Niatnya cari pelarian, malah dapet "tuan muda" kematian.
Alicia kabur ke Italia dan mencari pria paling tampan untuk menghina selera perjodohan ayahnya. Misinya berhasil ia menemukan Dante, pria dengan visual sempurna yang mau diajaknya bermalam bersama.
Tapi keesokan paginya, Alicia baru sadar kalau dia bukan baru saja menaklukkan pria biasa, melainkan seorang predator paling ditakuti di Eropa. Ternyata, merayu bos mafia saat mabuk adalah ide terburuk yang pernah Alicia lakukan seumur hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 14
Di dalam kamar, Alicia tiba-tiba merasa gelisah. "Dante, aku haus. Bisakah kau ambilkan air yang tidak terasa seperti logam?"
Dante tersenyum tipis, sebuah ekspresi langka yang membuat wajah kerasnya terlihat sedikit lebih manusiawi. "Putri manja sudah kembali, hmm? Baik, aku akan minta pelayan membawakan air mineral kemasan dari dapur khusus."
"Tidak, aku ingin yang dingin sekali. Dan jangan biarkan pelayan itu masuk, aku merasa risih dilihat banyak orang saat sedang seperti ini," pinta Alicia.
Dante mengangguk dan melangkah keluar kamar menuju dapur kecil di ujung koridor VIP. Ia baru saja keluar saat perawat misterius itu berjalan mendekati kamar Alicia. Mereka berpapasan di lorong. Dante sempat berhenti sejenak, menatap perawat itu dengan mata predatornya.
"Perawat," panggil Dante dingin.
Perawat itu berhenti, kepalanya tetap menunduk. "Ya, Tuan?"
"Aku belum pernah melihatmu sebelumnya. Di mana suster Maria?"
"Suster Maria sedang beristirahat, Tuan. Saya menggantikannya untuk jadwal injeksi malam," jawab perawat itu dengan suara yang diatur sedatar mungkin.
Dante menyipitkan matanya. Ada sesuatu yang salah. Bau parfum perawat ini... bukan bau disinfektan rumah sakit yang tajam, melainkan aroma bunga lili yang samar aroma yang seharusnya tidak dimiliki oleh tenaga medis yang profesional. Namun, suara tangisan kecil Alicia dari dalam kamar (yang sebenarnya hanya akting Alicia karena bosan) mengalihkan perhatiannya.
"Cepat lakukan tugasmu dan pergi," perintah Dante sebelum melanjutkan langkahnya.
Perawat itu masuk ke kamar Alicia. Ia melihat Alicia yang sedang memejamkan mata. Dengan tangan yang sedikit gemetar karena adrenalin, ia mendekati tiang infus.
"Waktunya obat malam, Signorina," ucapnya lembut.
Alicia membuka matanya. Ia menatap perawat itu, lalu menatap botol infus yang dibawa si perawat. "Obat apa itu? Dokter Elena bilang obatku sudah selesai untuk hari ini."
"Ini hanya tambahan nutrisi untuk bayi Anda," perawat itu mulai memasangkan selang baru ke kantong infus Alicia.
Alicia menatap tangan perawat itu. Kuku-kukunya dipoles dengan french manicure yang sangat rapi. Ingatan Alicia langsung berputar ke pesta-pesta sosialita di Jakarta. Perawat di rumah sakit mafia tidak mungkin memiliki kuku seperti itu.
"Tunggu," Alicia menahan tangan perawat itu saat ia hendak membuka klem infus. "Siapa yang mengirimmu?"
"Saya tidak mengerti maksud Anda."
"Dante!" Alicia berteriak sekuat tenaga. "DANTE, TOLONG!"
Perawat itu panik. Ia mencoba memaksa membuka klem infus agar cairan beracun itu masuk ke pembuluh darah Alicia. Alicia meronta, menendang nampan di samping ranjang hingga jatuh berantakan ke lantai.
BRAKK!
Pintu kamar jebol. Dante muncul bukan membawa air dingin, melainkan dengan pistol di tangan. Melihat situasi itu, si perawat segera mengeluarkan pisau kecil dari balik saku seragamnya dan menerjang Alicia.
"Menjauh darinya!" Dante menembak.
DOR!
Peluru itu mengenai bahu si perawat, membuatnya terpental ke dinding. Dante segera menerkamnya, menekan luka tembak itu dengan lututnya hingga si perawat menjerit. Dante menarik paksa masker bedah yang menutupi wajahnya.
Alicia tersentak hingga menutup mulutnya. "Kau... kau wanita di kelab itu!"
Wanita itu adalah Bianca, mantan kekasih atau lebih tepatnya wanita yang pernah terobsesi pada Dante sebelum Alicia muncul. Wanita yang merasa takhtanya terancam oleh kehadiran "gadis asing" yang kini membawa pewaris klan Vallo.
