NovelToon NovelToon
Sistem Pilihan Takdir

Sistem Pilihan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Dikelilingi wanita cantik / Sistem
Popularitas:956
Nilai: 5
Nama Author: 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i

​Sinopsis
​Di Alam Fana, hukum rimba adalah satu-satunya kebenaran. Lin Chen, murid pelataran luar Sekte Pedang Awan, menyadari kenyataan pahit ini sejak hari pertama. Bakatnya pas-pasan, sumber dayanya selalu dirampas, dan nyawanya tak lebih berharga dari rumput liar. Saat maut hampir merenggutnya di ujung tebing, sebuah anomali tanpa asal-usul bangkit di dalam benaknya: Sistem Pilihan Takdir.
​Sistem ini menolak memberikan kekuatan instan. Setiap krisis hanya akan memunculkan tiga jalur pilihan di matanya, masing-masing membawa risiko dan hadiah yang berbeda. Hadiah tersebut bukanlah pil dewa yang langsung membuatnya kebal, melainkan teknik dasar, petunjuk tersembunyi, atau sekadar kesempatan bertahan hidup sesaat. Semuanya menuntut Lin Chen untuk memeras keringat, darah, dan akalnya sendiri. Dari kerasnya Alam Fana, merangkak naik menuju kemegahan Dunia Tengah para immortal hingga akhirnya mengincar keabadian sejati di alam dewa , Lin Chen mengukir jalannya selangkah demi selang

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 10 panggung berdarah dan lahirnya sang iblis

Matahari perlahan merangkak naik, mengusir kabut pagi yang menyelimuti Sekte Pedang Awan. Di dalam gubuk reyot tanpa pintu, Lin Chen membuka kelopak matanya. Kegelapan di dalam bola matanya setajam pedang yang baru diasah. Ia menghabiskan semalaman penuh dalam meditasi absolut, membiarkan aliran Qi tingkat tiganya berputar menyusuri meridian, memperbaiki jaringan otot mikro yang robek akibat latihan ekstrem hari sebelumnya.

Ia menundukkan pandangan menuju kedua kakinya. Balok Baja Hitam Rawa seberat seratus kilogram masih terikat erat di sana, seolah telah menyatu menjadi bagian dari struktur tulangnya. Rasa kebas dan ngilu berdenyut pelan di sekitar pergelangan kakinya. Beban ini menyiksa secara konstan, menguras stamina fisiknya bahkan saat ia hanya duduk diam. Lin Chen tidak berniat melepaskannya. Sistem telah menetapkan aturan empat belas hari, dan disiplin adalah fondasi utama bagi seorang kultivator sejati.

Pemuda itu berdiri. Suara derak lantai kayu terdengar jelas saat telapak kakinya menjejak bumi. Ia mengikat rambut panjangnya dengan seutas kain kotor, mencuci wajahnya menggunakan sisa air di dalam tong, lalu melangkah keluar menyambut takdirnya.

Hari ini bukan sekadar ajang unjuk kekuatan. Hari ini adalah penentuan apakah dirinya akan mati diinjak oleh kesombongan Fraksi Pedang Darah, atau bangkit menjadi eksistensi yang ditakuti di pelataran luar.

Arena Pelataran Luar terletak di pusat sekte, berupa panggung bundar raksasa berdiameter seratus meter yang dipahat dari satu blok batu pualam putih utuh. Ribuan tahun berlalu, warna putih pualam itu kini telah bermutasi menjadi kecokelatan akibat noda darah generasi kultivator yang niez terhitung jumlahnya. Di sekeliling arena, tribun batu melingkar menjulang tinggi, mampu menampung puluhan ribu penonton.

Saat Lin Chen tiba di gerbang arena, suasana telah bergemuruh hebat. Berita mengenai tantangan darah antara murid tingkat tiga yang tidak dikenal melawan Li Kuang si algojo tingkat lima telah menyebar bagai api liar. Ribuan murid luar berkumpul, haus akan pertunjukan kekerasan. Sebagian besar dari mereka datang untuk melihat Lin Chen dihancurkan; sebuah hiburan murah bagi mereka yang hidupnya dipenuhi tekanan.

