NovelToon NovelToon
Cowok Cupu Favoritku

Cowok Cupu Favoritku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Perjodohan / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: arina_ar

Kedatangan murid baru di SMA Adiwijaya langsung jadi perbincangan hangat. Kabar bahwa anak pemilik sekolah ikut pindah di hari yang sama, membuat suasana sekolah makin ramai dan penuh teka-teki.

Sekelompok murid berpengaruh berambisi mencari siapa sosok pewaris asli yang disembunyikan. Siapa pun yang dianggap mengganggu atau tidak pantas, akan mereka singkirkan tanpa ampun.

Naysilla, gadis pindahan yang polos dan tak paham aturan keras di sana, tiba-tiba jadi sasaran utama kecemburuan dan perundungan. Di saat ia dikucilkan, disudutkan, dan tak ada satu pun yang berani mendekat, selalu ada satu sosok yang diam-diam hadir.

Raynor Mohan, cowok berkacamata yang penampilannya sederhana, pemalu, dan selalu dipandang sebelah mata oleh semua orang. Namun bagi Naysilla, sosok itulah satu-satunya tempat aman untuk pulang. Di balik sikapnya yang cupu, Naysilla perlahan menemukan sisi lain yang hanya ia bisa lihat sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arina_ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23.

Semut kecil berlarian, membawa remahan roti yang jatuh dari potongan besar. Bergerak beriringan, penuh kebahagiaan. Siapa sangka, makanan sisa yang tak berguna, akan menjadi harapan bagi yang membutuhkan.

Langkah Mohan terhenti, sejenak ia menenangkan debaran yang tak bisa berhenti. Di depan pintu rumah sakit yang berbau obat-obatan, ia menekan egonya untuk mengobati kerinduan.

Udara terasa dingin, namun ia menggenggam kehangatan cinta berupa kue muffin dan setangkai bunga. Semalam ia uring-uringan dilanda rasa cemburu, dan pagi ini ia pun kembali gelisah dilanda kerinduan.

"Ya ampun, kayaknya ada yang ketinggalan deh. Lo duluan ajah deh Mohan, gue mau ambil barang dulu" ucap gadis berkepang dua, ia berbalik arah dengan tergesa.

Mohan hanya berdehem pelan sebagai jawaban. wajahnya datar, pandangan lurus ke depan, mengamati setiap deret pintu, menuju tempat tujuan.

Hatinya berdebar kian gelisah, ketika raganya berdiri tepat di depan sebuah kamar rawat inap tipe president suite. Sebuah kamar rawat inap paling eksklusif dan tertinggi, yang dirancang layaknya hotel bintang lima.

Ia mengatur napasnya, lalu mendorong pintu itu pelan sekali, seperti seorang yang sembunyi-sembunyi. "Na..." panggilnya lirih. Merasa tak ada jawaban, ia memberanikan diri masuk lebih dalam. ia berharap kedatangannya akan di sambut kehangatan, tapi yang ada hanya kekosongan.

Ia melangkah lebih jauh ke dalam, mengamati setiap sudut ruangan, hingga matanya menangkap sebuah Hoodie berwarna coklat yang tergeletak sembarang.

Suara decitan pintu mengalihkan perhatiannya. Ia kira, Nasa nya telah kembali, tapi ternyata yang ia dapati adalah Mamih Naysilla.

"Eh, nak Mohan... Udah lama di sini?" sapanya ramah.

"Engga Tante, ini baru nyampe kok" jawabnya sopan. Ia mendudukkan diri di sebuah sofa panjang yang di sediakan, dan niat untuk segera pulang ia urungkan.

"Tapi kok sepi yah, Nay kemana yah? Apa di toilet?"

"eee... Itu Tante..." ucapannya terjeda, Mohan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

"Nak Mohan, tolong jagain Nay sebentar yah! Mamih masih ada urusan mendesak di luar, ini waktunya udah mepet soalnya, nanti kalo Nay udah keluar bilangin yah" ucapnya buru-buru, belum sempat Mohan menjawab apapun, beliau sudah pergi begitu saja dari sana.

Bagaikan melukis di atas kanvas bermotif. Sebanyak apapun pola yang tercetak, akan tersamarkan oleh keaslian gambar yang jauh lebih indah.

Mohan tetap berdiri tegap bagai patung besi. Matanya meliar mendeteksi kejanggalan. Tak ada yang mencurigakan kecuali Hoodie coklat yang tampak kusam. Dan dia mengenali siapa pemilik Hoodie kusam itu.

"Cih... Pasti orang itu lagi" bisiknya lirih.

Matanya kembali menemukan sesuatu yang mencurigakan. Sebatang coklat bekas gigitan yang tinggal setengah, tergeletak begitu saja di atas nakas.

"Cih... Kasih coklat kok kecil gitu, dasar pelit" ucapnya pelan, ia kembali berkomentar.

Belum sempat pikirannya melayang lebih jauh, sayup‑sayup ia mendengar suara tawa dan obrolan ringan mendekat dari balik pintu. Suara yang sangat ia kenali, bercampur dengan suara pemuda laki-laki yang terdengar santai dan akrab.

