Riski seorang Fans Sepak bola fanatic saat pulang nonton pertandingan di tabrak mobil dan akhirnya terlempar Ke Dunia Lain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RRS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Peta Kekuatan dan Ambisi di Tanah Kamboja
Phnom Penh menyambut skuat Garuda Muda dengan suhu udara yang mencapai 34°C, namun panasnya cuaca tersebut tidak sebanding dengan antusiasme yang meledak di tanah air. Di lobi Hotel Phnom Penh, tempat Timnas U-22 menginap, Riski duduk bersama Marco Valez di sebuah sudut yang agak tenang. Di depan mereka, sebuah tablet menampilkan hasil pengundian grup yang baru saja diumumkan secara resmi oleh AFF untuk turnamen Piala AFF U-22 2019.
Turnamen ini menjadi sorotan dunia karena kehadiran Riski yang baru saja mengguncang kasta tertinggi Gibraltar bersama Europa FC. Pembagian grup menunjukkan tantangan yang nyata bagi Indonesia:
Grup A: Vietnam, Thailand, Timor Leste, dan Filipina.
Grup B: Indonesia, Malaysia, Myanmar, dan tuan rumah Kamboja.
"Grup B adalah grup neraka versi mini," gumam Marco sambil menggeser layar tabletnya. "Malaysia selalu menjadi lawan emosional yang penuh intrik, Myanmar punya ketahanan fisik yang merepotkan, dan Kamboja... mereka punya dukungan penuh dari ribuan suporter fanatik sebagai tuan rumah. Kamu akan bermain di bawah tekanan suara yang memekakkan telinga."
Riski menyesap air mineral Lippuku yang selalu ia bawa dari Bau-Bau untuk menjaga hidrasinya agar tetap optimal. Sebagai atlet profesional, ia sangat menjaga apa yang masuk ke dalam tubuhnya. "Tidak masalah siapa lawannya, Marco. Jika kita ingin kembali ke level elit Eropa, Asia Tenggara harus kita lewati dengan dominasi total. Aku tidak datang ke sini untuk sekadar bermain aman."
Instruksi Strategis: Menjadi Jantung Tim
Di ruang pertemuan tim yang tertutup, pelatih Indra Sjafri memaparkan taktiknya di depan papan tulis magnetik. Riski dipasang sebagai pemain nomor 7 yang memiliki peran free role. Ia tidak hanya diplot sebagai ujung tombak, tetapi juga sebagai dirigen yang menghubungkan lini tengah ke depan.
"Riski, saya tahu pengalamanmu di Eropa akan sangat membantu tim ini," ujar sang pelatih dengan nada serius namun penuh kepercayaan. "Tapi saya minta kamu tetap menjaga kolektivitas tim. Gunakan kecepatanmu untuk membuka ruang bagi rekan-rekanmu. Jika mereka buntu, baru kamu ambil alih secara mandiri dengan kemampuan penyelesaian akhirmu."
Rekan-rekan setimnya, seperti Marinus Wanewar dan Osvaldo Haay, menatap Riski dengan rasa kagum. Sebagian besar dari mereka telah mendengar reputasi Riski saat membantai Mons Calpe SC lewat video-video yang viral. Melihatnya secara langsung mengenakan jersi latihan merah-putih memberikan rasa percaya diri tambahan bagi seluruh skuat Indonesia.
Kabar dari Panti dan Godaan di Bandung
Malam sebelum laga perdana melawan Myanmar, Riski melakukan panggilan video ke Panti Asuhan di Bau-Bau. Suasana di sana sangat ramai meskipun hari sudah mulai larut. Anak-anak panti sudah menyiapkan spanduk besar bertuliskan "RISKI: DARI BAU-BAU UNTUK DUNIA".
"Ibu Sarah, sampaikan pada anak-anak untuk tetap fokus belajar. Jangan sampai mereka bolos sekolah hanya untuk menonton pertandinganku," pesan Riski dengan senyum tulus.
"Mereka tidak bisa diam, Ki. Mereka terlalu bersemangat melihat kakak mereka membela Timnas," jawab Ibu Sarah sambil tertawa. "Ingat, jaga kesehatanmu. Cuaca di Kamboja sangat ekstrem dan berbeda dengan di Eropa."
Setelah itu, sebuah panggilan masuk dari Erika. Polwan cantik berusia 19 tahun itu tampak sedang bersantai di mess kepolisian Bandung, masih mengenakan kaus olahraga Polri yang menonjolkan postur atletisnya.
"Kabarnya tiket pertandingan Indonesia melawan Malaysia sudah ludes terjual karena orang-orang ingin melihat aksimu secara langsung," goda Erika melalui layar ponsel. "Hati-hati, aku dengar suporter tuan rumah sangat berisik. Jangan sampai konsentrasimu pecah karena provokasi lawan."
Riski terkekeh sambil menyandarkan punggungnya di kursi balkon hotel, menatap lampu-lampu kota Phnom Penh. "Tenang saja, Er. Suara suporter lawan bagiku hanya seperti musik latar. Bagaimana dengan motor Suzuki-ku di Bandung? Masih kamu rawat?"
"Aman terkendali. Aku sendiri yang memanaskan mesinnya setiap akhir pekan. Tapi jujur, aku lebih tidak sabar melihatmu menjemputku dengan Chevrolet Camaro SS itu nanti saat kita bertemu lagi di bandara," balas Erika dengan nada menantang yang khas.
Sinkronisasi Kalender: Europa FC dan Timnas
Marco Valez memberikan jadwal terbaru untuk sisa tahun 2019. Tahun ini benar-benar akan menjadi tahun tersibuk dalam hidup Riski, sebuah transisi dari pemain muda berbakat menjadi ikon sepak bola nasional.
Februari: Piala AFF U-22 (Kamboja).
Maret: Kualifikasi Piala Asia U-23 (Vietnam).
Juni - Juli: Pra-Musim bersama Europa FC dan Kualifikasi UEFA Europa League 2019/2020.
September - Oktober: Kualifikasi Piala Dunia 2022 Senior (Riski diproyeksikan masuk skuat utama).
November - Desember: SEA Games 2019 (Filipina).
"Ini adalah jadwal seorang superstar, Riski. Kamu harus sangat disiplin menjaga pola makan dan istirahat," Marco mengingatkan. "Pihak Europa FC terus memantau datamu secara berkala. Mereka tidak ingin aset berharganya cedera sebelum kualifikasi kompetisi UEFA dimulai."
Statistik Riski (Februari 2019 - Pra-Match AFF U-22):
Riski berada dalam kondisi fisik paling bugar sepanjang kariernya. Latihan keras di Gibraltar telah menaikkan level ketahanan fisiknya ke standar Eropa.
Usia: 18 Tahun
Tinggi: 180 cm
Gaji Europa FC: €5.000 / minggu
Saldo Total: Rp 3.250.000.000
Kondisi Mental: Sangat Stabil (Fokus: Trofi Juara)
Besok adalah pertandingan pertama melawan Myanmar. Riski memejamkan mata sejenak, merasakan detak jantungnya yang sangat teratur. Ia tidak merasakan tekanan sedikit pun. Baginya, lapangan hijau di Stadion Nasional Kamboja hanyalah kanvas besar, dan ia adalah sang pelukis yang siap menciptakan mahakarya pertama untuk bangsa Indonesia dalam balutan jersi bernomor punggung 7.
Lanjut ke Bab 26: "Laga Pembuka: Teror Merah Putih di Phnom Penh"?