Hanya satu hari sebelum hari pernikahan, Bayu Andarsono harus kehilangan sang mempelai dalam kecelakaan yang merenggut nyawa Annisa, belahan jiwanya. Keluarga besar dari kedua pihak tidak bisa menanggung malu, maka dengan keputusan tanpa perasaan mempelai wanita diganti, Andin, adik kandung Annisa. Bayu dan Andin menikah tanpa cinta, keduanya membuat kontrak hitam di atas putih. Andin setuju karena hatinya sudah dimiliki Bian Wijaya, kekasihnya yang setia. Bayu pun tak keberatan, sebab baginya, Andin hanyalah pengganti sementara. Namun, dibalik kehidupan pernikahan yang dingin, misteri mulai terkuak, sedikit demi sedikit. Bayu Andarsono bukanlah pria biasa. Ia adalah Alpha dari klan werewolf tertua di Tanah Jawa. Semakin lama kehidupan pernikahan antara Bayu dan Andin, semakin kuat pula ikatan gaib yang tak terlihat. Benarkah gadis yang ia anggap hanya pengganti itu sebenarnya adalah Mate sejati yang ditakdirkan oleh Bulan untuknya? Bisakah pernikahan palsu itu berubah menjadi ikatan a
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu_Fikri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pada Zaman Dahulu Kala
Pada zaman dahulu, saat negara masih bergejolak dibawah penjajahan tirani Belanda. Para pejuang negara, para lelaki yang mengangkat bambu runcingnya tinggi-tinggi melawan tirani itu, mulai berkurang jumlahnya. Sebab yang mereka punya hanya semangat perjuangan yang membara. Tetapi mereka hanyalah lelaki pribumi biasa, tanpa latar belakang militer. Mereka jelas kalah dari para kompeni bersenjata api itu.
Di tengah keterpurukan itu, beberapa tetua desa pribumi berkumpul dan menyatukan pikiran. Mereka harus mencari solusi yang tepat guna mengusir jauh para manusia berkulit putih itu.
Saat kegelapan sempurna melahap mentari, satu persatu para lelaki itu keluar dari rumah masing-masing, tanpa alas kaki juga tanpa penerangan. Di bawah sinar rembulan yang samar-samar, mereka berjalan mengendap-endap. Mencoba tak terdeteksi radar para penjajah yang berjaga.
Tepat tengah malam, semuanya telah berkumpul. Tempatnya di bawah pondok tua yang hampir roboh, di tengah hutan belantara, jauh dari pemukiman penduduk.
Para tetua berada di dalam pondok itu, mulai terlibat percakapan serius. Sedangkan para pemuda, berjaga diluar sambil sesekali mencuri dengar.
“Kita sudah kehilangan banyak nyawa, sodara-sodara. Nyawa berharga milik anak-anak dan handai taulan kita. Sampai kapan penderitaan ini akan berakhir?” Pak tua Asep berbicara pelan, nadanya pilu menyedihkan.
“Kemarin, menantu saya juga telah tiada. Nyawanya terenggut paksa oleh tirani penjajah yang kejam. Padahal, anak pertamanya baru saja lahir kedunia.” Lelaki paruh baya lain berkomentar.
“Kita harus bangkit sodaraku. Kita tidak bisa membiarkan tanah pemberian leluhur ini dirampas orang-orang putih itu. Saya sangat tidak sudi!!” Pak Deden menimpali dengan berapi-api.
“Setuju!!” Para pemuda diluar menimpali bersamaan.
“Kita harus menyusun rencana yang matang, sodara. Kita tidak boleh gegabah. Sebab jika tidak, nyawa kita yang akan hilang.” Kang Diman menyahut tenang.
“Jadi sodara, siapakah yang bisa memberi masukan untuk rencana kita??” Kang Budi bersuara, melempar pertanyaan kepada semua yang hadir.
Hening. Tidak ada seorangpun yang menjawab. Hanya suara jangkrik yang terdengar makin riuh. Sesekali lolongan serigala terdengar bersahutan di kejauhan hutan.
Tiba-tiba, dari barisan paling akhir, sebuah tangan terangkat. Detik itu juga, perhatian semua orang tertuju padanya.
“Saya ingin menyampaikan sesuatu. Kiranya, bisa menjadi hal yang berguna untuk rencana kita.”
