NovelToon NovelToon
Sekar

Sekar

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Kutukan
Popularitas:10.3k
Nilai: 5
Nama Author: Maple_Latte

Sekar, kembang desa Wanasari, seharusnya menikah dengan Lindu, pria tampan, mapan, dan kebanggaan banyak orang. Namun, tepat di hari pernikahan, Sekar tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Sejak saat itu, kebahagiaan berubah menjadi misteri yang tak terpecahkan. Ada yang mengira jika Sekar kabur dengan orang lain.

Beberapa bulan kemudian, teror mulai menghantui desa Wanasari. Kejadian-kejadian aneh bermunculan, membuat warga hidup dalam ketakutan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bukan Sapi!

"Bukan binatang?" Ulang Pak Nanang lirih.

Bejo menggeleng.

"Lalu apa?" tanya Pak Darmin.

Bejo menatap sumur itu sekali lagi.

Matanya dipenuhi ketakutan.

Kemudian dengan suara hampir berbisik, namun cukup jelas untuk membuat semua orang merinding, ia berkata,

"Itu manusia."

Semua orang memandang ke arah Bejo, sesaat suasana menjadi hening. Lalu tiba-tiba Santa tertawa.

"Hahaha... dasar kau, Jo!" Kimin ikut terkekeh.

"Bikin kaget saja."

Bahkan Pak Nanang yang sejak tadi terlihat tegang ikut mengembuskan napas lega.

"Kirain betulan."

Pak Darmin menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum tipis.

Bejo memang dikenal suka bercanda dengan teman-temannya. Terlebih lagi, mereka semua tahu Bejo tadi dipaksa turun ke dalam sumur meski sebenarnya dia sempat menolak.

Karena itulah tidak ada yang langsung percaya. Mereka mengira Bejo sedang membalas dendam kecil karena dikerjai.

Pak Darmin bahkan menepuk bahu Bejo pelan.

"Jo, Jo..."

"Jangan bercanda seperti itu pada orang tua. Nda baik." Ujar Pak Darmin.

Santa masih tertawa.

"Iya. Kalau memang kesal karena disuruh turun, bilang saja."

"Jangan bikin cerita seperti itu."

Namun Bejo tidak ikut tertawa, dia hanya duduk diam. Wajahnya masih pucat.

Air dari pakaiannya terus menetes ke tanah. Matanya menatap mereka satu per satu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Senyum Santa perlahan memudar. Entah kenapa, tatapan Bejo membuat bulu kuduknya meremang.

Tatapan itu bukan tatapan orang yang sedang bercanda.

Tidak ada tanda-tanda jahil di wajahnya. Tidak ada senyum yang berusaha ditahan.

Tidak ada ekspresi puas karena berhasil menakut-nakuti teman-temannya.

Yang ada hanya ketakutan, ketakutan yang nyata.

Kimin yang tadi tersenyum perlahan menghentikan tawanya. Dia memperhatikan wajah Bejo lebih saksama.

Napas Bejo masih memburu, kedua tangannya masih sedikit gemetar.

Dan yang paling membuatnya tidak nyaman adalah mata Bejo. Mata itu masih menyimpan ketakutan yang belum hilang.

Seolah apa yang dilihatnya di dasar sumur masih terbayang jelas di depan matanya.

Senyum di bibir Santa langsung lenyap, begitu pula dengan Kimin.

Keduanya saling berpandangan, Bejo tidak sedang bercanda.

Pak Nanang yang sejak tadi berdiri di belakang ikut mengernyitkan dahi.

"Jo..."

"Kau serius?" Tanya Santa.

Bejo tidak langsung menjawab.

Dia menelan ludah, lalu mengangguk pelan. Membuat jantung semua orang berdegup lebih cepat.

"Kau benar-benar lihat manusia?" tanya Santa.

Kali ini suaranya jauh lebih pelan dibanding sebelumnya.

Bejo kembali mengangguk.

"Manusia."

