NovelToon NovelToon
GUS BAD BOY MY HUSBAND

GUS BAD BOY MY HUSBAND

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: putri Sefira

Arini, seorang mahasiswi sastra yang berjiwa bebas, terjebak dalam janji perjodohan antara ayahnya dengan pemilik Pondok Pesantren Al-Ikhlas. Ia membayangkan akan menikah dengan sosok pria religius yang kaku, namun kenyataan justru mempertemukannya dengan Gus Zikri.
​Zikri adalah anomali di lingkungan pesantren. Di balik statusnya sebagai putra Kyai, ia adalah seorang pemberontak yang lebih akrab dengan deru motor gede, jaket kulit, dan balapan liar daripada kitab kuning. Baginya, pernikahan ini hanyalah beban hutang budi yang harus ia bayar.
​Arini harus bertahan di tengah dinginnya sikap Zikri dan aturan ketat pesantren yang asing baginya. Namun, perlahan ia mulai menemukan sisi lain dari suaminya yang tersembunyi di balik topeng "bad boy". Di sisi lain, Zikri pun mulai terusik oleh kehadiran Arini yang tidak hanya melihatnya sebagai seorang "Gus", tapi sebagai manusia biasa.
​Dua dunia yang bertolak belakang ini pun berbenturan. Bisakah Arini melunakkan hati Zikri yang liar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Pena yang Lebih Tajam dari Belati

Malam di kediaman Kyai Hamzah tidak pernah benar-benar sunyi bagi Arini. Di balik jendela kayu jati yang tinggi, ia bisa mendengar suara jangkrik yang bersahutan, namun di dalam kepalanya, suara deru motor Zikri dan teriakan Kang Said masih bergema seperti kaset rusak.

Sudah tiga hari sejak Zikri menyerahkan diri ke "mulut singa" demi melihat kondisi Kyai Ahmad.

Sudah tiga hari pula Arini terjebak dalam kecemasan yang mencekik. Kyai Hamzah, sang sesepuh yang bijaksana, telah memberikan perlindungan penuh, namun beliau juga meminta Arini untuk bersabar.

"Kebenaran itu seperti fajar, Arini. Ia tidak bisa dipaksa muncul jika malam belum tuntas tugasnya," ujar Kyai Hamzah sore tadi saat mereka berbincang di teras.

Namun Arini tidak bisa menunggu fajar datang dengan sendirinya. Ia tahu, di balik tembok Al-Ikhlas, Kang Said sedang merajut narasi palsu untuk menghancurkan Zikri. Benar saja, berita yang beredar di grup-grup pesan singkat alumni pesantren sangat menyudutkan. Zikri dituduh sebagai anak durhaka yang menyebabkan kematian ibunya (sebuah distorsi fakta yang kejam) dan kini mencoba membunuh ayahnya dengan serangan jantung.

Arini membuka laptopnya. Cahaya layar memantul di matanya yang sembab. Jika Zikri bertarung dengan kepalannya, maka ia akan bertarung dengan senjatanya sendiri: kata-kata.

Arini mulai menulis. Ia tidak menulis fiksi romantis seperti biasanya. Ia menuliskan kebenaran yang dibalut dalam memoar anonim.

Ia memberi judul drafnya: "Lentera yang Dipadamkan Paksa: Catatan dari Balik Gerbang Al-Ikhlas".

Ia menceritakan tentang Ummi Fatimah. Ia menuliskan bagaimana seorang wanita cerdas didepresi hingga kehilangan cahaya matanya karena tuntutan citra kesucian yang palsu. Ia menuliskan tentang seorang anak laki-laki yang hanya ingin memeluk ibunya di saat terakhir, namun dihalangi oleh aturan yang lebih mementingkan martabat daripada kemanusiaan.

"Kalian melihatnya sebagai pemberontak, sebagai noda di atas sorban putih. Namun, pernahkah kalian bertanya, mengapa seorang anak membakar rumahnya sendiri? Mungkin karena rumah itu terlalu dingin, atau mungkin karena rumah itu telah membunuh detak jantung yang paling ia cintai."

Arini mengunggah tulisan itu di platform blog populer dan membagikannya ke media sosial melalui akun baru yang sulit dilacak. Ia tahu, di era informasi ini, satu tulisan yang jujur bisa lebih menghancurkan daripada seribu fitnah.

Tulisan itu meledak. Dalam hitungan jam, ribuan orang membagikannya. Para alumni pesantren mulai bertanya-tanya. Beberapa dari mereka yang pernah mengenal Ummi Fatimah mulai bersuara di kolom komentar, membenarkan bahwa sang Nyai memang tampak "menghilang" secara misterius sebelum wafat.

Sementara Arini berjuang dengan penanya, Zikri sedang melewati nerakanya sendiri. Ia disekap di sebuah ruangan bawah tanah asrama yang biasanya digunakan sebagai gudang kitab-kitab rusak. Tangannya terikat ke kursi besi. Lampu pijar tunggal yang bergoyang di atas kepalanya membuat bayangan Kang Said tampak seperti monster yang menari-nari di dinding.

"Tanda tangani ini, Zikri," Said melempar selembar kertas ke atas meja kayu di depan Zikri.

Zikri meludah ke samping. Darah mengering di sudut bibirnya. "Surat pengunduran diri dari hak waris yayasan? Kamu benar-benar tidak sabar ingin jadi raja di sini, ya?"

Said tertawa, suara yang terdengar hambar dan penuh kebencian. "Kamu pikir dunia luar peduli padamu? Di luar sana, kamu adalah penyebab Kyai Ahmad kritis. Tidak ada yang akan membelamu. Bahkan istrimu mungkin sudah melarikan diri karena malu."

