NovelToon NovelToon
Mahendra'S Possessive Love

Mahendra'S Possessive Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa
Popularitas:725
Nilai: 5
Nama Author: Sonya_860

Dunia akan hancur ketika kita tidak menemukan pemilik hati yang sebenarnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sonya_860, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

​Ziva melajukan motornya membelah jalanan pagi yang mulai menghangat. Tujuannya adalah taman kota. Ia memutuskan untuk pergi ke sana karena biasanya, setiap hari Minggu, taman itu bertransformasi menjadi pusat kuliner kaki lima. Aroma mentega, bakso bakar, dan sate ayam yang tertiup angin seolah menjadi magnet bagi perutnya yang sudah meronta-ronta sejak kejadian tamparan "subuh" dari ibu tirinya.

​Namun, ada satu kekurangan besar dari taman kota di hari Minggu: populasi orang pacaran yang meningkat drastis. Bagi kaum jomblo seperti Ziva, pemandangan pasangan yang saling menyuapi atau bergandengan tangan di bawah pohon rindang adalah polusi mata yang membuatnya ingin memutar bola mata malas sampai ke belakang kepala.

​"Pak, nasi gorengnya satu, ya. Yang pedas pakai banget," seru Ziva saat sampai di gerobak nasi goreng langganannya.

​"Oke, Neng Ziva. Siap laksanakan!" sahut si penjual dengan ramah.

​Sambil menunggu pesanannya dibuat, Ziva mencari bangku taman yang agak jauh dari kerumunan, namun sialnya, tepat di depannya ada sepasang remaja yang tengah kasmaran. Si cowok terlihat sibuk merapikan rambut si cewek, sementara si cewek tersipu malu.

​"Pagi-pagi ke taman ini sebenarnya segar, tapi akan jauh lebih segar lagi kalau nggak melihat orang pacaran begini," gumam Ziva kesal. Ia membuang muka, menatap ke arah langit yang biru bersih.

​"Nasib jomblo ya begini. Ke sana-ke sini sendirian mulu, udah kayak nggak laku aja. Padahal memang gue nggak laku, sih. Hufttt!" Ziva menghela napas panjang, meratapi status cintanya yang masih statis di angka nol.

​"Udahlah, lagian cita-cita gue itu sekarang bukan lagi jadi dokter atau astronot. Cita-cita gue adalah jadi orang kaya tanpa kerja. Ya, contohnya nikah sama orang kaya yang gantengnya spek dewa. Pasti hidup gue tenang. Di rumah cuma leha-leha, skrol TikTok tiap hari, tiap jam, tiap detik. Nggak perlu lagi mikirin cuci piring, masak, cuci baju, apalagi mikirin kerja banting tulang buat biaya sekolah."

​Ziva tersenyum sendiri membayangkan dirinya menjadi seorang Nyonya Besar yang tinggal di rumah mewah dengan pelayan di mana-mana. "Iya, paling bener itu punya cita-cita jadi istrinya orang kaya. Kalau cuma pacaran mah bukan level gue. Itu cuma buang-buang waktu dan kuota batin."

​Pandangan Ziva kemudian beralih pada segerombolan orang yang tengah melakukan piknik keluarga di atas rumput hijau. Ada ayah, ibu, dan anak-anak yang tertawa bahagia sambil memakan bekal. Seketika, ulu hati Ziva terasa nyeri. Iri? Tentu saja. Ia merindukan momen itu. Momen sebelum "badai" bernama Ratna menghancurkan segalanya.

​"Hufttt, semoga saja Tuhan kasih gue petunjuk di mana calon suami kaya gue berada. Kalau calon suami gue banyak uang, gue langsung tancap gas pol! Tapi kalau calon suami gue modelan preman atau jamet, gue mundur alon-alon deh. Daripada hidup gue jadi makin berantakan, mending menjomblo sampai negara api menyerang," gumamnya pelan. Ia bergidik ngeri membayangkan harus hidup dengan pria berpenampilan acak-adakan yang hobi memalak di lampu merah.

​"Ini Neng, nasi gorengnya. Maaf ya Neng, jadi nunggu lama, tadi kerupuknya habis jadi Mang ambil dulu," ucap si penjual nasi goreng sambil menyodorkan piring plastik berisi nasi goreng yang masih mengepulkan uap panas.

​"Ah, nggak apa-apa Mang. Makasih ya," sahut Ziva kembali ceria.

​"Iya, sama-sama Neng. Mangga dinikmati nasi gorengnya."

​"Oke, Mang!"

​Ziva menatap binar nasi goreng dengan topping potongan sosis dan telur ceplok setengah matang di atasnya. Sangat menggiurkan. Tanpa menunggu aba-aba, ia menyendok nasi goreng itu dengan porsi yang cukup besar.

