Selama 15 tahun pernikahan dengan Angga, Nayra bahkan tidak pernah bahagia. Meskipun dia sudah memiliki dua orang putri. Sikap kasar Angga tidak pernah hilang, dia sering memarahi Nayra di depan kedua anaknya. Ternyata sikap Angga, bukan hanya membuat Nayra tersiksa, tapi juga anak pertamanya yang mulai beranjak remaja. Nayra sempat berpikir keras untuk pergi dari rumah itu, tapi yang dia pikirkan hanya kedua anaknya, bagaiman masa depannya. Nayra terus bertahan meskipun luka di hatinya semakin besar, rasa cinta untuk Angga kini telah hilang. Saat Nayra terjebak hutang, Angga masih saja menyalahkannya, kini Nayra sudah berada di titik pasrah. Tapi Tuhan maha baik hidup Nayra di tolong oleh Arsen Wiratama, pemilik perusahaan terbesar di kota itu. Arsen menolong Nayra, tapi semua tidak gratis, Nayra harus bersedia meninggalkan Angga dan juga menikah dengannya secara kontrak. Bagaimana kelanjutan pernikahan kontrak mereka.
IG : purpleflower3125
FB : Flower Arsyta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11 : Mulai Khawatir
Nayra terdiam beberapa saat. Tatapannya kembali jatuh ke arah taman di bawah. Bunga-bunga itu masih terlihat samar dalam cahaya senja yang mulai redup.
Ia menarik napas pelan. "Anak-anak masih tidur…" pikirnya.
Pikirannya langsung tertuju pada Raya dan Alea. Ia tidak ingin meninggalkan mereka terlalu lama, apalagi dalam keadaan seperti sekarang.
Langit pun sudah mulai berubah. Warna jingga perlahan menghilang, digantikan oleh gelapnya malam yang mulai turun. Suasana terasa semakin sunyi… dan entah kenapa, sedikit membuatnya ragu.
Nayra menggeleng pelan. “Sepertinya besok saja, Martha,” ucapnya akhirnya.
Martha tersenyum lembut. “Baik, Nona. Kalau begitu saya permisi.”
Nayra membalas dengan senyum tipis dan mengangguk.
Wanita itu pun berbalik, hendak pergi. Namun baru beberapa langkah.
“Martha,” panggil Nayra tiba-tiba.
Langkah Martha langsung terhenti. Ia menoleh cepat, lalu kembali menunduk hormat.
“Iya, Nona.”
Nayra terlihat sedikit ragu sesaat, lalu akhirnya bertanya, “Martha… saya hanya mau bertanya. Arsen sedang berada di mana ya?”
Martha tidak terlihat terkejut. Seolah pertanyaan itu sudah ia duga.
“Tuan sedang berada di ruang kerjanya, Nona,” jawabnya tenang. “Jika memang ada hal penting, sebaiknya Nona bisa menghampiri Tuan.”
Nayra mengangguk kecil. “Baik… terima kasih, Martha.”
Martha kembali menunduk sopan. “Jika tidak ada lagi yang bisa saya bantu, saya permisi, Nona."
Nayra mengangguk pelan. “Silahkan, Martha.”
Wanita itu kembali menunduk hormat, lalu berbalik dan berjalan menjauh. Langkahnya tenang, perlahan menghilang di balik lorong.
Balkon kembali sepi, hanya Nayra yang sedang berdiri sambil memperhatikan taman sesaat. Angin malam berhembus lembut, membuat rambutnya sedikit berantakan. Ia menatap langit yang mulai gelap… warna jingga yang tadi samar kini hampir sepenuhnya hilang, digantikan oleh biru malam yang perlahan turun.
Nayra menunduk sedikit. Ia melirik ke arah dalam, ke lorong yang mengarah ke kamar anak-anaknya. Mereka pasti masih tertidur. Tangannya mengepal pelan dan ragu. Namun rasa tidak tenang itu… justru semakin kuat.
Nayra seketika mengingat tentang Arsen. Diam-diam ada rasa khawatir yang tumbuh di hatinya. Akhirnya ia melangkah masuk. Langkahnya pelan, tapi pasti. Sepanjang lorong, hanya suara langkah kakinya sendiri yang terdengar.
Semakin dekat ke ruang kerja Arsen, semakin cepat detak jantungnya. Beberapa saat kemudian, Nayra berhenti di depan pintu besar itu. Ia diam menatapnya.
Beberapa detik berlalu. Tangannya terangkat…
Tok.
Tok.
Ketukan pelan, tidak ada jawaban.
Nayra mengernyit sedikit. Ia hampir mengetuk lagi. Namun tiba-tiba…
Pintu terbuka.
Nayra sedikit terkejut. Arsen sudah berdiri di sana. Seolah… ia sudah tahu Nayra akan datang. Tatapan mereka langsung bertemu.
Hening beberapa detik yang terasa lebih lama dari seharusnya.
“Ada apa?” suara Arsen akhirnya terdengar. Datar. Tenang. Tapi tetap dingin.
Nayra menelan pelan. "Saya hanya…” ia berhenti sejenak, lalu menatap Arsen lebih dalam, “mau memastikan… semuanya baik-baik saja.”
Arsen tidak langsung menjawab. Tatapannya tidak lepas dari Nayra. Seolah sedang menimbang, seberapa banyak yang harus ia katakan.
“Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan,” ucapnya singkat.
Nayra mengerutkan kening..“Tadi kamu terlihat seperti...”
“Kamu tidak perlu tahu.” potong Arsen. Nada suaranya sedikit lebih tegas.
Nayra terdiam. Ada rasa tidak nyaman yang muncul. Namun kali ini… ia tidak mundur.
“Kalau ini berhubungan dengan saya dan anak-anak…” suaranya pelan, tapi tegas, “saya berhak tahu.”
Suasana berubah, hening… tapi lebih berat. Tatapan Arsen menajam. Ia melangkah mendekat. Satu langkah, cukup membuat jarak mereka semakin dekat.
“Nayra…” suaranya lebih rendah sekarang. “Ini hanya soal pekerjaan, jadi kamu jangan berlebihan”
Nayra mengangguk pelan. Jarak mereka terlalu dekat. Ia bisa merasakan napas Arsen yang stabil, kontras dengan detak jantungnya sendiri yang kini tidak beraturan. Seperti ingin loncat keluar dari dadanya.
Nayra menelan ludah. Refleks, ia mundur satu langkah. “Ya sudah kalau begitu… saya permisi,” ucapnya pelan sambil menunduk, berusaha menjaga sikapnya tetap tenang.
Namun, tangannya tiba-tiba ditarik.
“Ah...”
Belum sempat Nayra bereaksi, Arsen sudah menariknya masuk ke dalam ruang kerja.
Pintu tertutup.
Dalam satu gerakan tegas, Arsen menuntunnya hingga duduk di sofa. Nayra langsung terdiam. Matanya melebar, napasnya sedikit tercekat.
Tatapan Arsen membuatnya merasa tertekan. Ada sesuatu yang berbeda malam ini. Lebih dingin dan sulit dibaca.
“Saya hanya ingin mengatakan sesuatu,” ucap Arsen akhirnya, suaranya tenang namun tidak memberi ruang untuk ditolak. “Besok kamu akan diantar Martha dan beberapa asisten ke salon.”
Nayra mengernyit.
“Kamu sepertinya butuh perawatan sebelum kita menikah.”
Kalimat itu langsung membuat Nayra bangkit dari duduknya.
“Apa?” suaranya refleks meninggi, jelas terkejut. “Salon? Sepertinya tidak usah, karena kita hanya menikah...”
“Ini memang pernikahan kontrak,” potong Arsen cepat.
Nada suaranya tegas. Tidak memberi kesempatan Nayra menyelesaikan kalimatnya.
“Tapi itu hanya untuk kita berdua.”
Nayra terdiam.
Arsen melanjutkan, matanya menatap lurus. “Tidak untuk orang tuaku. Tidak juga untuk beberapa rekan bisnisku.”
Suasana kembali hening.
“Jadi,” lanjut Arsen pelan namun menekan, “kamu turuti saja apa yang saya katakan.”
Kalimat itu tidak keras. Tapi terasa seperti perintah mutlak. Nayra menunduk, tangannya mengepal pelan di samping tubuhnya. Ia ingin membantah. Tapi entah mengapa kata-katanya tertahan.
“Dan kamu boleh mengajak kedua anakmu,” tambah Arsen. “Mereka boleh ikut.”
Nayra sedikit terangkat wajahnya. Ada sedikit perubahan di matanya, walau masih ragu.
“Kalau… kamu?” tanyanya pelan.
Arsen menggeleng tipis. “Saya masih ada urusan di kantor.” Jawabannya singkat.
“Tapi kamu tidak perlu khawatir,” lanjutnya. “Akan ada pengawalan. Martha dan beberapa pelayan akan ikut. Keamanan tetap jadi prioritas.”
Nayra kembali diam. Perasaannya campur aduk. Antara tidak nyaman, bingung dan sedikit tertekan. Semua ini terasa terlalu cepat.
Pernikahan. Perubahan hidup. Dan sekarang… semua keputusan seperti sudah ditentukan tanpa benar-benar melibatkannya.
Ia menunduk lagi. “Baik…” jawabnya akhirnya, pelan.
Bukan karena setuju, tapi karena tidak punya pilihan lain. Ruangan itu kembali hening. Namun kali ini, bukan hanya karena kata-kata yang berhenti. Melainkan karena ada sesuatu yang perlahan tumbuh di dalam hati Nayra... keraguan.
Hening itu… terasa menekan. Nayra masih berdiri di sana, menunduk, mencoba menenangkan pikirannya sendiri. Tangannya perlahan terlepas dari kepalan. Namun sebelum ia benar-benar bisa pergi...
“Besok pagi,” suara Arsen kembali terdengar, membuat Nayra sedikit tersentak, “jam sembilan. Jangan terlambat.”
Nayra mengangkat wajahnya perlahan. “Baik,” jawabnya singkat.
Tidak ada lagi yang perlu dikatakan. Ia berbalik, langkahnya pelan menuju pintu. Tangannya sempat menyentuh gagang pintu, tapi untuk sesaat... ia berhenti. Seolah ada sesuatu yang ingin ia tanyakan. Namun akhirnya… tidak jadi.
Pintu terbuka, lalu tertutup kembali di belakangnya.
semangat, lanjut thoor😄👍