Area dewasa❗
Demi menyelamatkan ayah angkatnya yang sakit keras, Zivanna Mahavira terpaksa menggantikan saudara kembarnya, Zivarra, yang kabur sebelum pernikahannya dengan anak sulung keluarga Sadewantara, Keenan Sadewantara.
Tanpa sepengetahuan Zivanna, Keenan ternyata sudah mengetahui sejak awal bahwa wanita yang menikah dengannya bukanlah Zivarra.
Mereka akan menjalani pernikahan selama enam bulan, sesuai kontrak yang diberikan Keenan di awal pernikahan. Selama itu, Zivanna harus mempertahankan kebohongannya demi keluarga dan ayah angkatnya.
Semakin lama hidup bersama, keduanya justru saling jatuh hati.
Sampai pada bulan kelima, semuanya berubah ketika Zivanna menolak hubungan suami istri dan akhirnya meminta maaf atas kebohongannya.
“Kamu pikir aku baru tahu siapa kamu? Aku sudah tahu sejak awal, Zivanna,” ucap Keenan dengan senyum miring.
Mata Zivanna langsung membesar. “A-apa?”
Keenan mengangkat dagu Zivanna. “Kalau kamu ingin aku maafkan, lakukanlah dengan tubuhmu.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Biaya operasi
“Kamu udah mau pulang, Anna?”
“Iya, ini aku mau pulang. Aku duluan ya,” ucap gadis yang dipanggil Anna atau Zivanna Mahavira, menjawab ucapan rekan kerjanya.
Gadis berusia 25 tahun itu bekerja di salah satu toko retail yang sudah banyak cabangnya di Indonesia.
Zivanna pulang menggunakan motor maticnya menuju ke rumah. Ia tinggal bersama ayah angkatnya, Damian, yang juga merupakan kakak kandung dari mendiang ibunya.
Sesampainya di depan rumah, Zivanna turun dari motor lalu masuk ke dalam rumah.
Namun rumah itu terlihat sepi, seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan karena biasanya Zivanna akan melihat ayahnya sedang menonton televisi jika ia baru pulang bekerja.
“Ayah...” panggil Zivanna. Tapi tidak ada sahutan dari Damian.
Langkah Zivanna pun menuju ke kamar ayahnya. Ia mengetuk pintu dengan pelan.
“Yah... apa Ayah di dalam?” tanya Zivanna. Lagi, tidak ada sahutan dari Damian. Karena khawatir, ia membuka pintu kamar ayahnya.
Betapa terkejutnya, Zivanna melihat ayahnya tergeletak pingsan di lantai.
“Ya Tuhan! Ayah!” teriak Zivanna sambil berlari menghampiri Damian. Ia duduk sambil menggoyang-goyangkan tubuh ayahnya, berharap Damian terbangun.
“Ayah bangun!” teriak Zivanna sambil menangis. Namun tubuh ayahnya tidak bergerak dan napasnya terlihat lemah.
Tak ingin terjadi sesuatu pada ayahnya, ia langsung berlari keluar meminta bantuan ke tetangganya. Mendengar suara teriakan Zivanna yang meminta tolong, beberapa tetangga pun keluar.
“Ada apa, Nak Anna?” tanya salah satu tetangga Zivanna.
“T-tolong bantu ayah aku, Pak. Dia pingsan,” jawab Zivanna tergugu.
Mereka terkejut mendengarnya. Tanpa berlama-lama lagi, mereka langsung masuk ke rumah Damian dan ada juga yang segera menyiapkan mobil untuk membawa Damian ke rumah sakit.
Damian pun segera dibopong keluar dan dimasukkan ke dalam mobil. Di sepanjang perjalanan, Zivanna terus menangis sambil memangku kepala ayahnya.
“Ayah bangun... jangan tinggalkan Anna sendiri,” lirihnya.
“Kamu yang sabar ya, Nak. Dan teruslah berdoa agar ayahmu tidak kenapa-kenapa,” ucap tetangganya, Dewi, yang duduk di bangku depan mobil sambil menoleh ke belakang menatap Zivanna dan Damian.
Dewi ikut mengantarkan Damian ke rumah sakit bersama suaminya yang sedang mengendarai mobil tersebut.
Zivanna hanya mengangguk seraya berdoa di dalam hati untuk kesembuhan ayahnya.
Zivanna terus mondar-mandir di depan IGD, menunggu dokter selesai memeriksa keadaan ayahnya.
Sementara Dewi dan suaminya telah kembali ke rumah atas suruhan Zivanna yang tidak ingin lagi merepotkan mereka, walaupun mereka tadi ingin menemani Zivanna.
Tak lama, dokter keluar. Zivanna segera menghampiri dokter.
“Bagaimana kondisi ayah saya, Dok?” tanya Zivanna cemas.
Dokter menurunkan maskernya dan menghela napas. “Kondisi jantung pasien terus menurun. Fungsi pompa jantungnya sudah sangat lemah dan saat ini obat-obatan sudah tidak memberikan respons yang maksimal,” jelasnya sambil melihat hasil pemeriksaan di tangannya.
Damian memang sudah lama mengidap penyakit jantung. Karena itu, ia berhenti bekerja dan yang menggantikannya untuk mencari nafkah adalah Zivanna.
