NovelToon NovelToon
Di Balik Pintu Kamar Sebelah

Di Balik Pintu Kamar Sebelah

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nisaul Mardhiyah

" Ahh ugh Dia suamiku, Aksa... Kita tidak boleh melakukan ini," bisik Valerian di tengah napasnya yang memburu. "Tapi dia tidak pernah melihatmu sebagai wanita, Kak. Sedangkan aku? Aku menginginkanmu sampai hampir gila," balas Aksa dengan tatapan mata yang penuh obsesi.

Bagi Damian, Valerian hanyalah sebuah kewajiban di atas kertas kontrak bisnis keluarga. Dua tahun pernikahan berjalan, Damian tidak pernah sekali pun menyentuh istrinya, membiarkan Valerian layu dalam kesepian di rumah megah yang sedingin es.Namun, malam badai itu mengubah segalanya. Berawal dari rasa iba yang berubah menjadi ketegangan tak terkendali, Aksa—adik kandung Damian yang tinggal serumah dengan mereka—melanggar batas suci.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaul Mardhiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tragedi di Malam Hari

Ahhh, Aksa..." desis Valerian parau, kedua tangan kecilnya mencengkeram erat bahu jangkung pria itu saat merasakan jemari hangat Aksa mulai menjulur turun, menyentuh bagian intim di bawah sana yang sudah basah sepenuhnya oleh gairah panas yang tak lagi terbendung.

Sisa keintiman semalam masih terasa bagai hawa hangat yang tertinggal di permukaan kulit Valerian saat ia melangkah kembali ke kamarnya sebelum fajar benar-benar menyingsing.

Di bawah temaram lampu lorong yang mulai meredup, dua pengawal yang sebelumnya tak berdaya akibat efek obat tidur dosis rendah mulai melenguh, menggerakkan tubuh mereka yang kaku tanpa menyadari bahwa sang ratu baru saja kembali dari sangkar sebelah.

Valerian menutup pintu jati kamar utama dengan gerakan sehalus sutra. Ia bersandar pada daun pintu, meremas jubah tidur sutra hitamnya tepat di bagian dada. Jantungnya berdegup gila, bukan lagi karena ketakutan akan sifat temperamental Damian, melainkan karena gairah posesif dan romansa terlarang bersama Aksa yang kian hari kian mengikat jiwanya dalam sebuah labirin dosa yang manis. Di bawah hidung suaminya yang sah, ia telah menyerahkan seluruh kepatuhan batinnya kepada sang mentor masa lalu.

Ia berjalan mendekati cermin besar di sudut ruangan, menatap pantulan dirinya sendiri. Wajah cantiknya tampak lebih berisi, efek biologis dari janin minggu keempat yang kini sedang mulai membentuk kehidupan di dalam rahimnya.

Sementara itu, di dalam ruang kerja pribadinya yang berbau aroma tembakau mahal, Aksa tidak membiarkan matanya terpejam bahkan untuk satu detik pun.

Narendra..." desis Aksa parau,

Aksa bangkit dari kursi kerjanya, tubuh jangkungnya berdiri kokoh di depan jendela besar yang menghadap langsung ke arah matahari terbit. Seringai tipis yang sarat akan kelicikan dan manipulasi bisnis muncul di sudut bibirnya.

Aksa mengambil gawai pribadinya, lalu mendial sebuah nomor rahasia yang terhubung langsung dengan asisten pribadinya di luar rumah. "Persiapkan pertemuan makan siang privat dengan Clarissa di Sudirman hari ini. Dan pastikan... Damian menerima bocoran jadwal itu sepuluh menit sebelum acara dimulai."

Siang harinya, atmosfer di sebuah restoran mewah di kawasan Sudirman terasa begitu intim namun mencekik. Clarissa Narendra duduk dengan anggun dalam balutan gaun sabrina berwarna merah menyala, memancarkan pesona seorang wanita sosialita kelas atas yang sebentar lagi akan menyandang status sebagai tunangan dari pewaris utama aliansi Wardhana.

Di hadapannya, Aksa duduk dengan gaya santai namun mengintimidasi, melipat kedua tangannya di atas meja marmer.

Kau tampak begitu serius hari ini, Aksa," ucap Clarissa dengan senyuman manis yang sengaja dibuat untuk memikat pria hasil rekonstruksi bedah di depannya. "Apakah persiapan acara pertunangan kita satu bulan lagi membuatmu tertekan?"