Di barisan depan kerumunan, Bai Xue berdiri dengan jari-jari tangan saling bertaut erat. Wajah gadis mungil itu pucat pasi, dipenuhi kekhawatiran yang mendalam. Ia tahu seberapa mengerikannya Li Kuang. Mendengar Lin Chen menerima tantangan bunuh diri ini membuat jantungnya seolah diremas.

Di tribun kehormatan yang terletak sepuluh meter di atas permukaan tanah, Zhao Tian duduk bersandar santai di kursi berukir naga. Mo Jue berdiri dalam bayangan di belakangnya. Zhao Tian menyesap teh melatinya dengan gaya aristokrat, matanya menyapu arena di bawah dengan tatapan merendahkan. Kemenangan hari ini adalah sesuatu yang mutlak baginya; eksekusi Lin Chen akan menjadi peringatan bagi siapa pun yang berani menentang hegemoni Fraksi Pedang Darah.

Tepat di tepi panggung arena, berdiri sosok yang ditunjuk sebagai pengawas pertarungan hari ini. Su Mei mengenakan jubah hijau mudanya yang berkibar anggun. Wajah cantiknya tidak menampilkan emosi apa pun. Di pelataran luar, duel yang melibatkan surat tantangan darah adalah legal, pengawas hanya bertugas memastikan tidak ada pihak luar yang ikut campur, bukan untuk menghentikan pembunuhan di atas panggung.

"Waktu tantangan telah tiba," suara Su Mei bergema, diperkuat oleh aliran Qi tingkat enam miliknya, membungkam ribuan percakapan di tribun seketika. "Pihak yang ditantang, Lin Chen. Pihak penantang, Li Kuang. Naik ke atas panggung."

Dari lorong sebelah timur, terdengar suara dentuman langkah kaki yang sangat berat.

Sesosok raksasa melangkah keluar, mengundang sorakan riuh dari anggota Fraksi Pedang Darah. Li Kuang memiliki tinggi lebih dari dua meter. Otot-ototnya menonjol mengerikan, seolah tubuhnya dipahat dari bongkahan batu granit cokelat. Ia bertelanjang dada, memperlihatkan puluhan bekas luka sayatan pedang yang tidak berhasil menembus ototnya. Sebagai praktisi Tahap Kondensasi Qi Tingkat Lima Puncak, Li Kuang memfokuskan kultivasinya pada teknik 'Tubuh Banteng Besi'. Ia tidak menggunakan senjata apa pun, kedua kepalan tangannya yang seukuran kepala manusia dewasa adalah senjata pembunuh utamanya.

Li Kuang melompat naik ke atas panggung pualam. Pendaratannya membuat tanah sedikit bergetar. Ia membusungkan dadanya, mengaum ke arah langit layaknya binatang buas yang kelaparan.

Dari lorong barat, Lin Chen melangkah keluar.

Kehadirannya disambut oleh keheningan singkat, disusul oleh gelak tawa meremehkan dari ribuan penonton. Penampilan Lin Chen sangat jauh dari kesan seorang jagoan. Pakaiannya kotor, posturnya tidak mengintimidasi. Hal yang paling menarik perhatian adalah cara berjalannya. Langkah Lin Chen terlihat kaku, sangat berat, kakinya seolah diseret dengan susah payah menaiki tiga anak tangga panggung arena.

"Lihat tikus itu! Kakinya bergetar ketakutan sampai tidak bisa berjalan normal!" teriak salah satu murid dari tribun, memicu tawa meledak di seluruh arena.

Li Kuang menyeringai lebar, memperlihatkan gigi taringnya. "Kupikir kau memiliki nyali, Bocah. Rupanya kau sudah kencing di celana sebelum pertarungan dimulai. Kakak Zhao meminta kepalamu, aku jamin proses pencabutannya tidak akan cepat."

Lin Chen mengabaikan seluruh ejekan tersebut. Ia melangkah hingga berhenti tepat sepuluh meter di depan Li Kuang. Mata Lin Chen sedingin dan setenang permukaan danau beku. Jubahnya menutupi Baja Hitam Rawa di kakinya dengan sempurna. Tidak ada satu orang pun di arena ini, bahkan Su Mei atau Zhao Tian, yang menyadari bahwa pemuda itu sedang membawa beban seratus kilogram.

Su Mei mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi. Matanya mengunci kedua petarung.

