Mentari, si gadis bar-bar kaya raya, dipaksa menukar gemerlap kelab malam dengan dinginnya lantai pesantren. Baginya, ini adalah hukuman mati, sampai ia bertemu Gus Zikri putra Kyai tampan yang sangat dingin dan selalu menjaga pandangan.
Merasa tertantang karena diabaikan, Mentari bertekad menaklukkan hati sang Gus. Namun, misinya tidak mudah. Ia harus menghadapi tiga teman sekamar yang ajaib: Fahma yang super lemot,Bondan yang genit mata keranjang, dan Hafizah yang hobi berceramah.
Di antara godaan pesona dan benteng iman, mampukah Mentari melelehkan hati Gus Zikri? Atau justru ia yang terjerat dalam sujud yang panjang?
"Satu misi gila: Membuat sang Gus jatuh cinta."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GETARAN PERTAMA DAN DOA DI SEPERTIGA MALAM
Malam di Pesantren Al-Hidayah terasa lebih sunyi dari biasanya. Angin sepoi-sepoi membawa aroma melati yang tumbuh di halaman rumah kayu itu. Di dalam kamar, cahaya lampu temaram menciptakan suasana syahdu. Mentari berbaring dengan tumpukan bantal di punggungnya, sementara Gus Zikri duduk bersila di sampingnya, baru saja menutup mushaf Al-Qur'an setelah menyelesaikan tilawah rutinnya.
Usia kandungan Mentari kini telah memasuki bulan keempat. Perutnya mulai tampak membuncit kecil, sebuah gundukan suci yang kini menjadi pusat semesta bagi Zikri.
Tiba-tiba, Mentari tersentak. Ia meletakkan tangannya di atas perut, matanya membelalak menatap Zikri.
"Mas... Mas Zikri! Sini, cepet!" seru Mentari dengan nada setengah berbisik namun penuh antusiasme.
Zikri langsung mendekat, wajahnya dipenuhi kekhawatiran yang sigap. "Ada apa, Sayang? Sakit? Perlu panggil Dokter?"
"Bukan... bukan sakit," Mentari menarik tangan kanan Zikri, menempelkan telapak tangan suaminya yang hangat tepat di atas perutnya. "Diem sebentar... rasain deh."
Zikri menahan napas. Suasana mendadak hening, bahkan detak jam dinding pun seolah berhenti berdetak. Detik kemudian, sebuah gerakan halus, seperti kepakan sayap kupu-kupu atau sentuhan jari yang sangat ringan, terasa di telapak tangan Zikri.
*Dug.*
Mata Zikri berkaca-kaca seketika. "Dia... dia bergerak, Mentari?"
"Iya, Mas. Tadi kenceng banget tendangannya. Kayaknya dia tahu Abinya baru selesai ngaji," ucap Mentari dengan air mata kebahagiaan yang mulai mengalir.
Melihat respon bayinya, Zikri tidak bisa lagi menahan haru. Ia merunduk, menempelkan telinganya di perut Mentari, lalu mulai membisikkan sesuatu.
"Assalamualaikum, Nak. Ini Abi," bisik Zikri rendah, suaranya bergetar. "Terima kasih sudah memberikan tanda kehadiranmu. Tumbuhlah dengan sehat di dalam sana. Abi dan Ummi sangat menantimu."
Malam itu, Zikri memutuskan untuk tidak tidur lebih awal. Ia mengambil wudu kembali dan menghabiskan sepertiga malamnya untuk melaksanakan salat Tahajud. Mentari, yang terbangun karena merasakan gerakan bayinya yang semakin aktif, memperhatikan punggung suaminya yang kokoh saat sedang bersujud.
Setelah salam, Zikri tidak langsung berdiri. Ia mulai melantunkan **Surat Yusuf** dengan irama yang sangat merdu dan menyentuh kalbu. Suaranya yang bariton mengisi sudut-sudut kamar, menciptakan getaran spiritual yang menenangkan.