"Dia tidak pantas mendapatkanmu, Dante!" Bianca berteriak histeris meski darah merembes dari bahunya. "Dia hanya sampah manja! Anak itu tidak boleh lahir!"
Dante menatap Bianca dengan tatapan yang bisa membunuh. "Kau menyentuh wanitaku di bawah pengawasanku sendiri. Kau pikir kau akan mati dengan mudah?"
Marcello masuk dengan pasukan tambahan, segera mengamankan Bianca. Dante tidak mempedulikan teriakan Bianca yang diseret keluar. Ia langsung memeriksa Alicia yang gemetar hebat di atas ranjang.
"Kau baik-baik saja? Dia menyentuhmu?" Dante memeriksa tangan Alicia, memastikan tidak ada cairan infus misterius itu yang masuk.
"Aku tidak apa-apa... aku hanya takut, Dante," Alicia memeluk Dante erat. "Kenapa semua orang ingin membunuh anak ini?"
Dante terdiam, memeluk Alicia dengan posesif. "Karena anak ini adalah segalanya, Alicia. Dia adalah masa depan Vallo, dan dia adalah kelemahanku yang paling nyata."
Tepat saat itu, Surya Atmadja masuk ke ruangan setelah mendengar keributan. Ia melihat kekacauan di kamar itu dan menatap putrinya dengan ngeri.
"Alicia, cukup. Ini sudah terlalu berbahaya," Surya melangkah maju. "Dante, aku sudah menandatangani dokumen pelabuhan itu. Aku sudah memberikan apa yang kau mau. Sekarang, biarkan aku membawa Alicia ke tempat yang lebih aman. Di Jakarta, aku bisa menjaganya di bunker pribadiku."
Dante berdiri, menatap Surya dengan dingin. "Tempat paling aman bagi Alicia adalah di sampingku. Musuhnya bukan hanya dari duniaku, tapi juga dari duniamu. Kau pikir siapa yang membantu Bianca masuk ke sini?"
Dante melemparkan sebuah ponsel milik Bianca yang baru saja disita Marcello ke arah Surya. Di layarnya, terpampang sebuah percakapan singkat dengan nomor yang sangat dikenal Surya.
Itu adalah nomor Bambang. Bambang yang ternyata masih hidup dan bekerja sama dengan faksi internal Vallo yang tidak puas untuk menyingkirkan Alicia.
Surya terjatuh ke kursi, wajahnya menua sepuluh tahun dalam sekejap. "Bambang... dia benar-benar mengkhianatiku sepenuhnya."
Alicia menatap ayahnya, lalu menatap Dante. ia bukan lagi sekadar gadis yang diperebutkan dua pria, tapi ia adalah pusat dari badai konspirasi internasional.
"Dante," panggil Alicia lembut. "Aku tidak ingin lari lagi. Tapi aku juga tidak ingin hidup dalam ketakutan seperti ini."
Dante mengusap kening Alicia. "Maka kita akan berhenti berlari. Kita akan mulai menyerang."
Dante menoleh pada Marcello. "Beritahu semua kepala keluarga klan Vallo. Aku akan mengadakan pertemuan besar besok pagi. Dan Alicia..." Dante menatap Alicia dengan sorot mata yang penuh janji. "...kau akan hadir di sana sebagai pendampingku. Saatnya mereka tahu bahwa kau bukan sekadar mangsa, tapi calon Ratu mereka."
Alicia menelan ludah. Dari putri manja yang hanya peduli soal skincare, kini ia harus bersiap menghadapi para bos mafia paling kejam di Eropa. Namun, saat ia melihat pantulan dirinya di cermin kamar mandi yang retak akibat peluru, Alicia melihat sesuatu yang berbeda. Ada api yang mulai menyala di matanya api pemberontakan yang kini memiliki tujuan.
"Marcello," Alicia memanggil.
"Ya, Signorina?"
"Bawakan aku gaun paling mahal yang bisa kau temukan di kota ini. Yang berwarna hitam. Dan pastikan make-up ku tidak luntur jika aku harus melihat darah lagi besok pagi."
Dante menyeringai. Ternyata calon istrinya benar-benar sudah belajar dengan cepat.
Oh yah,. Jangan lupa tetap stay tune yaa, besok author bakal update 3 BAB sekaligus 🔥✨
Buat yang udah setia nemenin cerita ini sampai sini, makasih banyak yaa~
Dan jangan lupa tinggalkan jejak di setiap bab 🫶
Entah itu like, vote, ataupun komentar.
Segala bentuk dukungan dari kalian semua, sangat berarti banget untuk author khusus-nya.
Itu semua bikin author makin semangat untuk update bab selanjutnya. ✨🫰🏻
alicia terjepit situasi absurd🤣🤣🤣🤣