"Aturan Tantangan Darah," ucap Su Mei dingin. "Kematian adalah risiko mutlak. Menyerah hanya diakui jika pihak lawan menyetujuinya. Mulai!"

Tangan Su Mei ditebas ke bawah.

Li Kuang tidak membuang waktu satu detik pun. Ia menghentakkan kaki raksasanya, meledakkan Qi tingkat lima yang kasar dan beringas. Tubuh besarnya melesat ke depan bagai kereta kuda yang lepas kendali. Lantai pualam berderit menahan tekanan pijakannya.

"Hancur kau, Serangga!" raung Li Kuang. Kepalan tangan kanannya yang dilapisi energi berwarna cokelat pekat diayunkan lurus ke arah kepala Lin Chen. Angin berdesing tajam. Daya hancur pukulan ini mampu meremukkan lempeng baja tebal.

Lin Chen tidak membalas serangan itu secara frontal. Ia memfokuskan matanya, mengamati lintasan pukulan Li Kuang. Refleksnya telah ditingkatkan tajam berkat terobosan tingkat tiga.

Pemuda itu memutar bahunya ke kiri. Kepalan tangan raksasa Li Kuang meleset hanya satu sentimeter dari telinganya, menghancurkan udara kosong hingga menimbulkan suara dentuman sonik kecil.

Kegagalan serangan pertama tidak menghentikan sang barbar. Memanfaatkan momentum putarannya, Li Kuang melontarkan sikunya ke arah dada Lin Chen.

Kali ini, kecepatan serangan jarak dekat itu terlalu cepat untuk dihindari sepenuhnya. Lin Chen terpaksa menyilangkan kedua lengannya di depan dada, mengaktifkan *Napas Karang Esensi* hingga batas maksimal. Otot lengannya mengeras menyerupai karang laut kuno.

*BAM!*

Siku Li Kuang menghantam pertahanan Lin Chen.

Daya dorong absolut dari praktisi tingkat lima meledak. Lin Chen merasa seolah ditabrak oleh gunung. Tubuhnya terseret mundur sejauh lima meter, meninggalkan dua garis goresan panjang di atas lantai pualam. Rasa sakit yang tajam menusuk tulang lengannya, kulitnya sobek mengeluarkan darah segar yang menetes ke lantai.

Tribun penonton bersorak kegirangan. Pertunjukan pembantaian sepihak inilah yang mereka nantikan.

"Pertahanan yang lumayan untuk seekor tikus tingkat tiga," ejek Li Kuang sambil meremas buku-buku jarinya. "Mari kita lihat berapa lama tulang rapuhmu itu bertahan."

Li Kuang kembali menerjang. Kali ini, ia melepaskan jurus andalannya: *Tinju Hujan Meteor*. Kedua lengannya bergerak secara bergantian dengan kecepatan yang tidak masuk akal untuk ukuran tubuh sebesar itu. Puluhan bayangan tinju mengunci seluruh arah pelarian Lin Chen, masing-masing membawa tekanan energi tingkat lima yang mencekik.

Lin Chen terkurung dalam badai pukulan. Beban seratus kilogram di kakinya membuatnya mustahil untuk melompat menjauh atau melakukan manuver menghindar yang lincah. Ia dipaksa bertahan di tempat.

Mata Lin Chen memancarkan kilat konsentrasi ekstrem. Ia mengalirkan Qi tingkat tiganya dengan presisi bedah. Tidak ada satu tetes pun energi yang dibuang percuma untuk menyerang. Semuanya dipusatkan pada kulit, otot, dan tulangnya.

*Bam! Bam! Bam!*

Tiga pukulan Li Kuang berhasil menembus tangkisannya, bersarang keras di bahu, perut, dan dada kiri Lin Chen.

Darah segar menyembur dari mulut Lin Chen. Tubuhnya kembali terhuyung mundur. Satu tulang rusuknya retak di bawah tekanan *Tubuh Banteng Besi*. Kesenjangan dua tingkat kekuatan benar-benar menekan fisik fananya hingga ke ambang batas.

Melihat lawannya terus memuntahkan darah dan tidak mampu membalas, kesombongan Li Kuang meluap-luap. Ia tertawa terbahak-bahak di tengah serangannya. Di atas balkon, Zhao Tian tersenyum tipis, menikmati pemandangan seekor serangga yang perlahan dihancurkan.

