"Saya nikahkan engkau dengan Rasti Nugroho binti Adi Nugroho dengan mas kawin satu set perhiasan emas dan uang seratus juta rupiah di bayar tunai"
"Saya terima nikah Rasti Nugroho binti Adi Nugroho dengan mas kawin tersebut tunai" sahut Xena.
"Sah"
" Sah"
Air mata Rasti mengalir deras. Dengan cepat ia mengusapnya agar tak terlihat oleh ibu dan adiknya. Sementara itu Budi ayah Xena tersenyum senang. Namun berbeda dengan Mira istrinya ,raut wajahnya menunjukkan ketidaksenangan melihat pernikahan putranya. Namun ia sebisa mungkin menutupinya.
"Selamat ya Nak, kini kau sudah menjadi seorang istri." ucap Siti, ibu Rasti sambil memeluk putrinya.
Rasti hanya bisa mengangguk pelan. Sungguh ini suatu mimpi buruk baginya. Ia tak pernah mengira akan menikah dengan pria yang sama sekali belum mengenalnya bahkan untuk melihat juga belum pernah.
"Siti, terima kasih atas semuanya. Akhirnya hutangku pada sahabatku lunas. Kini aku akan menjaga Rasti seperti putriku sendiri." Ujar Budi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irh Djuanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sandra murka mengetahui kebenarannya
"Katakan padaku, dia lebih dari sekedar sepupu bagimu, bukan?" ucap Sandra.Suaranya lebih rendah tapi menusuk.
"Bahkan caramu menatapnya saja sudah terlhat jelas," tambahnya.
Xena yang berdiri di dekat pintu terhenti. Tangannya masih menggenggam kunci mobil. Ia tidak langsung menoleh. Ruangan kembali sunyi beberapa detik. Hingga akhirnya Xena membuka suara.
"Apa yang ingin kau dengar?" ucap Xena akhirnya, tanpa berbalik.
Sandra tersenyum tipis. Ia melangkah mendekat lagi, seolah belum siap benar-benar pergi.
"Kebenaran."
Xena menghela nafas pelan. Rahangnya mengeras, " Kebenaran tidak mengubah apa pun."
"Tapi setidaknya aku tidak dipermainkan," balas Sandra cepat.
Kali ini Xena menoleh. Tatapannya langsung jatuh ke Sandra. Tajam dan dalam. "Aku tidak pernah mempermainkan mu."
Sandra tertawa kecil, "Tidak? Lalu ini apa?"
"Kau menjauh, kau berubah dan sekarang. Kau membelanya."
Langkah Sandra berhenti tepat di depan Xena, "Katakan saja. Siapa dia sebenarnya?"
DEG
Xena tidak langsung menjawab. Dan diamnya terlalu lama. Sandra tersenyum kecut. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Kalau kau tidak ingin menjawabnya, aku rasa... hubungan kita..."
"Dia istriku," jawab Xena seketika.
Kalimat itu jatuh begitu saja. Tanpa ragu. Tanpa jeda. Dan menghantam tepat pada sasaran. Sandra membeku. Senyum yang tadi masih tersisa...perlahan hilang. Matanya membesar, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Apa?" suaranya nyaris tak terdengar.
Xena kini benar-benar menoleh. Tatapannya lurus dan tidak menghindar.
"Dia istriku."
Kali ini leboh jelas. Tegas dan tak bisa ditarik lagi. Sandra mundur satu langkah. Tangannya gemetar pelan.
"Kau bercanda,kan?"
Xena tidak menjawab.
"Sejak kapan?" tanya Sandra cepat. Nafasnya mulai tidak teratur.
"Sejak kapan kau menikah?!"
"Beberapa hari yang lalu."
"Dan kau tidak mengatakan apapun padaku?"
Xena terdiam sesaat, "Itu bukan sesuatu yang perlu dibicarakan."
Kalimat itu seperti tamparan kedua. Sandra menatapnya tak percaya. Air matanya akhirnya jatuh, satu persatu.
"Jadi selama ini... aku apa?" suaranya bergetar.
Xena menahan nafas sejenak. Jawaban itu ada. Tapi bahkan dia sendiri tau, tidak ada kata yang bisa memperbaiki keadaan.
"Aku tidak pernah menganggap mu permainan."
"Bukan itu yang kutanyakan!" potong Sandra, kali ini suaranya meninggi.
Ia mendekat, mendorong dada Xena pelan."Aku tanya sekali lagi. Aku ini apa di hidupmu?!"
Xena menutup mata sejenak. Lalu membukanya kembali.
"Kau penting."
Sandra tertawa pahit, "Penting? Tapi bukan yang utama."
Xena terdiam. Sekali lagi diamnya itu menjawab semuanya. Sandra mengangguk pelan. Bibirnya bergetar. Air matanya terus jatuh, tapi kali ini dia tidak berusaha menghapusnya.
"Hebat... Aku tak menyangka aku bisa sebodoh ini."
Ia mundur beberapa langkah. Menatap Xena untuk terakhir kalinya.
"Dia tahu?" tanya Sandra seketika.
Xena mengernyit, "Soal apa?"
"Tentang aku?"
"Dia tau posisinya."
Sandra menarik nafas dalam. Kali ini lebih tenang. Tapi justru itu membuat suasana terasa lebih dingin.
"Kalau begitu... aku tidak punya alasan untuk bertahan lagi." ia meraih tasnya.
"Sandra, tunggu!"
"Aku bisa jelaskan segalanya. Aku tak ingin kita berpisah,"lanjut Xena, nadanya rendah tapi cukup untuk menahan Sandra pergi.