Aku tidak pernah tertekan dengan pernikahan bisnis, Clarissa," desis Aksa dengan nada suara yang barau dan berat, sengaja menurunkan oktaf suaranya agar terdengar begitu menggoda.

"Aku memberi pilihan padamu malam ini. Batalkan pertunangan ini secara sepihak di depan media esok pagi dengan alasan bahwa Damian telah melakukan pelecehan atau penggelapan aset terhadap investasimu.

Jika kau melakukannya, aku akan membiarkan saham keluarga Narendra tetap bernapas di lantai bursa. Namun jika kau menolak..." Aksa menjeda kalimatnya, matanya berkilat penuh riak kegilaan. "...kamu akan tanggung akibatnya".

Di saat yang sama, di luar pintu kaca restoran mewah tersebut, sebuah mobil sedan hitam berhenti dengan rem yang berdecit kasar. Damian melangkah keluar dengan napas memburu dan wajah yang memerah padam menahan gejolak murka yang luar biasa pekat.

AKSA! KAU BAJINGAN!" bentak Damian dengan suara baritonnya yang menggelegar, langsung melangkah maju dan mencengkeram kerah kemeja hitam adiknya hingga beberapa kancing atasnya terlepas kasar.

Dengan satu sentakan kasar, Damian melepaskan kerah kemeja Aksa, napasnya masih memburu berat dengan urat-urat leher yang menegang rapat. "Kau... kau sengaja menjebakku, Aksa! Kau bermain gila dengan Valerian di rumah, dan sekarang kau mencoba merusak aliansi bisnisku dengan Clarissa?!"

Aksa merapikan kembali kerah kemejanya dengan gerakan kaku yang teramat tenang. "Aku tidak pernah menjebakmu, Kakak.

Aku hanya sedang mengembalikan setiap siksaan batin yang kau berikan pada Valerian selama dua tahun ini. Ini barulah permulaan dari neraka yang kuciptakan untukmu." Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Aksa melangkah lebar meninggalkan Damian yang berdiri membatu di tengah ruangan dengan harga diri yang hancur berkeping-keping.

Malam kembali mengunci kediaman utama Wardhana dalam keheningan yang dipenuhi aura kematian. Damian pulang ke rumah dalam keadaan mabuk berat akibat tekanan bursa saham yang seharian ini terus digempur oleh aksi jual dari investor London milik Aksa. Langkah kakinya yang kaku dan goyah menyusuri koridor lantai dua, menuju langsung ke arah kamar utama.

Brak!

Pintu kamar dihantam terbuka hingga membentur dinding dengan keras. Valerian yang sedang duduk di tepi ranjang sambil membaca berkas keuangan V-Property Group tersentak berdiri, wajah cantiknya seketika waspada melihat kondisi suaminya yang sudah kehilangan kendali penuh atas kesadarannya.

Damian merangsek maju, mencengkeram kedua lengan seksi Valerian dengan kekuatan gila yang membuat tulang selangka wanita itu terasa nyeri. Bau alkohol yang menyengat langsung menusuk indra penciuman Valerian.

Kau... kau dan adikku... kalian berdua benar-benar ingin melihatku mati, bukan?!" geram Damian parau, matanya merah menyala dipenuhi oleh riak kegilaan posesif yang teramat gelap. Ia mendorong tubuh Valerian hingga jatuh terlentang di atas ranjang kayu jati yang luas, lalu mengunci pergerakan wanita itu dengan menindih kedua kakinya.

Lepaskan aku, Damian! Kau mabuk! Keluar dari kamarku!" teriak Valerian dengan nada suara yang bergetar oleh kombinasi rasa syok dan ketakutan yang luar biasa besar demi melindungi janin keempat di dalam rahimnya.

Ini kamarku! Dan kau adalah istri pajanganku!" bentak Damian gila, tangannya mulai meraba kasar ke arah leher jubah tidur sutra hitam Valerian, merobeknya hingga mengekspos bagian dada atas wanita itu dengan kejam.

"Jika Aksa bisa menyentuhmu dengan tangan kotornya di kantor privat itu, maka malam ini aku akan mengambil kembali hakku yang sah! Aku tidak peduli anak siapa yang ada di dalam rahimmu ini, aku akan menandai tubuhmu sebagai milikku seutuhnya!"

