NovelToon NovelToon
The Mafia'S Only Weakness

The Mafia'S Only Weakness

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO / Anak Genius
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mel R.

Dominic Enzo Salvatore terus mencari kekasih nya yang menghilang sudah 6 tahun lebih ini. Akibat salah paham dimana waktu itu kekasihnya Isabella Laurent.

Halo semua nya...ini adalah karya pertama yang yang saya buat. Saya sangat berharap kalian para readers suka dengan cerita yang saya buat

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mel R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20

Sinar matahari pagi yang hangat menerobos masuk melalui celah gorden kamar utama, menerangi ranjang besar yang masih berantakan. Dominic melenguh pelan, perlahan membuka matanya saat rasa hangat itu menyentuh wajahnya.

​Ingatannya langsung melayang pada kejadian semalam. Gairah, kepasrahan Isabella, dan bagaimana ia meminta haknya dengan penuh dominasi namun tetap memperlakukan istrinya yang lumpuh itu selembar kaca yang berharga. Dominic menoleh ke samping, mendapati Isabella masih tertidur sangat pulas dengan selimut sutra yang membungkus tubuh polosnya hingga sebatas dada. Wajah cantiknya tampak begitu rileks dan damai.

"Selamat pagi istriku, terimakasih atas yang semalam" Tersenyum Dominic. Hari ini Dominic merasa menjalani hari tidak lah terlalu berat. Karena apa? karena dirinya tadi malam sudah mendapatkan jatah.

​Dominic tersenyum tipis, dipenuhi rasa puas dan cinta yang mendalam. Ia mengecup kening Isabella dengan sangat lama tanpa suara agar tidak mengusik istirahat istrinya, lalu perlahan bangkit dari ranjang.

​Setelah membersihkan diri dan mengenakan pakaian santai—celana kain hitam dan kemeja linen abu-abu yang lengannya digulung hingga sikut—Dominic melangkah keluar kamar. Alih-alih langsung turun ke ruang kerja, ia memutuskan untuk mencari udara segar demi menjernihkan kepalanya dari rencana penyerbuan pelabuhan besok malam.

​Langkah kakinya membawa Dominic menuju halaman belakang rumahnya yang luas. Namun, begitu pintu kaca besar menuju taman terbuka, pemandangan di depannya membuat Dominic menghentikan langkah.

​"Selamat pagi, Dad," sapa Damian hangat begitu menyadari kehadiran sang Daddy. Ia langsung menutup bukunya sebagai bentuk rasa hormat, lalu tersenyum tulus.

Dominic menatap putranya sejenak. Aura dingin dan kejam yang selalu ia bawa dari markas bawah tanah perlahan mencair, digantikan oleh kehangatan seorang ayah. Ia berjalan mendekat, lalu dengan gerakan natural, tangan kekarnya mengusap lembut puncak kepala Damian—sebuah gestur kasih sayang yang jarang ia perlihatkan di depan anak buahnya.

​"Pagi juga Anakku," jawab Dominic. Suaranya beralih melembut, meski ketegasan seorang kepala keluarga tetap melekat kuat pada intonasinya.

Dominic lalu duduk di samping putranya. Lalu seorang pelayan datang memberikan Dominic kopi untuk ia rasa di pagi hari ini. Kopi tanpa gula.

"Kenapa kamu bertanya tentang kakek semalam kepada Mommy mu? bukan nya Daddy sudah memberitahu mu," Tanya Dominic dengan penasaran.

Sejenak Damian melihat Daddynya yang sedang menyesap kopi nya dengan menatap lurus kedepan.

"Mmmm....Dami hanya mau melihat bagaimana reaksi Mommy saja Dad." Jawab Damian dengan jujur.

"Apa yang kamu rencanakan?" tanya Dominic tanpa rasa basa-basi lagi.

"Mencari tahu kenapa kakek mau Mommy mati" Ragu Damian.

Dominic meletakkan kopinya di atas meja lalu menatap putra nya dengan dalam-dalam.

"Jadi karena itu kamu nekat memancing ibumu semalam? Kamu ingin tahu sejauh mana racun yang ditanamkan Antonio bekerja di rumah ini, hm?" tanya Dominic, suaranya rendah, berat.

​Damian tidak berkedip. Ia menatap lurus mata Daddy-nya. "Dami hanya ingin memastikan kalau Mommy tidak tahu apa-apa, Dad. Dan semalam, saat melihat ketakutan di mata Mommy, Dami tahu kalau bajingan tua itu benar-benar ancaman nyata."

