Alika seorang gadis cantik yang di khianati oleh kekasih di hari pernikahannya harus rela di menikahi pria yang sama sekali tidak ia kenal agar keluarganya tidak malu. Pria itu merupakan kakak sepupu dari sang kekasih, Alika mau menikah dengan pria itu karena bujukan orang tua sang kekasih agar mereka semua tidak malu.
Alika dengan ikhlas menerima pernikahan ini dan dia akan berusaha menjadi seorang istri. Namun Alika harus menerima kenyataan saat tahu jika sang suami memiliki wanita lain di hatinya.
Bagaimana nasib Alika apa dia bahagia dengan pernikahannya?,
yu simak ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astri Reisya Utami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Saat aku mulai terbuka perlahan dan yang pertama aku lihat sebuah ruangan dengan nuansa putih bahkan aroma khas tempat itu bisa tercium dengan jelas. Tangan ku pun sudah di pasang infus, ya saat ini aku terbaring di rumah sakit namun di sekitarku tidak ada orang yang menunggu mungkin mereka menunggu di luar. Sampai akhirnya pintu ruangan ku terbuka dan saat ku lihat ternyata itu ibu. Saat melihat aku aku sudah sara ibu langsung mendekati ku.
"Akhirnya kamu sadar juga, " ibu merasa senang melihat ku sudah sadar.
"Bentar ibu panggil dulu dokter, " ucap Ibu lalu memijit tombol yang ada di samping ku.
"Bu, " panggil ku dan ibu langsung mendekat.
"Aku berapa lama tak sadar bu? " tanya ku karena bingung sampai di rawat di rumah sakit.
"Lumayan lama hampir seharian kamu gak sadar, " jawab ibu.
Tak lama dokter datang dan langsung memeriksa ku dan di susuk Galang masuk dengan wajah datar.
"Semua nya sudah baik-baik saja hanya butuh istirahat saja, " beritahu dokter lalu keluar kembali.
"Syukur kalau sudah baik-baik saja, " ucap Ibu merasa senang.
"Bu, udah malam. Ibu pulang saja sama bapak biar aku yang temani Alika, " ucap Galang tiba-tiba membuat aku kaget.
Aku pun melirik ke arah ibu dan sepertinya ibu ngerti karena kalau aku di tinggal berdua dengan Galang rasa akan sangat canggung karena kita belum kenal.
"Nak Galang saja yang pulang sama bapak buat ibu temani Alika disini, " tolak ibu.
"Ibu yakin, ibu pasti capek, " balas Galang.
"Gak apa-apa, nak Galang saja yang pulang, " ucap ibu dengan lembut.
"Ya sudah bu kalau gitu aku pulang bareng bapak, kalau ada apa-apa langsung kabari saja, " ucap Galang lalu pergi begitu saja tanpa melihat ke arah ku.
Aku pun langsung pasangan wajah kesal karena sikap Galang yang dingin.
"Wajar nak Galang cuek toh kalian belum kenal, " ucap Ibu yang sepertinya tau isi pikiran ku.
"Ya setidaknya basa basi kek bukan lempeng kaya gitu, " kesal ku.
Aku pun mencoba bangun karena pegel juga dari tadi tidur. Aku pun menatap ibu dan aku bisa lihat wajah ibu yang capek dan banyak pikiran.
"Bu, maafin Alika. Acara nya jadi gak berjalan lancar, " ucap ku dengan suara lirih menahan tangisan.
"Ibu ngerti, sejak awal ibu kan sudah mewanti-wanti kalau kamu gak bisa melanjutkan pernikahan ini ibu sama bapak gak masalah yang penting kamu gak apa-apa, " balas ibu.
"Tapi aku gak mau bikin ibu dan bapak malu lagi hanya gara-gara aku, aku gak mau di sebut anak yang selalu buat keluarga malu, " ujar ku dan air mataku sudah keluar begitu saja.
"Ibu ngerti, tapi kalau kamu tidak bahagia buat apa, " ibu langsung memeluk ku dan aku pun menangis di pelukan ibu.
