NovelToon NovelToon
KALA CEO LAPUK JATUH CINTA.

KALA CEO LAPUK JATUH CINTA.

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Komedi / Romantis
Popularitas:17.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Di usia 35 tahun, Ghufran Arfathan sukses besar memimpin GA Corp. Baginya, wanita hanyalah pengganggu kesuksesan, membuatnya tak peduli dicap "bujang lapuk". Ia percaya harta bisa membeli segalanya, termasuk wanita.

Namun, keyakinan itu runtuh saat ia mengunjungi sebuah desa dan terpikat oleh Zhawa Khalisha (22 tahun). Berbeda dari wanita kota, Zhawa tampil bersahaja dengan gamis longgar dan hijab. Terpesona, Ghufran mencoba menaklukkan hati Zhawa menggunakan kekayaannya lewat berbagai hadiah fantastis.

Sayangnya, Zhawa menolak mentah-mentah karena ia telah memiliki tunangan. Penolakan itu menjadi tamparan keras bagi ego sang miliarder. Ghufran kini sadar, berlimpahnya harta di rekening bank ternyata tidak berdaya di hadapan kesetiaan seorang gadis desa. Perjuangan konyol sang CEO lapuk demi mengejar cinta pertamanya pun dimulai!

Yuk ikuti kisahnya si 'Bujang lapuk' dan jangan lupa berikan dukungannya untuk Author Ramanda ya, terimakasih 🙏🏻.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERTEMUAN TAK TERDUGA.

Hari-hari berjalan begitu cepat bagai hembusan angin. Tanpa terasa, tiga bulan telah berlalu sejak kepulangan Ghufran dari Desa Sukamaju. Nama Zhawa tak pernah lagi mengusik hari-harinya, tergantikan oleh ketenangan jiwa yang terus ia pupuk setiap waktu. Efek dari perubahan sikapnya pun berbuah manis. GA Corp berkembang semakin raksasa, bahkan kini kepak sayap bisnisnya telah merambah ke tingkat internasional dengan berdirinya beberapa kantor cabang di luar negeri.

Namun, ada satu hal yang kini menjadi prinsip hidup baru bagi Ghufran. Setiap kali perusahaannya memenangkan tender bernilai triliunan rupiah, ia selalu menyisihkan sebagian keuntungan untuk berbagi kepada orang-orang yang membutuhkan. Desa terpencil tempat tinggal kakek Rian menjadi prioritas utamanya. Melalui orang-orang kepercayaannya, Ghufran mendanai pengaspalan seluruh jalanan desa, membangun pusat perbelanjaan mini untuk memajukan UMKM setempat, dan yang paling krusial, ia mendirikan menara pemancar sinyal setinggi puluhan meter agar warga desa tidak lagi terisolasi dari dunia luar.

"Semua laporan pembangunan di desa kakek Rian sudah rampung, Bos," ujar Doni siang itu di sebuah restoran mewah, sesaat setelah mereka menyelesaikan rapat penting dengan klien.

Ghufran tersenyum puas sembari menutup tablet pintarnya. "Bagus, Don. Pastikan jaringannya stabil. Aku tidak ingin ada anak-anak di sana yang kesulitan mencari materi belajar karena terkendala sinyal."

Setelah agenda makan siangnya bersama klien selesai, Ghufran segera meluncur ke kantor perusahaan milik Rian. Di dalam ruang kerja sahabatnya, Ghufran mendapati Rian sedang memegangi kepala dengan wajah yang tampak kusut.

"Kenapa wajah Lo ditekuk begitu? Apakah Perusahaan Lo sedang kebakaran?" seloroh Ghufran sembari duduk di sofa.

Rian menghela napas panjang, bersandar lemas pada kursi kerjanya. "Lebih parah dari kebakaran, Fran. Bidang properti menengah yang sedang kujalani ini benar-benar sepi peminat sejak awal tahun. Kas perusahaan mulai menipis."

Ghufran memajukan tubuhnya, menatap Rian dengan serius. "Dengar, Rian. Dari analisis pasar, sektor properti yang lo jalani memang sedang jenuh. Mengapa Lo tidak beralih ke bidang penyediaan teknologi logistik seperti salah satu anak perusahaan gue? Gue bisa membantu mengalihkan beberapa vendor tingkat menengah untuk menyokong perusahaan lo"

Mata Rian seketika berbinar mendengar tawaran itu. "Elo serius, Fran? Lo mau membagi kuota vendormu untuk gue?"