Jawaban itu membuat suasana kembali sunyi.

Angin yang berembus di antara pepohonan terdengar begitu jelas.

Pak Darmin merasakan tenggorokannya mendadak kering.

"Manusia?" Ulangnya lirih.

Bejo mengusap wajahnya yang basah.

Kemudian berkata dengan suara gemetar.

"Aku lihat tubuhnya."

"Di dasar."

Tak seorang pun berbicara, mereka hanya saling berpandangan.

Pikiran masing-masing mulai dipenuhi berbagai kemungkinan yang mengerikan.

Siapa manusia itu?

Bagaimana bisa ada manusia di dalam sumur itu?

Dan yang paling membuat mereka tidak nyaman. Apakah itu orang yang mereka kenal?

Pak Kimin tanpa sadar menoleh ke arah sumur.

Lubang gelap itu kini tampak berbeda di matanya.

Tadi dia hanya menganggapnya sumur tua biasa.

Sekarang sumur itu terasa seperti mulut raksasa yang menyimpan rahasia mengerikan.

Santa menelan ludah.

"Laki-laki atau perempuan?"

Bejo menggeleng.

"Nda tahu."

"Airnya terlalu keruh."

"Aku cuma lihat tubuhnya."

"Rambutnya juga ada."

Kalimat terakhir itu membuat Pak Darmin merasakan hawa dingin menjalar di punggungnya.

"Rambut?" tanya Pak Nanang.

Bejo mengangguk.

"Sudah kalau begitu, cepat kabari orang desa." kata Pak Nanang dengan tegas.

Santa dan Kimin langsung mengangguk.

Mereka tidak membuang waktu sedikit pun.

Begitu mendengar perintah itu, keduanya segera berlari meninggalkan lokasi sumur.

Langkah mereka terburu-buru menyusuri jalan setapak yang membelah kebun dan sawah. Napas mereka memburu, tetapi tidak ada satu pun yang memperlambat langkah.

Apa yang baru saja mereka dengar terlalu besar untuk disimpan sendiri.

Ada mayat di dalam sumur. Dan kemungkinan besar mayat itu sudah lama berada di sana.

Tak sampai beberapa menit kemudian, kabar itu mulai menyebar ke seluruh penjuru desa.

Awalnya hanya dari mulut Santa dan Kimin kepada beberapa warga yang mereka temui di jalan.

Namun seperti kebanyakan kabar mengejutkan di desa, berita itu menyebar jauh lebih cepat daripada langkah manusia.

Dari satu orang ke orang lain.

"Katanya ada mayat di sumur Pak Darmin!"

"Mayat manusia?"

"Iya!"

"Siapa?"

"Nda tahu!"

"Katanya ditemukan Bejo!"

"Bejo yang turun ke dalam sumur itu?"

"Iya!"

"Waduh..."

Dalam waktu singkat, seluruh desa menjadi riuh.

Orang-orang meninggalkan pekerjaan mereka.

Para petani yang sedang berada di sawah mulai berdatangan.

Ibu-ibu keluar dari rumah sambil membawa rasa penasaran yang besar.

Anak-anak berlarian mengikuti orang dewasa meski beberapa kali dimarahi agar tidak mendekat.

Bahkan para lansia yang jarang keluar rumah pun tampak berjalan perlahan menuju lokasi.

Sementara itu di dekat sumur, Pak Nanang meminta beberapa warga yang lebih dulu datang untuk menjaga agar tidak ada siapa pun yang mendekat.

"Jangan ada yang turun!" Katanya.

"Biarkan polisi yang memeriksa."

Bejo yang masih syok duduk di bawah pohon tidak jauh dari sana.

Beberapa warga menghampirinya.

Mereka ingin mendengar langsung apa yang dilihatnya.

Namun setiap kali ditanya, jawaban Bejo selalu pendek.

Dia hanya mengatakan bahwa dirinya melihat tubuh manusia di dasar sumur.

Lebih dari itu, dia tidak sanggup menjelaskan.

