Sekar, kembang desa Wanasari, seharusnya menikah dengan Lindu, pria tampan, mapan, dan kebanggaan banyak orang. Namun, tepat di hari pernikahan, Sekar tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Sejak saat itu, kebahagiaan berubah menjadi misteri yang tak terpecahkan. Ada yang mengira jika Sekar kabur dengan orang lain.
Beberapa bulan kemudian, teror mulai menghantui desa Wanasari. Kejadian-kejadian aneh bermunculan, membuat warga hidup dalam ketakutan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bau apa itu?
Pak Darmin dan Pak Nanang tidak langsung menuju kebun.
Mereka terlebih dahulu mencari beberapa pemuda desa yang bisa membantu.
Tak lama kemudian, mereka menemukan Bejo, Kimin, dan Santa yang sedang berkumpul di dekat warung.
Melihat kedua orang tua itu datang bersama, ketiganya langsung berdiri.
"Ada apa, Pakde?" Tanya Bejo.
"Aku mau minta bantuan kalian."
"Bantuan apa?"
"Sapiku yang hilang itu kemungkinan jatuh ke dalam sumur Pakde Nanang."
Ketiga pemuda itu saling berpandangan.
"Lho, serius?"
Pak Nanang mengangguk.
"Di sumurku ada bau bangkai."
"Bau sekali."
"Makanya kami curiga itu sapi milik Darmin."
"Aku minta bantuan kalian untuk mengeluarkan sapi itu." Kata Pak Darmin.
Mendengar itu, Bejo langsung tertawa kecil.
"Wah, kalau sapi dewasa berat itu, Pakde."
"Nah, makanya aku cari kalian."
Kimin mengangguk.
"Ya sudah, kami bantu."
"Iya."
Santa ikut mengangguk.
"Kalau memang sapi jatuh ke dalam sumur, kasihan juga kalau dibiarkan membusuk di sana."
Pak Darmin tampak lega.
"Terima kasih."
"Ndak usah sungkan, Pakde."
"Sesama warga desa harus saling bantu."
Setelah ketiganya setuju, mereka pun bersiap.
Bejo mengambil tali tambang yang biasa digunakan untuk mengikat kayu.
Sementara Kimin membawa sebilah parang untuk berjaga-jaga jika diperlukan.
Tak lama kemudian mereka berlima berjalan bersama menuju kebun milik Pak Nanang.
Sepanjang perjalanan, mereka membicarakan kemungkinan sapi itu memang jatuh ke dalam sumur.
"Memang hilangnya sudah seminggu ya, Pakde?" Tanya Santa.
Pak Darmin mengangguk.
"Iya."
"Sudah dicari ke mana-mana."
"Tapi nda ketemu."
Pak Nanang hanya diam.
Entah kenapa, semakin dekat ke kebunnya, perasaan tidak enak itu muncul.
Dia sendiri tidak tahu alasannya, mungkin karena bau busuk yang tercium dari sumur itu.
Tak lama kemudian mereka sampai di kebun.
Namun baru beberapa langkah memasuki area kebun, Bejo langsung berhenti.
"Astaga..."
Dia spontan menutup hidung.
Kimin dan Santa ikut mengernyit.
"Bau apa ini?"
"Busuk sekali."
Pak Darmin langsung menoleh ke arah sumur yang berada tidak jauh dari sana.
Wajahnya berubah serius.
Karena bau itu memang jauh lebih menyengat daripada yang dia bayangkan.
Mereka pun berjalan mendekat ke arah sumur.
Dan semakin dekat mereka melangkah, semakin kuat pula bau busuk yang menyerang hidung mereka, membuat ketiga pemuda itu saling berpandangan.
Begitu sampai di dekat sumur, ketiganya langsung menutup hidung.
"Aduh..." keluh Bejo sambil meringis.
"Tahu begini aku bawa kain penutup hidung dari rumah."
Santa yang berdiri di sampingnya langsung berkata,
"Pakai baju saja."
"Maksudmu?"
"Buka bajumu, terus tutup hidung pakai itu."
Kimin yang sedari tadi menahan napas ikut mengangguk.
"Iya."
"Kalau nda, bisa pingsan karena baunya."
Dengan wajah terpaksa, Bejo akhirnya melepas baju lalu mengikatkannya di hidung dan mulut.
Santa dan Kimin pun melakukan hal yang sama.
Meski begitu, bau busuk itu tetap saja berhasil menembus kain yang mereka gunakan.
Pak Darmin dan Pak Nanang memilih berdiri sedikit lebih jauh.
Sementara ketiga pemuda itu mulai memikirkan cara memeriksa isi sumur.
Lalu Kimin bertanya,
"Siapa yang mau masuk ke dalam?"
Suasana langsung hening, tidak ada yang menjawab.
