Seorang pria mati dengan penyesalan karena gagal menegakkan kebenaran.
Ia terlahir kembali sebagai pengacara magang yang diremehkan...dan mendapatkan Sistem Keadilan Absolut kemampuan untuk melihat kebohongan, mengungkap fakta tersembunyi, dan menentukan putusan paling adil.
Dari kasus kecil hingga konspirasi besar, ia mulai mengguncang dunia hukum yang korup.
Namun satu hal segera ia sadari...
Keadilan sejati tidak selalu sama dengan hukum.
Dan kali ini...dia yang akan menentukan mana yang benar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Kasus ini pun selesai, dan dalam sekejap namanya melesat menduduki puncak daftar tren di media sosial! Tak ada yang menyangka, satu perkara sederhana bisa memicu kehebohan sebesar ini.
Seorang pengacara magang berhasil membuat pihak lawan dua wanita yang dulu disanjung banyak orang masuk penjara. Tapi bukan hanya itu. Arga juga sukses menyeret pengacara lawan, mantan hakim ketua, hingga psikiater nakal ke balik jeruji besi juga.
Pengacara profesional? Kalimat itu jadi dipertanyakan. Apa benar dia masih berstatus magang?
Judul-judul berita bermunculan di mana-mana:
[Pengacara Magang Berhasil Masukkan Pengacara dan Hakim Lawan ke Penjara!]
[Kasus Tuduhan Palsu di MRT Berakhir: Keadilan Ditegakkan!]
[Pengacara Magang Bernama Arga: Apakah Dia Benar-Benar Belum Berpengalaman?]
Setelah viral, firma hukum tempat Arga bekerja pun tiba-tiba jadi sangat terkenal. Ribuan orang jadi tahu sosok pengacara muda bernama Arga, dan netizen pun dengan sukarela memberinya julukan baru: "Si Gila Tanpa Hukum".
"Si Gila Tanpa Hukum Arga, hebat banget!!"
"Inilah definisi pengacara sejati. Semua pihak yang berbuat salah di sisi lawan, dia masukkan semuanya ke penjara!"
"Dulu saya kira ini cuma lelucon di internet. Nggak nyangka Arga beneran berani jatuhkan hakim ketua. Wah, luar biasa!"
"Saya lagi ada masalah hukum nih! Mau konsultasi sama Pengacara Arga, caranya gimana ya?"
"Mas Arga, firma hukumnya di mana? Saya mau serahkan kasus saya ke Bapak!"
Komentar positif berdatangan tak terhitung jumlahnya. Akun media sosial Arga di TokTok dan Instagram yang baru saja dia verifikasi pun langsung meledak. Pengikutnya di TokTok yang tadinya cuma 100 orang, dalam hitungan hari langsung melonjak jadi 200.000 orang, dan angkanya terus naik setiap detiknya!
Padahal Arga belum pernah memposting satu pun video atau foto... tapi orang-orang tetap berdatangan berbondong-bondong. Video-video yang jadi tren adalah potongan rekaman sidang yang diunggah orang lain, menampilkan momen-momen saat Arga membongkar kejahatan, menjatuhkan lawan, hingga memasukkan semuanya ke penjara.
[Pengacara Arga — Si Gila Tanpa Hukum yang Legendaris!]
"Beneran si Gila Tanpa Hukum asli nih! Saya nonton TokTok aja, jangan-jangan saya ikut ditangkap ya?"
"Enggak, Sobat di atas, kamu udah divonis seumur hidup lho hahaha!"
"Saya cuma nonton doang kok, eh tadi ada polisi mau jemput ke rumah. Gimana nih, nungguin aja ya? —"
Setelah menyelesaikan sidang itu, Arga pun kembali ke kantor firma hukumnya.
Tiba-tiba di dalam kepalanya terdengar suara bising yang hanya dia yang bisa dengar, seolah ada notifikasi sistem yang muncul:
[Ding, Selamat Tuan telah berhasil menyelesaikan perkara!]
[Hadiah: Bonus tunai sebesar 200 juta Rupiah, dana akan dikirimkan melalui jalur sah dan resmi.]
[Misi Baru: Menangani satu perkara lagi. Hadiah: 300 juta Rupiah, ditambah kemampuan "Mata Penglihatan Tajam". Kemampuan ini memungkinkan Tuan Rumah melihat segala celah hukum dalam setiap kasus, bahkan bisa memulihkan rekaman CCTV yang sudah dihapus bertahun-tahun lalu!]
Arga hanya mengerutkan kening bingung di dalam hati: "???"
Dia membuang jauh-jauh dulu soal hadiah itu.
Tapi... mana hadiah 200 juta yang disebut sistem tadi?
Dia sudah capek seharian berdebat di pengadilan, dapat bayaran pengacara yang jumlahnya lumayan, tapi mana hadiah uang tunai yang dijanjikan itu?
Saat dia sedang bingung dan menggerutu sendiri, tiba-tiba ada ketukan di pintu ruangannya.
Masuklah Bimo, kliennya yang baru saja menang kasus. Wajahnya penuh rasa syukur.
"Pak Arga! Terima kasih banyak ya, sudah tolong saya sampai sejauh ini! Kalau bukan karena Bapak, pasti dua wanita itu bakal lolos begitu saja. Bukan cuma enggak minta maaf, mereka malah minta saya yang harus bayar uang ke mereka. Hari ini Bapak harus terima ini, nggak boleh nolak!"