​Hap!

​Satu sendok penuh masuk ke dalam mulutnya. Pipinya langsung mengembung, bibirnya mengerucut lucu karena sibuk mengunyah. Ziva menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri secara ritmis—sebuah kebiasaan refleks saat ia memakan sesuatu yang sangat enak. Rasanya masih sama seperti bertahun-tahun lalu; gurih, pedas, dan bumbunya meresap sampai ke butiran nasi terdalam. Nasi goreng ini adalah pelipur lara paling manjur setelah drama tamparan pagi tadi.

​Namun, tanpa Ziva sadari, semua gerak-geriknya—mulai dari cara ia mengomel sendiri hingga caranya mengunyah dengan pipi chubby yang bergerak-gerak—tak pernah lepas dari tatapan tajam seseorang. Tak jauh dari bangku taman tempat Ziva duduk, berdiri seorang pria dengan postur tubuh tegap. Tatapannya setajam elang, dingin namun menyimpan kedalaman yang sulit diartikan. Apakah itu tatapan rindu? Cinta? Atau sebuah obsesi yang gelap? Hanya pria itu yang tahu.

​Tak hanya pria misterius itu, beberapa pengunjung taman yang lewat pun sempat menoleh ke arah Ziva. Mereka menatap gemas pada gadis berkaos oversize yang makan dengan sangat lahap itu. Mata bulat Ziva yang berkedip lucu ditambah gerakan kepalanya membuat siapa pun yang melihatnya merasa ingin mencubit pipinya. Namun Ziva tetaplah Ziva; ia tidak peduli dengan sekitar. Baginya, kenyang adalah prioritas nomor satu.

​"Argh, kenyangnya..." Ziva menyandarkan punggungnya pada senderan kursi kayu taman. Ia menepuk-nepuk pelan perutnya yang sudah buncit karena porsi nasi goreng yang brutal.

​"Sekarang 'anak-anak' di perut gue sudah pada kenyang. Saatnya gue menjalani kegiatan rutin sebagai asisten rumah tangga tanpa gaji di rumah itu. Hufttt. Semangat Ziva! Lo pasti bisa melewati hari Minggu yang berat ini!" Ziva menyemangati dirinya sendiri dengan senyum lebar yang dipaksakan.

​Ia bangkit, lalu berjalan menuju gerobak Mang Nasi Goreng. "Mang, ini uangnya. Kembaliannya ambil saja buat jajan anak Amang," ucap Ziva menyerahkan selembar uang berwarna hijau. Meski hidupnya sulit, Ziva tidak pernah pelit jika menyangkut berbagi rezeki kecil.

​"Waduh, makasih banyak ya Neng!"

​Ziva hanya memberikan jempol dan tersenyum tipis. Ia segera menghidupkan motor matic-nya, melaju membelah jalanan kota menuju rumah besar peninggalan ibunya—rumah yang kini terasa seperti penjara baginya.

​Sesampainya di depan gerbang rumah yang terbilang cukup megah itu, Ziva sempat terdiam sejenak. Ia memandangi arsitektur bangunan yang dulunya penuh dengan tawa dan kehangatan, namun kini terasa dingin dan asing. Kenangan bersama kedua orang tuanya yang dulu selalu ada untuknya sempat melintas, sebelum akhirnya ia tersadar dan kembali menguatkan hati.

​"Huft, semangat Ziv," bisiknya. Baginya, kehilangan kasih sayang orang tua di usia dini adalah luka yang tak pernah benar-benar mengering.

​Ceklek.

​Ziva membuka pintu utama. Matanya langsung disuguhi pemandangan yang memuakkan. Ruang tamu berantakan. Bungkus camilan berserakan di karpet, botol minuman tergeletak begitu saja, dan bantal sofa berserakan di lantai.

​"Ck, baru pulang lo?" Sebuah suara sinis menyapa dari arah anak tangga.

​Ziva mendongak. Di sana berdiri seorang gadis dengan pakaian minim yang menonjolkan lekuk tubuhnya. Wajahnya penuh dengan make-up meski masih pagi. Dia adalah Sanya Aulia, anak dari ibu tirinya, Ratna. Sanya satu sekolah dengan Ziva, namun berkat "jalur orang dalam" dan lobi ibunya, Sanya bisa masuk ke kelas unggulan, padahal secara intelektual, Ziva jauh lebih unggul darinya.

​"Ck, mata lo buta? Nggak lihat gue sudah berdiri di sini?" sahut Ziva tak kalah sinis.

​"Kurang ajar ya lo!" Sanya turun dari tangga dengan gaya angkuh. "Buruan beresin nih rumah! Sebentar lagi teman-teman gue mau datang buat kerja kelompok—eh, maksud gue nongkrong. Ingat, yang bersih! Jangan sampai ada debu. Selamat menjadi babu, Ziva! Hahaha!" Sanya tertawa mengejek, suaranya melengking memenuhi ruangan.

