Bagi Jayden Xeno Frederick, perempuan hanyalah makhluk rumit yang membuang waktu. Sebagai ketua VULTURES—geng motor paling disegani di Jakarta—ia punya segalanya: kuasa, ketampanan, dan pengaruh. Namun, sepulangnya dari program pertukaran pelajar di London, prinsip hidup Jayden runtuh dalam semalam. Ia bertemu dengan Elleanor Catleena Smith, murid baru pindahan Amerika yang barbar, gemar membuat rusuh, dan sama sekali tidak mempan dengan pesonanya.
Elleanor—sang Queen Racer tersembunyi—berpindah ke Indonesia bukan untuk mencari cinta, melainkan karena didepak dari sekolah lamanya akibat merusak fasilitas sekolah. Sifat liar dan tak terkendali milik Elle justru memicu rasa penasaran Jayden. Rasa penasaran yang lambat laun bermutasi menjadi sebuah obsesi gelap dan posesif. Jayden menginginkan Elle, mutlak untuk dirinya sendiri.
Namun, mengurung seekor burung hantu yang hobi berontak tidaklah mudah. Apalagi di belakang Elle, ada Alkana Putra Adhytama, ketua geng WOLFANGS.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alyssa Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: Benang-Benang yang Terpaut
Ponsel di genggaman Elleanor serasa memancarkan hawa es yang membekukan jemarinya. Pesan dari Jayden masih terpampang jelas di layar, memotong seluruh rasa percaya diri yang sempat membubung tinggi di markas Wolfangs semalam. Sifat barbarnya berontak, memicu rasa panas yang menjalar dari dada hingga ke ujung kepala.
Dia tahu. Bajingan itu tahu segalanya.
"Gila... lo bener-bener iblis gila, Jayden!" umpat Elleanor setengah berbisik, melempar ponselnya ke atas tumpukan cetak biru suspensi di atas kasur.
Elle berjalan mondar-mandir di kamarnya dengan napas memburu. Perasaan diawasi secara mutlak ini mulai mengikis kewarasannya. Jayden sengaja membiarkannya kabur, sengaja membiarkannya menyusun aliansi dengan Alka, dan sengaja membiarkannya mendaftar ke kompetisi Sentul, hanya untuk menunjukkan bahwa sejauh apa pun Elle melompat, ia tetap berada di dalam sangkar yang dikendalikan oleh cowok itu.
Namun, di balik rasa frustrasinya, darah Queen Racer di dalam tubuh Elle justru menolak untuk tunduk. Jika Jayden ingin menjadikannya pusat dari labirin kegilaan ini, maka ia akan memastikan labirin itu runtuh bersama dengan keangkuhan sang ketua VULTURES.
Dengan sentakan tegas, Elle menyambar kembali ponselnya, mengetik balasan dengan jemari yang bergetar penuh emosi.
Elleanor: Gua gak butuh belas kasihan lo di sirkuit, Muka Tembok. Simpan kesombongan lo buat bulan depan, karena gua yang bakal bikin rekor tak terkalahkan lo itu jadi sampah di depan anak buah lo sendiri.
Setelah mengirim pesan itu, Elle langsung mematikan ponselnya total. Ia tidak ingin memberikan celah lagi bagi Jayden untuk membalas dan mengacaukan fokus mentalnya malam ini.
Sementara itu, di sirkuit gokart tertutup Bogor, langit malam mulai menjatuhkan rintik gerimis tipis. Jayden masih berdiri di tepi lintasan, menatap layar ponsel hitamnya yang menampilkan pesan balasan dari Elle. Sebuah seringai tipis, tajam, dan sarat akan obsesi yang kian pekat kembali terukir di wajah tampannya.
"Masih mau menantang, huh?" gumam Jayden lirih, suaranya teredam oleh suara angin malam.
Ditutupnya layar ponsel itu, lalu ia berbalik menatap Shaka yang sedang membereskan sisa perlengkapan balap di dalam pit stop. "Shaka, besok subuh jadwalkan pertemuan dengan pihak panitia Inter-School Championship. Gua mau regulasi balap diubah."
Shaka menghentikan gerakannya, menoleh dengan kening berkerut dalam. "Diubah gimana, Jay? Semua regulasi keselamatan dan kelas mesin udah disepakati sama semua perwakilan sekolah sejak bulan lalu."
"Ubah kelas mesin untuk faksi independen," perintah Jayden dingin, sepasang netra hitamnya berkilat tajam di bawah temaram lampu pit. "Biarkan faksi independen menggunakan mesin kelas bebas—Open Class. Gua tahu motor yang dikirim dari Amerika untuk VÈRUNE adalah motor spek superbike 1000cc. Kalau panitia membatasi kapasitas mesin, dia gak bakal bisa ngeluarin seluruh keliarannya di aspal."
