NovelToon NovelToon
Bayang Koridor Di Utara

Bayang Koridor Di Utara

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Romantis
Popularitas:854
Nilai: 5
Nama Author: nana_2

Saat pindah ke SMA Arkana, sekolah tua yang terkenal karena rumor siswa hilang dan lorong terkutuk, seorang gadis dingin bernama Naresha justru tertarik membongkar rahasia itu. Di tengah penyelidikannya, ia terjebak hubungan rumit dengan Arven — ketua OSIS yang tenang, tampan, namun menyimpan sesuatu yang menyeramkan.

Semakin dekat mereka, semakin banyak kejadian aneh terjadi. Bisikan di kamar mandi kosong, bayangan tanpa wajah, hingga siswa yang menghilang satu per satu.

Dan ternyata… sekolah itu memang menyimpan sesuatu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nana_2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3 — Ketua OSIS Aneh

Semalaman Naresha tidak bisa tidur.

Ia terus memutar tubuh di atas kasurnya sambil menatap langit-langit kamar yang gelap. Hujan turun pelan di luar rumah, menciptakan suara rintik yang seharusnya menenangkan.

Namun bukan tenang yang dirasakan Naresha.

Melainkan gelisah.

Bayangan lorong lantai tiga itu terus muncul di kepalanya.

Rantai besi.

Suara perempuan menangis.

Dan sosok menyeramkan yang berdiri di ujung lorong gelap.

Naresha menarik selimut sampai dagunya.

“Halusinasi doang pasti,” gumamnya pelan.

Tapi ia tahu dirinya sedang berbohong.

Karena yang paling mengganggu justru bukan sosok perempuan itu.

Melainkan ekspresi Arven.

Cowok itu terlihat benar-benar takut.

Dan itu membuat Naresha semakin yakin kalau lorong tersebut memang menyimpan sesuatu.

Tiba-tiba—

Krekkk…

Naresha langsung membuka mata lebar.

Suara itu terdengar dari arah jendela kamarnya.

Pelan.

Seperti ada sesuatu yang menggesek kaca.

Napas Naresha tertahan.

Ia perlahan duduk sambil menatap jendela kamar yang tertutup tirai abu-abu.

Krekkk…

Suara itu terdengar lagi.

Jantung Naresha mulai berdetak lebih cepat.

“Jangan freak out. Paling ranting pohon.”

Ia memberanikan diri bangkit lalu berjalan mendekati jendela.

Pelan.

Tangannya meraih tirai.

Dan saat tirai itu dibuka—

Kosong.

Tidak ada siapa-siapa.

Naresha menghela napas lega.

Namun beberapa detik kemudian tubuhnya membeku.

Karena di kaca jendela…

Ada bekas telapak tangan basah.

Keesokan paginya, Naresha datang ke sekolah dengan wajah lelah akibat kurang tidur.

Langit masih mendung.

Udara terasa dingin.

Begitu masuk gerbang SMA Arkana, beberapa siswa langsung memandanginya sambil berbisik pelan.

“Dia anak baru yang kemarin ke lantai tiga itu ya?”

“Iya katanya dilihat Arven.”

“Berani juga.”

Naresha memutar mata malas.

“Baru juga sehari.”

Ia berjalan menuju kelas sambil memasukkan kedua tangan ke saku hoodie hitamnya.

Namun langkahnya terhenti saat melihat seseorang bersandar di dekat pintu kelas.

Arven.

Cowok itu berdiri diam sambil menatap ke arah jendela koridor.

Seragamnya rapi seperti biasa.

Ekspresinya datar.

Tetapi wajahnya terlihat pucat.

Entah kenapa Naresha langsung teringat kejadian semalam.

Bekas tangan di jendela.

Dan suara aneh itu.

Saat menyadari Naresha datang, Arven langsung menoleh.

Tatapan mereka bertemu beberapa detik.

Aneh.

Jantung Naresha mendadak berdetak lebih cepat.

Naresha buru-buru membuang muka.

“Apaan sih.”

Namun Arven malah berjalan mendekatinya.