Su Mei berdiri di tepi arena, alisnya berkerut halus. Insting kultivator tingkat enam miliknya menangkap sebuah anomali. Lin Chen memang dipukuli hingga berdarah, pemuda itu tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun. Mata Lin Chen menatap tajam ke arah pergerakan otot Li Kuang, mirip seorang cendekiawan yang sedang membedah anatomi katak. Lebih aneh lagi, kaki Lin Chen terlihat sangat terpaku ke tanah, tidak menunjukkan inisiatif kelincahan sama sekali.

*Kenapa dia bertarung seperti patung batu?* batin Su Mei penuh tanda tanya.

Di tengah hujan pukulan yang menyiksa, layar biru transparan berpendar samar di kedalaman mata Lin Chen.

**[Analisis Pertempuran Terdeteksi.]**

**[Musuh: Li Kuang. Kelemahan: Rotasi pinggang terlalu kaku saat menggunakan Tinju Hujan Meteor. Pertahanan pasif di area ulu hati menurun 40% setelah pukulan ketujuh.]**

Informasi itu mengkonfirmasi apa yang telah diamati oleh insting Lin Chen sendiri. Barbar ini mengandalkan kekuatan murni yang luar biasa, ritmenya sangat mudah ditebak. Pertahanannya tebal, ada celah jeda sepersekian detik di mana lapisan Qi tingkat limanya menipis saat mengambil napas untuk serangan berikutnya.

"Bermain-mainnya sudah cukup," desis Lin Chen perlahan, suaranya nyaris tertelan oleh sorakan penonton. Ia menyeka darah di sudut bibirnya dengan punggung tangan yang gemetar.

Li Kuang mendengar bisikan itu. Amarahnya memuncak. "Bermain-main? Aku akan mematahkan lehermu sekarang juga!"

Li Kuang menarik napas dalam-dalam. Seluruh otot tubuhnya membengkak hingga urat nadinya tampak seolah akan pecah. Ia mengangkat kepalan tangan kanannya tinggi-tinggi ke udara. Energi cokelat pekat berkumpul, membentuk ilusi kepala banteng raksasa yang mengamuk. Ini adalah jurus pamungkasnya: *Tandukan Banteng Kematian*. Sebuah serangan yang mengunci target, mustahil dihindari oleh kultivator yang lebih lambat.

Ribuan penonton menahan napas. Mereka tahu, pukulan ini akan mengakhiri pertandingan dalam bentuk hujan daging cincang.

Lin Chen berdiri tegak. Ia menutup matanya sesaat.

Di dalam tubuhnya, pusaran Dantian berputar dengan kecepatan yang menghancurkan nalar. Seluruh cadangan Qi tingkat tiga yang telah ia konsolidasi ditarik keluar tanpa menyisakan satu tetes pun. Ia mengabaikan rasa sakit di tulang rusuknya. Ia mengabaikan pendarahan di bahunya.

Energi raksasa itu didorong secara paksa menurun, mengalir deras melewati paha, menembus betis, lalu menabrak titik Yongquan di telapak kakinya yang telah ia kunci rapat.

Tekanan yang tercipta sungguh gila. Qi yang memberontak terjepit di antara lantai pualam yang kokoh dan belenggu Baja Hitam Rawa seberat seratus kilogram. Sirkulasi terbalik *Langkah Bayangan Berat* mencapai titik puncaknya. Otot-otot di kaki Lin Chen merintih kesakitan, pembuluh darah di betisnya pecah, merembeskan darah membasahi kain jubah bagian bawahnya.

Li Kuang melontarkan pukulan *Tandukan Banteng Kematian* ke arah depan, bertujuan menghancurkan tubuh Lin Chen menjadi debu.

Tepat pada detik pukulan itu meluncur, Lin Chen membuka matanya.

Ledakan itu terjadi.

*BOOM!*

Bukan suara ledakan dari serangan Li Kuang, melainkan dari bawah telapak kaki Lin Chen. Lantai batu pualam solid yang telah bertahan selama ratusan tahun di bawah pijakannya hancur berkeping-keping, menciptakan lubang kawah kecil yang memuntahkan debu batu ke udara.

Sirkulasi Qi yang terjepit memantul kembali (rebound) ke atas, melepaskan gaya pegas kinetik yang melampaui batas kecepatan alam fana.