"Saya juga nggak nyangka Bapak sampai memasukkan mereka berdua ke penjara! Tujuh tahun! Rasanya puas banget, lega banget! Berapapun uang yang saya keluarkan buat hukum orang-orang kayak mereka, rasanya sangat pantas supaya mereka tahu konsekuensinya!"
Bimo menyerahkan sebuah piagam ucapan terima kasih dan sebuah tas kerja besar ke meja Arga.
"Di sini ada 200 juta Rupiah, tanda terima kasih saya sama Bapak! Harap diterima ya, Pak!"
Bimo memaksa dan ngotot agar uang itu diterima. Arga pun akhirnya tak punya pilihan selain menerimanya. Ternyata ini mungkin cara sistem bekerja, pikirnya dalam hati.
"Ngomong-ngomong Pak Arga, saya ada saran nih. Coba Bapak pertimbangkan buat siaran langsung sidang atau diskusi hukum gitu. Banyak banget orang yang kepingin lihat cara Bapak bekerja. Kalau Bapak buka siaran langsung sambil kerja dan menjelaskan hukum, pasti rame banget penontonnya dan pasti dapat pemasukan tambahan yang lumayan besar!" saran Bimo dengan antusias.
"Hmm... bener juga ya, nanti saya coba pikirkan dan coba jalani," jawab Arga. Dia merasa saran itu masuk akal. Kenapa tidak? Bisa dapat uang tambahan, bisa bantu orang lain, sekalian jadi makin terkenal.
Meski sekarang dia sudah punya bantuan sistem dalam dunia hukum ini...
Padahal Arga sendiri sebenarnya sudah sangat hebat. Di atas kertas dia cuma pengacara biasa, tapi kemampuan aslinya setara pengacara kelas atas, bahkan jauh lebih profesional dan tajam dibandingkan mereka. Pengacara-pengacara terbaik di firma hukum besar pun belum tentu bisa menandingi kemampuannya.
Saat ini Arga baru mendirikan firma hukum kecil, modal pas-pasan, dan gedung kantornya pun tidak terlalu megah. Tapi kalau nanti sudah punya uang lebih, dia berencana pindah ke gedung yang lebih besar dan lebih bagus.
After dia mengantar Bimo keluar, Arga mulai mulai mencari informasi soal cara kerja siaran langsung.
Sementara itu, di salah satu firma hukum terbesar dan paling bergengsi di Indonesia — Firma Hukum Mahendra & Partners, yang berpusat di Jakarta Selatan.
Direktur firma, Pak Yusril, dan pengacara andalan mereka, Atta, sudah mengikuti perjalanan kasus Arga dari awal sampai akhir dengan saksama.
Pak Yusril mengangguk puas saat melihat hasil akhir kasus itu.
"Dengan kemampuan sehebat Arga, mustahil dia cuma berstatus pengacara magang. Bakatnya, pengetahuannya, dan profesionalismenya jauh melampaui standar pengacara muda biasa. Cara berpikir dan logika hukumnya sangat tajam. Pengacara andalan di sini pun belum tentu bisa setinggi dia. Menurutku, kita harus pertimbangkan untuk mengundang Arga bergabung ke Firma Hukum Mahendra kita," kata Yusril pelan namun tegas.
Atta yang mendengar itu sampai terkejut besar.
Firma Hukum Mahendra itu kan salah satu firma hukum papan atas di negeri ini! Selalu masuk jajaran dua besar nasional, namanya harum sampai ke luar negeri!
Bekerja di sana adalah impian ribuan pengacara. Gajinya sangat tinggi, fasilitasnya lengkap, dan biasanya mereka hanya menerima pengacara yang sudah sangat berpengalaman dan ahli. Standar masuknya sangat sulit. Gaji pokok saja sudah mulai dari 60 juta Rupiah sebulan, belum termasuk bagi hasil dari setiap kasus. Di sana, mendapatkan penghasilan lebih dari satu miliar setahun itu hal biasa.
Tapi direktur ingin langsung merekrut Arga, yang notabene masih magang?
"Pak Bos, saya akui Arga menangani kasus ini dengan sangat brilian. Dia berhasil melakukan hal yang kebanyakan orang anggap mustahil. Tapi kan baru satu kasus, Pak? Belum cukup bukti kalau dia konsisten sejauh itu. Lagipula kasus ini kan sudah terekspos luas, jadi hakim dan pihak terkait pasti berhati-hati dan jujur. Belum tentu di kasus lain hasilnya sama bagusnya. Menurut saya, mengundang dia masuk langsung ke Mahendra Lawyers... rasanya dia belum memenuhi standar kita toh dia kan baru magang..." bantah Atta sopan.
Bukan dia meremehkan Arga, tapi standar di Mahendra memang sangat tinggi. Dan menerima orang begitu saja hanya karena satu kasus sukses, rasanya terlalu terburu-buru.
Yusril tersenyum tenang sambil menatap layar yang menampilkan berita tentang Arga.
"Satu kasus saja sudah cukup untuk melihat kemampuan dasar seseorang. Secara keseluruhan, kemampuan Arga sudah lebih kuat dari banyak pengacara berpengalaman. Nanti saya akan minta staf untuk hubungi dia, dan mencoba menawari posisi sebagai pengacara penuh di sini. Potensi Arga jauh melampaui apa yang bisa kita bayangkan, Atta. Dia bakal jadi aset terbesar kita," jawab Yusril penuh keyakinan.
semangat author/Determined/
tapi kali ini, saya akan lawan💪
semoga endingnya nggak mengecewakan🤭