"Saya tidak mau nikah kontrak, Pak. Saya mau pernikahan ini berjalan sebagaimana mestinya ...." Rea terdiam sejenak. Mengambil napas sebelum ia melanjutkan kalimatnya. Sebuah kalimat yang mungkin akan ia sesali seumur hidupnya.
Bagaimana tidak. Tidak ada yang ingin menikah untuk bercerai, tapi Rea melakukannya.
" ... tapi, kapanpun Pak Dewa ingin menceraikan saya. Saya akan siap."
_________________________________________________
Demi biaya keluarganya di kampung, Rea rela menerima tawaran untuk menjadi istri sementara seorang aktor terkenal—Dewangga Rahardian. Awalnya ia meyakinkan diri semua akan mudah, karena Dewangga menjanjikan bahwa ia tak akan pernah menyentuh Rea dan akan menceraikan Rea dalam waktu dekat. Pun kompensasi yang akan Rea terima nantinya bernilai cukup fantastis bagi Rea yang merupakan anak kampung.
Namun, seiring waktu apa yang Dewa janjikan tak pernah terjadi. Pria itu lebih suka menyiksa Rea dengan membelenggunya dalam ikatan pernikahan palsu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon annin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 11
Rea menatap hotel tempatnya bekerja untuk terakhir kalinya, sebab ia tidak tahu kapan lagi bisa masuk ke hotel ini. Kalau sebagai tamu, itu tidak mungkin. Ia tak punya banyak uang untuk sewa kamar di hotel ini meski hanya semalam. Menjadi pegawai, lebih tidak mungkin lagi. Namanya sudah di black list, bisa jadi ia tak akan pernah bisa lagi bekerja di hotel mana pun.
Rasanya begitu berat meninggalkan pekerjaan yang sudah membuatnya nyaman. Baik teman maupun lingkungan. Namun, semua sudah jadi pilihannya. Ia butuh uang cepat dan Dewa menjanjikan itu semua.
"Selamat tinggal," gumam Rea sebelum benar-benar meninggalkan hotel.
Ia berjalan ke jalan raya, menunggu angkot untuk pulang ke kosan. Dewa bilang tunggu kabar darinya.
Rea terhenyak saat sebuah mobil sedan berhenti di depannya. Begitu kaca depan terbuka, Dewa terlihat ada di dalam.
"Masuk!" titah Dewa.
Tanpa ba bi bu, Rea mengikuti apa kata Dewa.
"Hai." Pria di sebelah Dewa, yang duduk di bangku kemudi melambaikan tangan. Memberi salam pada Rea.
Rea hanya membalasnya dengan menganggukkan kepala sembari tersenyum ramah.
"Gue Luky, managernya Dewa."
"Saya Rea, saya ...." Rea bingung harus menyebut dirinya apa.
"Calon istrinya Dewa, iya, kan?" cetus Luky.
Rea tersenyum canggung mendengar sebutan itu. Ia bahkan menatap Dewa sama canggungnya.
"Lo nggak usah takut, gue tahu semua rencana Dewa. Dan gue juga bakal ikut andil dalam rencana ini. Gue harap kita bisa kerja sama dengan baik."
Rea mengangguk lagi.
"Sekarang kita ke kosan lo, ambil barang-barang lo. Seperlunya aja, yang nggak penting nggak usah dibawa. Hari ini lo ikut kota ke Jakarta," ujar Dewa.
Rea diam saja. Meski begitu ia mengiyakan setiap ucapan Dewa. Mau bagaimana lagi, sekarang kerjaannya ya menurut apa kata Dewa.
Mobil yang dikemudikan Luky berjalan sesuai arahan Dewa. Sebab pria itu yang lebih tahu di mana kosan Rea.
"Apa tadi Bapak sudah benar-benar sampai bandara?" tanya Rea. Ia yakin pria itu hanya merekayasa saja kalau sudah tiba di bandara saat merasa kehilangan jam tangan mahalnya.
"Belum lah, kita hanya nunggu di depan hotel sampai timing-nya pas. Baru kita telepon pihak hotel dan mengatakan semua cerita bohong itu." Kali ini Luky yang menjelaskan.