"Tentu saja. Kita sudah bersahabat sejak zaman susah. Lagipula, perusahaan yang sepi tidak boleh dibiarkan berlarut-larut," sahut Ghufran mantap. "Sekarang kesepakatan kita selesai. Ayo kita cari makan siang, gue yang traktir."

Kedua pria itu kemudian turun ke area parkir basement. Namun, baru saja Ghufran memegang gagang pintu mobilnya, ponsel di dalam saku jasnya berdering dengan sangat keras. Layar menampilkan nomor asisten rumah tangga ibunya. Ghufran segera menggeser tombol hijau.

"Halo, Bi. Ada apa?" tanya Ghufran.

"Den Fran! Tolong, Den! Ibu tiba-tiba pingsan di kamarnya!" suara wanita paruh baya di seberang telepon terdengar sangat panik dan gemetar. "Sekarang Ibu sedang dibawa menggunakan ambulans menuju Rumah Sakit Medika Kota!"

Wajah Ghufran seketika berubah pucat pasi. Jantungnya berdegup kencang diliputi rasa takut yang luar biasa. "Baik, Bi! Saya segera ke sana sekarang juga!" Ghufran langsung mematikan sambungan telepon. Ia menoleh ke arah Rian dengan napas memburu. "Rian, maaf, makan siang kita batal. Nyokap gue pingsan dan sedang dilarikan ke rumah sakit."

Rian yang sempat mendengar kepanikan di telepon langsung merebut kunci mobil dari tangan Ghufran. "Gue ikut, Fran. Kondisimu sedang panik, tidak aman kalau menyetir sendiri. Jadi biar gue yang pegang kemudi!"

Tanpa banyak berdebat, Ghufran langsung memutar langkah menuju pintu penumpang. Mobil SUV hitam itu langsung melesat membelah jalanan kota yang cukup padat menuju Rumah Sakit Medika Kota. Sesampainya di sana, setelah bertanya dengan tergesa-gesa kepada petugas jaga di meja administrasi, mereka langsung berlari kecil menyusuri koridor rumah sakit yang berbau karbol.

Namun, di tengah koridor yang panjang, Ghufran mendadak menghentikan langkah kakinya secara ekstrem.

Bruk!

Rian yang berlari tepat di belakang Ghufran tidak siap mengantisipasi pemberhentian mendadak itu. Tubuhnya langsung menabrak punggung tegap Ghufran dengan keras. Karena postur tubuh Ghufran yang jauh lebih tinggi, hidung Rian telak membentur bagian tengkuk sahabatnya.

"Aduh! Aduuuh, hidung gue!" rintih Rian sembari memegangi hidungnya yang seketika memerah. Ia menatap Ghufran dengan tatapan kesal. "Elo ini kenapa sih, Fran? Berhenti mendadak seperti angkot mogok! Sakit nih hidung gue tahu!"

Ghufran tidak membalas makian Rian. Tubuhnya mematung di tempat. Ia hanya mengangkat jari telunjuk kanannya secara perlahan, mengarah pada ruang tunggu di depan instalasi gawat darurat.

Rian yang masih mengusap hidungnya perlahan mengikuti arah telunjuk tersebut. Matanya seketika membelalak sempurna ketika menangkap sosok yang duduk menyendiri di bangku besi. Di sana, tampak seorang wanita mengenakan gamis longgar dengan hijab yang terlihat agak lusuh. Wajah wanita itu tampak sangat pucat, matanya sembap, dan kedua tangannya saling bertautan dengan gelisah.

"Zhawa?" gumam Rian dengan suara sangat lirih, hampir tidak percaya dengan penglihatannya sendiri. Ia menoleh ke arah Ghufran. "Kenapa dia bisa ada di rumah sakit kota ini? Bukankah dari desanya ke kota ini jaraknya sangat jauh?"

Ghufran hanya mengangkat kedua bahunya, matanya masih menatap sosok itu dari kejauhan dengan tatapan yang sulit diartikan. "Gue tidak tahu, Rian. Pikiran gue sekarang sedang bercabang memikirkan nyokap."

Rian yang paham situasi langsung menepuk lengan Ghufran. "Begini saja, Fran. lo langsung pergi menemui nyokap Lo di ruang rawat atas. Biar gue yang menemui Zhawa untuk mencari tahu apa yang terjadi dengannya."

Ghufran mengangguk pelan. "Terima kasih, Rian." ucapnya singkat, lalu Ghufran segera memutar langkah menuju lift menuju ruang rawat ibunya, sementara Rian melangkah pelan mendekati bangku tempat Zhawa duduk.