Beberapa detik kemudian Santa perlahan menoleh.
Tatapannya langsung tertuju pada Bejo, melihat itu, Bejo langsung curiga.
"Kenapa kau lihat aku?"
Santa menunjuknya.
"Karena kau yang paling muda."
"Hah?"
"Jadi sebaiknya kau saja yang turun."
Bejo langsung protes.
"Lho, kenapa aku?"
"Karena tenagamu masih kuat."
"Itu alasan yang nda masuk akal."
Santa tertawa kecil.
Namun sebelum Bejo selesai mengomel, Kimin ikut menimpali.
"Santa ada benarnya juga."
Bejo menoleh.
"Kau juga?"
Kimin mengangguk santai.
"Di antara kita bertiga, yang paling jago berenang kan kau."
"Itu beda urusan!"
"Kalau ada apa-apa di bawah sana, kau yang paling mudah naik lagi."
Bejo membuka mulut hendak membantah.
Namun sebelum sempat berkata apa-apa, Pak Darmin ikut berbicara.
"Iya, Jo."
"Kami percayanya sama kamu."
Santa langsung mengangguk.
"Nah, dengar itu."
Pak Nanang bahkan ikut berkata,
"Kau masih muda dan kuat."
Bejo menatap satu per satu wajah yang ada di sekitarnya.
Tidak ada satu pun yang terlihat berniat menggantikannya.
Semua justru tampak setuju.
Bejo menghela napas panjang.
"Wah, enak sekali kalian."
Santa terkekeh.
"Namanya juga pembagian tugas."
"Pembagian tugas apanya."
"Yang turun satu orang."
"Yang nonton empat orang."
Kimin tertawa.
Namun karena semua orang sudah sepakat, Bejo akhirnya tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Dengan wajah pasrah, dia mendekati bibir sumur.
Lalu menatap ke dalam, kegelapan menyambut pandangannya.
Sementara bau busuk yang keluar dari dasar sumur terasa semakin menyengat.
Membuat bulu kuduknya perlahan meremang.
Entah kenapa, mendadak dia berharap apa yang ada di dalam sana benar-benar hanya seekor sapi.
Setelah beberapa saat mempersiapkan semuanya, mereka akhirnya memutuskan untuk mulai memeriksa isi sumur.
Bejo masih terlihat enggan.
Namun karena semua orang sudah sepakat, dia tidak punya banyak pilihan.
Pak Darmin dan Kimin mengambil tali tambang yang mereka bawa.
Kemudian mereka mengikatkannya dengan kuat di tubuh Bejo.
Tepat di bagian pinggang dan dada.
"Yang kuat ikatnya."
"Tenang saja." Jawab Kimin.
"Kalau putus, aku yang turun menyusul."
"Jangan bercanda begitu."
Santa tertawa kecil mendengar protes Bejo.
Sementara itu, mereka menyiapkan satu tali lagi.
Rencananya, jika memang ada bangkai sapi di dalam sumur, tali itu akan digunakan untuk mengikat tubuh hewan tersebut agar bisa ditarik bersama-sama dari atas.
"Kalau sudah lihat sapinya, ikat yang kuat."
"Iya, iya."
"Jangan sampai lepas."
Setelah semuanya siap, Bejo berdiri di bibir sumur.
Dia menelan ludah, lalu menatap ke bawah.
Kegelapan menyelimuti dasar sumur. Dari sana, bau busuk terus naik tanpa henti.
Membuat perutnya terasa tidak nyaman.
"Siap?" Tanya Santa.
Bejo menghela napas panjang.
"Nda siap."
Santa langsung tertawa.
"Turun saja."
Pak Nanang ikut tersenyum tipis.
Akhirnya Bejo memegang tali yang terikat di tubuhnya.
Lalu perlahan menurunkan dirinya ke dalam sumur.
Pak Darmin, Kimin, dan Santa memegang tali dari atas.
Menurunkannya sedikit demi sedikit.
Perlahan.
Semakin turun, semakin kuat bau busuk yang menyerang hidung Bejo.
Dia sampai harus memejamkan mata sesaat.
"Aduh..." Gumamnya pelan.
Dinding sumur yang lembap berada di kanan kirinya.
Sesekali kakinya menyentuh batu-batu yang menonjol.
Sementara cahaya matahari dari atas semakin lama semakin mengecil.
"Sudah sampai mana?" teriak Santa dari atas.
"Masih turun!" Teriak Bejo.
Suaranya bergema di dalam sumur.
Beberapa saat kemudian, dia turun lebih dalam lagi.
Kini bau busuk itu terasa hampir tidak tertahankan.
Jantungnya mulai berdebar lebih cepat, bukan karena takut jatuh.
Melainkan karena perasaan aneh yang tiba-tiba muncul.