Air mata Valerian meledak deras, membasahi bantal di bawah kepalanya. Sisi protektif seorang calon ibu di dalam dadanya meronta hebat. Dengan sepasang taring ketegasan yang tersisa, ia mencakar wajah Damian hingga meninggalkan bekas luka berdarah di pipi suaminya. "Hentikan, Damian! Pria berengsek! Jangan sentuh aku dengan kekasaran kotormu!"

Namun, kekuatan fisik Damian yang dominan jauh lebih besar di bawah pengaruh alkohol. Pria itu mengunci kedua tangan Valerian di atas kepala, wajahnya merunduk kasar mencoba mencium bibir ranum istrinya yang terus bergerak menghindar dalam siksaan.

Tepat saat Valerian merasa dunianya akan runtuh seutuhnya dan kesuciannya akan direnggut paksa dalam bentuk pemerkosaan pernikahan, sebuah suara dentuman kaca yang pecah berantakan seketika menggema dari arah balkon belakang.

Tuan Bagian Wardhana melangkah masuk dengan wajah sepucat mayat namun sarat akan otoritas tirani yang mematikan, dikawal oleh enam pria berbadan tegap dengan senjata yang siap dikokang. Pandangan mata pria tua itu seketika tertuju pada Damian yang mengerang kesakitan di lantai, lalu beralih pada Valerian yang berdiri memegang pecahan vas keramik dengan tubuh bergetar hebat dan jubah tidur yang koyak.

Apa yang terjadi di sini?!" bentak Tuan Bagian, suaranya yang berat menggelegar mengalahkan deru angin malam yang masuk lewat balkon yang hancur.

Ada... ada penyusup yang mencoba masuk lewat balkon, Ayah!" tangis Valerian pecah, suaranya melengking ketakutan, sebuah taktik cerdas untuk menutupi sisa gairah dan ketegangan intimnya. "Damian sedang mabuk berat saat pria itu melompat masuk. Damian mencoba melawannya, tapi penyusup itu memukul rahangnya dengan besi sebelum akhirnya melarikan diri ke arah taman bawah!"

Damian yang mulai sadar dari efek pukulan Aksa mencoba mendongak, mulutnya yang robek mengeluarkan darah segar saat ia berusaha berbicara. "B-bukan... bukan penyusup.

Cukup, Damian! Kau terlalu mabuk hingga tidak bisa melihat wajah bajingan itu dengan jelas!" potong Valerian dengan nada suara yang meninggi, sengaja menyerang kelemahan suaminya yang berada di bawah pengaruh alkohol di depan Tuan Bagian. "Jika kau tidak menenggak minuman sialan itu di luar, kau pasti bisa melindungi kamar kita!"

Periksa seluruh area taman belakang! Jangan biarkan siapa pun lolos dari gerbang utama!" perintah Tuan Bagian dingin kepada kepala pengawalnya. Pria tua itu kemudian berbalik, menatap Valerian dengan pandangan menilai yang teramat tajam. "Valerian, rapikan pakaianmu. Besok pagi, aku sendiri yang akan memindahkanmu ke paviliun barat dengan penjagaan yang jauh lebih ketat."

Keputusan Tuan Bagian Wardhana tidak pernah bisa diganggu gugat. Pagi belum sepenuhnya benderang ketika Valerian dipaksa mengemas beberapa pakaiannya, melangkah di bawah kawalan empat pengawal bertubuh tegap menuju Paviliun Barat. Bangunan itu terletak di ujung terjauh kompleks kediaman Wardhana, dipisahkan oleh taman labirin dan kolam ikan koi yang luas.

Valerian melangkah dengan dagu terangkat tegap. Rambut hitamnya dibiarkan terurai, membingkai wajah pucatnya yang menolak untuk terlihat kalah. Di balik gaun katun longgar yang menyembunyikan perut ratanya, sepasang taring keberaniannya justru kian menajam.

Ia tahu, isolasi ini adalah bentuk ketakutan terselubung dari Tuan Bagian yang cemas akan keselamatan janin minggu keempat di rahimnya—janin misterius yang menjadi taruhan seluruh silsilah dan takhta Wardhana Group.

