lalu semakin keras hingga terdengar menggema di tempat yang sepi ini. Mereka terlihat mengernyit bingung, mungkin mengira aku sudah gila, atau mungkin memang benar demikian. Seseorang yang sudah kehilangan segalanya memang tidak lagi memiliki alasan untuk merasa takut.

“Kalian pikir kalian sudah menang?” tanyaku sambil tersenyum miring meski darah masih mengalir dari sudut bibirku. “Kalian pikir bisa hidup bahagia selamanya setelah melakukan semua ini?”

Eliana terlihat kesal.

“Tutup mulutnya!”

Namun aku tidak berhenti, aku menatap mereka satu per satu, menghafal setiap detail wajah mereka dan menyimpan kebencian itu hingga ke tulang sumsum.

“Jika Tuhan benar-benar ada, jika keadilan masih ada di dunia ini,” suaraku bergetar menahan amarah yang meluap, “maka aku mengutuk kalian.”

Angin malam berembus kencang, membuat daun-daun kering beterbangan, seolah menjadi saksi bisu dari apa yang akan terjadi.

“Aku mengutuk kalian akan kehilangan semua yang kalian rebut dariku. Kalian tidak akan pernah bisa hidup tenang, tidak akan pernah merasakan kebahagiaan sejati, dan pada akhirnya kalian akan saling menghancurkan satu sama lain. Dan suatu hari nanti, seseorang pasti akan membuat kalian membayar setiap tetes darah dan air mata yang telah kalian tumpahkan.”

Arga memberi isyarat kepada orang-orangnya, suara mesin mobil meraung keras, dan tanpa peringatan yang lain, sebuah dorongan kuat membuat mobil itu meluncur bebas menuruni tebing yang curam, semakin cepat dan semakin dalam menuju kegelapan di bawah sana. Aku memejamkan mata rapat-rapat, tubuhku terhempas ke segala arah, suara benturan besi yang keras memenuhi telingaku, dan rasa sakit yang luar biasa menjalar ke seluruh tubuhku. Di detik-detik terakhir kehidupanku, aku tidak memikirkan Arga, tidak memikirkan Eliana, dan tidak memikirkan perusahaan keluarga. Yang terlintas di pikiranku hanyalah Papa.

Maafkan aku, Pa. Aku gagal melindungi apa yang sudah Papa bangun dengan susah payah.

Air mataku jatuh untuk terakhir kalinya, kesadaranku mulai memudar perlahan, dan dalam kegelapan yang perlahan menelan segalanya, aku berbisik pelan.

“Tuhan, jika Engkau masih mendengarkan doaku… beri aku satu kesempatan lagi.”

Lalu semuanya menjadi gelap, dan Violet Wibisono dinyatakan meninggal dunia.

1
Amidah Anhar
maaak bab selanjutnya pengumuman Meraka udah jadi sepasang suami istri iya..
pengen tahu reaksi mereka 🤣🤣🤣🤣
Miss Typo
aku suka aku suka
aku padamu Sherkan ♥️🫰

apa Sherkan juga mengulang waktu mengulang masa lalu, jadi dia tau semuanya yg disembunyikan Violet? 🤔
Maria Kibtiyah
kayakmya sherkan tau apa yg di alamin violet di masa lalu
Miss Typo
ku pikir Sherkan mau duduk di meja rias trs menarik pinggang Violet untuk memakaikan dasinya itu 🤣
ternyata aku salah dgn pikirin ku sendiri 😁
Ayudya
sherkan suami yg terbalk
Ayudya
lanjut kak
Amidah Anhar
Maaak aku belum move-on dengan nama sherkan nya Elf 🤭🤭🤭🤭
Evve Miss Plot twist: yang ini bakal bikin jauh lebih ga bisa bikin move on makkk😍🤭
total 1 replies
Maria Kibtiyah
sherkan gak ketebak kira2 apa rencana dia
Maria Kibtiyah
semangat mak semakin menarik😍
Maria Kibtiyah: 😍😍😍😍😍
total 2 replies
Silvia
lagi Thor semangat💪💪
Evve Miss Plot twist: ok mak😍
total 1 replies
Nana Colen
semangat thooooor.... lanjut up lagi dan kalau bisa tolong dong lanjutin cerita nya dalam cengkraman badai
Evve Miss Plot twist: siap makkk sudah update lagi 1 bab, tunggu review yah
total 2 replies
Nana Colen
aaah orang kaya mah pasti udah diselidiki duluan ath neng violet... dari makanan favorit hobinya apa dan sebagainya 😁😁😁😁
Nana Colen
thor aku mau tanya... apakah ayahnya violet saat ini sudah berada drumah sakit atau gimana aku kurang nggeuh
Nana Colen
aku ucapkan Terima kasih thor mau berkarya lagi di NT.... aku kangen banget dengan cara dan gaya mu dalam membuat novel selalu banyak kejutan dan takateki 😍😍😍😍😍
Miss Typo
kalian berdua ngegemesin deh 😍

semangat Mak Eva 💪🥰
wiliss
alhamdulilllah saahh? saaahhhhh🥰🙏
Nana Colen
balaslah dengan elegan violet... kamu bukan cewek lemah dan bodoh 💪💪💪💪
Nana Colen
jadi ikutan deh deg an ya... ini violet beda cerita lagi sama violet sherkan ya
Evve Miss Plot twist: beda mak, lagi malas nyari nama pemeran 🤭
total 1 replies
Nana Colen
buanglah suami benalu itu violet
Nana Colen
akhirnya netes juga karya baru nya... semangat thor aku pendukung karya karyamu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!