Tubuh Lin Chen menghilang dari pandangan.

Bukan bergerak cepat. Benar-benar menghilang, meninggalkan bayangan buram (afterimage) di tempatnya semula. Kecepatannya memecahkan hukum fisika yang biasa disaksikan oleh murid tingkat rendah.

Serangan *Tandukan Banteng Kematian* milik Li Kuang hanya menghancurkan bayangan sisa tersebut. Mata raksasa barbar itu membelalak lebar, kehilangan targetnya sepenuhnya. Logikanya tidak bisa memproses ke mana perginya musuh yang sedari tadi hanya menjadi samsak kaku.

Jarak sepuluh meter disapu dalam waktu kurang dari satu kedipan mata. Angin berteriak merobek gendang telinga.

Lin Chen muncul tepat di hadapan Li Kuang, masuk ke dalam jarak nol inci, menerobos seluruh zona pertahanan sang raksasa. Momen ini bertepatan dengan detik di mana tarikan napas Li Kuang terputus dan pertahanan ulu hatinya melemah—persis seperti analisis Sistem.

Memanfaatkan sisa momentum pelontaran meriam baja tersebut, Lin Chen menyalurkan energinya menembus pinggang, memutar bahu, dan memfokuskan seluruh niat membunuhnya pada kepalan tangan kanan.

Fragmen *Tinju Pemecah Batu* diaktifkan. Kepalan tangannya menyala kemerahan menyerupai bongkahan magma panas yang siap meletus. Kulit kapalan di buku jarinya mengeras melampaui intan.

Tidak ada belas kasihan. Tidak ada keraguan.

Lin Chen melontarkan tinjunya secara vertikal, menghantam lurus tepat ke arah ulu hati Li Kuang yang terbuka lebar.

"Batu... Tumbuk."

*KRAAAK!*

Sebuah suara retakan tulang yang luar biasa keras bergema ke seluruh penjuru arena, membekukan darah setiap orang yang mendengarnya.

Pukulan Lin Chen tidak memantul. Energi destruktif dari *Tinju Pemecah Batu* yang didorong oleh kecepatan supersonik menembus lapisan pelindung *Tubuh Banteng Besi* seolah itu hanyalah kertas basah.

Tinju Lin Chen melesak dalam ke dada Li Kuang. Tulang dada (sternum) sang raksasa hancur berkeping-keping, serpihannya menusuk ke dalam organ tubuhnya. Gelombang kejut dari pukulan itu menembus lurus ke belakang, meledakkan pakaian di punggung Li Kuang hingga robek berkibar.

Waktu seakan berhenti.

Mata Li Kuang menonjol keluar, dipenuhi kengerian absolut dan ketidakpercayaan yang membakar kewarasannya. Ia tidak sempat menjerit. Seluruh pasokan oksigen di paru-parunya terhenti seketika. Darah kental membanjiri kerongkongannya.

Daya dorong pukulan itu melemparkan tubuh raksasa seberat dua ratus kilogram tersebut ke udara. Li Kuang melayang mundur sejauh belasan meter bagai daun kering yang diterjang badai, melewati batas tepi arena, dan akhirnya menabrak dinding batu keras di bawah tribun penonton dengan suara hantaman yang mengerikan.

*Gubrak!*

Tubuh Li Kuang merosot jatuh ke tanah. Ia tidak bergerak sama sekali. Napasnya terputus. Matanya mendelik kosong menatap langit. Praktisi tingkat lima puncak, monster kebanggaan Fraksi Pedang Darah, tewas seketika hanya dengan satu pukulan balik.

Keheningan mutlak menyelimuti arena raksasa tersebut. Tidak ada sorakan. Tidak ada ejekan. Puluhan ribu penonton membeku di tempat duduk mereka, mulut mereka ternganga tidak percaya. Pemandangan yang baru saja mereka saksikan terlalu brutal, terlalu tidak masuk akal untuk dicerna oleh akal sehat.

Seorang praktisi tingkat tiga baru saja membunuh tingkat lima puncak dalam satu gerakan.