“Silahkan maju anak muda. Orang tua ini menantikan suaramu.”Pak tua Asep menjawab lugas. Pemuda itu segera berjalan pelan ke dalam pondok tua itu. Setelah mendapat posisi dan duduk dengan tenang. Ia mulai menatap satu persatu para pejuang disana. Dari kedalaman matanya yang hitam jernih, terdapat tekad kuat disana.
“Nama saya Dani. Saya adalah lelaki terakhir di keluarga yang berhasil bertahan hidup. Ayah, juga kakak lelaki saya telah mati di tangan para kompeni itu.” Kalimat pembuka meluncur dari bibir Dani.
“Sebelumnya, keluarga kami bertahan hidup dengan mencari ubi liar yang tumbuh subur di hutan. Kami juga menjual kayu-kayu yang kami kumpulkan dari dalam hutan, sesekali bila mendapat tanaman obat, kami juga menjualnya. Itulah pekerjaan yang diturunkan ayah juga kakek saya. Pekerjaan ini, menuntut kami untuk bisa menjelajahi hutan dan mengingat jalan kembali. Dengan kata lain, keluarga kami menguasai hutan ini.”
Dani berhenti sesaat, hanya untuk mengambil napas dan mengamati wajah-wajah pendengar setianya.
Pemuda itu kemudian melanjutkan.
“Ada sebuah legenda yang diceritakan oleh kakek saya.” Wajah para pejuang terlihat makin antusias saat kalimat ini terucap.
“Legenda tentang siluman serigala. Kakek saya menyebutnya manusia serigala. Disebut demikian karena, mereka adalah bangsa serigala yang bisa berubah wujud menjadi manusia.” Para pejuang, berbisik-bisik riuh. Beberapa ada yang menertawakan kata-kata Dani.
“Mohon untuk didengarkan dengan seksama, sodara.” Kang Diman menginterupsi. Suasana pun kembali tenang.
“Ekhem…” Dani terbatuk-batuk, kemudian melanjutkan. “Manusia serigala ini, memang tidak berbeda dengan kita saat berwujud manusia, semuanya sama persis. Hanya ada satu perbedaan yang kentara. Mereka sangat kuat. Kecepatan berlarinya sungguh hebat dan cepat. Tubuh mereka pun sulit sekali dibunuh dengan senapan biasa. Orang-orang ini, bisa membunuh dalam sekejab mata.”
Hening lagi. Semuanya terkejut dengan fakta itu. Semenit kemudian, pak tua Asep bersuara.
“Apakah, siluman–manusia serigala ini sungguh nyata? P-pernahkah sodara melihat dengan mata kepala sodara sendiri?” Para pejuang terkesiap, pertanyaan itu sama seperti apa yang mereka pikirkan. Kini, wajah-wajah penasaran itu menatap Dani. Menanti jawaban.
“S-saya…. Saya berteman dengan salah satu dari mereka.” Jawab Dani dalam satu tarikan napas. Para pejuang kembali terkejut, mereka saling berpandangan satu sama lain.
“Bicaralah sejujurnya, sodara. Apakah kami bisa memegang ucapan anda?” Kang Diman bertanya lagi.
“Saya bersumpah. Semua yang keluar dari mulut saya adalah kebenaran.” Dani menjawab lantang dan tegas.
Hening lagi. Tetapi kali ini, heningnya beda. Ada pancaran harapan terselubung didalam dada para pejuang.
“Baiklah Dani. Kami semua percaya kata-katamu. Oleh karenanya, bisakah kami meminta satu hal padamu?” Pak Deden mengambil alih.
Dani menganggup mengiyakan.
“Pertemukan kami dengan para manusia serigala itu.”
“Dengan senang hati.” Senyum Dani terbit setelah mengatakan itu.
Begitulah malam itu ditutup dengan wajah-wajah sumringah para pejuang. Api semangat yang tadinya hampir padam, kini mulai kembali berkobar. Ada harapan besar pada makhluk bernama manusia serigala yang dikatakan Dani.
Diatas sana, bulan sabit bersinar redup. Turut menyaksikan untaian benang takdir yang mulai menyulam kisahnya sendiri. Takdir panjang yang akhirnya dimulai.
btw, saya pun baru mula menulis novel. kalau ada masa boleh tinggalkan komen di novel saya. hanya tekan profile, terima kasih 🤭/Grin/