Nyonya, ini kamar baru Anda," ucap kepala pengawal dengan nada kaku tanpa emosi, membukakan pintu kayu jati berukir kuno. "Sesuai perintah Tuan Besar, Anda tidak diperkenankan meninggalkan area paviliun tanpa izin tertulis, dan akses gawai Anda akan dibatasi hanya untuk keperluan medis."

Valerian hanya menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan cemoohan. "Sampaikan pada Tuan Besar, aku harap dia tidak terkena serangan jantung saat melihat laporan bursa efek sore ini."

Brak.

Sementara itu, di kantor pusat Wardhana Group yang terletak di kawasan segitiga emas Sudirman, atmosfer rapat pleno dewan direksi terasa begitu mendidih. Damian duduk di kursi utama dengan wajah yang bengkak kebiruan di bagian rahang akibat pukulan mentah Aksa semalam. Sifat temperamentalnya meronta hebat di balik setelan jas mahalnya, namun ia terpaksa menahan diri di bawah tatapan dingin para investor.

"Bagaimana mungkin saham kita anjlok hingga delapan persen dalam waktu dua jam setelah pembukaan bursa?!" bentak Damian parau, memukul meja konferensi dengan telapak tangannya yang gemetar oleh amarah.

Di ujung meja, Aksa duduk dengan gaya jangkung yang teramat tenang dan mendominasi.

Itu karena pasar tidak bodoh, Damian," sahut Aksa dengan nada suara yang barau, berat, dan tertata rapi. "

Damian mengepalkan tinjunya hingga buku-buku jarinya memutih seputih kertas. Ia tahu betul bahwa Aksa adalah dalang di balik semua pergerakan ekstrem ini. Adiknya itu sedang mengulitinya hidup-hidup, menghancurkan karier hukum dan bisnisnya secara perlahan dari balik bayangan.

Sebelum Damian sempat melayangkan makian hukum, pintu ruang rapat diketuk tergesa-gesa. Asisten pribadi Damian masuk dengan wajah seputih kapas, membisikkan sesuatu yang seketika membuat jantung Damian serasa berhenti berdetak.

"Tuan... Nona Clarissa Narendra baru saja menggelar konferensi pers dadakan. Beliau... beliau mengumumkan pembatalan pertunangan dengan Tuan Aksa, dan menuduh Anda telah melakukan pemerasan aset terhadap keluarga mereka."

Skakmat. Damian menoleh lambat ke arah Aksa, menemukan adiknya itu sedang menyesap kopi hitamnya dengan seringai tipis yang teramat kejam di sudut bibir. Bidak pertama yang dipasang Aksa melalui Clarissa kemarin kini telah resmi meledakkan benteng pertahanan Damian berkeping-keping.

Malam harinya, badai hujan deras mengguyur kota, menyamarkan suara gemercik air di sekitar Paviliun Barat. Valerian duduk di tepi ranjang berukuran king size, mencoba membaca beberapa berkas laporan keuangan V-Property Group yang sempat ia selundupkan di dalam tas kecilnya. Rasa mual khas awal kehamilan kembali menyerangnya, membuat tubuh cantiknya meremang lemas.

Tiba-tiba, suara ketukan halus yang teramat spesifik terdengar dari arah jendela berjeruji besi.

Tok... Tok... Tok... Tiga ketukan pendek, disusul satu ketukan panjang.

Jantung Valerian berdegup gila. Ia menjatuhkan berkasnya, lalu berlari kecil menuju jendela. Di balik derasnya air hujan dan kegelapan taman, siluet tubuh jangkung Aksa berdiri tegak. Pria itu mengenakan jaket kulit hitam yang basah kuyup, namun sepasang netra gelapnya memancarkan romansa protektif yang begitu intens dan pekat.

"Aksa... bagaimana bisa? Penjagaan di luar sangat ketat," bisik Valerian lirih, tangannya menjulur di sela-sela jeruji besi, mencoba menyentuh wajah tegas pria itu.

Aksa tidak menjawab dengan kata-kata. Ia menyambar jemari kecil Valerian.

1
Unicha
komen dong teman seperjuangan klw suka 😍
Unicha
komen dong teman" seperjuangan klw suka 😍
Unicha
Terimakasih telah membaca ,jangan lupa beri dukungan kalian ya ,,agar aku makin semangat 😍, dukungan kalian sangat berarti untukku
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!