Sandra berhenti. Tangannya masih menggenggam gagang pintu. Bahunya naik turun pelan, menahan sesuatu yang sejak tadi ia tahan. Perlahan ia berbalik. Menatap Xena lagi. Tatapan yang kali ini berbeda. Bukan lagi menuntut tapi terluka.
" Aku tidak ingin mendengarkan penjelasan apapun!"
"Sandra, aku mohon! Dengarkan aku sekali saja. Aku tidak akan membohongi mu. Aku bersumpah."
Sandra mendekat, tapi kali ini tidak se-angkuh sebelumnya.
"Kau memilih menikah dengannya dan menjadikan aku yang pilihan kedua."
Xena menghela nafas berat. Ia maju satu langkah.
"Aku tidak pernah menempatkan mu sebagai pilihan kedua."
"Lalu apa?"
"Aku terpaksa menikahinya. Karena ayahku yang memintanya. Aku tidak bisa menolaknya."
Sandra terdiam. Kalimat itu menggantung di antara mereka. Bukan karena keras tapi karena terlalu dingin.
"Terpaksa?" ulang Sandra pelan.
Matanya menatap Xena lebih dalam, mencoba mencari celah, kebohongan, penyesalan, atau bahkan sekedar rasa bersalah.
"Kau menikah karena terpaksa?"
Xena mengangguk tipis. Rahangnya masih mengeras.
"Aku di jodohkan. Dan aku tak bisa menolak."
Sandra tertawa kecil. Kali ini bukan marah, lebih seperti tidak percaya.
"Menarik. Seorang Xena yang selalu melakukan apa yang dia mai tiba-tiba tidak punya pilihan?"
Xena tidak menjawab. Dan diamnya semakin membuat masalah untuknya. Dan Sandra mendekat satu langkah dengannya.
DEG
Xena terdiam. Sandra tersenyum getir melihatnya, "Itu bukan reaksi orang terpaksa, Xena."
"Aku tau mana keterpaksaan dan mana perasaan Dan sikapmu padanya tadi kepadanya bukan keterpaksaan." lanjut Sandra, matanya kembali berkaca-kaca.
Xena mengalihkan pandangan. Untuk pertama kalinya, ia terlihat tidak setenang biasanya.
"Aku hanya tidak suka caramu merendahkan nya."
"Kenapa karena dia istrimu?" potong Sandra cepat.
Kali ini Xena tetap diam. Sandra menghela nafas panjang. Tangannya yang tadi gemetar kini perlahan mengepal lalu melepas lagi.
"Lucu sekali. Kau bilang menikah karena terpaksa, tapi kai mulai membelanya." Ia tersenyum getir,tapi matanya basah.
Xena menatapnya lagi. Melangkah satu langkah tepat ke arah Sandra.
"Jangan menyimpulkan hal yang tidak kau tau. Kau penting bagiku. Bahkan aku rela melakukan apapun untukmu."
Sandra tertawa kecil, " Apapun?"
"Kalau begitu ceraikan dia!"
DEG
Ruangan mendadak terasa sempit. Tatapan Xena berubah. Bukan lagi tajam seperti biasa, tapi seseorang yang baru saja didorong ke sudut yang tidak ia siapkan. Sandra menatapnya lekat. Menunggu. Tidak berkedip.
"Apa?"
"Ceraikan dia," ulang Sandra, kali ini lebih tegas.
"Sandra, itu tidak sesederhana yang kau pikirkan."
"Jika aku penting bagiku, maka buktikan!" potong Sandra cepat.
Xena mulai mendekat, mencoba menenangkan Sandra yang mulai kehilangan kepercayaan.
"Beri aku waktu, aku akan membuktikannya padamu."
***
Sementara itu, mobil yang ditumpangi Rasti melaju tanpa tujuan jelas.
"Pak, kita tidak langsung pulang," ucap Rasti pelan.
Aiman sedikit terkejut, "Lalu kemana, Nyonya?"
"Kemana saja yang penting bukan ke rumah."
Aiman terdiam sejenak. Lalu mengangguk pelan
"Baik."
Mobil itu terus melaju pelan. Lampu kota mulai menyala satu persatu. Jalanan yang tadinya ramai perlahan berubah lebih lengang. Rasti masih menatap keluar jendela. Pantulan wajahnya samar terlihat di kaca. Tenang tapi kosong. Aiman beberapa kali meliriknya lewat kaca spion.
Mobil akhirnya melambat saat melewati sebuah taman kota yang mulai sepupu. Lampu taman menyala redup, hanya beberapa orang terlihat duduk di bangku-bangku kayu.
"Berhenti di sini, Pak," ucap Rasti tiba-tiba.
Aiman mengerem perlahan, "Baik."
Rasti membuka pintu. Angin sora yang mulai dingin langsung menyambut. Ia melangkah keluar, lalu berjalan pelan ke salah satu bangku taman. Aiman tidak ikut turun. Tapi ia tetap memperhatikan dari dalam mobil.
Rasti duduk. Tangannya masih menggenggam tas bekal itu lagi. Dan untuk pertama kalinya sejak dati kantor, bahunya sedikit bergetar. Ia menunduk. Nafasnya tertahan.
"Kenapa sesakit ini?" gumamnya hampir tidak terdengar.
Padahal dari awal dua sudah tau. Dia bahkan yang membuat jarak, mengikat mereka dalam sebuah perjanjian. Tapi entah kenapa melihat Sandra hatinya terasa sakit.