Walaupun sebenarnya Damian tak enak hati menyuruh anaknya bekerja keras sendiri, apalagi untuk biaya pengobatannya. Tapi mau gimana lagi? Tubuhnya tidak kuat seperti dulu.
“Gimana maksudnya, Dok?” tanya Zivanna lagi.
“Jantung beliau sudah mengalami kerusakan yang cukup parah. Karena itu, kami menyarankan untuk melakukan tindakan operasi secepatnya. Namun melihat kondisinya yang sekarang, kemungkinan terbesar yang dibutuhkan adalah transplantasi jantung,” ucap dokter.
Wajah Zivanna langsung pucat. “T-transplantasi jantung?” ulangnya.
Dokter mengangguk pelan. “Ini memang keputusan yang tidak mudah, tapi transplantasi jantung menjadi pilihan yang tepat agar kondisi pasien bisa bertahan lebih lama. Kalau tidak segera ditangani, kami khawatir fungsi jantungnya akan semakin menurun dan itu bisa membahayakan nyawa beliau.”
Zivanna mengepalkan tangannya kuat-kuat. Tentu saja ia tidak ingin terjadi hal yang lebih buruk terhadap kondisi ayahnya.
“Kalau untuk biayanya, berapa ya, Dok?” tanya Zivanna.
“Untuk biaya transplantasi jantung, biayanya tidak sedikit. Bisa mencapai ratusan juta hingga miliaran rupiah, tergantung kondisi pasien, donor, serta proses perawatannya,” jawab dokter.
Napas Zivanna seketika tercekat mendengar biaya transplantasi jantung untuk ayahnya. Uang sebanyak itu, dari mana ia akan mencarinya? Untuk makan sebulan pun tak cukup dari gajinya per bulan sebagai pegawai retail.
Setelah mendengar penjelasan dari dokter, dokter itu pun pergi meninggalkan Zivanna. Zivanna terduduk lemas di kursi tunggu sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
“Di mana aku harus mencari uang segitu banyak, Tuhan?” lirih Zivanna pelan.
...****************...
Di tempat lain, seorang pria sedang berdiri di depan jendela besar di ruang kerjanya, melihat pemandangan kota Jakarta di malam hari. Jas dan dasi yang sudah terlepas dari tubuhnya, seraya memasukkan tangan ke dalam saku celana dengan tatapan dinginnya.
Padahal seharusnya sekarang ia sudah berada di rumah, tapi karena malas bertemu dengan keluarganya yang terus membicarakan pernikahannya yang seminggu lagi akan dilangsungkan.
Pernikahan itu bukan keinginannya, melainkan hasil perjodohan demi kepentingan bisnis. Karena itu, ia memilih menetap di kantor.
Tentu saja ia mau menikah, siapa yang tidak ingin menikah? Apalagi usianya sudah 32 tahun. Akan tetapi, ia hanya tidak ingin dijodohkan secara paksa, apalagi dengan wanita yang jauh dari tipenya, walaupun wanita itu cantik dan seksi sekalipun.
TOK! TOK! TOK!
Suara ketukan pintu ruangannya terdengar membuat pria itu sedikit tersentak. “Masuk!”
Pintu ruangan itu terbuka, asistennya masuk menghampirinya.
“Maaf, Pak Keenan. Bara mencari Anda,” ucap Arkana sopan.
Keenan Sadewantara, anak pertama dari di Richard Sadewantara bersama istri pertamanya.
Keluarga Sadewantara merupakan pengusaha ternama yang masuk ke dalam 10 orang terkaya di Indonesia.
Ibunya telah meninggal ketika Keenan berusia 7 tahun. Ia memiliki seorang adik laki-laki bernama Rafael dari istri kedua ayahnya, namun hubungan mereka dari dulu sudah buruk.
Apalagi sekarang, Rafael ingin menguasai Dewantara Group lebih banyak dari dirinya.
“Suruh dia masuk,” ucap Keenan.
Arkana mengangguk, lalu keluar dari ruangan Keenan untuk memanggil Bara.
Tak lama Bara masuk sendirian ke ruangan Keenan. Ia merupakan orang suruhan Keenan.
“Malam, Tuan,” ucap Bara sambil menunduk sopan.
“Malam. Bagaimana?” tanya Keenan singkat.
“Nona Zivarra sudah pergi kabur bersama kekasihnya sore tadi, dan itu tanpa sepengetahuan orang tuanya,” jelas Bara.
Senyum di bibir Keenan terangkat sedikit. Ternyata ia tidak perlu mengeluarkan tenaga untuk memaksa Zivarra membatalkan pernikahan mereka.
“Bagus. Kalian awasi terus keluarga wanita itu. Lihat apa yang akan mereka lakukan setelah mengetahui anaknya sudah pergi kabur,” suruhnya.
Bara mengangguk. “Baik, Tuan. Kalau begitu saya permisi.”
Keenan hanya mengangguk. Bara pun keluar dari ruangannya. Keenan duduk di sofa yang ada di ruangannya sambil menaikkan salah satu kakinya dan tangannya ia taruh di sisi sofa.
“Saatnya mengurus keluargaku sendiri,” gumamnya pelan.
btw Keenan udah bucin akut ama lu. Noh lu di kamar mandi aja di samperin. Pasti mau jap jip jup di bwh shower😭😭🤣