NovelToon NovelToon
The Predator’S Possession

The Predator’S Possession

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / CEO
Popularitas:8.6k
Nilai: 5
Nama Author: Callalily

Benedict Franklin, pemilik Equinox Ventures dan pemimpin organisasi Veto, adalah pria yang hanya percaya pada angka dan kekuasaan. Baginya, emosi adalah kelemahan, dan tatapan matanya mampu meruntuhkan siapapun dalam hitungan detik. Namun, hidupnya yang penuh kendali berubah saat ia bertemu dengan Zara Clarance Harrison. Bagi Zara, hidupnya sudah cukup indah hanya dengan aroma tepung dan manisnya gula di toko kue kecil miliknya. Namun, dunianya yang tenang, hancur dalam semalam ketika ayahnya, David Harrison, menggunakan dirinya sebagai jaminan hutang kepada Benedict Franklin

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Callalily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 33

Mendengar jawaban Zara, sudut bibir Benedict berkedut samar, menahan tawa yang nyaris lolos dari dadanya.

“Jangan tertawa! ini benar-benar menyiksa,” ketus Zara, memalingkan wajahnya ke arah lain dengan bibir yang sedikit mengerucut kesal.

Namun, rasa gatal yang menjalar di punggungnya itu tampak sudah berada di ambang batas toleransinya. Dengan sisa-sisa harga diri yang runtuh, Zara terpaksa kembali menatap Benedict.

“Tolong aku….” cicit Zara akhirnya, suaranya merendah pasrah, benar-benar menyerah pada rasa gatal yang tidak bisa ia jangkau.

Benedict menghembuskan napas perlahan, menahan tawanya. Pria itu melangkah lebih dekat lalu duduk di tepi kasur, tepat di samping Zara. Tangannya bergerak maju, perlahan meraih bahu Zara untuk membantu gadis itu sedikit memutar tubuhnya membelakangi dirinya.

“Di sebelah mana?” tanya Benedict.

“Di….. di bagian tengah. Sedikit ke bawah,” jawab Zara.

Benedict mengikuti arahan Zara. Jemarinya mulai mengusap dan menggaruk pelan area yanh ditunjuk Zara.

Zara refleks mengembuskan napas lega. “Ah…. ya, di situ. Sedikit ke kanan….”

Benedict terus mengusap dan memberikan tekanan yang pas diarea yang ditunjuk, memastikan rasa tidak nyaman itu hilang sepenuhnya. Setelah beberapa saat memastikan gadis itu tidak lagi menggeliat kepayahan, Benedict perlahan manarik kembali tangannya.

“Sudah?” tanya Benedict. Suaranya bergema tepat di belakang telinga Zara, begitu dekat hingga hembusan napas hangat pria itu menyapu kulit lehernya yang sensitif.

“Su-sudah…. terima kasih,” jawab Zara terbata-bata, segera memutar tubuhnya kembali menghadap Benedict dengan wajah yang kini merona.

Benedict hanya menatap wajah merona Zara dengan mata menyipit datar. Ia bangkit berdiri, merapikan lipatan kemejanya yang sedikit kusut, lalu kembali melangkah menuju meja.

“Jika sudah, istirahatlah,” perintah Benedict tanpa menoleh, kembali meraih penanya. “Jangan banyak bergerak.”

Zara tidak membantah. Ia menarik selimutnya hingga sebatas dada, mencoba menyembunyikan rona merah yang masih tersisa di pipinya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Tiga hari berlalu dengan cepat.

Setelah melalui rangkaian pemeriksaan, dokter akhirnya mengizinkan Zara untuk pulang.

Sebuah iring-iringan mobil telah menunggu di lobi khusus. Luca berdiri disamping pintu Roll-Royce yang terbuka, memberikan bungkukan hormat saat Benedict menuntun Zara keluar.

“Masuk,” titah Benedict.

Begitu mereka berdua duduk di kursi penumpang, mobil meluncur membalah jalanan kota dengan kawalan ketat dari dua SUV hitam di depan dan di belakang.

Sepanjang perjalanan hanya ada keheningan diantara mereka. Sampai akhirnya mobil itu berbelok memasuki gerbang besi tinggi, membelah jalanan beraspal yang diapit oleh pepohonan rindang, hingga akhirnya berhenti di depan undakan mansion.

Zara merasa asing dengan bangunan di depannya, namun ia tetap menerima uluran tangan Benedict.

“Rumah siapa ini?” tanya Zara, suaranya sedikit bergetar saat matanya menyapu beberapa pria berpakaian serba hitam yang berjaga ketat di sekitar halaman.

“Rumahku,” jawab Benedict pendek. “Untuk saat ini, kita akan tinggal disini. Tempat ini jauh lebih aman untukmu.”

Zara terdiam, menelah ludah dengan susah payah. Kata kita yang diucapkan Benedict terdengar begitu istimewa di telinganya.

Benedict menuntun Zara sampai masuk ke dalam sebuah kamar. Kamar itu sangat luas, mewah, dengan ranjang berukuran king size yang menghadap langsung ke jendela. Namun, Zara merasa cemas.

Zara membalikkan badannya, menatap Benedict yanh masih berdiri di ambang pintu. Ia meremas ujung pakaiannya.

“Apakah…. apakah kita akan berpisah kamar seperti biasa?” tanya Zara

1
Lalat
SERIUSS?? WHATTTTTT
Lalat
iyaya, jjr gw ga expect dia ngmng gt
Lalat
fix kekurangan darah
Lalat
lucuuu 😍
Lalat
blh jg tu
Lalat
lucuu
Lalat
Indonesian bisa di beli ga 🤭
lontong sayur
aku suka
lontong sayur
episode ini manis 🌚
lontong sayur
episode ini manis 🌚🌚🌚
lontong sayur
gemes 🐣
Erna Olivia
lanjut min
Nanda
sakit sih aku klo di posisi Zara
Mita Paramita
lanjut Thor 😘😘😘 bikin adegan romantis
Nanda
serem ya Benedict klo lagi mode gitu
Mita Paramita
lanjut Thor 💪💪💪
Mita Paramita
lanjut Thor bikin bennec bucin 🤣
Nanda
cuek tapi perhatian gitu yaa
Nanda
smngt thorr, pls up tiap hari
Nanda
kasian zaraaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!