"Jangan nona,kami takut tuan akan memarahi kami."ucap pria itu yang memohon pada Nonanya untuk tidak pergi.
"Sudahlah, biarkan aku pergi sekarang.Lebih baik kalian diam saja."jawab wanita itu dengan nada marah.
Wanita itu langsung pergi dengan membawa sepeda motor jadulnya menuju lokasi tempat tinggal sementara dirinya.
Dibalik semua itu ternyata dia sedang menutupi identitasnya dan mencoba berbaur dengan orang lain , apalagi dibalik dia melakukan itu ada maksud tertentu tentang misi yang sedang dia lakukan untuk mencari informasi penting.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ArsyaNendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28(RRM)
"Kenapa selama ini Papa lebih memilih diam tanpa memberitahu ini pada Angel?" pertanyaan itu langsung keluar dan membuat tuan Danzel terdiam melihat emosi dari putrinya.
"Papa melakukan ini diam-diam untuk melancarkan sesuatu untuk menghancurkan mereka.Papa tak ingin gegabah melakukan sesuatu, justru kamu sendiri akhirnya menemukan jawaban itu." jawab tuan Danzel dengan serius.
"Awalnya Papa sama marah sepertimu , tapi setelah mendapat kebenaran itu Papa pun tak tinggal diam dan hanya satu cara yang Papa bisa melakukan dengan membuat sebuah rencana yang mungkin nantinya membuat mereka terjatuh dan pastinya mereka akan mati dengan tangan sendirinya."Nina terdiam mendengar penjelasan dari Papanya seolah ada sesuatu yang penting yang sedang dilakukan.
"Apa mungkin ini kaitannya dengan perusahaan yang tidak langsung ada kaitannya dengan mereka?" Pertanyaan itu langsung dibalas senyuman.
"Itu baru awalnya,masih banyak beberapa hal lagi.Jadi,apa yang kamu dapatkan itu memang benar adanya.Jika sudah waktunya kita lawan mereka dan Papa akan serahkan padamu ." ucap tuan Danzel kepada putrinya.
"Maksud Papa?"
"Kamu sudah mengetahui semuanya tinggal kamu teruskan rencana itu.Itu tawaran dari Papa,kamu pun harus kembali seperti mula dan pulanglah ke rumah." Nina terdiam tak bisa menjawab apa-apa.
"Pikir baik-baik apa yang Papa perintah ini, keputusan ada di tanganmu." jawab tuan Danzel yang memberikan kesempatan pada putrinya.
"Baiklah." jawab singkat Nina yang sudah bulat dengan keputusannya.
Tuan Danzel tersenyum mendengar apa jawaban dari putrinya,"Nanti Papa akan suruh seseorang untuk mengambil barang-barangmu dan menjemputmu." Ucap tuan Danzel yang langsung memerintahkan anak buahnya melakukan itu.
"Tidak."Tuan Danzel langsung melirik kearah putrinya.
"Kenapa,apa ada sesuatu yang belum kamu selesaikan?" tanya Tuan Danzel pada putrinya.
"Aku tak ingin mereka tahu siapa aku sebenarnya." mendengar jawaban itu tuan Danzel mulai mengerti bahkan pikiran tertuju pada seorang pria.
"Bagaimana dengan Andra?" pertanyaan itu langsung dibalas dengan tatapan tajam.
"Kenapa Papa tanya perihal pria itu?" Nina balik bertanya pada Papanya.
"Papa hanya sekedar ingin bertanya saja, tak selamanya Papa diam untuk masalah ini. Pria yang bernama Andra sepertinya orang baik."jawab tuan Danzel yang langsung menilai kepribadian Andra.
Nina membalas dengan senyuman sinis,"Pasti papa sudah diam-diam mencari informasi tentang pria itu kan." Tuan Danzel membalasnya dengan anggukkan kepala.Mengakui jika mana Tuan Danzel menyuruh seseorang untuk mencari informasi tentang pria itu.
"Apa yang Papa lakukan untuk menjagamu,bahkan selama ini kamu hanya dekat dengan pria itu.Tidak ada pria yang lain mampu mendekatimu, tapi pria yang bernama Andra mampu meluluhkan hatimu." ucap tuan Danzel.
"Tidak ada niat untuk kalian segera menikah?" tanya Tuan Danzel pada putrinya.
"Pertanyaan bodoh." jawab Nina dengan nada kesal.
"Itu bukan pertanyaan bodoh,tapi sudah sewajarnya jika kelak nantinya kamu juga akan menikah dan memiliki keluarga sendiri." Nina terlihat begitu kesal.