Sekitar tiga puluh menit berlalu dengan ketegangan. Setelah memastikan kondisi ibunya sudah stabil dan hanya mengalami kelelahan biasa, Ghufran keluar dari kamar rawat inap untuk mencari Rian. Di lorong luar, ia melihat Rian berjalan menghampirinya dengan langkah kaki yang terasa berat dan wajah yang dipenuhi rasa iba.

"Bagaimana kondisi Ibumu, Fran?" tanya Rian membuka percakapan.

"Ibu sudah sadar, hanya kelelahan karena melewatkan jam makan obatnya," jawab Ghufran datar. Mata tajamnya langsung menatap Rian. "Lalu, bagaimana dengan Zhawa? Apa yang terjadi padanya?"

Rian menghela napas panjang sebelum menjawab. "Ayah Zhawa, Pak Imran, mendadak jatuh, saat ini ia sakit parah, Fran. Dokter di puskesmas desa angkat tangan karena peralatan di sana sangat minim, jadi beliau terpaksa dirujuk ke rumah sakit pusat kota ini menggunakan ambulans tadi pagi."

Ghufran terdiam, mencerna informasi tersebut. Namun, ada satu pertanyaan yang mengganjal di dalam benaknya sejak melihat ketidak berdayaan gadis itu sendirian di ruang tunggu. "Lalu, mengapa Zhawa sendirian di sini? Di mana Asep? Seharusnya sebagai tunangan dan calon suami, dia yang paling depan menemani dan mengurus keperluan calon mertuanya, bukan?"

Rian menatap mata Ghufran dengan tatapan yang sangat dalam, ada jeda beberapa detik sebelum ia bersuara. "Kang Asep sudah meninggal dunia sebulan yang lalu, Ghufran."

Deg.

Jantung Ghufran seolah berhenti berdetak mendengar kalimat pendek dari Rian. "Apa? Meninggal?"

Rian mengangguk lemah. "Iya. Dia mengalami kecelakaan kerja yang sangat hebat saat sedang mengerjakan proyek bangunan di daerah pinggiran kota. Dia terjatuh dari lantai atas tempatnya bekerja. Nyawanya tidak tertolong saat dalam perjalanan ke rumah sakit."

Mendengar kenyataan pahit itu, tiba-tiba lubuk hati Ghufran terkoyak, di sertai rasa denyut yang sangat perih. Bayangan wajah ceria Zhawa saat di pasar malam dulu mendadak berputar di otaknya, kontras dengan kondisi gadis itu yang kini duduk merana sendirian di lorong rumah sakit yang dingin. Ghufran tidak bisa membayangkan seberapa hancurnya perasaan gadis selembut Zhawa saat harus kehilangan cinta sejatinya secara tragis, dan kini harus berjuang sendirian demi kesembuhan sang ayah. Rasa kompetitifnya yang dulu berkobar, kini sepenuhnya berubah menjadi rasa empati yang sangat mendalam.

1
Nana Biella
penyesalan datang kan
Radya Arynda
sadar fran ghufran,,,,dholim sama istri itu yang parah
Nana Biella
lanjutkan
Radya Arynda
akhirnyaaa bangun juga,,,,ya zhawa di angurin biar aja bebas cari suami yang mencintainya
Ira Imel
di balik cuek bebe nya
Radya Arynda
mantap rian,,,biar ghufan bangun nanti sydah tidak menyalahkan mi
Nana Biella
ternyata si keponakannya sendiri
Enny Suhartini
semangat Rian 👍
Enny Suhartini
Alhamdulillah berlanjut lagi cerita nya
terimakasih
Indriani Kartini
dzolim sih sama istri jdi usahanya hmpir bangkrut
Radya Arynda
semogah saat kamu bangun nanti sudah ngaak sombong dan angkuh lagi fran ghufran
Ira Imel
menurutku cerita ini sangat menarik ada sedih ketawa keluargah bahkan sangat menghibur
Ira Imel
kejutan inmah yeyeyehhh di lanjut😄
Indriani Kartini
sombong bngt kamu, ktanya dah tobat, masa masalh seoerti itu aja ga termaafkan dasar bujang lapuk
Rima R P
alhamdulilah di lanjut lagi semangat thor😍
Radya Arynda
haguh ghufran,,,kamu akan menyesal kalau udah bangkrut Bari tau rasa
Rohmi Yatun
ehh ternyata dilanjutkan lg ni novel.. makasih Thor.. semangat ya👍💪
Indriani Kartini
klau jodoh ga akan ke mana
Siti Hawa
kasihan jahwa gufran pora2 ga pefuli
Siti Hawa
jahra harus bersabar menunggu gunung es cair
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!