"Mas... kenapa bacanya Surat Yusuf?" tanya Mentari pelan saat Zikri selesai berdoa.
Zikri berbalik, tersenyum dengan sisa-sisa air mata di wajahnya. "Mas berharap, jika nanti dia laki-laki, dia memiliki ketampanan rupa dan akhlak seperti Nabi Yusuf. Teguh pendiriannya, sabar menghadapi ujian, dan menjadi cahaya bagi keluarga kita. Dan jika dia perempuan, semoga dia memiliki kemuliaan hati yang sama."
Keesokan paginya, Mentari menceritakan kejadian semalam kepada Bondan, Fahma, dan Hafizah saat mereka sedang duduk di teras sambil menikmati bubur kacang hijau buatan Hafizah.
"SERIUS?! UDAH NENDANG?!" teriak Bondan saking girangnya sampai hampir menumpahkan buburnya. "Aduh, fiks ini mah! Kalau nendangnya kenceng, pasti calon atlet sepak bola! Atau... atau calon jagoan tawuran kayak lo dulu, Tari!"
"Bondan! Anak gue jangan diajarin tawuran ya!" protes Mentari sambil tertawa.
Fahma mendekati perut Mentari, mencoba menempelkan telinganya seperti yang dilakukan Zikri semalam. "Dek... Dek Bayi... ini Kak Fahma. Nanti kalau sudah keluar, Kakak kasih seblak yang nggak pedas ya, biar lambungnya kuat."
Hafizah menggelengkan kepala. "Fahma, bayi belum boleh makan seblak. Tapi Tari, ini saatnya kamu lebih sering dengerin murottal. Bayi dalam kandungan itu sudah bisa mendengar dan merekam suara orang tuanya."
"Gus Zikri udah lakuin itu semalam, Fiz. Sepanjang malam dia nggak berhenti baca doa dan ngaji," cerita Mentari dengan raut wajah bangga.
"Waduh, kalau gitu bayinya nanti keluar-keluar langsung hafal juz amma kali ya?" celetuk Bondan yang langsung disambut tawa oleh semuanya.
Namun, kebahagiaan itu sedikit terusik saat siang harinya seorang santri datang membawa sebuah surat kaleng yang diletakkan di gerbang depan. Mentari yang membukanya terdiam.
*“Jangan senang dulu. Darah pendosa tetap akan mengalir di darah anakmu. Pesantren ini tidak butuh keturunan dari wanita seperti kamu.”*
Tangan Mentari gemetar. Segala kepercayaan diri yang ia bangun seolah goyah. Namun, sebelum ia sempat menangis, sebuah tangan kokoh mengambil surat itu dari genggamannya.
Zikri telah berdiri di sana. Tanpa membaca surat itu sampai habis, ia meremasnya menjadi bola kecil.
"Jangan dengarkan suara manusia yang hatinya sedang sakit, Mentari," ucap Zikri tegas. Ia merangkul bahu istrinya, membawanya masuk ke dalam rumah. "Anak kita adalah suci. Dia adalah titipan Allah. Tidak ada satupun kata-kata kotor manusia yang bisa merusak kesucian itu."
Zikri menatap mata Mentari dengan sangat dalam. "Ingat satu hal: Mas tidak akan pernah membiarkan siapapun melukai kamu atau anak kita. Mas adalah pelindungmu, selamanya."
Mentari mengangguk, menyandarkan kepalanya di dada Zikri. Gerakan bayi di perutnya kembali terasa, seolah sang bayi ikut memberikan dukungan untuk ibunya. Di tengah kebencian yang masih sesekali datang, Mentari tahu ia memiliki benteng yang tak tertembus: cinta seorang imam yang tulus dan janji Tuhan yang tak pernah ingkar.
Malam itu kembali ditutup dengan lantunan suci dari lisan Zikri, mengusir segala kegelisahan dan menggantinya dengan harapan baru bagi masa depan buah hati mereka.