"Terserah Papa." Nina malas berdebat dengan Papanya.
Tuan Danzel hanya menggelengkan kepala melihat sifat keras kepala dari putrinya,Nina segera keluar dari mobil itu dan kembali kerja kembali.
Sore hari
Nina terlihat sudah siap untuk pulang hari ini, sebelum Nina pulang ia sengaja bertemu dengan Raffi Manager di tempat kerjanya.
"Baiklah Nona ,saya mengerti." jawab Raffi yang menerima informasi dari Nonanya.
"Semuanya akan aku serahkan padamu,tapi ingat setiap Minggu laporkan hasil kerjamu." Nina akhirnya memberikan kesempatan untuk dia lakukan.
"Baik Nona." jawab Raffi yang mengerti pekerjaan apa yang harus ia lakukan,dan begitu yakinnya Nona pada dirinya.
Setelah itu Nina bergegas pergi dari tempat itu sembari ia memikirkan beberapa rencana yang akan dia lakukan.
Nina lebih dulu datang di tempat kostnya, saat di dalam kamar dia mulai memikirkan sesuatu untuk rencananya itu.
"Pekerjaanku sudah selesai, aku harus kembali." ucap lirih Nina yang saat itu sedang bersiap-siap anda akan pergi dari tempat kostnya itu.
Sepintas ia memikirkan hal sesuatu yang mengganjal, terutama kehadiran Andra seorang pria yang diam-diam memberikan perhatian yang lebih untuk dirinya.
Dengan posisi Nina yang sekarang ini, ia harus memilih. Apakah ia akan bertahan atau akan pergi dari tempat itu tanpa ia jujur dengan kondisi sebenarnya.
Tapi pada akhirnya Nina memilih untuk pergi setelah selesai,dia sudah menyelesaikan semua tugas yang selama ini ia kerjakan.Kini waktunya dia untuk kembali seperti dulu.
Setelah semua barang-barang sudah ia bereskan,kini tinggal dia menunggu seseorang untuk membawa semua barang itu.
Tiba-tiba saja ada seseorang pria yang datang menghampiri Nina,"Bawa semua barang ini." perintah Nina pada seseorang pria yang ia perintahkan untuk segera membawa barang miliknya.
"Baik Nona." jawab Pria yang langsung membawa semua barang itu.
Sedangkan Nina pergi menemui seseorang,"Ya sudah,jika kamu akan keluar hari ini." ucap seorang ibu pemilik kost yang Nina tempati itu.
"Iya Bu,maaf jika selama ini saya merepotkan ibu." ucapan permintaan maaf Nina pada Ibu Harun nama pemilik kost itu.
"Tidak mbak Nina." jawab Ibu Harun yang tak merasakan direpotkan.
Setelah berpamitan, barulah Nina pergi tatapannya tertuju pada arah depan,"Aku merasa semua hanya kebodohanku menerimamu,tapi jika nantinya kita bertemu aku akan ceritakan semuanya padamu." batin Nina yang memikirkan Andra ,orang yang begitu memberikan perhatian lebih untuknya.
Di hari itu juga ia secepatnya pergi dari tempat itu meninggalkan semua hingga tak ada lagi jejak dirinya lagi.
Setengah jam kemudian
Posisi Andra dan teman-temannya baru saja sampai di kost mereka, seperti biasa mereka membersihkan diri mereka barulah mereka berkumpul dengan teman-temannya.
"Kamu tidak kesana?" tanya Yogi sembari menunjuk kedepan.
"Dia belum pulang, sepeda motornya tidak ada." jawab Andra yang dengan santainya menanggapinya.
"Okelah kalau begitu." jawab Yogi dengan santai.
Malam hari
Suasana di kost terlihat sepi,Lina dan Airin terlihat bingung kenapa sedari sore sampai malam Nina belum pulang juga.
"Pasti Nina kerja lembur lagi." ucap Airin yang duduk santai di depan.
"Biarkan saja,dia pun juga sedang sibuk dengan pekerjaannya." jawab Lina dengan santai.
Tiba-tiba ada Ibu Harun yang datang menghampiri mereka,"Eh kalian malah kumpul disini." sapa Ibu Harun pada mereka berdua.
"Iya Bu,sekalian duduk santai." jawab Airin dengan senyuman.
"Ya sudah,tapi jangan malam-malam bukannya besok kalian juga harus bekerja." Ibu Harun mengingatkan mereka berdua.
"Iya Bu." jawab mereka,dan mereka berdua sontak saja kaget tiba-tiba Ibu Kost masuk kedalam kamar milik Nina.