​Sanya memang sangat mirip dengan Ratna; gila harta, angkuh, dan selalu merasa di atas angin. Ia bangga mengenakan pakaian press body yang memancing tatapan laki-laki di luar sana, sebuah pola pikir yang menurut Ziva sangat aneh dan murahan.

​"Siapa lo berani nyuruh-nyuruh gue?" Ziva bersedekap dada, menatap Sanya dengan pandangan menantang.

​"Berani lo sama gue, hah?! Gue laporin Mama baru tahu rasa lo! Mau kena tampar lagi?!" gertak Sanya, wajahnya mendekat ke arah Ziva dengan tatapan nyalang.

​"Ada apa sih ribut-ribut? Ganggu orang tidur aja!" Tiba-tiba pintu kamar di lantai atas terbuka. Seorang pria muda keluar dengan rambut acak-adakan dan wajah bantal.

​"Ini Bang, ada anak ingusan ini berani ngelawan Sanya!" adu Sanya pada pria itu.

​Dia adalah Govan Saputra, kakak kandung Sanya. Usianya sudah 20 tahun, namun ia adalah pengangguran kelas berat yang hobinya hanya bermain game dan kelayapan bersama teman-teman tidak jelasnya. Untuk urusan uang, ia sering memalak Ziva secara diam-diam.

​"Ck, masih ingat pulang lo? Gue kira lo sudah mati di pinggir jalan," sindir Govan sambil menatap Ziva dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan pandangan merendahkan.

​"Hm," jawab Ziva malas. Ia tidak ingin membuang energi berdebat dengan dua parasit ini.

​"Udah, buruan beresin rumah sampai bersih! Ingat, jangan sisakan satu debu pun! Kalau nggak bersih, jangan harap lo bisa tenang di sekolah besok!" ancam Sanya sebelum ia melenggang pergi menuju dapur, diikuti oleh Govan.

​Ziva mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. "Suatu saat nanti, gue bakal balas semua perbuatan kalian!" janjinya dalam hati.

​Ziva mulai bergerak. Ia mengambil sapu dan pengki di sudut ruangan. Satu jam berlalu, ia menyapu, mengepel, mencuci tumpukan piring kotor di wastafel, hingga mencuci baju-baju kotor yang menumpuk di mesin cuci. Tak cukup sampai di situ, ia juga harus memasak untuk mereka sebelum diperbolehkan pergi.

​Lelah? Jangan ditanya. Fisik dan batinnya seolah diperas habis. Namun, Ziva sudah terbiasa. Ia menganggap ini sebagai latihan ketahanan mental. Setelah semua pekerjaan selesai, ia tidak sudi berlama-lama di sana. Ia langsung menyambar kunci motornya dan pergi kembali menuju apartemennya.

​Pukul delapan malam, Ziva sudah ambruk di atas kasurnya. Ia terlelap dengan sangat nyenyak. Selelah-lelahnya kehidupan yang ia jalani, ia tahu bahwa ia tidak boleh menyerah.

​Sementara itu, di sebuah tempat yang jauh dari hiruk-pikuk pemukiman penduduk, terdapat sebuah mansion mewah yang berdiri megah namun terasa sunyi. Di balkon lantai atas, seorang pria dengan tubuh tegap dan gagah tengah berdiri memandangi langit malam yang penuh bintang.

​Pria itu adalah Mahendra.

​Tatapan matanya datar, tidak ada ekspresi yang terbaca. Wajahnya yang tampan seolah terukir dari batu marmer—dingin dan kokoh. Hidup Mahendra selama ini terasa monoton, penuh dengan warna hitam dan gelap, seperti ruangan kosong yang hampa tanpa pencahayaan. Ia tidak suka keramaian, namun namanya selalu menjadi legenda di dunia balap liar—sang King Racing.

​Mahendra mengepalkan tangannya kuat-kuat saat mengingat wajah seorang gadis yang tadi pagi ia amati di taman. Gadis yang makan nasi goreng dengan sangat lahap dan terlihat begitu ceria meski ia tahu ada luka di balik matanya.

​"Aku menemukannya," gumam Mahendra dengan suara rendah yang bergetar.

​Matanya yang tajam menatap sebuah bintang yang bersinar paling terang di angkasa, seolah bintang itu merepresentasikan gadis tersebut.

​"Aku menemukannya. Tunggu beberapa hari lagi, Ziva. Kamu tidak akan pernah bisa lari lagi dariku," bisiknya pada angin malam. Senyum tipis yang misterius terukir di bibirnya—sebuah senyum yang menandakan bahwa perburuan baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!