"Dulu aku adalah bayangan yang kau injak, kini aku adalah cahaya yang akan membutakan matamu."
Selama lima tahun, Aruna percaya bahwa cinta dan pengabdian adalah kunci kebahagiaan pernikahan. Namun, ia salah. Di rumah megah keluarga Adrian, Aruna tak lebih dari pelayan tak berbayar yang dihina oleh mertuanya dan dianggap "sampah" oleh suaminya sendiri. Puncaknya, Adrian menceraikannya dengan fitnah keji, mengusirnya di tengah hujan badai tanpa sepeser pun uang, demi wanita lain yang dianggap lebih "berkelas".
Aruna hancur, namun ia tidak mati.
Aruna berjanji akan bangkit, Walau tanpa Adrian sekalipun.
Bagaimana Aruna, membalas sakit hatinya pada Adrian dan Mertuanya..!!
baca novel ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: Identitas Baru di Balik Layar
Di sebuah kawasan elite yang jauh dari hiruk-pikuk pusat kota, berdiri sebuah rumah bergaya kolonial modern yang megah dan dijaga ketat oleh sistem keamanan tingkat tinggi. Rumah itu milik Aldo Wijaya, paman kandung Aruna, sekaligus salah satu taipan paling disegani di dunia bisnis internasional. Di dalam ruang kerja pribadi Aldo yang dilapisi dinding kayu jati kedap suara, suasana terasa begitu tenang namun sarat akan strategi besar.
Aruna duduk di sebuah kursi kulit mewah. Penampilannya telah berubah total. Tidak ada lagi kesan wanita rumahan yang kusam dengan daster sederhana. Kini, ia mengenakan setelan blazer formal potongan tegas berwarna hitam, dengan rambut yang ditata rapi dan riasan wajah yang memancarkan aura dingin serta berwibawa.
"Paman, apa sudah diurus masalah kematianku di kepolisian?" tanya Aruna, nadanya terdengar datar namun menuntut kepastian.
Aldo yang sedang menyesap cerutu mahalnya mengangguk perlahan. "Sudah... semua beres, Aruna. Tim hukum dan jaringan kita di forensik sudah mengondisikan semuanya. Berkas penyelidikan akan segera ditutup sebagai murni bunuh diri akibat depresi. Namun, ada satu informasi menarik dari orang lapangan kita di kediaman Adiwangsa. Si lelaki brengsek Adrian itu... sepertinya dia tidak begitu yakin kalau kamu benar-benar mati."
Aruna tersenyum sinis, sebuah lengkungan dingin yang belum pernah ia tunjukkan selama lima tahun menjadi istri Adrian. "Dia... hanya merasa kehilangan saja, Paman. Dia kehilangan orang yang selalu nurut menjadi budaknya. Kehilangan kenyamanan gratis yang selama ini aku berikan tanpa pamrih. Itu bukan cinta, itu hanya ego yang terusik."
"Mungkin," sahut Aldo sambil mengetukkan jemarinya di meja marmer. "Tapi bagaimana kalau dia memang tidak percaya dan terus mencari keberadaanmu? Sifat Adrian itu keras kepala dan obsesif jika sudah mulai merasa bersalah."
Aruna menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi dengan anggun. "Untuk apa dia mencariku? Bukankah tujuannya menceraikan aku sudah tercapai? Dia ingin bebas bersama Valerie dan menguras harta keluarganya."
Aldo menatap keponakannya itu dengan tatapan serius. "Bukankah... PT Adiwangsa yang diberikan oleh ayahmu dulu itu... ada perjanjian lain di dalam surat wasiatnya? Kamu tentu tidak lupa soal itu."
Mendengar ucapan pamannya, ingatan Aruna langsung ditarik mundur ke beberapa tahun lalu, saat almarhum ayahnya masih hidup.
"Oh, iya... benar," ucap Aruna, matanya seketika berkilat tajam. "Ayah menulis surat wasiat khusus tentang pembagian perusahaan itu. Dan perusahaan itu tidak bisa dijual atau dialihkan kepemilikannya tanpa tanda tanganku secara resmi. Adrian hanya memiliki hak kelola, bukan kepemilikan mutlak."
"Ya, itu dia kuncinya!" Aldo tersenyum puas. "Begitu dia sadar hukum bahwa status kematianmu belum legal secara mutlak tanpa adanya jasad, dia akan mulai panik karena tidak bisa melakukan aksi korporasi besar. Jadi, Aruna... bagaimana nanti kamu akan muncul atau membalas perbuatan mereka?"
Aruna berdiri dari kursinya, lalu melangkah menuju jendela besar yang menghadap ke taman belakang. "Aku akan mengubah namaku menjadi Kirana. Dan tolong beritahu orang-orang di Purnama Group yang kenal denganku untuk tidak memanggilku Aruna lagi. Mulai hari ini, Aruna Wijaya sudah tenggelam di sungai itu. Yang ada hanya Kirana."
"Tenang, Aruna... Hanya sedikit orang yang berada di level atas yang mengenalimu sebagai salah satu pemilik saham Purnama," kata Aldo menenangkan. "Identitasmu selama ini sangat terjaga."
"Termasuk kamu, Martin!" Aruna berbalik dan melirik tajam ke arah Martin yang sejak tadi berdiri tegap di dekat pintu.
Martin langsung menundukkan kepalanya hormat. "Tenang, Nona. Aku selalu mendukung dan akan menjagamu. Kesetiaanku hanya untuk Anda."