Dahi Mohan berkerut dalam. Genggamannya pada bungkusan muffin dan tangkai bunga di tangannya mengerat hingga ruas‑ruas jari memutih. Ia mundur selangkah, bersembunyi sedikit di balik tiang penyangga ruangan, hatinya kembali terbakar rasa cemburu yang baru saja ia coba redam.

Pintu itu terbuka lagi, dan tampak Nasa masuk sambil tersenyum, diikuti oleh sosok pemuda laki‑laki tinggi yang berjalan berdampingan dengannya. Tangan pemuda laki‑laki itu terulur, menyentuh bahu Nasa sebentar seolah ingin menopang, sebelum akhirnya menarik tangannya kembali.

“Udah cukup yah jalan-jalannya, jangan sampe kecapean, dengerin kata dokter, harus banyak istirahat,” ucapnya dengan nada lembut sekali.

Mohan menggigit bibirnya dalam. Matanya menyipit tajam menatap setiap gerak‑gerik mereka, rasa rindu yang sempat ia bawa kini berubah seketika menjadi perasaan ingin segera menarik Nasa mendekat ke pelukannya, sekaligus ingin mengusir orang asing itu dari hadapannya.

"Sebenarnya sih belum puas, tapi ya udah deh, Makasih kak Satria, maaf udah repotin" ucap Naysilla mengangguk sambil tersenyum tipis.

Naysilla terhenyak ketika bahunya tiba-tiba kembali di rengkuh lembut, kali ini dengan penuh perasaan. Ia menatap kaku pada satria yang juga menatapnya lembut.

“Besok lagi yah, nunggu kamu sembuh dulu. Gue janji bakal ajak lo ke tempat indah lainnya. Sekarang gue balik dulu, kalo butuh apa‑apa, telfon ajah yah.” ucapnya lagi, penuh perhatian. Benar-benar terdengar seperti laki-laki sejati.

Setelah mengucap salam pamit, pemuda itu berbalik dan melangkah pergi meninggalkan lorong. Begitu sosoknya tak lagi terlihat, Naysilla memutar badan dan melangkah ke sudut ruangan.

Tanpa melihat sekelilingnya, ia langsung menuju arah toilet di ujung sana, menutup pintunya rapat‑rapat, tanpa tau ada sosok pembawa rindu yang tengah di landa kecemburuan mendalam.

Di balik tiang penyangga, Mohan yang menyaksikan semuanya hanya menghela napas panjang, bercampur rasa kesal dan kecewa yang tak bisa ia ungkapkan.

Genggamannya pada bungkusan muffin dan tangkai bunga itu perlahan mengendur. Ia letakkan begitu saja di atas nakas, persis di samping sebatang coklat bekas gigit yang tinggal setengah.

Ia melangkah keluar dari tempat persembunyian, berdiri tepat di tengah ruangan yang kini kembali sunyi. Matanya melirik sekilas ke arah pintu toilet yang tertutup rapat, lalu kembali menatap kue muffin coklat dan setangkai bunga yang ia bawa.

Tak ada gunanya ia menunggu lama. Kehadirannya terasa tak diharapkan, bahkan tak diketahui. Rasa rindu yang sempat membawanya ke sini perlahan tergantikan oleh rasa enggan dan perasaan tak dihargai.

Ia sengaja tak meninggalkan pesan apa pun, tak menuliskan namanya sedikit pun. Hanya pemberian kecil yang mungkin tak berarti bagi gadis itu, bersama rindu yang kian remuk redam.

Setelah memastikan semuanya tergeletak di tempatnya, Mohan memandang sekeliling kamar itu sekali lagi, pandangannya singkat, dingin, dan menyimpan kekecewaan yang mendalam. Tanpa suara, tanpa menoleh lagi ke arah posisi Naysilla, ia berbalik badan dan melangkah keluar, membawa segenggam hati yang retak.

Ia mendorong pintu kamar itu perlahan hingga tertutup sempurna, seolah tak pernah ada orang yang datang dan pergi. Begitu berada di lorong yang dingin, langkah kakinya makin cepat, membawa serta perasaan yang kembali ia kunci rapat‑rapat di dalam hatinya.

Disisi lain, ketika Naysilla selesai dengan urusannya di toilet, ia keluar dengan perasaan familiar. Udara terasa tercampur aroma kerinduan, yang kian memudar.

Matanya menangkap satu kotak kecil kue muffin coklat, serta setangkai bunga tulip merah muda yang melambangkan kasih sayang, perhatian dan cinta begitu tulus.

"Siapa yang letak ini disini? perasaan tadi belum ada..." ucapannya bertanya-tanya.

Ketika hendak kembali melangkah, tanpa sengaja kakinya menginjak setangkai bunga tebebuya merah muda, yang melambangkan harapan, keindahan, cinta dan awal yang baru.

Dalam hatinya seketika terlintas satu nama, yang begitu mengenal dirinya lewat identitas bunga tabebuya.

1
Sofyan Sofyan
jangan lama2 ya😭
Aisyah Suyuti
good
kelinci kecil
penasaran, kira-kira siapa anak pemilik sekolah yang asli yah
arina_ar: ikuti terus kelanjutan ceritanya, nanti akan terjawab semuanya. terimakasih sudah mampir.
total 1 replies
🌹Widian,🧕🧕🌹
hai......
cupu tuh apaan ?
arina_ar: culun kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!