"Kakek mu itu gila, dia sangat ambisius dengan kekuasaan. Ada sesuatu yang Daddy tidak bisa ceritakan kepada mu karena kamu masih kecil Anakku. Jika kamu dewasa nanti, kamu akan mengerti kenapa Antonio sangat tidak menyukai Mommy mu" Jelas Dominic.

Rasanya Dominic merasakan perasaan yang begitu hangat pagi ini. Berbincang di pagi hari bersama putranya Damian.

Setelah sekian tahun dirinya berada dilema kegelapan. Kini begitu terang berwarna warni setelah kedatangan istri dan anak nya.

​Damian terdiam, mendengarkan setiap bait kata yang keluar dari mulut Daddynya dengan saksama. Damian mengangguk pelan, memilih untuk menyimpan rasa penasarannya demi menghargai keputusan sang Daddy.

​Melihat kepatuhan dan kedewasaan di mata Damian, Dominic merasakan sebuah kehangatan yang asing namun begitu melegakan merayap di dadanya. Berbincang di pagi hari yang tenang seperti ini bersama putranya adalah kemewahan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

"Baiklah Daddy, Dami mengerti." Jawab Damian tersenyum.

Mendengar penjelasan dari Daddynya. Damian semakin bertekad untuk belajar lebih keras lagi agar bisa melindungi Mommynya dari segala bahaya.

Orang dewasa memang begitu rumit sekali.

Satu hal yang harus kamu pegang teguh, Damian," ucap Dominic dengan nada suara yang rendah namun sarat akan penekanan. "Apapun yang direncanakan si tua bangka itu di luar sana, dia harus melangkahi mayat Daddy terlebih dahulu sebelum bisa menyentuh kalian. Jadi, jadilah anak yang baik. Daddy sangat mencintai kalian."

"Aku juga sangat mencintai Daddy," balas Damian, suaranya terdengar tulus dan sarat akan janji yang tersirat.

​"Daddy juga dengar dari gurumu kemarin, kamu menyelesaikan dua bab sekaligus. Daddy sangat bangga padamu son," ucap Dominic, suaranya terdengar berat namun sarat akan kehangatan seorang ayah.

​"Itu karena materi yang Ayah pilihkan sangat menarik," balas Damian dengan binar mata cerdas. "Aku jadi tidak sabar menunggu kelas hari ini."

Dominic yang mendengar jawaban dari putranya menjadi terkekeh gemas.

"Baiklah putra ku" Dengan gemas Dominic mengelus-elus rambut putranya.

Dominic memberikan satu tepukan mantap di bahu Damian sebelum akhirnya berbalik. Langkah kakinya yang tegap dan berwibawa membawanya membelah halaman belakang, kembali masuk ke dalam rumah megah yang kini terasa jauh lebih hidup. Rasa hangat dari obrolan pagi itu benar-benar menjadi bahan bakar baru bagi jiwanya. Jika dulu ia bergerak murni didorong oleh kekejaman dan insting bertahan hidup, kini Dominic melangkah dengan keyakinan penuh: ia memiliki sesuatu yang sangat berharga untuk dilindungi yaitu Damian dan Isabella istrinya.

​Di lantai dua, Dominic perlahan membuka pintu kamar utama. Suasana kamar masih tampak tenang dan sejuk oleh aroma terapi lavender. Di atas ranjang, Isabella rupanya sudah terbangun. Ia sedang berusaha mendudukkan dirinya bersandar pada kepala ranjang, menyembunyikan kakinya yang masih kaku di balik selimut.

​Begitu melihat Dominic masuk, seulas senyum lembut langsung terbit di wajah cantik Isabella. Sisa-sisa keintiman semalam masih membekas lewat rona tipis di pipinya.

​"Kamu dari mana saja, Dom?" tanya Isabella dengan suara seraknya yang khas di pagi hari.

Dominic menutup pintu kamar rapat-rapat, mengunci dunia luar yang penuh darah dan intrik politik Salvatore di balik daun pintu itu. Ia berjalan mendekati ranjang dengan senyuman yang hanya ia perlihatkan pada istrinya.

​"Hanya mencari udara segar di halaman belakang bersama Damian," jawab Dominic lembut. Ia duduk di tepi ranjang, lalu mengulurkan tangan untuk membelai pipi Isabella dengan ibu jarinya. "Bagaimana tidurmu, Sayang? Apa ada yang terasa sakit?"

1
meliana
kalian semua jangan lupa mampir yah, di jamin seru dengan cerita cerita author
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!