Rea menatap Luky yang tadi menjawab, lalu beralih lagi pada Dewa. "Tapi kenapa Bapak tidak memberitahu rencana Bapak ini. Kalau tahu saya tidak akan setuju. Yang Bapak lakukan sangat merugikan saya. Karena rekayasa Bapak, saya di black list dari dunia perhotelan. Setelah nanti kontrak kerja saya selesai sama Bapak, saya tidak bisa lagi kembali ke pekerjaan lama saya. Dan semua ini karena Bapak."
Tanpa sadar air mata Rea mengalir tanpa ijin. Ada rasa seperti menyesal juga kecewa.
"Kenapa harus dengan cara ini, Pak. Menuduh saya mencuri itu sama artinya menghancurkan nama baik saya. Bagaimana nanti kalau saya akan mencari kerja kembali, pasti akan sulit karena nama saya sudah jelek di dunia perhotelan. Hotel mana pun tidak akan mau mempekerjakan saya lagi di tempat mereka." Rea menjadi sangat emosional.
Tapi Dewa begitu santai menanggapinya. "Lo nggak usah cari kerja. Nanti kalau lo udah selesai kontrak kerjasama sama gue, gue yang akan cariin lo kerja. Nggak usah lo sepusing itu."
Bukan hanya Rea yang kaget dengan tanggapan Dewa. Luky yang tadi fokus menyetir saja sampai menoleh menatap artisnya itu.
"Kenapa, lo nggak percaya?"
Rea diam. Bagaimana mau percaya, ia baru saja dikecewakan. Setelahnya Rea tak lagi bicara sampai mobil tiba di kosannya.
Seperti kata Dewa, Rea hanya mengambil barang yang penting saja. Selebihnya ia tinggal di kosan. Sebelum itu ia pamit pada pemilik kos dan mengatakan akan pulang ke kampung untuk bertemu kakaknya yang sakit.
"Nggak ada yang kelupaan, kan?" tanya Luky memastikan. Sedang Dewa lebih tak acuh.
"Enggak."
"Ok, kita berangkat ke bandara," ujar Luky.
"Tunggu, Pak. Sebelum ke Jakarta, apa boleh kita mampir dulu ke rumah kakak saya di Boyolali. Bagaimanapun, hanya dia saudara saya satu-satunya. Dia juga yang akan jadi wali nikah saya. Saya ingin kakak saya tahu pernikahan kita nanti."
Dewa dan Luky menoleh berbarengan menatap Rea. Apa gadis ini gila. Pernikahan yang baru ia katakan hanya settingan. Sandiwara belaka. Tujuannya untuk menyelamatkan karir Dewa yang bisa saja karam gara-gara skandal Dewa yang dekat dengan istri orang.
"Saya tahu, Pak, pernikahan kita tidak serius. Tapi saya tetap ingin pernikahan kita sah di mata hukum dan agama, dengan kakak saya sebagai wali nikah. Saya janji, saya tidak akan menuntut apa pun dari Bapak selain uang 2 M yang Bapak janjikan dulu." Rea menjelaskan begitu melihat raut tanya bercampur kesal dari Dewa.
"Ok, kalau gitu kita ambil jalan darat saja. Kita balikin mobil ini ke Pak Galih, lalu kita pesan saja mobil travel untuk sampai ke Jakarta," usul Luky.
Setelah mempertimbangkannya sejenak, Dewa pun setuju.
*
Dari Surabaya ke Boyolali, mobil melaju dengan kecepatan yang stabil. Hampir tengah malam saat mereka tiba di Boyolali.
Tatik sampai takut sendiri saat pintu rumahnya diketuk tengah malam. Begitu tahu yang datang adalah Rea, mulutnya langsung nyerocos tiada henti.
"Kamu pulang, Re?
"Iya, Mbak. Apa kabar, Mbak?" Rea memeluk kakak iparnya yang masih syok melihat kedatangan dirinya.
"Mas Rusli sudah baikan, kan Mbak?"
Tatik mengangguk pasrah. Tatapannya beralih pada dua pria tinggi besar bertopi dan memakai masker. "Mereka siapa, Re?"
"Mereka ...."