Aruna menatap Martin selama beberapa detik, memastikan tidak ada kebohongan di mata pria itu. "Aku pegang ucapanmu!" tegas Aruna. Sorot matanya terlihat sangat berwibawa dan penuh kuasa, karakter asli yang selama ini sengaja dia sembunyikan demi menjadi istri yang penurut di depan Adrian.
Strategi dan Celah Baru
"Maaf Nona... kalau menurutku..." Martin tiba-tiba bersuara, namun kalimatnya tergantung di udara karena ragu.
"Suruh siapa kamu bicara?!" potong Ronald dengan suara keras. Ronald adalah salah satu petinggi senior di Purnama Group yang terkenal kaku dan selalu menjaga kasta birokrasi perusahaan. "Kamu hanya kepala pengamanan, jangan lancang menyela rapat inti!"
Aruna langsung mengangkat tangannya, memberikan isyarat tegas kepada Ronald untuk terdiam dan menyuruh Martin melanjutkan katanya. Ronald langsung terbungkam dan mundur satu langkah.
"Lanjutkan, Martin. Apa pendapatmu?" tanya Aruna.
"Kalau menurutku... si Adrian kan sudah tahu Purnama Group ini punya Paman Anda, Pak Aldo. Dia pasti akan langsung mengenalimu kalau kamu muncul di sini sebagai pimpinan. Meskipun kamu ganti nama menjadi Kirana, wajah dan perawakan Anda tidak bisa diperdaya begitu saja," kata Martin memaparkan analisisnya.
Aruna terdiam, jemarinya mengetuk dagunya perlahan. "Benar juga... Adrian pernah beberapa kali datang memohon bantuan ke kantor Paman Aldo. Dia tahu persis siapa saja orang-orang di Purnama. Bagaimana menurutmu, Paman?" tanya Aruna sambil menoleh kepada Paman Aldo.
Aldo melirik ke arah Martin, matanya menyipit penuh arti. Sebagai pebisnis senior, Aldo langsung mengerti ke mana arah berpikir Martin.
"Oh iya, aku baru ingat..." kata Aldo sambil tersenyum tipis. "Perusahaan yang sedang naik daun kemarin... Presdir-nya baru saja mengundurkan diri."
Aruna mengernyitkan dahi. "Apa itu, Paman?"
"GBC... Gemilang Bintang Corporation. Milik Pak Rudi Dewantara," jawab Aldo dengan nada suara berbobot. "Mereka memintaku untuk mencari orang yang layak untuk duduk di jabatan Presdir tersebut. GBC sudah cukup lama jalin kerja sama strategis dengan Purnama Group. Jika kamu masuk ke sana, Adrian tidak akan pernah menyangka bahwa kamu berada di bawah kendali Purnama."
Aruna menatap langit-langit kamar kerja itu sambil berpikir cepat. GBC adalah perusahaan raksasa baru yang bergerak di bidang manufaktur dan logistik maritim, saingan langsung dari Adiwangsa Logistik, namun skalanya berkali-kali lipat lebih besar.
"Baik... kalau begitu aku akan mencoba menemui Tuan Rudi Dewantara secepatnya," putus Aruna, matanya memancarkan kilatan balas endem yang dingin. "Aku akan memimpin GBC dengan nama Kirana. Dan dari kursi kehormatan itu, aku akan memastikan Adiwangsa Logistik berlutut di bawah kakiku."
Langkah Awal Kirana
Keesokan harinya, Aruna—yang kini resmi memakai nama Kirana—melangkah masuk ke gedung GBC dengan penuh percaya diri. Didampingi oleh Martin yang selalu berada di belakangnya, Kirana langsung diantar menuju ke ruangan pribadi Tuan Rudi Dewantara.
Tuan Rudi, seorang pria tua berambut putih namun memiliki sorot mata yang sangat tajam, menyambut kedatangan Kirana dengan senyuman hangat.
"Jadi kamu adalah orang yang direkomendasikan oleh Aldo?" tanya Tuan Rudi sambil menatap Kirana penuh penilaian. "Aldo selalu memiliki selera yang tinggi untuk masalah pemimpin, namun aku tidak mengira dia akan mengirim seorang wanita muda yang sangat cantik dan berwibawa begini."
"Terima kasih atas pujiannya, Tuan Rudi," kata Kirana, suaranya terdengar sangat tenang dan matang. "Saya di sini bukan untuk memamerkan penampilan, namun saya di sini untuk memastikan GBC menjadi penguasa tunggal di pasar logistik nasional. Saya sudah membaca beberapa laporan keuangan perusahaan Anda, dan saya memiliki beberapa strategi untuk memotong jalur suplai para pesaing kecil, termasuk Adiwangsa Logistik."
Tuan Rudi tertegun mendengar kalimat pertama Kirana yang langsung menembak ke jantung bisnis. Ia tersenyum lebar, merasa bahwa wanita di hadapannya ini memang singa di atas panggung perdagangan.
"Luar biasa... Sangat berani," kata Tuan Rudi sambil menepuk tangannya. "Aku suka orang yang langsung berbicara strategi. Mulai minggu depan, kamu resmi menjadi Presdir GBC yang baru. Tunjukkan padaku bagaimana kamu akan membuat Adiwangsa Logistik dan para pesaing lainnya bertekuk lutut."
Kirana tersemut tipis, sebuah senyuman yang penuh arti kejam. Adrian... sebentar lagi kita akan bertemu di atas panggung yang sama, namun kali ini aku yang akan memegang kendali cambuknya, batin Kirana penuh obsesi balas dendam dan kejayaan.