"Jangan sebut nama istrinya dengan mulut kotor itu," desis Zikri. Ia mencoba menarik ikatannya, namun rasa sakit menjalar di pergelangan tangannya.

"Tanda tangani, atau aku pastikan Kyai Ahmad 'tidak sengaja' kekurangan oksigen di rumah sakit malam ini," bisik Said tepat di telinga Zikri.

Zikri tertegun. Ia menatap Said dengan ngeri. Pria ini sudah kehilangan akal sehatnya demi kekuasaan. "Kamu gila, Said. Abah adalah orang yang membesarkanmu."

"Abahmu adalah orang yang menghambat kemajuanku! Dia terlalu lamban, terlalu konservatif. Pesantren ini butuh manajemen modern yang tegas, bukan Gus yang hobinya balapan!" Said mengangkat pulpen, memaksa Zikri untuk menggenggamnya.

Namun, sebelum pulpen itu menyentuh kertas, pintu gudang didobrak terbuka.

Bukan Kyai Hamzah yang masuk, melainkan sekumpulan santri senior dan beberapa alumni yang terlihat marah. Di tangan salah satu alumni, tampak sebuah ponsel yang menampilkan tulisan Arini yang sedang viral.

"Kang Said! Apa maksudnya ini?" teriak Yusuf, santri senior yang sebelumnya membantu Zikri.

"Kami membaca tulisan itu. Tentang rekam medis Ummi Fatimah. Apa benar Abah menyembunyikan kondisi Ummi?"

Wajah Said memucat. "Itu fitnah! Jangan percaya pada tulisan anonim di internet!"

"Fitnah?" sahut seorang alumni yang merupakan seorang pengacara. "Kami membawa surat dari Kyai Hamzah. Beliau meminta penyelidikan internal segera dilakukan. Dan kami ingin melihat kondisi Gus Zikri."

Said mencoba menghalangi, namun massa santri jauh lebih banyak. Mereka melihat Zikri yang terikat dan memar. Kemarahan meledak. Said dan anak buahnya segera diamankan oleh para santri sendiri.

Zikri dilepaskan dari ikatannya. Ia hampir ambruk jika tidak segera ditangkap oleh Yusuf.

"Gus... maafkan kami. Kami salah menilai Anda selama ini," ucap Yusuf dengan suara bergetar.

Zikri hanya mengangguk lemah. Matanya mencari satu sosok. "Di mana Arini?"

Pagi harinya, Kyai Hamzah membawa Arini menuju rumah sakit. Kondisi Kyai Ahmad dilaporkan mulai stabil, meski masih memerlukan perawatan intensif.

Di lorong rumah sakit yang steril, Arini melihat sosok yang sangat ia rindukan. Zikri berjalan dengan langkah tertatih, didampingi oleh beberapa alumni. Wajahnya penuh luka, namun matanya memancarkan ketenangan yang baru.

Arini berlari, tidak peduli pada tatapan orang-orang di sekitar. Ia menghambur ke pelukan Zikri.

"Kamu melakukannya, Arin," bisik Zikri di telinga Arini. "Tulisanmu... mereka bilang tulisanmu yang membuka mata semua orang."

Arini menangis di dada Zikri. "Aku hanya menceritakan kebenaran, Zik. Aku takut sekali mereka akan menyakitimu lebih jauh."

Kyai Hamzah mendekat, menepuk bahu mereka berdua. "Pengadilan dewan syuro akan dimulai minggu depan. Said akan diproses hukum, dan Ahmad... dia harus menjelaskan segalanya tentang Fatimah di depan keluarga besar. Tapi untuk saat ini, kalian harus istirahat."

Malam itu, Zikri dan Arini duduk di taman rumah sakit. Angin malam bertiup lembut, memainkan ujung jilbab Arini.

"Zik, apa kamu merasa ini sudah selesai?" tanya Arini pelan.

Zikri menatap langit malam yang tanpa bintang. "Belum, Arin. Membongkar kebenaran itu satu hal, tapi menyembuhkan luka yang sudah membusuk selama sepuluh tahun itu hal lain.

Abah masih punya banyak rahasia. Dan pengikut Said masih banyak yang tidak setuju dengan perubahan."

Ia meraih tangan Arini, menggenggamnya erat. "Tapi setidaknya, aku tidak lagi sendirian. Kamu bukan hanya pasanganku, Arin. Kamu adalah saksi hidup dari perjuanganku."

Arini tersenyum, namun ada rasa perih yang tersembunyi di sudut hatinya. Ia teringat akan garis besar novel yang pernah ia bayangkan. Keberhasilan mengungkap kebenaran ini terasa seperti puncak sebuah bab, namun ia tahu, dalam tragedi sesungguhnya, kemenangan seringkali dibayar dengan harga yang sangat mahal.

"Apa pun yang terjadi nanti, Zik... jangan pernah lepaskan tanganku," bisik Arini.

Zikri mencium punggung tangan Arini. "Sampai napas terakhir, Arin. Sampai napas terakhir."

Di kejauhan, lampu-lampu kota mulai menyala, namun di dalam hati Arini, ia mulai merasakan firasat buruk. Tulisan anonimnya memang telah menyelamatkan Zikri, namun ia juga telah mengundang musuh-musuh baru yang tidak suka rahasia kotor pesantren dibuka di depan publik.

Perang dingin mungkin telah usai, namun perang di atas meja pengadilan dan di dalam hati yang penuh dendam baru saja dimulai.

1
Titik Sofiah
awal yg menari ya Thor moga konfliknya nggak trllau berat 😍
sefira🐼
makasih kak semangat juga💪
nis_ma
semangatttt Thor 🔥🔥
ceritanya menarikkk, sukses selalu thorr
Rian Moontero
lanjoooott👍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!