Kondisi saat acara ijab kabul tidak baik-baik saja dan itu membuat aku tak sadarkan diri karena semalaman aku terus menangis. Sakit kecewa tercampur jadi satu karena hari yang di tunggu-tunggu oleh setiap gadis yaitu menikah dengan pria yang dicintainya namun berbeda dengan ku. Hari yang harusnya menjadi hari bahagia harus hancur oleh pengkhianatan orang yang aku cintai. Hampir dua tahun aku menjalani hubungan dengan Doni bahkan aku gak pernah sedikit pun curiga kalau selama ini Doni punya hubungan dengan wanita lain di belakang ku. Namun aku sadar selama kami pacaran aku selalu menolak jika Doni minta lebih dari sekedar pegangan tangan. Ya pikiran ku terlalu kolot dan membuat Doni merasa tidak bahagia. Aku sadar diri namun sekarang aku menyesal dengan keputusan ku menikah dengan Galang, Laki-laki yang tidak aku kenal bahkan ini kedua kalinya aku bertemu dengan dia. Dulu sempat ketemu dan itu hanya sepintas dan sekarang dia menjadi suamiku. Bahkan aku tidak tau karakter dua seperti apa, namun semuanya sudah terjadi jadi mau gak mau aku harus menjadi istri yang baik.
Aku pun sudah di perbolehkan pulang karena kondisi ku sudah baik-baik saja. Galang sejak pagi sudah datang ke rumah sakit dan membawakan ibu sarapan.
"Ibu sarapan dulu aja, aku mau urus administrasinya dulu, " ucap Galang pada Ibu tanpa melirik ke arah ku lalu pergi.
Aku pun kesal dan mengumpat dalam hati.
"Udah kamu siap-siap dulu sana! " titah ibu yang melihat aku diam saja.
Aku pun masuk kamar mandi dan mengganti baju ku. Setelah selesai aku keluar dan Galang dia sudah duduk menungguku sedangkan ibu entah kemana.
"Ibu mana? " tanya ku.
"Udah ke parkiran sama kang Arfan, " jawabnya datar tanpa melihat ke arah ku.
Karena kesal aku pun langsung memasukan handuk kedalam tas lalu membawa tas itu dan berjalan ke luar. Galang merebut tas itu dari tangan ku tanpa bicara dan berjalan di depan ku. Selama di jalan kami tidak bicara aku sibuk dengan pikiran ku sendiri. Namun aku pun penasaran dengan alasan dia setuju dengan pernikahan ini.
"Kami kenapa setuju buat gantiin Doni? " tanya ku dan membuat Galang menghentikan langkahnya.
"Mamanya Doni gak ngasih tau aku kalau kamu yang bakal gantiin Doni, dia hanya bilang kakak sepupunya yang akan gantikan dia, " beritahu ku.
"Nanti saja di bahas nya, " ucapnya dingin lalu melanjutkan langkahnya dan aku hanya bisa membuang nafas kasar karena udah ngumpulin keberanian buat bertanya eh malah gak di jawab.
Setelah tiba di parkiran kang Arfan sama ibu udah menunggu dan aku pun langsung masuk ke dalam mobil di belakang bersama ibu karena aku gak mau duduk berdua dengan Galang yang ada malah kesal.
Kami pun tiba di rumah dan saat turun aku di buat kaget ternyata keluarga Galang sudah menunggu kedatangan ku bahkan mamanya Doni pun datang.
"Loh kok jalan, kamu kan baru pulang dari rumah sakit, " ucap mamanya Galang dengan nada khawatir.
Aku hanya tersenyum getir karena bingung.
"Gak apa-apa mbak, lagian Alika baik-baik aja, " ucap ibu yang mungkin ngerti maksud dari ucapan mamanya Galang.
Mamanya Galang memukul tangan Galang dan berkata "kamu ini gak pengertian banget, ".
" Apaan sih ma, "balas Galang kesal lalu langsung masuk begitu saja.
" Dasar kulkas dua pintu, "mamanya Galang ngatain Galang.
Dia langsung mendekati aku dan menuntunku masuk dan berkata " ayo kita masuk biar mama bantu, ".
Aku hanya tersenyum dan nurut saja padahal aku baik-baik saja. Tibanya di dalam ternyata banyak orang bahkan papanya Galang pun datang dan dia perhatian banget pada ku.