Shaka tertegun, menatap ketuanya dengan pandangan tak percaya. "Jay, lo gila? Kalau faksi independen diizinkan pakai spek Open Class, itu artinya lo juga harus turun pakai seluruh tenaga Kawasaki H2 Carbon lo tanpa limiter. Kecepatan di sirkuit Sentul bisa menyentuh angka di atas 300 km/jam. Satu kesalahan kecil di tikungan S besar... nyawa taruhannya."
"Gua gak bakal buat kesalahan, Shaka," potong Jayden cepat, suaranya mengalun datar namun sarat akan ke-absolut-an yang tak terbantahkan. "Gua cuma mau memberikan panggung paling megah buat buronan gua. Gua mau dia bertarung dengan kekuatan penuhnya, sampai dia sadar... bahkan dengan kecepatan tertingginya pun, dia tetap gak bakal bisa nembus dinding pertahanan gua."
Shaka menghela napas pendek, akhirnya mengangguk pasrah. Ia tahu, jika sisi obsesif Jayden Xeno Frederick sudah mengambil alih kendali, tidak ada satu pun manusia di kota ini yang bisa mengeremnya. Poros dunia cowok itu telah bergeser sepenuhnya pada gadis bernama Elleanor Smith.
Hari Senin tiba dengan cepat, membawa kembali atmosfer mencekam di koridor Loren’z High School. Hujan yang mengguyur Jakarta sejak subuh menyisakan hawa lembap dan aroma tanah yang pekat di sekitar area sekolah.
Elleanor berjalan menyusuri koridor lantai dua menuju kelas XI-IPA 3 dengan langkah konstan. Hari ini, pengawalan dari abang kembarannya sedikit melonggar di area dalam sekolah karena Kenzie harus menghadiri rapat pemegang saham Smith Corp di Singapura, namun Kenzo tetap menaruh dua pasang mata intelijen di gerbang depan.
Begitu Elle memutar knop pintu kelas, ia bisa merasakan perubahan drastis pada atmosfer ruangan. Anak-anak cowok faksi VULTURES yang biasanya asyik bersenda gurau di barisan belakang, kini duduk dengan posisi tegap dan pandangan mata yang terfokus pada meja nomor tiga.
Jayden sudah duduk di sana, mengenakan seragam kemeja putihnya yang rapi tanpa jaket geng. Di atas mejanya, sebuah kotak beludru hitam berukuran kecil tergeletak diam tepat di samping buku catatan biologinya.
Elle melangkah mendekat, menghempaskan tas ranselnya ke atas meja dengan gerakan judes seperti biasa. Ia melirik kotak beludru itu sekilas sebelum duduk di kursinya. "Apalagi itu, Muka Tembok? Lo mau neror gua pake bom surat?" ketus Elle tanpa menoleh.
Jayden tidak membalas cibiran itu dengan kata-kata. Jemari panjangnya bergerak lambat, meraih kotak beludru tersebut dan membukanya di hadapan Elle. Di dalam kotak itu, terbaring sebuah gelang jam pintar—smartband—berwarna hitam legam dengan desain minimalis namun memiliki pelat baja kecil berukir logo VULTURES di bagian pengaitnya.
"Pakai," ujar Jayden pendek, suaranya yang berat dan parau mengalun lambat, mengunci pendengaran Elle.
Elleanor mendengus remeh, melipat tangannya di dada. "Gak mau. Gua gak sudi pakai aksesoris geng motor lo yang norak itu."
Jayden menggeser duduknya, mengikis jarak di antara mereka hingga bahu tegapnya menyentuh lengan Elle. Tangan kanannya bergerak maju, menyambar pergelangan tangan kiri Elle dengan cengkeraman yang stabil namun tak terbantahkan. Sebelum Elle sempat memberontak barbar, Jayden dengan tangkas sudah melingkarkan gelang pintar itu di pergelangan tangan halus Elle hingga terdengar bunyi klik pengunci yang mengunci mati.
"Jayden! Lepasin gak?!" bentak Elle pelan, mencoba menarik tangannya namun sia-sia.
"Gua udah ubah regulasi balap di Sentul buat lo, Elle," bisik Jayden sangat rendah tepat di dekat telinga Elle, membuat bulu kuduk gadis itu meremang seketika. "Gua izinkan lo pakai spek Open Class. Dan gelang ini... adalah sensor pembaca detak jantung dan kondisi fisik lo yang terhubung langsung ke monitor pit stop gua selama balapan bulan depan."
Elleanor tertegun, manik mata indahnya membelalak menatap gelang hitam yang kini melingkari pergelangan tangannya.
"Gua biarkan lo terbang bebas di sirkuit nanti, Elle," lanjut Jayden, netra hitamnya yang pekat menatap dalam ke dalam mata Elle dengan intensitas gila yang begitu membakar. "Tapi gua mau memastikan kalau jantung lo... tetep berdetak di bawah kendali gua selama lo mencoba lari dari gua di atas aspal."