“Lo gapapa?” tanyanya tiba-tiba.

Naresha mengernyit.

“Hah?”

“Semalem.”

Deg.

Naresha langsung menatap Arven tajam.

“Lo tahu dari mana?”

Arven terdiam sebentar sebelum menjawab pelan.

“Biasanya mereka mulai ngikutin.”

Suasana koridor mendadak terasa lebih dingin.

“Mereka?” ulang Naresha.

Namun sebelum Arven sempat menjawab, seseorang muncul sambil memeluk bahu Naresha dari belakang.

“PAGIII!”

Keinan.

Naresha refleks menjauh.

“Lo kagetin gue aja.”

Keinan tertawa kecil lalu melirik Arven bergantian dengan wajah curiga.

“Eh bentar… kalian ngobrol?”

“Engga penting,” jawab Naresha cepat.

Arven memasukkan tangan ke saku celananya lalu berjalan masuk kelas tanpa bicara lagi.

Keinan langsung menyipitkan mata.

“Aneh.”

“Apanya?”

“Arven.”

Naresha duduk di bangkunya sambil mengeluarkan buku.

“Dia emang aneh.”

“Bukan itu. Dia ga pernah peduli sama siapa pun.”

Naresha diam.

Kalimat itu justru membuatnya semakin bingung.

Jam istirahat tiba.

Kelas mulai ramai karena sebagian siswa keluar menuju kantin.

Naresha sedang sibuk menulis di buku hitam kecil miliknya saat sebuah bayangan jatuh di mejanya.

Arven.

Cowok itu berdiri di samping mejanya sambil menatap buku hitam tersebut.

“Lo nulis apa?”

“Rahasia negara.”

“Lucu.”

Naresha mendecakkan lidah pelan.

“Ngapain?”

Arven terdiam beberapa detik sebelum berkata pelan,

“Abis ini ikut gue.”

“Hah? Kenapa gue harus ikut lo?”

“Karena kalau lo terus penasaran dan nyari tahu sendirian… itu bakal bahaya.”

Naresha langsung menatap Arven beberapa detik.

Tatapan cowok itu serius.

Tidak bercanda sedikit pun.

Dan anehnya…

Naresha percaya.

Arven membawa Naresha ke area belakang sekolah yang jarang dilewati siswa.

Tempat itu dipenuhi pohon besar dan bangku taman tua.

Suasananya sunyi.

Hanya suara angin yang terdengar pelan.

“Sekarang ngomong,” ujar Naresha sambil melipat tangan.

Arven duduk di bangku kayu tua lalu menatap lurus ke depan.

“Lorong lantai tiga itu ditutup bukan tanpa alasan.”

“Ya terus?”

“Ada yang meninggal di sana.”

Deg.

Naresha berusaha tetap tenang.

“Siapa?”

Arven menunduk sebentar.

“Seorang siswi.”

“Dan dia jadi hantu?”

Arven tidak menjawab.

Namun diamnya sudah cukup memberi jawaban.

Naresha menghela napas panjang.

“Lo serius bisa lihat beginian?”

“Kadang.”

“Kadang?”

“Kalau mereka mau nunjukin diri.”

Bulu kuduk Naresha perlahan meremang.

Ia mencoba tertawa kecil untuk mengurangi tegang.

“Gila. Hidup lo horror banget.”

Untuk pertama kalinya…

Arven tersenyum tipis.

Dan jujur saja, itu membuat suasana tiba-tiba terasa berbeda.

“Makanya gue bilang jangan dekat-dekat lorong itu,” ujar Arven pelan.

Naresha menatap wajah cowok itu cukup lama.

“Ada apa sebenernya sama sekolah ini?”

Senyum Arven perlahan menghilang.

Tatapannya berubah gelap.

“Sekolah ini nyimpen sesuatu yang belum selesai.”

Angin dingin tiba-tiba berembus lebih kencang.

Daun-daun pohon berguguran.

Dan tanpa sadar, Naresha merasa…

Seseorang sedang memperhatikan mereka dari kejauhan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!