Bayangan yang dilihatnya di dalam air keruh masih terus menghantui pikirannya.

Tak lama kemudian jumlah warga yang berkumpul semakin banyak.

Puluhan orang berdiri mengelilingi area sumur.

Mereka berbisik-bisik satu sama lain. Sebagian mencoba menerka identitas mayat tersebut.

"Apa jangan-jangan orang luar?"

"Bisa juga."

Berbagai dugaan bermunculan, tidak ada yang tahu mana yang benar.

Namun satu hal yang pasti, penemuan itu telah mengubah suasana desa menjadi tegang.

Bahkan langit siang yang cerah terasa muram bagi sebagian orang.

Pak Darmin berdiri tak jauh dari sumur dengan wajah pucat.

Sesekali ia memandang ke arah lubang sumur.

Lalu segera mengalihkan pandangannya.

Perasaan tidak nyaman terus menghantuinya.

Sekitar satu jam kemudian, jumlah warga yang datang sudah mencapai puluhan orang.

Jalan menuju lokasi bahkan mulai dipenuhi sepeda motor yang diparkir sembarangan.

Mereka menunggu pihak berwenang datang.

Menunggu kepastian tentang apa yang sebenarnya berada di dasar sumur itu.

Tak lama kemudian terdengar suara sirene dari kejauhan.

Semua kepala langsung menoleh ke arah jalan desa.

"Itu mereka!"

"Polisi datang!"

Beberapa warga berseru.

Tak lama berselang, kendaraan polisi memasuki area desa.

Di belakangnya menyusul kendaraan petugas pemadam kebakaran yang membawa perlengkapan penyelamatan.

Kedatangan mereka membuat kerumunan warga sedikit bergeser memberi jalan.

Para petugas segera turun dari kendaraan.

Mereka membawa tali, lampu penerangan, helm keselamatan, serta berbagai peralatan yang diperlukan untuk mengevakuasi sesuatu dari dalam sumur.

Seorang polisi berpangkat perwira mendekati Pak Nanang dan Pak Darmin.

"Apa benar ada penemuan mayat?" tanyanya.

Pak Nanang mengangguk.

"Iya, Pak."

"Yang melihat langsung siapa?"

Pak Nanang menunjuk ke arah Bejo yang masih duduk di bawah pohon.

"Itu orangnya."

Perwira tersebut menoleh ke arah Bejo, lalu berjalan menghampirinya.

Sementara itu seluruh warga desa menahan napas.

Mata mereka tertuju pada sumur tua yang kini telah dipasangi garis pembatas oleh polisi.

Yang terdengar hanya bisik-bisik pelan dan suara dedaunan yang digerakkan angin.

Semua menunggu dengan perasaan yang sama.

1
M.S Inisial
Suka banget sama karya author satu ini
Yulia Lia
ceritanya bagus
Riska Salahudin
seru kak
Yulia Lia
lanjut KK ,,nah yg kmaren ngatain sekar lari SM laki2 lain taunya dia ada di dlm sumur
Yulia Lia
lanjut ya kk
Yulia Lia
mudah2 itu Sekar biar gosip yg berenar gk bener
Nurr Tika
warga heboh knp sekar mati
Nurr Tika
lanjut
Nurr Tika
harusnya tdi di angkat sekalian yah, gara" takut akhirnya lupa
Siti Yatmi
jgn2 Sekar itu..ya Tuhan ...
Wiwit
lanjut thor
Nurr Tika
bnr kah itu mayat sekar
Riska Salahudin
pasti sekar
Nurr Tika
mayat sekar di buang ke sumur
Nurr Tika
bagus
Nurr Tika
lanjut
Nurr Tika
oh ternyata baskoro dan wulan ada hubungan
Elgi 07
aduhhh thor keren sekali ceritanya. serasa gantung banget babnya.
sepatal city
thor bagus banger, selalu di buat penasaran sama karya horor author
Nanda
mantappu............
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!