Di atas balkon kehormatan, cangkir teh porselen di tangan Zhao Tian hancur berkeping-keping akibat cengkeramannya yang mengeras di luar kendali. Wajah aristokratnya berubah menjadi topeng kemurkaan yang sangat pekat. Mata Zhao Tian menyipit menatap sosok pemuda yang berdiri di tengah arena. Ini bukan lagi soal penghinaan faksi; Lin Chen telah berevolusi menjadi ancaman nyata yang harus dimusnahkan.

Di tepi panggung, Su Mei menarik napas panjang, berusaha menenangkan detak jantungnya sendiri. Ia melihat semuanya dengan jelas. Kaki pemuda itu, ledakan mematikan itu, semuanya adalah perpaduan teknik menyiksa diri yang sangat ekstrem. Lin Chen bukan bertarung seperti murid sekte; ia bertarung seperti iblis yang siap membakar dirinya sendiri demi merenggut nyawa musuhnya.

Di tengah arena yang sunyi senyap, Lin Chen berdiri tegak.

Kondisinya sama sekali tidak terlihat baik. Tangan kanannya bergetar hebat, kulit di buku jarinya kembali robek berdarah. Kaki yang baru saja menahan beban gaya pegas terasa mati rasa total. Darah terus menetes dari sudut bibirnya, hasil dari luka dalam yang ia terima selama dipukuli sebelumnya.

Ia perlahan memutar tubuhnya, mengabaikan mayat Li Kuang, dan mengangkat kepalanya menatap langsung ke arah balkon kehormatan tempat Zhao Tian berada.

Tatapan mereka bertemu di udara. Mata Lin Chen memancarkan aura membunuh yang sangat murni, sedingin lautan es, menembus jarak puluhan meter seolah meletakkan mata pedang tepat di leher sang penguasa bayangan. Tatapan itu bukan sekadar provokasi, melainkan janji kematian.

Su Mei melangkah perlahan memecah keheningan, suaranya mengandung sedikit rasa segan yang tidak bisa ia tutupi.

"Pihak penantang tewas. Kemenangan mutlak diraih oleh Lin Chen."

Kata-kata Su Mei memecahkan kutukan keheningan. Sorakan tidak serta-merta pecah. Sebaliknya, bisik-bisik ketakutan mulai merambat bagai gelombang pasang di antara para penonton. Nama Lin Chen akan bergema di seluruh sudut pelataran luar malam ini. Iblis telah lahir di tengah-tengah mereka.

Layar cahaya biru berdenting lembut di dalam pikiran Lin Chen.

**[Tantangan Arena Berdarah Diselesaikan.]**

**[Hadiah didistribusikan: Anda menerima gelar 'Demon of Outer Court' (Reputasi Intimidasi +50%). 2 Batu Roh Tingkat Menengah berpindah ke kantong Anda. Tubuh Anda beradaptasi: Terobosan Kecepatan Permanen tercapai.]**

Lin Chen merasakan beban kecil bertambah di dalam kantong penyimpanannya. Dua Batu Roh Tingkat Menengah. Kekayaan yang luar biasa bagi murid luar, cukup untuk membawanya melangkah ke puncak tahap fana. Lebih penting lagi, ia merasakan struktur meridian di kakinya bermutasi perlahan, beradaptasi secara permanen terhadap tekanan ekstrem yang baru saja ia ciptakan. Jika ia melepaskan Baja Hitam itu kelak, kecepatannya akan mencapai tahap yang menakutkan.

Pemuda itu memutar langkahnya, berjalan tertatih menuruni panggung pualam putih yang kini memiliki dua lubang kawah baru. Setiap tetesan darah yang jatuh dari tubuhnya dihormati oleh tatapan ngeri para penonton yang secara otomatis membelah jalan, memberikannya ruang luas untuk melintas.

Bai Xue berdiri di ujung lorong, air mata mengalir deras di pipinya. Gadis itu menundukkan kepala sangat dalam saat Lin Chen berjalan melewatinya, sebuah gestur penghormatan mutlak.

"Jalan masih panjang," bisik Lin Chen pada dirinya sendiri, terus menyeret kakinya yang berat meninggalkan arena.

Pertempuran hari ini telah dimenangkan. Genderang perang melawan raksasa sesungguhnya di sekte ini telah resmi ditabuh. Lin Chen menyusuri jalan berbatu menuju gubuknya, menyatu kembali dengan bayang-bayang, merencanakan terobosan selanjutnya yang akan mengguncang langit Tiga Alam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!