NovelToon NovelToon
Aku Kaya Berkat Sistem Penagih Utang Akhirat

Aku Kaya Berkat Sistem Penagih Utang Akhirat

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

​Darren hanyalah sampah di mata dunia. Sebagai penagih pinjol ilegal, hidupnya habis untuk dihina debitur sombong, disiksa bos yang brengsek, hingga akhirnya dicampakkan anak-istri di titik terendah.
​Beruntung maut di sebuah gudang tua itu justru menjadi awal dari segalanya. Saat nyaris mati dikeroyok, sebuah notifikasi muncul di hadapannya:
​[Sistem Penagih Utang Akhirat Diaktifkan]
Kemudian dunia berubah menjadi deretan angka. Darren kini mampu melihat Utang Keberuntungan dan Utang Umur setiap orang. Dari pengusaha korup hingga pejabat sombong, semua memiliki utang rahasia yang tak bisa lunas dengan uang. Sedangkan Darren adalah algojo yang berhak menarik paksa semuanya.
​Dari pecundang yang dipandang sebelah mata, menjadi penguasa finansial dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Enam Jam Saja

Dengan perasaan yang sulit dijabarkan akibat rasa penasaran yang bercampur amarah yang mendidih, Darren segera duduk di depan meja untuk menyalakan laptopnya. Dia mencari satu nama yang kini menjadi pusat kegelisahannya, yaitu Alvino Chandra. Tepat di depan matanya, hasil pencarian menampilkan citra seorang pengusaha properti yang luar biasa, dermawan, sekaligus pria keluarga yang teladan.

Tentu saja, hal itu memaksa Darren untuk menyipitkan mata saat membaca deretan artikel yang memuja keberhasilan pria itu. Semua informasi itu terasa terlalu sempurna, bahkan terlampau bersih untuk ukuran seorang pemain besar di industri yang keras. Tidak ditemukan berita negatif atau skandal serius selain rumor kedekatan dengan seorang perempuan asal Bekasi. Darren menyadari bahwa kesempurnaan yang dipaksakan seperti ini justru merupakan sinyal adanya sesuatu yang sedang disembunyikan rapat-rapat.

Ponsel pun segera diraih untuk menghubungi Seo yeon. Sampai wanita itu menjawab pada dering kedua.

“Saya membutuhkan data komplit mengenai Alvino Chandra. Segalanya, termasuk hal-hal yang tidak muncul di permukaan media,” kata Darren dengan nada bicara yang sangat formal.

Seo yeon sempat terdiam sebentar di seberang telepon. “Saya bisa mencarinya untuk Anda, namun Anda harus jujur kepada saya. Mengapa Anda mendadak sangat tertarik pada pengusaha ini?”

Lantas Darren menarik napas panjang, menatap layar laptop yang menampilkan wajah Alvino yang tersenyum palsu. “Pria ini sedang mendekati mantan istri saya. Oleh karena itu... saya memiliki firasat bahwa dia bukan orang baik.”

Mendengar pengakuan itu, Seo yeon tidak berniat menggali lebih jauh. “Berikan saya waktu satu jam. Saya akan melihat apa yang bisa saya temukan di balik topengnya.”

Panggilan video dari Seo yeon masuk tepat satu jam kemudian. Wajah wanita itu tampak serius.

“Saya memiliki dua informasi untuk Anda, Pak Darren,” kata Seo yeon. “Salah satunya mungkin akan membuat Anda merasa di atas angin, namun satu lagi bisa dipastikan akan memicu kemarahan Anda.”

“Sampaikan saja semuanya sekarang,” balas Darren sembari memberikan isyarat agar Seo yeon langsung menyampaikan temuannya.

Alhasil, Seo yeon membeberkan fakta bahwa Alvino Chandra dikenal di kalangan jurnalis ekonomi tertentu karena gaya hidup gelapnya. Pria itu dilaporkan memiliki setidaknya tujuh perempuan simpanan yang tersebar di berbagai kota bahkan negara berbeda. Alvino bahkan sudah lama tidak tinggal dalam satu atap dengan istri pertamanya.

“Buset, tujuh cewek simpanan sekaligus? Bener-bener maruk nih orang. Emang gak ada kenyangnya ya jadi orang kaya,” batin Darren sembari menatap layar dengan tajam.

Sementara Han Seo yeon melanjutkan laporannya dengan menyebutkan nama Rina yang muncul beberapa kali dalam catatan transaksi keuangan Alvino. Namun, sejak satu minggu yang lalu, seluruh aliran dana itu mendadak terhenti total.

“Sumber saya menduga bahwa Alvino mulai bosan dan sudah mengalihkan perhatiannya pada mangsa yang baru,” tambah Seo yeon. “Lebih buruk lagi, Alvino sebenarnya sangat membenci anak-anak. Kedekatannya dengan putra Anda hanyalah taktik untuk meluluhkan hati ibunya.”

“Jadi Rina cuma jadi mainan doang buat nih bajingan? Terus Cello... dia mau buang anakku kalau udah bosen? Kurang ajar banget mainannya,” Darren merasakan sensasi pahit menjalar di kerongkongannya. Amarahnya tidak lagi terbendung. Tangannya mengepal sangat keras di atas meja hingga urat-uratnya keluar.

“Bagaimana cara paling efektif untuk membuat pria ini menjauh dari keluarga saya selamanya?” tanya Darren meski dia senpat menyesal karena kenapa pula dia meminta hal semacam ini ke wanita yang sejujurnya belum dia kenal dengan baik.

“Reputasi adalah senjatanya, maka itu juga kelemahannya,” jawab Seo yeon. “Jika publik mengetahui sisi gelapnya, seluruh kedok kedermawanannya akan hancur. Saya bisa mempublikasikan bukti-buktinya secara anonim jika Anda setuju.”

Darren menyadari bahwa menghancurkan Alvino lewat publikasi jauh lebih efektif. “Lakukan. Saya ingin dia merasakan bagaimana rasanya kehilangan segalanya dalam semalam.”

Seo yeon mengirimkan berkas elektronik yang berisi profil lengkap Alvino. Sedangkan Darren justru merasakan cemas saat membuka lampiran itu.

“Maafkan saya, Pak Darren. Ini pasti tidak mudah bagi Anda,” ucap Seo yeon.

“Anda tidak perlu meminta maaf. Ini adalah langkah yang memang harus saya tempuh,” jawab Darren. “Justru saya yang berhutang padamu kali ini. Terima kasih banyak.”

Setelah sambungan terputus, Darren mempelajari pola pergerakan harian Alvino. Hingga dirinya menyadari bila terdapat satu catatan koordinat yang sangat mencurigakan. Setiap Jumat malam, Alvino mengunjungi sebuah lokasi terpencil di kawasan industri Sunter tanpa didampingi pengawal.

Lantas Darren segera memeriksa titik koordinat itu di peta digital miliknya. Jantungnya berdegup lebih kencang saat menyadari bahwa lokasi itu merujuk pada gudang tua tempat dirinya hampir meregang nyawa dahulu.

“Ngapain bos ini ke tempat kumuh gitu? Mau main kotor apalagi dia di sana?” Darren bertanya-tanya, hingga notifikasi sistem muncul dengan peringatan yang sangat mengejutkan.

Sistem memberi peringatan. Target Alvino Chandra terdeteksi memasuki zona dengan energi negatif terkonsentrasi tinggi. Nilai moral target berfluktuasi tidak stabil. Perlindungan keberuntungan alami melemah lebih cepat dari perkiraan.

Darren membaca barisan teks itu dengan saksama. Estimasi terbaru menunjukkan bahwa perisai keberuntungan Alvino akan lenyap dalam waktu empat puluh menit saja. Darren menduga bahwa energi negatif dari gudang Sunter telah merusak pertahanan moral milik Alvino.

Meski begitu, Darren menunggu dengan sabar sembari terus memantau pergerakan waktu. Empat puluh menit akhirnya berlalu. Notifikasi sistem kembali muncul, menyatakan bahwa perlindungan keberuntungan Alvino Chandra telah berakhir sepenuhnya.

“Nah, mampus lo. Sekarang waktunya bayar utang, Alvino,” batin Darren dengan penuh tekad. Dia segera mengaktifkan menu penarikan paksa lima persen dan menekan tombol konfirmasi dengan penuh keyakinan. Namun, layar mendadak berkedip dengan warna merah yang menandakan kegagalan transaksi.

Tagihan gagal. Alasan target berada di luar jangkauan sistem. Jarak antara pengguna dan target 2,7 kilometer melebihi batas maksimal level 1. Batas jarak efektif 500 meter.

Kali ini Darren benar-benar terpaku di depan layar laptopnya. Rasa kecewa yang amat besar menghantam hatinya seketika.

“Sialan! Kenapa aku bisa lupa soal batas jarak itu?” gumam Darren sambil mengacak-acak rambutnya.

Penarikan keuntungan besar sebesar Rp2,39 miliar kini tertunda hanya karena dirinya berada terlalu jauh dari mangsanya.

Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, namun Darren menyadari bahwa malam masih sangat panjang. Dia menatap peta Sunter di layar laptop untuk sekedar memahami bahwa satu-satunya cara untuk mengeksekusi tagihan itu adalah dengan mendekati lokasi gudang tersebut.

Alhasil Darren segera mengirimkan pesan kepada Seo yeon melalui aplikasi obrolan. “Apa yang Anda ketahui mengenai gudang di koordinat ini?”

Ajaibnya Seo yeon membalas dengan cepat. “Alvino membeli lahan itu tiga bulan lalu. Kabarnya untuk pembangunan apartemen, namun izinnya belum keluar. Dia sering ke sana sendirian untuk melakukan pemeriksaan lokasi.”

Darren pun menarik napas dalam, memantapkan keputusannya. Dia harus pergi ke sana malam ini juga. Dia segera mengetik balasan terakhir untuk Seo yeon. “Saya akan ke sana. Tetaplah waspada dan jaga diri Anda baik-baik. Orang ini jauh lebih berbahaya daripada kelihatannya.”

“Lima ratus meter doang kan? Aku cuma perlu deketin nih orang biar bisa nagih, terus pulang” pikir Darren sembari menyambar jaketnya, bersiap menembus kegelapan malam menuju kawasan industri Sunter.

1
Bg Gofar
mantap gan
DanaBrekker: terima kasih 👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!